
Setelah ini semuanya akan terasa lebih berat. Devan sudah meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin Lovi memang bukan takdirnya. Sekuat apapun Devan mempertahankan kehadiran Lovi di sampingnya, akan percuma karena Lovi tidak sudi untuk dipertahankan.
Devan mengenakan kembali pakaiannya dengan cepat. Ia menggeleng dengan tangis yang belum reda. Lelaki itu menunduk untuk menggunakan tali pinggangnya. Sejenak Ia menatap benda tersebut. Devan telah menyakiti Lovi dengan tali pinggang itu. Devan jadi membenci benda yang ada di tangannya. Ia menggenggam dengan erat hingga bagian ujung tali pinggang yang bermaterial besi melukai tangannya sendiri.
Melihat darah yang mengalir dari jemarinya, Devan tersenyum. Ia menikmati kesakitannya. Kalau Lovi terluka, maka sudah sepatutnya Ia merasakan hal yang sama. Tangan bodoh itu telah membuat Istrinya menangis. Maka hukuman yang tepat adalah membuatnya berdarah.
Devan masih bisa menyembunyikan luka di tangannya setelah menekan aliran darahnya. Lalu Ia membersihkan tangannya menggunakan sapu tangan yang selalu berada di saku celananya.
"Aku tidak yakin bisa hidup tanpa mereka. Tolong bantu aku, Tuhan."
***********
"Daddy, Adrian bawa ini!"
Devan yang sedang duduk di pelataran rumah Sena tersenyum tipis memperhatikan putra kecilnya yang berlarian ke arahnya dengan raut gembira seraya membawa dua kantung belanjaan.
Setelah kejadian beberapa saat lalu, Devan dan Lovi saling menghindar. Lovi menghabiskan waktunya dengan Andrean di kamar. Sementara Devan memilih untuk melamun, menikmati angin di waktu yang menjelang sore ini.
"Kenapa lama sekali perginya?"
Devan membawa Adrian ke atas pangkuan. Ia memberikan kecupan di sepanjang wajah dan leher Adrian hingga anak itu tertawa karena rasa gelinya.
"Aku bermain dulu tadi. Setelah itu belanja. Aunty Vanilla juga mengajakku ke salon,"
Devan langsung mengarahkan tubuh Adrian untuk menatapnya.
"Ke salon? Untuk apa kamu ke sana? Dimana Aunty Vanilla?"
Devan kesal bukan main. Devan tidak terima anaknya dibawa ke salon. Untuk apa? Usianya saja masih belum genap empat tahun.
__ADS_1
Vanilla datang setelah selesai dengan urusan mobil. Ia mendengar ucapan kakaknya yang pasti akan menyemburnya setelah ini.
"Adrian tidak aku make over, Devan. Memangnya aku segila itu?" Dengan kesal menatap kakaknya yang sudah melayangkan tatapan datar.
"Lalu untuk apa kamu mengajaknya ke sana?"
"Aku creambath. Memangnya tidak boleh?!"
Vanilla melepas sepatunya ingin melempar pada Devan. Ia emosi karena Devan menatapnya tidak santai.
Devan tahu apa yang akan dilakukan gadis itu. Dengan cepat meletakkan kepalan tangannya di udara mengarah pada Vanilla. Mengancam Vanilla agar tidak macam-macam.
"Kalau sampai sepatumu menyakiti anakku, habis kamu Vanilla! Kamu tidak lihat ada Adrian di sini?"
Mata Devan melirik anaknya yang kini menunduk, sibuk memperhatikan coklat, Susu, permen dan segala macam makanan kesukaannya.
Vanilla memilih untuk tidak menjawab kakaknya. Ia langsung masuk ke dalam dengan bersungut-sungut.
Perhatian Devan beralih pada Adrian yang kini mengangkat satu kantung lainnya di tangan kiri anak itu.
"Baik sekali anak Daddy ya," ucap Devan seraya mengusap kepala belakang Adrian.
"Daddy, aku membeli buah pepaya. Daddy bisa mengupasnya?"
Mata Devan sedikit membulat. Terkejut ketika Adrian mengeluarkan satu buah pepaya dari kantung belanja miliknya. Ukurannya cukup besar. Devan salut dengan anak itu. Kuat sekali dia membawa buah pepaya beserta makanan lainnya.
Devan memasukkan buah tersebut ke dalam kantung, lalu semua kantung yang ada dalam tangan Adrian dibawanya. Ia menggendong tubuh Adrian dan mereka masuk ke dalam rumah.
"Daddy bisa mengupasnya? Kalau tidak bisa, nanti Adrian minta tolong pada Mommy saja,"
__ADS_1
Rasa kesalnya pada Lovi sepertinya sudah hilang. Devan dibuat terkekeh.
"Tadi Kamu mengatakan mommy jahat. Sekarang butuh bantuannya?"
Adrian langsung merajuk. Ia mendorong wajah Devan yang menampilkan raut menggoda yang menurutnya sangat menyebalkan.
*********
Devan mencari pisau yang bisa Ia gunakan untuk mengupas pepaya. Karena Devan adalah orang asing di rumah tersebut, maka Ia sedikit kebingungan.
Ketika Ia membuka laci di dekat kompor, benda yang diperlukanpun akhirnya ditemukan.
Devan terlihat begitu kaku saat mengupas kulit pepaya. Ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Hanya demi sang anak.
Kulit pepaya yang belum terkelupas tinggal sedikit. Dan Devan kembali mewujudkan apa yang ada di kepalanya.
Darah mulai mengalir deras seiring kegilaan Devan mengiris jarinya sendiri.
"Daddy, jangan seperti itu. Adrian tidak mau Daddy terluka,"
Devan tersenyum begitu Ia melihat Adrian yang menatapnya khawatir. Lagi-lagi Ia tidak bisa membedakan Halusinasi dan realita.
Adrian tidak benar-benar di sana seperti bayangan Devan. Hanya otak Devan yang menjadikannya seolah nyata.
Faktanya, tidak ada siapapun di sisi Devan. Ia menikmati kesakitannya sendiri.
"Daddy Daddy, cepat obati!"
berbagai kalimat-kalimat bernada cemas itu terus memenuhi kepala Devan yang masih sibuk dengan kegiatannya yang melukai diri.
__ADS_1
Pandangan Devan mengabur. Ia menatap tetesan darah dengan mata lelahnya. Ia berusaha untuk tidak menangis yang disebabkan bukan karena sakit di jemarinya.
"DEVAN! KENAPA KAMU MELAKUKAN ITU?!"