
Devan baru saja menidurkan kedua putranya. Mereka seolah tidak ingin terpejam dan terus mengajak Devan berinteraksi. Bibir kecil mereka sudah bisa memberikan senyuman untuk untuk Devan. Lelaki itu dibuat terharu dan tidak menyangka kalau akan memiliki anak dalam usia yang masih tergolong muda. Tapi Ia bahagia karena anugrah yang diberikan Tuhan padanya tidak main-main. Ia sangat bersyukur memiliki dua lelaki kecil itu.
Devan kembali duduk di samping Lovi yang masih terpejam. Sudah tiga jam perempuan itu keluar dari ruang oprasi, namun kesadarannya belum juga pulih.
Devan mengusap lembut tangan Lovi yang ditanam jarum infus. Devan mengecupnya seraya memejamkan mata. Devan begitu khawatir akan perempuan itu sekarang.
Perlahan tangan dalam genggamannya bergerak. Devan menatap wajah Lovi yang meringis. Tak lama kelopak matanya terbuka sempurna. Lovi ingin menggunakan tangannya untuk mengusap kening, Namun Devan menahannya karena disana masih perlu perhatian khusus mengingat keberadaan jarum infus tersebut.
"Gunakan tanganku bila perlu. Bagian mana yang sakit?"
Devan mengangsurkan tangannya untuk mengusap kepala Lovi yang masih berdenyut. Lovi hanya diam menatap kegiatan suaminya itu.
"Tanganmu masih di infus," jelas Devan walaupun Lovi tidak bertanya.
"Aku masih punya tangan yang lain, Devan,"
"Ya, tapi aku yang ingin melakukannya. Memangnya salah?"
"Romantis sekali Tuan tampan ini," ucap Lovi yang ternyata sudah bisa menggoda padahal kondisinya masih lesu.
Lovi baru sadar kalau perutnya sudah kembali seperti dulu. Ingatannya langsung terlempar pada kejadian yang di alaminya tadi.
"Dimana mereka?" tanya Lovi pada Devan.
Devan menunjuk Box bayi menggunakan dagunya.
"Baru saja tidur setelah menyusu,"
Lovi mengerinyit menatap Devan.
"Mereka mengonsumsi susu formula?"
"Ya, Lov. Karena kamu belum juga bangun. Sementara mereka sudah merengek lapar sejak tadi,"
__ADS_1
Raut wajah Lovi berubah sedih. Seolah Ia baru saja melakukan sebuah kesalahan.
"Maafkan aku,"
Devan menggeleng dengan tegas kemudian beralih merangkum wajah cantik Lovi dengan lembut.
"Mereka mengerti kalau Mommy nya belum bisa memberi makan,"
"Lahap?"
Devan mengangguk tanpa ragu. Kedua putranya sangat menikmati susu yang di berikannya atas peraturan dokter.
"Setelah mereka bangun, kamu harus menyusuinya," ucap Devan.
Tentu saja Lovi mengerti. Ia juga tidak sabar memberi kedua putranya makanan yang berasal dari dirinya sendiri. Lovi merasa sangat berarti sekarang. Karena Ia diperlukan oleh anaknya.
"Kamu?"
"Aku? lahap minum susu?" tanya Devan layaknya orang bodoh.
Lovi berdecak kesal saat menyadari pikiran yang sedang berkeliaran di otak suaminya itu. Pasti melenceng dari sesuatu yang benar. Padahal Lovi bertanya pada Devan 'apakah Ia juga sudah makan seperti halnya anak mereka?'
"Ternyata kamu lebih bodoh daripada aku," ucap Lovi dengan tatapan sinisnya. Ia menarik selimutnya hingga menutupi seluruh permukaan wajah.
"Bangun, Lov!"
Devan menyentuh lengan Lovi kemudian berbicara dengan nada yang cukup kencang. Hingga salah satu anak mereka menangis karena terkejut.
Lovi langsung menurunkan selimutnya kemudian menatap Devan sangat tajam dengan aura permusuhan. Siapapun yang mengganggu ketenangan anaknya akan menjadi musuh Lovi.
"Tanggung jawab, Devan!"
"Aku sudah menikahimu," jawabnya dengan santai. Lovi dibuat mengusap dada.
__ADS_1
"Anakmu menangis,"
"Aku tahu, Lov. Dan itu bukan karena aku,"
Sepasang manusia yang baru menjadi orang tua itu malah berdebat mengacuhkan putra mereka yang menangis. Bahkan sekarang bukan hanya salah satunya saja. Keduanya seolah ingin menarik perhatian kedua orang tuanya. Dan itu seperti peringatan untuk Lovi dan Devan agar selesai berdebat.
"Cepat bawa mereka kemari!"
Devan langsung menuruti perintah Istrinya. Membawa keduanya dalam gendongan.
"Jangan sekaligus kamu membawa mereka, Devan. Aku merinding melihatnya,"
Setelah Devan meletakkan anaknya di atas ranjang luas yang sama dengan Lovi, Devan berdecak menanggapi ucapan Istrinya.
"Aku lelaki kuat, Lov,"
Tidak ingin melanjutkan perdebatan, Lovi langsung membuka kancing depan pakaiannya untuk mengeluarkan sumber makanan anak mereka.
"Aku beri nama Adrian dan Andrean sesuai kesepakatan kita," ucap Devan di sela kegiatannya yang memperhatikan betapa lahapnya mereka dalam menyantap susu yang diberikan Lovi.
"Aku suka dengan nama itu. Terimakasih sudah mendengar saranku,"
"Semua untukmu, Lov. Apa lagi yang kamu inginkan? hm? Aku pasti bisa memenuhinya,"
"Apapun?" tanya Lovi dengan ragu.
"Ya, apapun," jawab Devan dengan yakin. Bahkan gerak tubuhnya terlihat sangat percaya diri. Ia bisa memenuhi semua keinginan Lovi.
"Termasuk keinginanku untuk berpisah darimu? kamu akan memenuhinya bukan?"
***********
UWOWWW udh mulai bahas pisah aja nih yg br jd ortu xoxo. Jgn lupa dukungannya. Trmksh byk untk yg aktif comment, like dan votenya. Omaygat kelean baik bgt sihhh.
__ADS_1