
Devan melenggang santai ketika memasuki restoran yang akan menjadi tempat peretemuannya dengan Deni yang baru saja kembali dari Rumah sakit setelah menjalankan tugasnya.
Ia berharap mendapat kabar baik setelah ini. Semoga saja keadaan anak-anaknya sudah berangsur pulih sehingga bisa kembali ke rumah mereka.
Ketika sampai di sana, Ia tidak menemukan Deni. Tidak biasnaya Deni terlambat seperti ini. Sahabatnya itu mengatakan kalau Ia sedang di jalan menuju restoran.
"Aku dibuat menunngu?! Benar-benar keparat itu!" Devan hanya bisa menggerutu.
Setelah duduk di kursi yang telah di pesan sebelumnya, Devan menghubungi Deni. Pada deringan ketiga, lelaki itu baru menjawabnya.
"Sabar! Tidak bisa tenang sebentar?! Aku sudah kencang membawa mobil ini. Jangan sampai mobil baruku menabrak sesuatu,"
Setelah itu tidak ada lagi suara Deni. Devan mendengus keras seraya melempar ponselnya di atas meja.
Demi mengetahui kabar Istri dan anak-anaknya, Devan sampai rela menunggu.
Lagipula apa yang ingin disampaikan Deni sebenarnya? Kenapa mereka harus bertemu langsung? Apakah ada hal penting lain yang perlu mereka bicarakan?
Devan bangkit dari lamunannya saat seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh dan mendapatkan Deni yang tersenyum.
Dia tidak tau, kalau jantung Deni saat ini sedang berdentum tak karuan. Deni tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Devan nanti setelah mengetahui rencana Lovi yang sudah pasti terjadi esok hari, seperti kata perempuan itu tadi.
"Apa yang kau dapatkan tentang mereka? Anak-anakku baik-baik saja, bukan?"
__ADS_1
Tidak ada basa-basi, Devan langsung mengajukan pertanyaan inti. Perasaannya sebagai ayah menjadikan Ia sebagai dua sosok yang berbeda. Ia menyayangi, namun tidak ingin melakukan yang terbaik.
"Mereka sudah semakin baik,"
Jawaban yang singkat menurut Devan. Namun Ia masih berusaha untuk sabar menantikan kelanjutan dari ucapan sahabatnya.
"Lovi ingin bercerai darimu, besok Ia akan mengajukan gugatannya,"
Tedeng aling-aling, Deni mengatakan semuanya dengan satu kali tarikan napas. Tidak ada yang perlu ditutupinya. Ia tidak harus menjaga perasaan Devan yang pastinya sangat hancur ketika mengetahui hal ini. Devan memang harus menghadapi masalah rumah tangganya sendiri. Ia berharap setelah mendengar kabar ini, Devan bisa merubah pola pikirnya yang tak jauh dari anak remaja.
Devan tertawa, terdapat luka di sana. Terbuka lebar, barang siapa yang menyentuhnya maka Devan akan semakin merasa kesakitan.
Sahabatnya sangat pandai dalam hal guyonan, bukan? Itu satu-satunya hal yang membuat Devan yakin kalau semua kalimat Deni tadi adalah sebuah halusinasi untuknya.
Dan lagi, memangnya Lovi bisa hidup tanpanya? Mereka adalah dua insan yang tidak akan pernah dipisahkan kecuali dengan kematian. Devan yakin Tuhan menyayanginya. Walaupun selama ini Devan bukanlah makhluk yang baik, namun Tuhan tidak tidur, bukan? Tuhan selalu tau bagaimana perasaan Devan.
Ingin diancam seperti apapun, tidak menjadikan Deni takut. Karena Ia mengatakan semuanya dengan jujur, transparan agar sepasang suami istri ini bisa saling memperbaiki diri. Ia tidak mendukung keputusan Lovi sepenuhnya. Menurut Deni, semuanya bisa diperbaiki asalkan mereka berdua bisa saling meningkatkan sikap toleransi atas kesalahan yang mereka perbuat.
Kalaupun Ia meminta Lovi untuk memberikan kesempatan kedua pada Devan, apakah Devan bisa menggunakan kesempatan itu dengan baik? Ia tidak yakin, mengingat bagaimana kerasnya Devan saat ego telah menguasai dirinya.
Deni akan mendorong sahabatnya untuk berusaha sendiri karena lagi-lagi Ia tidak mempunyai hak untuk ikut campur. Devan harus membuktikan kalau Ia bisa diandalkan sebagai kepala keluarga. Ia harus bisa memastikan keluarganya harmonis sampai kapanpun.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Besok, Lovi akan mengajukan gugatan itu. Aku harap kau bisa melakukan sesuatu sebelum semuanya berubah, Devan. Masih ada kesempatan, kalau kau memang ingin memperbaiki semuanya. Dekati Lovi, lalu buat dia berubah pikiran. Aku rasa itu semua sudah cukup,"
__ADS_1
********
Devan melemparkan semua barang-barang yang ada di kamarnya. Kamar yang biasanya dipenuhi dengan kehangatan, kini hanya diisi dengan kerinduan yang mendalam dari Devan. Devan terluka, batinnya tidak bisa menerima kenyataan pahit itu.
Sebentar lagi keluarganya akan hancur, tanpa sisa. Dia dan Lovi akan menjadi dua insan yang tidak lagi dipersatukan oleh ikatan pernikahan. Mereka tidak bisa lagi mendeklarasikan diri sebagai 'kita'. Hanya sebatas 'Aku' dan 'Kamu' yang pernah bersatu atas izin Tuhan.
"SIAL*N! KAMU TIDAK BOLEH MELAKUKAN ITU PADAKU, LOVI!"
Pelayan yang berlalu lalang di dekat kamar Devan, mendengar teriakan lelaki itu hanya bisa menghela napas pelan.
Mereka tau kalau Tuan dan Nonanya sedang diberikan masalah besar dalam pernikahan. Devan dan Lovi tidak bisa lagi bersembunyi dibalik kata 'baik-baik saja'. Dilihat dari intensitas pertemuan yang tidak pernah terjadi lagi selama beberapa waktu saja mereka sudah dapat menilai kalau rumah tangga Devan dan Lovi sedang diterpa badai besar.
Devan merenggut rambutnya sendiri. Seluruh persendiannya terasa sakit dan kaku. Apa kabar dengan hatinya? Sekarang sudah tak berbentuk lagi. Keputusan Lovi yang terkesan tiba-tiba dan sulit dipercaya oleh Devan membuat mental Devan yang selama ini sekuat baja mendadak rapuh.
Ketika berada dalam situsi seperti ini, hanya orangtua yang terlintas dalam benak Devan. Ia merasa Tuhan telah menyakitinya, maka jalan satu-satunya adalah meminta rengkuhan dari Rena dan Raihan agar Devan bisa bangkit.
Ia tidak ingin sendirian. Ia tidak bisa kehilangan arah seperti ini. Devan perlu masukan agar pikirannya tidak lagi buntu.
"Ma, Lovi menceraikanku. Aku harus melakukan apa, Ma?"
Rena yang sudah tersenyum mendengar suara anaknya yang sangat Ia rindukan mendadak terdiam dengan wajah kaku.
"Apa?! Kesalahan apa lagi yang kamu lakukan, Devan?!"
__ADS_1
*********
KELEAN WARBIASYAAHH. Terimakasih atas dukungannya. Aku seneng bgt krn votenya nembus 400 trs komennya jg rame🤩 gmn mnrt kalian nih? Udh setimpal blm blsnnya Lovi? Bbrp pd komen 'cerain aja si Devan' aku cuma bs senyum miring WKWKWKW krn emg alur yg aku pikirin adlh perpisahan mereka. Trs sad ending deh😋🤣