My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sebelum berakhir (4)


__ADS_3

Ya, Lovi merasa kalau Ia lah penyebab ini semua.


"Dia tidak melakukan apapun padaku,"


Devan membela anaknya. Adrian tidak pantas mendapat kalimat sinis dari Vanilla. Ia bukanlah orang yang seharusnya disalahkan. Adrian hanya anak kecil yang hanya bisa merasa khawatir pada orangtuanya ketika terluka tanpa bisa mengerti apa penyebabnya.


"Memang bukan dia. Tapi karena Ibunya yang melakukan itu, maka sudah sepatutnya aku juga membenci dia. Darah perempuan murahan itu mengalir ditubuh kecilnya bukan?"


"VANILLA!"


Adrian mundur sedikit karena terkejut mendengar suara ayahnya yang keras. Ia sedikit ketakutan melihat amarah yang tergambar jelas di wajah Devan.


Lovi sudah pernah mendengar hinaan semacam itu dulu. Bahkan lebih parah. Tapi kali ini kenapa terdengar lebih menyakitkan?


Ia bisa merasakan Adrian yang menggenggam tangannya lebih kuat.


"Kita pergi ke rumah sakit. Mulai saat ini, jangan pernah lagi peduli pada mereka. Lakukan apa yang dia inginkan, Devan! Pergi. Lupakan semua tentang dia!"


***********


"Lima belas jahitan. Aku harap setelah ini, Tuan tidak melakukan hal bodoh lagi,"


Devan tidak menjawab. Ia hanya diam, menatap langit-langit rumah sakit.


Setelah meluapkan semua kekesalannya, Vanilla langsung membawa kakaknya ke rumah sakit, tidak peduli sekuat apapun penolakan Devan.


"Terimakasih, Dokter." Ucap Vanilla sebelum dokter yang menangani kakaknya keluar dari ruang perawatan.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya ketika mendapat lima belas jahitan? Masih ingin mengulanginya lagi, Devan?"


Senyum miring Devan hadir dan Vanilla tahu kalau ucapannya kali ini dianggap bualan.


"Tidak ada rasanya. Aku ingin mencoba yang lebih dari ini. Sepertinya menarik,"


Vanilla mendesis marah. Tangannya mengepal dengan mata yang menajam.


"Kamu gila, Devan!"


"Ya, dan aku semakin gila saat kamu menyakiti Adrian dan Lovi tadi,"


Vanilla anggap yang baru saja didengarnya adalah kalimat konyol yang menurutnya sangat lucu, hingga mengundang tawanya.


"Kamu masih peduli pada mereka? Untuk apa? Perempuan murahan itu sudah menendangmu dari hidupnya,"


"Dia akan senang kalau kamu memenuhi keinginannya. Tidak ada yang perlu dibela dan dipertahankan lagi, Devan."


Mata Devan memejam. Ia berusaha menekan amarahnya. Memang itu yang akan Ia lakukan. Seharusnya Vanilla tidak perlu lagi mengungkit. Devan akan melupakan, meninggalkan, dan mengubur dalam-dalam semua kenangannya bersama sang Istri.


"Kamu akan mengerti kalau kamu sudah memiliki pasangan dan anak. Kamu akan tahu betapa sulitnya untuk melakukan apa yang kamu katakan tadi,"


"Kamu bisa, berusahalah! Kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dia,"


Devan kembali membuka matanya. Ia menggeleng tegas. Kalimat yang keluar selanjutnya dari mulutnya pun terdengar tanpa keraguan sedikitpun.


"Lovi adalah yang terbaik untukku. Sampai kapanpun,"

__ADS_1


Vanilla menarik kursi untuk duduk di samping bangsal kakaknya. Ia menatap lurus menembus mata sang kakak. Ia mendapatkan kejujuran itu. Devan memang benar-benar mencintai Lovi. Dan Vanilla mengutuk Lovi yang membuang sia-sia semua perasaan Devan.


"Kamu jangan campuri urusanku lagi. Aku akan meninggalkan mereka. Dan aku harap, kamu tidak menyakiti mereka setelah ini,"


Devan tahu kalau otak adiknya sudah merencanakan sesuatu. Ia yakin Vanilla tidak akan tinggal diam setelah mendapati dirinya yang seperti ini. Devan tidak ingin Lovi dan anak-anaknya kembali tersakiti. Cukup Ia saja yang menyakiti mereka terlalu dalam.


Sebelum Vanilla mewujudkan rencananya, Devan sudah mengingatkan. Bahkan tak cukup sekali, ia kembali menegaskan apa yang dikehendakinya.


"Jangan pernah membuat mereka terluka, barang sedikitpun. Atau aku akan membencimu,"


**********


"Perban ini membuatku malu,"


Devan mendengus dan berusaha melepas lilitan kain kassa di tangannya. Lelaki beranak dua itu masuk ke dalam kamarnya setelah mengindahkan teriakan khawatir Rena yang mendapati tangannya terluka.


Tak lama Devan mendengar suara ketukan pintu kamarnya yang kasar. Devan yakin kalau itu adalah Rena. Rena tampak menyeramkan ketika cemas.


"DEVAN BUKA PINTUNYA! DEVAN--"


"Mama, jangan ganggu aku. Pliss, aku mohon,"


Suara lirih Devan masih terdengar jelas di telinga Rena. Tangannya yang berada di daun pintu pun perlahan turun.


"Devan, mama harap di dalam sana kamu tidak lagi melukai diri sendiri,"


Rena menunduk dengan perasaan sedih. Yang Rena tahu, Devan dan Vanilla mengatakan ingin pergi mengunjungi Andrean dan Adrian. Melihat kondisi Devan yang seperti ini, Rena tahu kalau ada sesuatu yang terjadi pada anaknya.

__ADS_1


__ADS_2