
Devan sudah melarang Angel untuk menyajikan minuman tapi Angel tetap saja. Katanya takut Devan merasa haus karena perjalanan cukup jauh. Devan hanya terkekeh mendengar ucapan anak itu.
"Mandiri sekali kamu," Lovi berdecak kagum. Angel tersenyum malu ketika dipuji begitu.
"Karena aku terbiasa mengurus Mama. Aku harus mandiri karena Mama tidak bisa mengurus aku seperti dulu lagi setelah sakit. Apalagi sekarang sudah tidak ada lagi,"
Lovi terasa kesulitan bernapas karena Ia merasa sesak setelah kalimat itu keluar dari bibir kecil Angel. Ia masih bersyukur memiliki orangtua yang masih ada meskipun mereka tak bisa lagi bersama.
"Aku salut padamu. Teruslah seperti itu ya, Sayang," Lovi mengusap rambut panjang milik gadis kecil itu.
Ketika mereka berbincang, pintu rumah dibuka dari luar ternyata neneknya sudah pulang bekerja.
"Hallo, Nek. Maaf datang ke sini tidak mengabari," ujar Devan.
"Justru Nenek senang kalian datang. Dan siapa wanita ini? cantik sekali,"
"Lovi, Nek." Lovi mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Dia istriku, Nek." lanjut Devan.
Chetrin menatap Lovi dengan pandangan lembut. Pantas saja Devan baik, pikirnya. Rupanya Ia memiliki istri yang sepertinya juga memiliki hati yang lembut.
Devan menatap jam tangannya sebentar. "Kami harus pulang sekarang, Nek. Sudah lama juga di sini,"
"Belum, Uncle. Baru sebentar." sahut Angel yang sepertinya tidak ingin Devan dan Lovi pulang.
"Tapi aku harus pulang. Karena Aunty Lovi pasti sudah dicari oleh Auris, anak kami yang paling kecil."
"Lain kali aku boleh bermain dengannya?"
"Tentu saja, Auris senang bila bertemu denganmu." jawab Lovi menyambut hangat keinginan Angel.
Sebelum pulang, Chetrin dibuat terkejut karena Lovi memberikannya sejumlah uang. Chetrin menolak halus namun Lovi tetap membujuk nya. Lovi tidak mau Chetrin mengembalikan uang yang sudah Ia berikan.
"Ambil, Nek. Ini tidak seberapa," Lovi memeluk Chetrin sementara suaminya sudah masuk ke dalam mobil entah sejak kapan.
"Ya Tuhan, terima kasih, Nak Lovi."
Lovi mengangguk dengan mata berkaca. "Aku pulang dulu, Nek."
"Ya, hati-hati."
Sampai di dalam mobil Lovi membuka jendela mobil untuk melambai pada Chetrin dan Angel sebagai salam perpisahan sebelum pulang.
Kemudian Lovi melirik jam tangannya. "Sudah waktunya twins pulang, Devan. Kamu ingin ke kantor lagi?"
"Pekerjaan ku sudah selesai. Kita menjemput mereka sekarang,"
******
__ADS_1
Ulang tahun Auristella tinggal sebentar lagi. Dan Lovi sudah mulai mempersiapkan semuanya sekarang.
Ia baru saja menyelesaikan urusan mengenai perayaan ulangtahun Auristella dengan sebuah restoran yang akan menjadi tempat diselenggarakannya acara.
Rencananya perayaan itu akan dilaksanakan sebelum keluarga kecil Devan kembali lagi ke rumah mereka yang asli. Kelimanya akan kembali tinggal di sana, bukan di mansion lagi.
Lovi begitu antusias menyiapkan pesta ulangtahun anaknya, seperti biasanya. Apalagi ini adalah yang pertama untuk Auristella.
Setelah menjemput kedua putranya, Devan dan Lovi ke restoran yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara kemudian melakukan food testing di sana.
Belum selesai membahas tentang acara, Adrian sudah memaksa ingin pulang karena katanya sudah kelelahan. Ia begitu memaksa sampai Lovi dibuat kesal dengan anak itu. Mau tidak mau Lovi menyelesaikannya melalui sambungan telepon setelah tiba di mansion.
"Katanya tadi kelelahan sekarang kenapa malah bermain bukannya istirahat?"
Setelah membersihkan tubuhnya, Adrian tidak tidur melainkan bermain dengan Hulk besar miliknya yang belum juga bosan Ia mainkan.
Auristella tidak takut dengan Hulk, justru malah takut dengan robot. Saat Adrian ingin mengeluarkan robot besarnya dari kamar, Auristella berteriak seraya menangis dan menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri. Adrian sempat menyuruhnya untuk masuk kamar saja kalau takut, tapi dia juga tidak mau.
"Mommy lama bicara nya, jadi aku bosan di sana...."
"Lamaaaa sekali. Dari aku belum makan sampai selesai makan di restoran itu, Mommy tidak selesai-selesai bicaranya padahal food testing sudah selesai,"
"Ada yang harus dibahas lagi, Adrian. Kamu saja yang tidak sabaran,"
"Huh, aku lihat Daddy juga sudah bosan. Iya 'kan, Dad?"
"Menjawab telepon sepertinya," jawab Lovi yang kini menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.
*****
"Kenapa kamu lemas begitu?"
"Tidak, aku biasa saja."
Adrina duduk di kursinya setelah menjawab Revin. Adrian yang tengah bermain bersama Andrean dan Thalia menoleh pada Adrina yang sedang menelungkup kan kepala nya di meja.
Mereka bertiga sedang bermain tebak tempat setelah sebelumnya diberi tahukan dulu ciri-cirinya.
"Adrina, ayo main."
Adrina mengangkat kepalanya kemudian menggeleng enggan. "Dekat-dekat kamu pasti ujungnya bertengkar. Dan aku sedang malas untuk bertengkar,"
"Kamu kenapa sih?"
"Semalam aku demam,"
"Sekarang masih?"
"Tidak, tapi kepalaku masih sakit."
__ADS_1
"Jadi bukan hanya demam? kepalamu sakit juga?"
"Iya! bertanya terus,"
"Hih!" Adrian ikut kesal karena ditanggapi seperti itu oleh Adrina. Ia hanya penasaran saja karena tidak biasanya Adrina diam. Yang biasa terjadi setiap hari di sekolah adalah Adrina selalu aktif meladeni nya. Kalau sudah diajak bermain, dia pasti tidak pernah menolak, sekarang malah sebaliknya.
"Hei, nanti Auris mau ulang tahun. Kalian datang ya,"
Seperti halnya saat ulang tahu diri sendiri, belum juga Devan dan Lovi bicara pada orang lain mengenai perayaan ulang tahun Auristella, Adrian sudah mendahului.
"Seperti kamu yang menjadi orangtua ya? Mommy dan Daddy saja belum mengundang orang padahal mereka yang punya anak,"
Tawa geli Revin pecah seketika. Sementara Adrian memasang wajah sebalnya seraya melirik sang kakak dengan sinis.
"Suka-suka aku lah. Aku ini kakak nya jadi tidak apa mengundang,"
"Tapi Mommy dan Daddy belum mengatakan apapun,"
"Berisik!"
"Hih? diberi tahu masa begitu. Dasar anak keras kepala!"
"Diam, Adrina! kamu sedang sakit tapi mulutmu masih saja cerewet seperti kembang api,"
Adrina mendengkus kasar. Matanya berputar setelah saling melempar tatapan tajam pada Adrina.
****
Karena sebentar lagi Lovi dan keluarga kecilnya akan kembali ke rumah mereka, Lovi mengunjungi rumahnya bersama Auristella untuk mengecek seperti apa yang mereka lakukan setiap bulannya.
Ia tidak menyangka bisa lama tinggal lama di mansion. Setelah melahirkan Auristella, keluarga kecilnya nyaman tinggal di mansion milik orangtua Devan itu. Lagipula Rena dan Raihan juga tidak pernah mengizinkan untuk mereka pindah. Tapi karena saat ini Adrian dan Andrean sangat menginginkan kepindahan itu, akhirnya tak ada yang bisa mengelak lagi.
Rena dan Raihan sempat sedih, mereka mengira kedua cucu laki-lakinya sudah tidak betah tinggal di mansion mereka. Tapi kedua anak lelaki Devan itu dengan dewasa menjawab,
"Kami harus bisa belajar mandiri, Grandma, Grandpa."
"Benar kata Andrean. Lagipula rumah milik kami akan sia-sia bila tidak ditinggali,"
"Kami janji akan sering datang ke sini,"
Karena mereka sudah berjanji begitu, Rena dan Raihan luluh juga pada akhirnya. Dengan sedikit keberatan mereka mengizinkan Devan membawa istri dan anak-anaknya kembali tinggal di rumah keluarga kecil mereka sebentar lagi.
-----------
Selamat membaca dan terima kasih untuk dukungannya🙏🤗
Mampir👇jgn lupa yaaa😄
__ADS_1