My Cruel Husband

My Cruel Husband
Birthday party


__ADS_3

"Akhirnya Grandpa datang,"


"Aku sudah menunggu Grandpa sejak tadi,"


Andrean membawa kakeknya ke meja khusus keluarga, setelah itu Andrean memanggil adiknya untuk menemui Lucas. Sambutan Adrian sangat hangat. Ia langsung memeluk Lucas sama halnya seperti yang dilakukan Andrean tadi.


Saat Lucas mengangsurkan hadiah ulang tahun pada mereka, Adrian langsung tersenyum.


"Terima kasih, Grandpa."


"Semoga bermanfaat,"


Lucas hanya bisa memberikan kedua cucunya sepatu. Ia tahu sepatu pemberiannya tidak bisa dijajari dengan sepatu-sepatu mahal milik mereka. Tapi setidaknya bisa mereka pakai walaupun sesekali.


"Pasti bermanfaat, Grandpa."


Saat melihat kehadiran Thanatan dan Karina yang pada kenyataannya bukan kakek dan nenek mereka yang sesungguhnya, Andrean dan adiknya juga memberikan pelukan hangat.


"Datang terlambat," ujar Adrian pada mereka yang mengundang tawa kecil Karina.


"Itu ada Uncle Jhico,"


Adrian tahu siapa Thanatan dan Karina untuk Uncle kesayangan mereka. Sehingga anak itu mempersilahkan mereka untuk duduk berdekatan dengan Jhico dan Vanilla yang sedang berbincang dengan semua sepupu Vanilla.


Karina yang melihat kearaban putra tunggalnya dan keluarga Vanilla jujur merasa iri. Karena Jhico tidak bisa seakrab itu dengan keluarganya terutama semua keponakannya.


Vanilla bangkit saat menyadari kehadiran mertuanya. Dan Ia memeluk kedua orangtua Jhico itu.


"Kaget ya Mama datang? Mama diundang oleh Mama kamu, Van."


Vanilla tersenyum canggung menutupi kebingungannya. Karena Ia tidak mengundang mereka dan Ia yakin Jhico pun demikian. Rupanya sang Mama lah yang mengundang mertuanya.


Devan datang ke atas panggung yang dibuat semeriah mungkin untuk mengucapkan kata sambutan selaku orangtua dari kedua anak yang sedang berulang tahun.


"Terima kasih atas waktu, doa, serta hadiah yang telah kalian berikan untuk Andrean dan Adrian. Harapan kita semua sama. Semoga mereka bisa menjadi anak yang berguna bagi sekelilingnya, mampu membahagiakan keluarga dengan pencapaian di masa depan nantinya. Bukan hanya Andrean dan Adrian, doa-doa tersebut juga untuk semua anak yang hadir di sini. Sekali lagi, saya mewakilkan keluarga besar Andrean dan Adrian mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan kalian,"


Singkat saja sambutan dari Devan, yang terpenting rasa terima kasih untuk semua tamu sudah Ia sampaikan. Mereka semua telah berbaik hati meluangkan waktu untuk hadir dan mau mendoakan yang terbaik untuk kedua anaknya, tak lupa juga menambah kebahagiaan mereka dengan memberikan hadiah.


Hari ini Adrian tak henti tersenyum. Ia dikelilingi orang yang begitu mengasihi dirinya. Ia tak menyangka party kali ini sangat meriah bahkan lebih meriah dari party tahun-tahun sebelumnya.


Adrian menghampiri Devan dan Jino yang baru saja berbincang. Di samping Jino, ada Adrina yang sedang disuapi cake oleh Jino.


"Mommy dimana, Dad?" tanya Adrian yang sedari tadi mencari Lovi.


"Mungkin menyusui Auris. Kenapa memangnya?"


"Aku mau pipis," Ia berbisik di telinga Devan. Adrina memicing pada anak itu, Ia merasa penasaran karena Adrian berbisik di depannya dan Daddy nya.


"Okay, Daddy temani." ujar Devan seraya bangkit. Ia menatap Jino dan Adrina sejenak "Aku temani Adrian ke kamar mandi dulu sebentar,"


"Hih manja. Anak laki-laki masa ke kamar mandi saja minta ditemani?" ledek Adrina yang mulai jahil. Jino segera menutup mulut gadis kecilnya yang berisik itu.


Devan tersenyum geli mendengar Adrina bicara seperti itu. Kemudian dahinya mengerinyit saat tangannya di cubit kencang oleh Adrian.


"Oh ada yang malu,"


Kemudian Devan segera membawa anaknya pergi dari hadapan Jino dan putrinya. Adrian langsung mencibir Devan yang begitu jujur padahal Ia sudah bicara sangat pelan tadi.


"Aku malu, Daddy! kenapa pakai bicara segala dengan Adrina? dia jadi meledek aku 'kan,"


"Untuk apa malu? kamu masih kecil, jadi kemanapun memang harus ditemani. Apalagi di tempat ramai seperti ini,"


Devan segera menarik anaknya untuk memeluk perutnya saat ada pelayan yang bersisian dengan Adrian membawa minuman panas dan gerak tubuhnya seperti sengaja ingin mencelakai Adrian dengan minuman di tangannya itu.


"Bekerja yang benar! aku tahu kau penyusup 'kan?! cepat keluar dari sini sebelum kau menyesal telah mengacaukan party ulang tahun anakku," desis Devan menatap tajam lelaki berseragam pelayan itu. Ia yakin perkiraannya benar. Karena dia terlihat langsung ketakutan dan tanpa banyak bicara pergi setelah mendapat tatapan mematikan dari Devan.


"DADDY, ADRIAN MAU PIPIS! KENAPA MALAH TATAP-TATAPAN?! DIA KAN LAKI-LAKI, TIDAK BOLEH BEGITU,"


Devan tersentak setelah anaknya menarik tangannya dengan cepat seraya berteriak marah-marah.


"Astaga, pelan-pelan Adrian. Nanti Daddy terjerembab di lantai,"

__ADS_1


"Daddy lama! ini sudah mau keluar. Aduhhh Daddy!" Seraya melangkah cepat, Ia menggerutu pada Daddy nya yang baru saja melakukan tindakan tegas pada lelaki yang diyakini sebagai penyusup itu. Dan Devan juga yakin sekali dia adalah suruhan Arnold. Karena yang saat ini sedang gencar sekali mengibarkan bendera peperangan adalah lelaki itu. Beruntungnya belum hadir tikur-tikus pengganggu yang lain. Kalau tidak, sulit juga membedakan setiap pergerakan yag mereka lakukan. Kalau mengatasi, tentu saja tidak ada kesulitan bagi Devan. Ia memiliki banyak orang yang siap menjaganya dan keluarga serta yang paling penting ada Tuhan yang menjadi tempatnya bersandar dan berlindung.


Adrian menutup pintu toilet dengan tidak sabaran sampai menimbulkan bunyi keras. Seraya menunggu anaknya buang air kecil, Devan menghubungi pengawalnya untuk mencari tahu lelaki itu lalu menyeretnya keluar tanpa menimbulkan keributan.


Sementara Devan menemani Adrian ke toilet, Lovi yang baru saja menyusui Aurisrella di ruang menyusui menghampiri Andrean dan bertanya pada anak sulungnya itu tentang keberadaan Devan dan adik keduanya.


"Andrean tidak tahu, Mom. Mungkin ke toilet,"


Lovi mengangguk dan ia segera duduk di tempatnya tadi. Auristella sudah kembali ceria, tidak rewel lagi seperti tadi.


Auristella di atas pangkuan Lovi diajak bercanda oleh Kayla dan Sandra. "Auris, anak cantik. Anaknya siapa?" Sandra menggelitik perut Auristella dengan kepalanya hingga Auristella terkekeh geli.


"Auris, sayangku. Giginya belum banyak," Kayla menarik sudut bibir Auristella agar lebih terlihat giginya.


Auristella menghempas tangan Kayla, tidak ingin mulutnya dibuka lebar. Tadi Ia tertawa lepas, sekarang langsung memasang raut datar. Ia juga menatap Kayla dengan tajam.


"Dia marah," ujar Kayla seraya tertawa geli. Sekali lagi Ia menarik sudut bibir Auristella dan Auristella langsung berteriak kesal. Lovi yang sedari tadi fokus melihat sekelilingnya langsung menatap anaknya itu.


"Hei kenapa teriak-teriak?" Lovi memainkan dagu putrinya yang sedang menggeram marah pada Kayla yang menjulurkan lidah ke arahnya tanpa sepengetahuan Lovi.


Auristella menunjuk Kayla dan Lovi langsung menatap Kayla. Secepat kilat putri dari pasangan Jhon dan Jo itu menghentikan tingkah usilnya. Lidahnya tak lagi keluar malah memasang raut tidak ingin disalahkan.


"Kayla jahil, Aunty Lovi." Sandra menyampaikan tingkah jahil sepupunya pada Lovi. Ibu beranak tiga itu langsung mengusap kepala Auristella. "Kayla hanya bercanda jangan marah-marah begitu,"


Lovi bangkit seraya membawa Auristella. "Kita cari Daddy dan Adrian dulu. Kayla dan Sandra tunggu di sini saja ya,"


"Okay, Aunty. Hati-hati. Bye, Auris yang giginya belum tumbuh banyak,"


Lovi menahan tawa saat Kayla meledek anaknya yang masih menatap Kayla dengan tajam. Aurisrella sepertinya sudah mengerti kalau Ia sedang dijahili oleh sepupunya.


Lovi mencari ke toilet, dan Ia langsung menemukan suaminya tengah berkutat dengan ponsel.


"Devan, kamu sedang apa di sini?"


Devan mengangkat pandangan dari ponsel dan cukup terkejut mendapati kehadiran Lovi.


"Menunggu Adrian buang air kecil, Lov." ujarnya seraya menunjuk salah satu bilik toilet.


Lovi segera mengetuk pintu toilet. "Adrian, masih belum selesai?"


Tak berselang lama, pintu dibuka oleh Adrian yang langsung menghela napas lega. "Mommy ada di sini juga,"


"Mommy bingung, setelah menyusui Auris, kamu dan Daddy tidak ada di kursinya,"


"Ayo, Sayang. Acaranya akan segera berakhir. Para tamu akan mencari kita sebelum pulang," Panggil Devan pada anak dan istrinya.


Devan dan anak-anaknya kembali ke balroom karena acara akan berakhir dan semua tamu pasti akan mengucap salam perpisahan sebelum pulang. Mereka sebagai pemilik acara, harus berada di sana untuk mengucapkan 'terima kasih' sekali lagi pada mereka semua yang telah hadir.


"Aku belum ingin pulang,"


"Harus pulang lah. Mau menginap di sini?"


"Belum selesai bermain dengan mereka,"


Jino segera menggendong putri tunggalnya yang sedang merengek seraya menunjuk teman-teman sekolahnya itu.


"Besok di sekolah bertemu lagi dan bisa bermain. Sekarang harus pulang,"


"Daddy--"


"Aku saja mau pulang. Mereka juga, kamu sendiri di sini, mau?"


Adrian menatap Adrina dengan tajam. "Mau?" tanya Adrian sekali lagi. Adrina menatap Adrian dengan kesal.


"Ya sudah, ayo kita pulang, Dad. Malas ada dia di sini,"


"Malas? tadi bermain. Giliran harus pulang kenapa malas?"


Adrina merengek dalam gendongan Jino agar Jino segera berjalan. "Sekali lagi happy birthday ya. Terima kasih sudah mengundang kami ke sini."


"Terima kasih juga, Uncle."

__ADS_1


"Kami pulang dulu, Dev."


"Okay, hati-hati."


Devan dan Lovi melambai pada Jino, Sheva dan anak mereka. "Pulang dulu ya, Devan, Lovi."


"Iya, hati-hati."


Semuanya juga berpamitan pada Devan dan Lovi. Auristella ikut melambai hingga membuat tamu-tamu menggeram gemas.


"Bye semuanya." ujar Lovi mewakili Auristella yang saat ini tersenyum malu-malu pada Zio yang baru saja menggodanya dan mengatakan 'bye princess,'


"Hey, anakku jangan kamu godai juga, Zio. Ingat dia keponakanmu,"


"Iya, Tahu, Devan. Berisik sekali mulutmu. Aku hanya gemas melihat Auris,"


Zio mencium pipi Auristella yang cantik dan merah merona itu. Sebelum melangkahkan kaki keluar dari balroom, Ia mencubit gemas pipi Auristella hingga anak itu meringis seraya mengusap pipinya.


"Zio, jangan jahil pada anakku. Pulang!"


"Siap, sepupuku,"


Cukup lama mereka melepas kepulangan semua tamu. Sampai akhirnya tiba juga saatnya mereka yang pulang ke mansion.


"Aku tidak sabar buka kado,"


"Aku biasa saja,"


"Kamu tidak senang mendapat kado?"


"Senang dan bersyukur,"


Jawaban Andrean yang simple membuat Adrian mendengus. Ia senang tapi tidak seperti dirinya yang tak henti tersenyum sejak tadi.


"Aku mau bantu bawa kado ke mobil," Ia berbicara pada Devan ketika melihat Reno, supir pribadinya dan pengawal mengangkut kado.


"Tidak perlu. Mereka bisa melakukannya. Kita ke mobil saja,"


"Tapi Adrian---"


"Dengar Daddy tidak? tubuhmu terlalu kecil, bagaimana caranya membawa kado-kado itu yang kebanyakan berukuran besar?"


Dilarang tegas oleh Devan akhirnya Adrian merajuk. Ia segera memeluk Lovi yang masih menggendong Auristella. Mereka saat ini berjalan menuju mobil untuk segera pulang karena semuanya harus istirahat. Walaupun hanya duduk, berbincang, dan makan, tapi cukup melelahkan juga berada di pesta. Namun mereka semua senang karena acara berjalan dengan lancar. Khususnya Lovi dan Devan yang begitu bahagia karena semua yang mereka siapkan tidak sia-sia, kedua anaknya bahagia sekali diberikan surprise dan perayaan besar seperti tadi.


"Omong-omong kado Mommy dan Daddy belum ada,"


"Nanti sampai di mansion,"


Sebenarnya diantara banyaknya kado, Adrian masih berharap dari Mommy dan Daddy nya karena sedari awal memang hanya mereka berdua yang Ia harapkan akan memberi kado, tapi ternyata semua tamu yang datang membawa kado.


"Yeaay kadonya apa, Dad?"


Devan tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan itu membuat Adrian semakin penasaran.


Sampai di mobil, Auristella langsung menepuk-nepuk dada Lovi pertanda Ia sudah haus lagi padahal belum lama Ia menyusu.


"Haus terus kamu. Bagaimana badannya tidak besar?"


"Kamu juga dulu begitu. Tidak usah komentar,"


"Badanmu saja besar, jangan bicarakan orang lain,"


Lovi dan Andrean berturut-turut memberi peringatan pada Adrian yang langsung menghela napas.


"Tidur, nanti kalau sudah sampai dibangunkan,"


"Tapi setelah sampai langsung lihat kado Mommy dan Daddy 'kan?"


Lovi menggeleng heran. Anaknya ini benar-benar tidak sabaran sekali. Sudah memikirkan kado setelah sampai di mansion nanti, bukannya istirahat dulu yang Ia inginkan. Devan juga sebenarnya tidak akan lama-lama menyerahkan kadonya karena kalau tidak segera diserahkan, Ia akan terus diteror oleh anak keduanya itu. Sepertinya Lovi yang akan diteror seharian nanti karena Ia baru bisa menyerahkan kadonya yang berupa kuda itu besok sesuai rencana.


-----------

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya yaaa. Maaciw semuaaa. Kl ada waktu, mampir jg ke lapak Nillaku👇



__ADS_2