My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menjalani takdir


__ADS_3

*Satu bulan kemudian*


Devan keluar dari kamar mandi dengan menggendong kedua putranya yang dalam keadaan basah usai dimandikan olehnya. Dengan balutan handuk putih, keduanya tampak menggemaskan.


Sampai saat ini Lovi belum bisa kembali hadir untuk menemani hari mereka. Perempuan itu masih nyaman dalam tidurnya.


Devan selalu memandikan Adrian dan Andrean bila sedang berada di rumah. Ia akan menjalin kedekatan yang lebih dengan kedua anaknya menggantikan Lovi sementara waktu. Bahkan ketika Devan pulang lebih awal, Ia tidak pernah absen untuk menyuapkan kedua anaknya makan siang dan malam.


Rena sudah menunggu cucunya di tengah ranjang. Semua pakaiannya sudah di siapkan oleh Rena. Ia tersenyum bahagia melihat bagaimana telatennya Devan dalam merawat cucunya. Devan melarang keras para pelayan untuk menyentuh anaknya selagi Ia berada di rumah dan mampu merawat mereka.


Devan meletakkan mereka di atas ranjang. Adrean diambil alih oleh Neneknya. Devan menatap gemas ke arah Adrian yang sudah mulai merangkak untuk menjauhinya. Ia bahkan belum memakaikan satu helai benang pun ditubuh si kecil itu.


"Sayang, pakai dulu bajumu," ucap Devan dan memajukan tubuhnya untuk menarik lembut kaki anaknya. Adrian merengek minta dilepaskan. Ia ingin pergi ke tepi ranjang dan itu membuat Devan khawatir.


"Nanti kamu jatuh, Hei!" tanpa sengaja Devan mengeluarkan nada suaranya yang sedikit tinggi. Devan terlalu khawatir anaknya terluka.


Adrian menoleh ke belakang dimana Devan masih berusaha menjaganya. Ia menangis ketakutan namun kedua tangannya malah menjulur agar Devan menggendongnya. Tanpa berpikir panjang Devan langsung meraih putra bungsunya. Ia menimang sebentar agar si kecil itu berhenti menangis.


Rena yang melihatnya pun mendengus. Semua lelaki memang sama saja. Dulu, Raihan pun begitu dalam merawat anak-anaknya. Selalu kalang kabut.

__ADS_1


"Lagipula kamu berlebihan, Devan. Dia tidak akan kemana-mana. Jadi jangan membentak seperti itu," terangnya agar Devan mengerti.


"Adrian merangkak ke tepi ranjang. Bagaimana aku bisa tenang? aku tidak sengaja membentaknya," ucap Devan dengan sesal yang sangat terlihat dari sorotnya.


Andrean semakin tampan setelah mengenakan baju kodoknya. Rena menyisir rambut tebal dan hitam milik cucu sulungnya.


"Aku bisa jatuh cinta dengan kamu, Andrean. Terlihat menawan sekali cucuku ini," kelakar Rena sebelum Ia mengecup wajah Andrean yang memancarkan harum khas bayi.


Kini Rena menatap cucu bungsunya yang mulai tenang dalam gendongan Devan. Bahkan terlihat memasukkan jari jempolnya ke dalam mulut. Kebiasaan Adrian setelah menangis memang akan tertidur.


"Kakakmu sudah selesai. Dan kamu belum pakai baju sama sekali,"


"Ayo, Nenek yang akan memakainkan mu baju. Biarkan Daddymu sarapan sebelum bekerja,"


tangan Rena mengarah pada Adrian. Bayi itu masih tersadar walaupun matanya mulai sayu. Ia membuang wajahnya ke arah lain, pertanda Ia menolak Neneknya itu.


Devan menghela napas. Sikapnya yang keras kepala ternyata menurun pada si bungsu ini.


"Ya sudah, sama Daddy kalau begitu,"

__ADS_1


Devan menyerah. Ia kembali meletakkan Adrian di atas ranjang. Dan anaknya itu tampak menurut. Lihat! seberapa dekat mereka? Keduanya hanya menginginkan Devan. Dan Ini juga yang Devan kehendaki. Terciptanya ikatan batin yang kuat antara Ia dan kedua putranya.


Devan tidak masalah bila Adrian dan Andrean tergantung padanya. Ia bahagia ketika merasa dibutuhkan.


"Mereka benar-benar menyayangimu, Devan. Kemarin saat kamu harus pulang larut, cucuku itu tidak ingin makan. Setelah kamu tiba, mereka makan dengan lahap bukan?" Rena menceritakan kejadian kemarin sore. Dimana kedua cucunya mogok makan untuk sementara waktu. Menu apapun yang di tawari Rena, mereka tolak mentah-mentah.


Sampai akhirnya Rena menyerah seraya berpikir keras. Barangkali ada sesuatu yang mengganggu nafsu makan cucunya. Mereka tertidur dengan perut kosong sampai Devan tiba tengah malam.


Ketika Devan akan makan, mereka pun bangun dan merengek ingin mengikuti Devan yang akan ke ruang makan. Ketika ditawari roti gandum, mereka menyantapnya dengan lahap. Devan yang tidak tahu sama sekali mengenai perilaku anak-anaknya pun sampai dibuat bingung. Tidak biasanya mereka ingin makan ditengah malam seperti itu.


"Jangan terlalu banyak! lihat matanya sampai berat untuk terbuka," tegur Rena saat putranya itu mengoleskan minyak aroma terapi khusus bayi di sekujur tubuh Adrian.


"Oh, maaf, Sayang." ucap Devan dan langsung meletakkan botol minyak aroma terapi tersebut di tempatnya. Ia meniup pelan mata Adrian.


"Coba kalau mama yang mengoleskan itu terlalu banyak, pasti langsung menangis. Kalau sama kamu, diam saja anak ini," gerutu Rena yang mulai gemas dengan tingkah cucu bungsunya itu. Ketika bersama Daddynya, anak itu tidak rewel.


************


Ngedumel baee si nenek" yak😂😂 aku double up nih. Moga lulus review mlm ini deh. Jgn lupa dukungannyaaaa. Tengkyu epribadeh :)

__ADS_1


__ADS_2