My Cruel Husband

My Cruel Husband
Hadiah dari Daddy


__ADS_3

Tak lama Andrean keluar dari kamar orangtuanya, Adrian terbangun. Beruntung Lovi dan Devan sudah sama-sama mengenakan baju, bukan bathrobe lagi.


"Mom..."


Lovi cepat-cepat keluar dari walk in closet, Ia terpaksa menghempas tangan Devan yang memeluknya mencari kesempatan lagi.


"Oh anak Mommy sudah bangun? cepat tidurnya,"


"Aku lapar,"


"Ayo, kita makan."


"Daddy dimana?"


"Di walk in closet, bersih-bersih."


Jawaban Lovi yang asal membuat Adrian mengerinyit bingung. Rasanya tidak mungkin Devan bersih-bersih di ruangan itu. Seperti tidak ada kerjaan saja Daddy nya itu.


"Benar?"


"Sudah, tidak usah pikirkan Daddy. Sekarang kamu harus makan, katanya lapar 'kan?"


Adrian turun dari ranjang setelah sebelumnya mencium pipi Auristella bertubi-tubi. Sifat jahilnya selalu ada kapanpun dan dimanapun. Bahkan baru bangun tidur saja dia masih jahil pada adiknya.


"Hallo cucu Grandpa yang tampan,"


"Hallo, sedang berbincang apa ini?"


Adrian duduk diantara kedua neneknya dan Jane yang tengah berbicara serius tadi.


"Adrian, Aunty sebentar lagi graduation."


"Wow benarkah?"


"Benar, Jane?" Lovi ikut bertanya penasaran. Jane mengangguk cepat dengan senyum bahagianya. Ia tidak sabar untuk tiba di hari itu.


"Tapi berdekatan sekali dengan hari pernikahanku,"


"Oh iya, berapa hari lagi kamu bertunangan?"


"Sembilan hari lagi. Dua minggu dari acara itu, aku menikah."


"Lalu wisuda kapan?"


"Dua hari sebelum menikah,"


"Wow, itu keren, Jane."


"Keren darimana?! aku semakin stress, Lovi."


Lovi duduk dan tanpa sadar ingin larut dalam pembicaraan Jane dengan kedua Mamanya. Ia jadi lupa menyiapkan makanan untuk Adrian. Dan Adrian juga fokus mendengar cerita Aunty nya.


"Ya, hitung-hitung ujian mental sebelum menikah,"


"Apa aku undur saja ya pern---"


"Sembarangan kalau bicara. Semua sudah siap, masa diundur?" Rena langsung menyahuti dengan sikap tidak setuju nya.


"Rasanya aku tidak bisa menghadapi hari bersejarah itu dalam waktu yang berdekatan,"


"Kenapa tidak bisa? seharusnya wisuda tidak membuat kamu stress. Pernikahan juga begitu. Jalani saja, kedua-duanya adalah hari yang penting untukmu. Dan kamu harus melakukan yang terbaik,"


"Mom, Adrian mau makan."


"Oh iya, Mommy lupa." Lovi menepuk pelan keningnya. Ia segera beranjak untuk mengambilkan makanan Adrian. Jarang sekali Adrian mau makanannya disiapkan oleh maid. Selagi ada Lovi, maka harus Mommy nya lah yang menyiapkan.


"Vanilla sudah tahu kapan kamu menikah?"


"Sudah, hari wisuda ku juga dia tahu."


"Kamu baru cerita pada kami sekarang?"


"Jadwal wisuda juga baru keluar dua hari yang lalu,"


Mendengar penjelasan keponakan suaminya yang sudah Ia anggap sebagai anak itu, Rena mengangguk.


"Adrian, Grandpa masih ada hadiah untukmu," Rena memberikan informasi pada Adrian yang sedang menangkup dagunya di punggung tangan.


Mata Adrian yang tadi masih mengantuk, kini langsung terbuka lebar dengan sinar antusias yang begitu terlihat.


"Apa hadiahnya, Grandma?"


"Tidak tahu,"


"Dimana hadiahnya?"


"Tanya pada Grandpa,"


"Dimana Grandpa?"


"Ruang kerja nya,"


Lovi baru datang dari dapur membawa satu piring makanan Adrian dan Ia melihat anaknya itu ingin beranjak dari kursi.


"Hey, mau kemana? makan dulu," ujar Lovi dengan tegas. Adrian terpaksa duduk lagi, tidak jadi melangkah ke ruang kerja kakeknya. Padahal Ia sangat penasaran dengan kado kedua yang diberikan Grandpa nya. Ia tidak menyangka mendapat double kado untuk ulang tahunnya kali ini.


"Grandpa ada kado lagi untukku ya, Mom?"


"Iya, kamu pasti suka,"


"Mommy sudah lihat kadonya?"


"Hmm belum, tapi Mommy yakin kamu pasti suka. Karena Grandpa tahu apa yang kamu sukai,"


"Aku semakin penasaran. Makannya boleh nanti saja, Mom? aku jadi tidak tenang kalau belum lihat kado nya,"


"Makan dulu. Sudah Mommy siapkan, lagipula Grandpa masih bekerja. Jangan diganggu. Tunggu Grandpa selesai kerja, barulah kamu boleh bertanya,"


Adrian menghela napas lalu mengangguk. "Okay, Mom."


"Persiapan sudah selesai semua, Jane?"


"Untuk pernikahan?"


"Iya,"


"Oh, sudah hampir selesai."


"Cepat ya padahal pelaksanaan nya masih sekitar tiga minggu lagi,"


"Aku pikir justru terlalu lambat. Teman-temanku kalau mau menikah, sudah siap sebulan sebelum pernikahan,"


"Kamu terlalu lama memberi jawaban. Jadi semua juga terhambat,"


"Iya, benar juga. Tapi meyakinkan diri itu perlu,"


"Tentu saja. Walaupun kamu sudah yakin sejak awal, tapi tetap harus berpikir ulang sebelum mengambil keputusan. Karena pernikahan hanya untuk sekali dalam hidup,"


Jane memeluk Senata dan Rena dengan perasaan haru. "Doakan aku supaya menjadi wanita hebat seperti kalian,"


Lovi dan Adrian memperhatikan ketiganya. Adrian menahan senyum lalu melirik Mommy nya yang tak berkedip saat Rena mengecup kening Jane penuh kasih sayang.


"Harus lebih hebat dari kami,"


"Mom, Adrian sudah kenyang,"


Alis Lovi terangkat. Ia tidak percaya dengan anaknya itu. "Pasti karena mau datang ke ruang kerja Grandpa ya? tadi sudah setuju dengan ucapan Mommy yang tidak membolehkan kamu untuk menghampiri Grandpa di ruang kerjanya sampai Grandpa sendiri yang keluar,"


"Tapi aku penasaran dengan hadiah nya,"


"Nanti---"


"Oh sudah bangun cucu kedua Grandpa,"


Adrian menoleh dan langsung berseru senang saat yang ingin ditemuinya malah hadir tanpa Ia yang harus menghampiri.


"Grandpa punya hadiah lagi untuk aku?"


"Tepatnya untuk kalian berdua,"


"Jadi hadiahnya untuk berdua?"


Raihan mengangguk dan mengajak Andrean serta adiknya untuk mendatangi playground atau tempat mereka bermain.


"Setelah lihat hadiah, kembali lagi ke sini dan habiskan makannya," pesan Lovi sebelum Adrian mengikuti sang kakek.


"Iya, Mom." jawabnya patuh.


Begitu sampai di playground, Ia melihat ada sebuah benda besar ditutupi oleh sesuatu hingga tidak bisa terlihat isinya.


Raihan segera membuka penutup tersebut dan Adrian langsung melonjak bahagia begitu melihat mainan yang sering ia mainkan di wahana bermain kini Ia miliki.


"Kalian harus bermain berdua,"


"Terima kasih, Grandpa."


Adiknya langsung menghampiri hadiah sementara Andrean memeluk kakeknya seraya mengucapkan 'terima kasih'.


"Adrian katakan sesuatu dulu pada Grandpa!" Titah Andrean dengan nada datar tapi mampu membuat Adrian takluk. Adrian langsung memeluk Raihan juga. Bahkan Ia mencium kening kakeknya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Grandpa. Aku senang sekali mendapatkan ini,"


"Berikan ciuman!" Titahnya yang langsung dituruti oleh kedua anak kembar itu. Pipi kanan dan kirinya dicium oleh Adrian dan kakaknya.


Lovi mendekati kedua anaknya yang tengah berbahagia sekali.


"Tinggal Daddy dan Mommy yang belum memberi kado," ucap Adrian pada Lovi.


"Daddy mau memberikan sekarang. Tanyakan pada Daddy,"


"Kalau dari Mommy?"


"Besok ya,"


"Benar, Mom?"


Lovi mengangguk cepat. Mobil yang akan diberikan pada mereka berdua baru bisa diantar oleh pihak dealer sekarang.


Adrian cepat-cepat berlari ke kamar orangtuanya. "Jalan pelan-pelan, Adrian."


Adrian tidak mendengarkan teguran dari kakeknya. Ia benar-benar bahagia sekaligus penasaran sekarang. Hadiah dari Devan dan Lovi lah yang ditunggu olehnya.


"DADDY, DADDY DIMANA?"


"DADDY DADDY DADDY,"


Adrian dari tangga saja sudah teriak-teriak. Menganggap mansion seperti hutan belantara.


Devan membuka pintu kamar dan menoleh ke tangga. Anaknya baru tiba di anak tangga paling atas. Lalu Adrian menghela napas terlebih dahulu. Ternyata melelahkan juga berteriak seraya menaiki tangga.


"Kenapa berteriak? Auris masih tidur, Adrian."


"Dimana kado untukku?"


"Oh mau tanya kado. Ayo, kita turun."


"Auris ditinggal sendiri?"


"Daddy pindahkan ke dalam boks nya dulu,"


Adrian mengangguk dan menunggu dengan setia di depan pintu kamar. Devan memindahkan putrinya dengan hati-hati agar Ia tidak terbangun. Auristella akan merajuk kalau Ia bangun tidur belum waktunya.


Sekarang Devan terbiasa memeriksa semua pengaman di kamarnya apalagi bila ada anaknya di dalam kamar.


"Bawa saja Auris turun, Dad. Nanti ada orang jahat,"


Ucapan Adrian sangat serasi dengan kata batinnya sejak tadi. Jujur Ia tidak tenang bila harus meninggalkan Auristella sendirian di sini, semenjak peristiwa berdarah di mansion beberapa waktu lalu. Padahal sebenarnya belum tentu terjadi sesuatu.


Ia yang terlalu takut. Kalau Ia bekerja, dan Lovi harus menyelesaikan sesuatu sementara Auristella tertidur, maka Lovi akan meninggalkan Auristella sejenak untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lovi tidak seperti Devan yang sudah benar-benar dikuasai oleh rasa takut sehingga seberat itu Ia membiarkan Auristella tertidur sendiri di dalam boksnya.


"Okay, kita bawa saja Auris ke bawah,"


Adrian akan bersorak dan langsung ditatap tajam oleh Daddy nya. "Mulutmu tidak bisa diam,"


Adrian terkekeh tanpa suara. Ia dilarang bicara karena Auristella terlelap dalam balutan tangan Devan.


"Dimana Mommy?"


"Di playground tadi,"


"Ngapain? bermain di sana?"


Adrian tidak menjawab dan menarik sebelah tangan Devan agar berjalan mengikutinya.


"Pelan-pelan, Daddy gendong Auris ini,"


Saat sampai di playground, Adrian menunjuk Lovi dan Andrean yang tengah menggunakan hadiah pemberian Raihan. Mereka sedang bermain hockey bersama.


"Mom, ini Auris."


Adrian menyuruh Daddy nya untuk menyerahkan Auristella karena urusan kado belum selesai. Jadi Auristella harus dengan Lovi dan Devan memberikannya hadiah.


Lovi segera meraih anaknya. "Kenapa kamu bawa ke bawah? Dia sedang tidur,"


"Aku khawatir meningalkannya sendirian di kamar,"


"Tidak apa, aku sering melakukannya. Yang terpenting---"


"Tidak boleh lagi, Lovi. Kamar si kembar saja berhasil dimasuki oleh penjahat. Tidak menutup kemungkinan kamar kita juga,"


"Okay, lain kali aku tidak akan melakukan itu,"


Lovi segera membawa cucunya keluar dari playground. Ia akan menidurkan Auristella di kamar Senata yang berada di lantai bawah.


"Ayo tunjukkan dimana hadiahnya, Dad." Seru Adrian seraya melonjak-lonjakkan tubuhnya. Ia merengek pada Devan agar cepat-cepat menuntaskan rasa penasaran nya.


Devan beralih pada Andrean yang kini bermain hockey bersama Raihan. "Andrean, ikut Daddy sebentar, Sayang."


"Grandpa menang!" Raihan berseru senang karena berhasil mengalahkan Andrean.


"Grandpa curang. Aku 'kan sedang diajak Daddy bicara jadi fokusnya terbagi,"


Tawa Raihan meledak saat melihat cucu sulungnya mencibir pelan. Andrean dipanggil lagi oleh Devan. Akhirnya Ia mengikuti Devan dan Adrian yang keluar dari playground.


"Seperti apa reaksi mereka setelah mendapat kado dari Devan? aku penasaran," gumam Raihan lalu Ia juga keluar.


Mereka tiba di basement mansion. Andrean dan adiknya mengerinyit bingung saat di bawa ke sini.


"Dad, dimana hadiah nya? kenapa kita ke basement? memang kita mau naik mobil?"


Devan membuka penutup masing-masing mobil milik mereka berdua yang menjadi kado dari Devan.


"Ini hadiahnya,"


"Mobil?"


"Iya, memang apa yang kamu lihat sekarang?"


"Astaga, kita 'kan sudah punya mobil juga,"


"Menambah koleksi,"


Jawabnya ringan mengundang decak Andrean. "Kita sudah punya mobil masing-masing. Tapi kalau pergi kemanapun tetap menggunakan satu mobil. Sekarang Daddy beli lagi untuk aku dan Adrian?"


"Kalian tidak suka dengan hadiahnya?" Wajah Devan berubah sedih. Ia kira dengan memberikan fasilitas ini, mereka bahagia.


"Suka, aku sangat menyukai mobilnya. Terima kasih, Dad."


"Andrean tidak suka?"


"Suka, Daddy. Tapi sayang saja uangnya,"


walaupun Andrean tidak tahu harganya berapa. Tapi Ia yakin sekali uang yng dikeluarkan Daddy nya untuk membelikan kedua mobil itu tidaklah sedikit.


"Tidak apa. Lagipula mobil Andrean baru satu, Adrian juga begitu. Sekarang masing-masing jadi punya dua,"


Andrean dan Adrian memeluk Devan dengan erat. Devan sengaja memberikan mereka itu, karena mobil yang mereka punya sekarang sudah berjalan dua tahun dipakai. Biasanya setiap pergi kemanapun, mereka memang hampir tidak pernah menggunakan mobil masing-masing. Selalu pergi dengan satu mobil entah itu mobil Adrian atau Andrean, yang jelas memakainya bergantian.


"Besok kita berkuda,"


"Yeaaay akhirnya berkuda lagi,'


"Pakai mobil baru,"


"Kita pisah mobil?"


"Mommy dengan Adrian. Daddy dengan Andrean. Bagaimana?"


"Kurang seru kalau berpencar begitu, Dad." ujar Adrian yang menyukai kebersamaan. Selagi ada kesempatan untuk bersama, kenapa harus berpencar?


"Biar kedua mobil baru kalian dicoba sebagai permulaan,"


"Oh okay."


"Lagipula sebentar lagi kalian akan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Belum tentu memiliki jadwal yang sama. Jadi kalian harus terbiasa berpisah. Kalau di sekolah sekarang jadwal kalian selalu sama karena satu kelas. Nanti di sekolah baru belum tentu seperti itu lagi,"


Devan memang senang melihat anaknya kompak. Meski memiliki mobil sendiri-sendiri tapi mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama menggunakan satu mobil. Tapi semakin beranjak besar, keduanya pasti memiliki kepentingan sendiri. Sebentar lagi mereka akan menuntut ilmu di sekolah dasar, belum tentu memiliki jadwal yang sama.


"Kata Mommy, kado dari Mommy diberikan besok. Kenapa tidak sekarang saja, Dad? besok 'kan kita mau berkuda,"


"Kadonya akan siap besok mungkin. Mobil dari Daddy juga baru siap sekarang,"


"Oh begitu. Besok Auris ikut berkuda juga?"


"Memang dia bisa berkuda? dia tinggal di mansion. Kita berempat saja yang pergi berkuda,"


Devan menahan tawa setelah mendengar ucapan anak keduanya. Ia melirik Andrean yang menatap adiknya dengan mata mendelik. "Auris diajak berkuda? berjalan saja belum terlalu bisa. Aneh-aneh saja kamu. Cukup bermain kuda mainan saja dia,"


"Iya, Auris sudah punya kuda sendiri malah,"


"Kita yang belum, Dad." ujar Adrian seraya menunjuk dirinya sendiri dan juga kakaknya.


"Daddy tidak ada niat membelikan kita kuda?"


"Kuda mainan ya?"


"Kuda yang sesungguhnya. Bukan kuda mainan seperti Auris,"


"Nanti, kalau sudah ada uang,"

__ADS_1


"Daddy punya banyak uang,"


"Kita baru saja dapat mobil dari Daddy, Adrian. Kamu sudah minta yang lain? kamu pikir cari uang mudah ya?"


Devan gemas melihat anak sulungnya yang menegur adiknya itu. Pikirannya dewasa sekali. Ia tahu mencari uang tidak mudah, oleh sebab itu Ia tidak suka mendengar Adrian banyak meminta pada orangtua. Lagipula mereka bisa berkuda menggunakan kuda milik Lovi dan Devan. Biasanya juga seperti itu.


***


"Rena, temani aku cek butik dan restoran, mau tidak?"


"Mau, tapi aku harus ke butik Lovi dulu karena ada klien yang mau bertemu Lovi sementara Lovi akan berkuda hari ini, jadi aku yang menggantikannya,"


"Oh, okay. Kita pergi bersama kalau begitu,"


"Grandma time,"


"Yeaa benar,"


Rena dan Senata melihat kedua cucunya sedang bermain bersama Auristella di ruang keluarga.


Adrian dan Andrean sudah bangun pagi-pagi sekali karena sesuai rencana mereka akan berkuda hari ini.


"Auris bingung melihat kita sudah tampan pagi-pagi begini,"


Berhubung Lovi sedang mandi, Andrean dan Adrian lah yang menemani adik mereka bermain. Sementara Devan sedang bersiap di walk in closet.


"Hmm tapi kita selalu tampan setiap saat," ujar Adrian membenarkan ucapannya sendiri. Serry, yang menjaga mereka saat ini dibuat terkekeh ketika mendengar ucapan anak itu.


"Auris jangan nakal ya. Nanti mau dibawakan apa?"


"Ndak,"


"Tidak mau?"


"Ndak au,"


"Errrghhh aku gemas melihat kamu,"


"AARRRGGHH!"


Auristella berteriak karena pipinya dicubit oleh Adrian yang terlalu gemas dengan adiknya itu.


"Adrian jangan mulai pertengkaran pagi-pagi begini!"


"Siapa yang mau bertengkar? aku hanya---


"Auris tidak mengganggu kamu, kenapa kamu malah mencubit pipinya?!" sentak Andrean.


"Pipinya menggemaskan,"


Auristella melempari kakak keduanya dengan mainan dan tawa Adrian langsung meledak. Ia berlari menghindari Auristella yang merangkak ingin menyerangnya.


Adrian tidak sengaja menabrak pintu playground saat akan keluar dari sana. Melihat itu, Auristella dan Serry tertawa. Auristella tertawa paling kencang. Sementara Andrean tetap saja dengan pembawaannya yang dingin.


Malah dalam hati dia berkata, "Akibat yang diterima setelah mengganggu adik ya begitu,"


"Bagaimana rasanya? hmm?"


"MOMMY, ANDREAN JAHAT!"


Serry, Auristella, dan Andrean saling pandang saat Adrian berteriak marah lalu berlari keluar dari playground.


"Padahal dia yang jahat sering membuat Auris menangis,"


"Kenapa sih?!"


Devan berseru marah pada anaknya yang sudah membuat keributan di pagi hari. "Kenapa menangis?"


Devan menarik tangan Adrian yang menutupi wajahnya sendiri. Devan merendahkan tubuhnya didepan Adrian.


"Jawab, Daddy! kenapa berteriak dan menangis?!" Suara Devan yang sedikit meninggi membuat Adrian semakin terisak. Andrean yang mendengar kemarahan sang ayah pun keluar dari playground.


"Adrian---"


"Dad, Adrian tadi mengganggu Auris. Saat Auris ingin membalas, dia berlari dan tidak sengaja menabrak pintu."


Devan segera menghela napas panjang seraya menggeleng pelan. "Kamu yang mulai dan kamu juga yang menangis? hebat sekali kamu ya,"


Devan berusaha ingin menatap mata Adrian tapi anak itu masih menutupi seluruh wajahnya dengan tangan.


"Devan, ada apa?"


Raihan segera membawa Adrian dalam gendongan. Adrian menggeleng saat Raihan meminta agar wajahnya diperlihatkan.


"Terus menangis biar tidak usah pergi berkuda sekalian," ujar ayah tiga anak itu.


"Andrean bersiap! sebentar lagi kita berangkat,"


Devan memberikan titah tegas pada anak sulungnya yang langsung dipatuhi. Devan menatap Adrian dengan tajam walaupun anaknya bersembunyi di balik bahu kakeknya.


"Sudah besar, baru kemarin ulang tahun. Tapi sifat yang buruk-buruk belum juga hilang. Kamu kalau sudah jahil sering sekali keterlaluan,"


Raihan tidak mengerti penyebab kemarahan anaknya saat ini. Ia tidak tega melihat cucunya dimarahi sampai menangis seperti ini.


Sebenarnya Adrian menangis bukan karena dimarahi. Tapi kepala nya sakit terkena pintu. Setelah Daddy nya marah, tangisnya semakin sulit dikendalikan.


"Coba, Grandpa lihat dulu wajahnya. Kamu mau berkuda tidak? masa berkuda wajahnya ditutup?"


Sementara Devan masih diam memandang anaknya, Raihan berusaha membujuk Adrian.


Raihan memaksa tangan Adrian agar tidak lagi menutupi wajahnya. Ia harus menghapus jejak air mata anak itu. Setelah wajahnya terlihat, tangis Adrian kian pecah.


Raihan dan Devan terperangah melihat kening Adrian memerah. Tangan Adrian terangkat ingin mengusapnya seraya berkata, "Sakit, Grandpa." Suara anak itu masih tersendat karena tangis.


Hati kecil Devan meringis melihat anaknya menangis kesakitan seperti itu. Akhirnya Ia meraih Adrian dari gendongan Raihan. Adrian berontak ingin kembali bersama kakeknya.


"Tidak mau dengan Daddy,"


Ia masih ingat betul bagaimana marahnya Devan tadi. Sehinga Ia tidak berani berada dalam gendongan Devan.


Tangan Adrian menjulur ke belakang dimana Raihan masih berdiri di tempatnya, sementara dirinya dan Devan sudah berjalan menjauh.


Devan membawanya ke kamar bertepatan dengan Lovi yang akan keluar kamar dengan penampilan yang sudah siap untuk pergi.


Devan memasuki kamar dan Lovi yang berada di depan pintu bingung saat dilewati begitu saja. "Adrian kenapa menangis?"


"Tolong obati kepala nya, Lov. Tadi terantuk di pintu,"


"Ya Tuhan,"


Lovi segera mendekati sang anak untuk melihat dengan jelas luka yang tergambar di kepala anaknya.


"Tidak luka, hanya memerah dan aku rasa sebentar lagi memar. Segera obati, aku tunggu di mobil,"


Usai meletakkan Adrian di ranjang, Ia berdiri. "Jangan menangis lagi. Itu kesalahan kamu 'kan? kalau mau berkuda, tidak boleh ada tangisan, Daddy sudah katakan itu sejak tadi,"


Devan keluar setelah mengucapkan serangkaian kalimat. Lovi masih berusaha mencerna. Ia tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba Devan datang ke kamar dengan membawa Adrian yang menangis karena terantuk.


"Kapan kejadiannya, Sayang? dan kenapa bisa terantuk di pintu?"


Adrian memilih bungkam. Ia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Lovi memahami, mungkin anaknya belum mau membahas itu.


Lovi langsung mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres kening Adrian selama kurang lebih sepuluh menit. Setelah itu, Ia juga mengoleskan sedikit aromaterapi oil.


"Sudah selesai. Ayo, kita turun. Daddy sudah menunggu,"


Lovi menggenggam tangan anaknya setelah Ia menghapus sisa-sisa air mata Adrian. Mereka harus segera turun ke bawah.


"Adrian dan Mommy dimana?"


"Mommy sedang mengobati Adrian,"


"Adrian memang kenapa, Dad?"


"Keningnya memerah karena terantuk pintu tadi,"


"Sampai seperti itu?"


Devan mengangguk. Ia sudah siap dengan kemudinya di dalam mobil Andrean. Mata Devan melihat Lovi juga memasuki mobil milik Adrian.


"Mommy membawa mobil, Dad? Daddy bolehkan?"


"Hanya untuk kali ini Mommy yang membawa mobil Adrian. Sesuai rencana kemarin, hari ini kita akan mencoba mobil kamu dan Adrian,"


"Oh ternyata jadi. Aku pikir---"


"Tentu saja jadi. Mommy jarang sekali menyetir,"


"Itu dia masalahnya. Kalau Mommy sudah lupa cara mengemudi bagaimana?"


"Tidak mungkin, Sayang. Dalam sebulan, Mommy pasti berkeliling di sekitar mansion dengan mobilnya sendiri,"


"Tapi ini 'kan perjalanan yang cukup jauh, Dad."


Andrean khawatir begitu tahu kalau Lovi lah yang akan membawa mobil Adrian, bukan supir mereka. Sebenarnya Lovi sudah bisa menyetir tetapi memang hampir tidak pernah pergi jauh membawa mobil sendiri. Paling hanya di sekitar mansion saja.


"Mommy sendiri yakin," ujar Devan.


Mereka keluar dari mansion dan mulai melaju dengan kecepatan normal. Andrean terlihat khawatir dengan Lovi. Sementara Lovi sendiri nampak santai dan menikmati perannya sebagai pengemudi saat ini.

__ADS_1


"Adrian jangan diam saja. Biasanya banyak bicara," Lovi menoleh sebentar pada anaknya yang duduk di sampingnya. Ia menjawil dagu Adrian yang diam seraya memandang jendela.


Suasana hatinya belum membaik. Dan Lovi yang mengetahui itu hanya bisa menghela napas pelan.


__ADS_2