
"Ya sudah, kalau tidak mau Daddy melakukan sesuatu pada robotnya, jangan berlebihan pada robot itu,"
"Maksudnya berlebihan?"
"Jangan sampai kamu bertengkar dengan kakak atau adikmu karena robot, jangan lupa mengerjakan tugas karena robot, makan tetap teratur jangan seperti tadi siang. Daddy dapat laporan dari Mommy kalau kamu tidak makan siang karena sibuk dengan robot baru,"
"Oh, kalau masalah itu mudah, Daddy. Tenang saja. Adrian tetap menjadi anak yang baik walaupun ada robot,"
"Ayo, Grandpa sudah selesai makan,"
Raihan masih mau menuruti keinginan Adrian. Ia bangkit untuk melihat mainan baru milik sang cucu.
Apa yang dimakan Adrian juga sudah habis tak bersisa. Saatnya Ia menunjukkan robot itu pada kakeknya. Ia berharap reaksi Raihan tidak seperti orang-orang yang lain.
Raihan masuk ke dalam kamar cucu laki-lakinya. Sama seperti Devan, Ia dibuat terkejut untuk beberapa detik. "Bagaimana, Grandpa? bagus 'kan?"
"Huh? i--iya, bagus, bagus."
"Grandpa kenapa seperti menahan tawa? memang robotku sedang melakukan sesuatu yang lucu?"
Raihan menggeleng cepat. Ia bingung bagaimana menjelaskan penyebab Ia menahan tawa. Ia melihat robot itu seperti yang ada di pusat-pusat perbelanjaan dan museum bahkan sepertinya ini lebih besar. Manekin yang digunakan untuk memajang pakaian atau celana yang dijual-jual di butik saja lebih kecil daripada robot ini.
"Ada yang lebih besar lagi tidak?" tanya Raihan karena Ia sudah terlalu keheranan.
"Mungkin ada. Aku mau beli nanti,"
"Okay, lalu diletakkan dimana?" tanya lelaki yang memiliki tiga cucu itu seraya mulai menyentuh robot Adrian. Ia mencari-cari tombol penggerak yang dimaksud Adrian.
"Itu bisa dipikirkan nanti," jawabnya dengan ringan, seolah lupa dengan perdebatan bersama Lovi tadi siang.
"Grandpa mau lihat dia berjalan?"
Raihan mengangguk dan Adrian langsung menunjukkan tombolnya. Begitu Adrian tekan, Raihan sedikit menjauh, dan ternyata benar, robot itu bisa berjalan. Raihan terkejut saat benda tersebut berjalan ke arahnya.
"Hey--"
Adrian terbahak kencang. Lalu Ia memutar arah robot dengan tombol juga. Tadi Ia mengerjai kakeknya yang pasti merasa bingung kenapa robot itu berjalan mendekatinya.
"Grandpa takut ya?"
"Grandpa rasa kamu sengaja membeli ini untuk mengerjai semua penghuni mansion. Tapi sayang sekali tidak berhasil karena diletakkan di kamar,"
"Iya, karena Mommy melarang. Jangan diletakkan di luar kamar, kata Mommy,"
"Kamu seniat itu mau mengerjai orang?"
__ADS_1
"Tidak ada niat untuk mengerjai, Grandpa. Aku hanya suka dan ingin memilikinya. Kemarin aku melihatnya saat di jalan, dan langsung tertarik,"
"Ini mainan di pinggir jalan?"
"Tentu saja tidak. Harganya saja jauh sekali dari mainan pinggir jalan, Grandpa."
"Sudah mengucapkan 'terima kasih' pada Uncle Jhico?"
"Sudah, bahkan aku juga memujinya baik hati, sama seperti Aunty Vanilla."
Raihan terkekeh seraya mengucap, "Pintar sekali kamu ya. Kalau sudah dituruti pasti memuji berlebihan,"
"Tidak berlebihan, memang Uncle baik sekali,"
Raihan mengusap kepala cucunya yang mulai sibuk bermain dengan robot canggih itu. "Sepertinya ini bisa dijadikan pengantar makanan juga. Seperti di restoran robot yang pernah aku kunjungi," ucap Adrian tiba-tiba.
"Dia yang membawa makanan?"
"Iya, aku pernah datang ke restoran seperti itu,"
Raihan duduk di bean bag dan membiarkan Adrian sibuk dengan dunianya. Adrian bermain seraya bercerita pengalamannya belum lama ini, ketika Ia mengunjungi sebuah restoran yang tenaga kerjanya adalah robot.
"Seperti mimpi ya, Dad? ternyata ada tempat seperti ini,"
"Ada, bahkan sudah lama. Tapi Daddy baru ingat kalau belum pernah membawa kalian ke sini,"
"Bosan kalau di sini terus,"
"Menu sangat banyak. Jangan khawatir akan bosan dengan makanannya,"
"Okay, siap boss kecil,"
Auristella juga tampak senang ketika di bawa ke restoran unik tersebut. Ia jadi fokus dengan robotnya daripada makanannya, sama seperti Adrian. Ia terlalu suka dengan konsep restoran sampai bercita-cita untuk membuat restoran yang seperti ini juga.
"Buat inovasi baru. Jangan restoran seperti ini yang kamu buat," jiwa bisnis dalam diri Devan meronta. Ia menginginkan anaknya memiliki ide sendiri dalam membuat konsep suatu usaha.
"Tidak mau, aku maunya restoran sama persisi dengan ini,"
"Dengan kereta thomas juga. Supaya lebih ramai,"
"Nah itu bagus. Daddy rasa lebih unik lagi saat pelanggan dilayani dengan kereta thomas,"
Lovi yang mendengar pembahasan mereka hanya bisa menggeleng pelan lalu diam. Terkadang memang seperti inilah interaksi antara Adrian dengan Daddy-nya. Devan dan Adrian terlalu jauh dalam berpikir. Padahal lulus sekolah anak saja belum. Tetapi sudah memikirkan usaha di masa depan. Sebenarnya itu pemikiran yang bagus karena biar bagaimanapun peran orangtua juga sangat dibutuhkan dalam menentukan masa depan anak. Dan Adrian juga menyambut baik pembicaraan Devan mengenai rencana yang akan Ia lakukan. Seolah Ia juga sudah siap untuk merangkai masa depan.
"Kalau Andrean mau seperti apa bentuk usahanya?"
__ADS_1
"Tidak tahu, Dad. Aku tidak bisa berpikir karena lapar,"
Lovi dan Devan meledakkan tawa mereka. Andrean sedang melucu atau bagaimana? Andrean bicara sangat jujur dan itu membuat perut orangtuanya tergelitik.
"Bagus, sudah memikirkan masa depan dari sekarang. Grandpa dukung apapun yang baik untuk kamu di masa yang akan datang,"
"Kalau aku tidak jadi bussines man boleh tidak, Grandpa?"
"Hmm..." Raihan tampak berpikir saat cucunya meminta pendapat.
"Jangan tanya Grandpa. Tanya Daddy sebagai orangtuamu,"
"Jadi harus sesuai dengan arahan orangtua ya, Grandpa?"
"Yang perlu kamu lakukan pertama kali adalah cari kemampuanmu ada di bidang apa, lalu setelah itu minta pendapat Daddy dan Mommy,"
"Dulu, Daddy juga seperti itu?"
"Kalau Daddy menjadi korban pemaksaan Grandpa. Kamu janganlah, nanti Grandpa larang Daddy untuk memaksa kamu,"
"Ughh Grandpa kejam ternyata,"
"Tapi Daddy berhasil menjadi orang sukses 'kan?"
"Iya, beruntungnya seperti itu ya,"
********
"Hallo, Aunty Vanilla. Dimana Uncle Jhico?"
"Hallo, Sayang. Uncle sedang makan," Vanilla mengarahkan kameranya pada sang suaminya yang sedang menikmati pasta buatannya. Jhico menatap kamera lalu melambai untuk menyapa Adrian.
"Robotnya sudah sampai, aku senang sekali, Uncle."
"Itu besar, jadi kamu letakkan dimana?"
"Memang sebesar apa?" tanya Vanilla pada suaminya. Jhico merentangkan kedua tangannya untuk menggambarkan jawaban atas pertanyaan istrinya.
"Iya, benar. Sebesar itu, Aunty."
"Astaga, pasti kamu berdebat dulu dengan Mommy. Mengingat Mommy itu adalah orang yang tidak begitu suka dengan hal yang aneh-aneh,"
"Iya, Mommy tidak mengizinkan aku untuk meletakkan robot itu di koridor depan kamarku. Hanya boleh di kamar, kata Mommy. Padahal lebih bagus lagi kalau semua orang bisa melihatnya,"
Vanilla tak bisa menahan tawa. Ia belum melihat langsung seperti apa robot yang disukai Adrian itu, tetapi Ia sudah membayangkan betapa sengitnya perdebatan yang sempat terjadi antara Adrian dengan Mommy-nya.
__ADS_1
Apa lagi jika Vanilla sudah melihat langsung. Pasti tawanya lebih geli lagi karena Ia seperti dibuat berada di sebuah museum robot yang berisi berbagai jenis robot. Reaksi Vanilla akan sama persis dengan Lovi, Devan, dan kedua orangtuanya.