
"Grandma, nanti ke kamar Adrian lagi ya," mata bulatnya mengerjap pada sang nenek. Senata mengangguk seraya tersenyum. Ia duduk di samping Lovi.
"Wah rupanya kalian di sini," Suara Rena yang baru kembali dari kantin terdengar memasuki ruangan Lovi.
Ia membawa paper bag berisi makan sore. Kebetulan sedang berkumpul sepertinya kalau makan bersama akan lebih nikmat.
"Devan kemana? Anaknya pergi sendiri ke sini?" Matanya tak menemukan kehadiran Devan. Tidak mungkin Devan sebodoh itu membiarkan kedua anaknya datang ke ruangan Lovi tanpa dirinya.
Devan keluar dari toilet, Ia tersenyum pada Mamanya yang kini menatapnya sebal.
"Mama kira kamu tidak ke sini juga,"
"Tidak mungkin. Mereka mau bertemu Mommynya,"
"Ayo makan dulu," Seru Rena dengan semangat.
"Nanti mau ke taman. Boleh, Mommy?"
Alis Lovi terangkat. Ia mengusap wajah anaknya yang saat ini duduk di permadani juga. Menuruti neneknya untuk makan.
"Dengan siapa ke sana? Daddy?"
Mereka mengangguk. Kini menatap Lovi untuk menunggu jawaban.
"Hati-hati ya. Jangan lama-lama di sana,"
"Siap, Mommy!"
"Grandma, Andrean mau yang pedas itu," tangan Andrean menunjuk makanan Rena. Rena menggeleng tegas. Kuahnya saja sudah merah garang. Berbeda dengan Andrean, Adrian justru bergidik melihat makanan neneknya.
"Ini punya orang dewasa. Makan itu saja. Tadi Grandma sudah tanya, kalau bubur jagung boleh kalian makan,"
"Tidak suka bubur jagung," lugas Andrean yang tidak biasanya seperti ini.
__ADS_1
"Itu pedas, sayang. Sakit perut nanti,"
"Andrean, kalau dilarang artinya tidak boleh. Makan bubur jagungnya,"
Kalau Devan sudah ikut campur maka mereka tak bisa lagi memaksa kehendak. Melihat Rena menikmati ramen itu Andrean jadi membayangkan kalau kuah ramen memasuki tenggorokannya.
"Lov, kamu boleh makan ini?" Devan melirik Kimbap yang dibeli mamanya untuk Lovi, Senata, dan Ia sendiri.
"Aku makan yang dari rumah sakit saja,"
Rena menghentikan acara makannya. Ia kira Lovi menyukai itu.
"Kamu mau makan apa sekarang? Ini tidak berbahaya, Lov. Mama sudah bertanya pada ahli gizinya tadi mengenai makananmu dan mereka,"
"Mama belikan yang lain ya?"
"Tidak usah, Ma. Aku suka, tapi sekarang mual. Nanti pasti Aku makan,"
"Kalau mau apa-apa beri tahu saja ya,"
"Kamu harus menjaga mereka. Memang bisa menuruti keinginan Lovi?"
"Mommy, tadi teman Mommy datang. Adrian tidak suka," seraya disuapi Ayahnya, Adrian berceloteh. Sampai-sampai mulutnya maju, menggambarkan kekesalannya.
***
"Daddy, mau beli itu,"
"Hei, kenapa mau keluar?"
Devan menarik tangan Adrian ingin mengejar penjual balon yang baru saja lewat di luar gerbang belakang rumah sakit yang berdekatan dengan taman.
"Adrian mau itu," Ia melompat-lompat seraya merengek. Andrean yang melihat tingkah adiknya berdecak kesal.
__ADS_1
"Adrian, kenapa malah mau beli balon? tadi katanya mau ke taman saja. Banyak maunya,"
"Itu penjualnya berhenti. Daddy cepat belikan!" Adrian tak mengindahkan kakaknya.
Devan menghela napas sabar. Ia menggiring tubuh kedua anaknya untuk duduk di kursi taman. Kalau tahu seperti ini, seharusnya Ia menyetujui ucapan Rena tadi yang mengatakan ingin membantunya menemani mereka di taman ini.
"Tunggu di sini. Jangan pergi kemanapun!" titahnya dengan tegas. Adrian mengangguk antusias dan langsung bersorak saat melihat Devan mendekati penjual balon.
***
"Kenapa Adrian bicara seperti tadi ya, Ma? yang tidak disukainya itu Fifdy atau Desira?"
Pertanyaan itu mengganggu pikirannya sejak tadi. Adrian terlalu jujur hingga membuat Lovi sulit untuk melupakan protesnya.
Rena yang memang berada di samping mereka sejak tadi pun terkekeh. Ia mengusap kepala Lovi dengan penuh kasih sayang.
"Fifdy. Dia sama seperti Devan. Punya mulut kejam..."
"Dia tidak suka kamu memiliki teman lelaki. Katanya sudah ada Daddy,"
Senata dan Lovi tertawa mendengar cerita Rena. Mereka tidak menyangka anak sekecil itu bisa menilai orang lain dengan begitu jujurnya.
***
"Hati-hati, Sayang."
Andrean dan adiknya menoleh saat mendengar suara perempuan di kursi yang tak jauh dari mereka. Ia sedang membantu seorang lelaki untuk duduk.
Mata Andrean mengerjap setelah melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Ia menggoyang lengan adiknya seraya berbisik,
"Adrian, itu Tante jahat yang pernah marahi kamu 'kan?"
-------
__ADS_1
Up sampe sini dulu yaa. Bsk lanjut lg. Akyu udh ngantux😂😂 jgn lupa vote&komen. Babayyy