
"Mereka sudah pulang,"
Lovi terdiam sebentar. Kemudian berusaha tersenyum. Menghalau kekacauan yang merajalela di hatinya.
"Bersama Grandma mereka?"
"Kalau itu saya kurang tahu, Nyonya."
"Ya Tuhan, semoga mereka baik-baik saja. Aku terima mereka kesal padaku, lindungi mereka, aku mohon,"
"Rapat orangtua sudah selesai?"
"Sudah sejak tadi selesainya, Nyonya."
Kalimat itu seolah menampar Lovi secara tak kasat mata. Lovi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menggambarkan betapa sesaknya Ia sekarang.
Acha pergi meninggalkan Lovi yang kini membisu. Beberapa detik kemudian Lovi sadar kalau Ia belum memeriksa kelas anaknya. Barang kali mereka masih berada di sana. Walaupun Acha mengatakan hal yang sebaliknya.
Kaki Lovi melangkah dengan pasti. Mulutnya terus merapalkan kata 'maaf' untuk kedua anaknya.
Janji untuk hadir di rapat orangtua setelah itu pulang bersama berhasil diingkari oleh Lovi.
Ruang kelas benar-benar kosong. Suhu dingin dan suasana hampa dari kelas tersebut menampakkan bahwa memang tidak ada siapupun di sana.
***
Lovi memasuki rumahnya. Ia langsung bertanya mengenai keberadaan Andrean dan Adrian kepada Serry yang menyapanya.
Jawaban Serry semakin membuat pikiran Lovi semakin buntu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Lovi tidak tahu menghadapi rasa cemasnya sendiri.
__ADS_1
Hanya nama Devan yang berkeliling di pusara otaknya. Ia meraih ponselnya di dalam tas. Seraya berjalan memasuki kamar Senata.
Mamanya pun tidak ada. Jelas, Ia pun turun tangan dalam 'penculikan' cucunya. Serry memang tidak mungkin berbohong padanya. Rumah ini sepi, hanya ada para pelayan.
"Hallo? tidak biasanya kamu telepon aku,"
"Kamu sedang bersama Andrean dan Adrian?"
Devan bisa menangkap nada khawatir di setiap kata yang diucapkan Lovi. Ia menggeleng walaupun Lovi tidak melihatnya.
"Tidak, aku masih di kantor. Hari ini tidak bisa menjemput mereka,"
Lovi tidak kuat lagi menahan isak tangisnya. Devan di seberang sana kebingungan.
"Mereka sudah dijemput. Tadi aku ke sekolah. Siapa yang menjemput? Apa orangtuamu?"
Pesan masuk ketika panggilan masih terhubung. Ia secepat kilat membacanya.
"Ya Tuhan, Devan, bagaimana ini? Bukan mamaku yang menjemput mereka,"
Lovi menggigit kukunya dengan napas tersengal. Ia melempar tasnya di sofa, kemudian berdiri dengan gusar, menunggu jawaban Devan yang sama cemasnya.
"Aku telepon Mama dan Papa dulu kalau begitu,"
Panggilan terputus secara sepihak. Devan melakukan apa yang dikatakannya tadi. Tangan Devan bergetar di atas ponselnya. Ia menggulir layar dengan mata tak fokus lagi. Berkali-kali menghubungi Rena dan Raihan namun tidak ada jawaban sama sekali.
Devan pun menghubungi Vanilla dan juga Jane. Walaupun kemungkinan anaknya bersama mereka sangatlah tipis. Apalagi Jane. Devan ingat betul betapa sinisnya Jane ketika menatap kedua anaknya. Ia mencurigai sepupunya sendiri sekarang.
"Jane, kalau kamu yang melakukan ini, aku tidak akan segan membunuhmu sekalipun kamu adalah sepupuku,"
__ADS_1
***
Satu meja memanjang dipenuhi dengan keluarga besar. Sementara meja lain diperuntukkan tamu undangan.
Adrian dan Andrean sedang makan disuapi Vanilla dan Jane dengan lauk kesukaan mereka, chicken katsu.
Senata, Rena, Raihan dan para orangtua yang lain sedang terlibat percakapan. Sampai dua sosok menghampiri.
"Selamat ya, Tampan. Semoga semakin pintar," salah satu rekan Raihan menyapa dua pemilik pesta. Syarief membawa cucu perempuannya. Ia mengisyaratkan cucunya untuk memberi selamat pada Andrean dan Adrian.
"Ayo berikan hadiahnya juga," katanya pada Adrina yang kini merengut.
"Ini kadonya aku yang bawa jadi seharusnya buat aku, Kakek."
Raihan dan Rena tertawa mendengar ucapan gadis kecil itu. Rupanya Ia tidak ingin memberi kedua hadiah tersebut untuk Andrean dan Adrian.
"Memang siapa yang ulang tahun?"
Dengan perasaan tidak rela akhirnya Ia mengulurkan dua kado itu pada Andrean dan juga adiknya.
"Terima kasih," Andrean berkata dengan datar seperti biasa.
"Terima kasih ya, Kak."
Adrina mendelik saat dipanggil seperti itu oleh Adrian.
"Aku bukan kakakmu!" Cetusnya yang lagi-lagi mengundang tawa dari orang dewasa diseliling mereka.
Adrian memutar bola matanya. "Masih untung aku panggil 'Kak' kalau aku panggil 'Nenek sihir' kira-kira bagaimana reaksinya?' Adrian tersenyum miring.
__ADS_1
------
YUHUUU SI KEMBAR DATANG LAGEEE. LEMPAR VOTE&KOMEN UNTUK MEREKA SEBAGAI HADIAH YAAA😂TENGKYUU ONTY-ONTY ONLENNYA SI KEMBAR😚😚