My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pertemuan kedua


__ADS_3

"Kamu cantik sekali,"


Lovi tersenyum dengan wajah merona. Ia menoleh dan sedetik kemudian berteriak seraya menutup matanya. Devan berdiri di depan kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggang.


"Devan pakai bajumu sekarang!"


Devan tertawa keras. Reaksi Lovi memang sudah Ia duga sebelumnya. Karena Devan sangat jarang keluar dari kamar mandi tanpa pakaian, Lovi jadi tidak terbiasa dengan ini.


"Kamu seperti seorang gadis saja," ujarnya dengan nada geli. Lovi mencibir kesal, "Biasanya kamu pakai baju dari kamar mandi. Sekarang kenapa malah seperti itu?"


Devan mengangkat bahunya acuh lalu berjalan memasuki walk in closet untuk memakai busana pestanya.


Lovi berdiri dan menatap cermin sekali lagi. Penampilannya sudah cukup menawan untuk sebuah pesta ulang tahun. Lovi tersenyum melihat perutnya yang membuncit. Ini kali pertama Lovi ikut menghadiri pesta selama Ia hamil anak ketiga.


Devan mengenakan stelan jas berwarna silver yang senada dengan gaun model Sabrina milik sang Istri. Lovi sengaja menyelaraskan pakaian mereka untuk malam ini. Kedua anak mereka juga mengenakan jas dan sepatu yang sama dengan Devan.


"Kita sangat serasi, Sayang."


Devan berdecak kagum memperhatikan Lovi yang tengah mengenakan sepatu pesta dengan heels rendahnya. Lalu Ia bercermin menatap penampilannya sendiri. Devan menggeleng pelan dengan ekspresi yang sangat berlebihan.


"Aku tampan sekali, Ya Tuhan."


Lovi bangkit dan memiting lengan suaminya dengan kesal. Lovi yang perempuan saja tidak banyak tingkah di saat-saat seperti ini. Bahkan rasa percaya dirinya sangat rendah jika dibandingkan dengan Devan.


*****


Bagian keamanan mansion langsung membuka gerbang tinggi yang menjulang saat mobil Devan sampai di depannya.


Devan menganggap pekarangan mansionnya seperti arena balap. Karena ketika masuk, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sampai akhirnya tiba di depan pintu utama mansion. Ia sengaja tidak meletakkan mobil di basement karena kedatangannya hanya sebentar.


Adrian dan Andrean keluar dari mobil. Jane berteriak senang saat mendapati kedua anak kembar itu.


"Aunty Jane tidak ikut ke pesta?"


Adrian berhenti melangkah dan menatap Jane yang jauh lebih tinggi darinya. Andrean memilih untuk mendekati Vanilla yang sedang menekan-nekan tuts piano dengan asal.


"Aunty Jane tidak bisa ikut. Karena nanti mau jalan-jalan bersama calon pangeran Aunty,"


"Aunty Jane punya pangeran nanti?"


Jane mengangguk cepat. Ia mengecup wajah Adrian dengan gemas lalu membawa anak itu ke tengah ruangan.


Lovi dan Devan masuk ke dalam mansion dan belum mendapati Raihan. Padahal lelaki itu yang mengajaknya untuk pergi ke pesta.


"Aku tidak diundang, Pa."


"Thanatan menginginkan kehadiran kalian,"

__ADS_1


Penampilan Raihan belum disempurnakan karena jas masih tersampir di bahunya. Sementara Rena masih berkutat dengan polesannya.


"Yakin ingin mengajakku?" sekali lagi Devan memastikan.


"Mereka yang memintanya. Bukan Papa,"


Undangan yang disebar bukan hanya dalam bentuk tertulis tapi juga berbentuk lisan. Beberapa hari lalu selain mengirim undangan ke kantor Raihan, Thanatan juga langsung menelponnya untuk mengundang mereka secara langsung.


"Tidak ada undangan untuk Devan. Tapi anak itu harus datang,"


"Oh jadi undangannya bukan hanya untukku saja ya?"


Kedua lelaki paruh baya yang sedang terlibat percakapan dalam telepon itu sama-sama terkekeh.


"Untuk Devan juga. Karena percuma aku mengirim undangan padanya. Pasti tidak akan dilirik. Benar-benar sombong anakmu itu,"


"Semua undangan untuknya pasti dilihat. Tapi kalau menghadirinya memang terkadang Devan mengutus orang lain,"


Rena turun dengan penampilan cantiknya. Walaupun sudah berusia senja, Perempuan itu tak henti membuat Lovi berdecak kagum.


"Aku benar-benar mengidolakan Mama," kata Lovi yang ditanggapi tawa malu-malu dari Rena.


*****


Meriahnya pesta membuat Vanilla sedikit tidak nyaman. Biasanya suasana seperti inilah yang digemarinya. Ramai, penuh kebahagiaan, dan bersifat melupakan segala permasalahan untuk beberapa waktu ke depan.


Andrean menyentuh lengannya sehingga membuat Vanilla merendahkan tubuhnya sebentar. Karena Andrean sepertinya ingin berbisik.


"Aunty, mau makan kue? Andrean ambilkan ya?"


Vanilla menggeleng dengan senyum hangatnya. Ia selalu diperlakukan seperti ini oleh keponakannya yang dulu sangat Ia benci. Yang Mommynya pernah Ia sakiti.


Andrean dan Adrian punya cara masing-masing dalam mengungkapkan perhatiannya. Andrean lebih kalem untuk menawarkan bantuan berbeda dengan Adrian yang cenderung memaksa.


"Aunty, ini Adrian punya es krim. Ini buat Aunty,"


Keponakan bungsunya datang dengan membawa tiga cone es krim. Untuknya sendiri, sang kakak, dan Vanilla. Saat Vanilla menggeleng karena Ia tidak menyukai makanan dingin bila sudah malam hari, Adrian berdecak kesal dan tetap menyerahkan es krim tersebut untuk Vanilla.


"Aunty harus terima es krim yang sudah Adrian ambilkan. Daripada Aunty diam melamun, lebih baik nikmati es krim," serunya dengan bahagia. Lovi tersenyum memperhatikan interaksi anaknya dengan Vanilla. Kini adik iparnya itu diapit oleh Andrean dan Adrian.


Keluarga Thanatan datang menghampiri meja khusus keluarga Raihan. Ia tersenyum menyapa lalu ikut bergabung.


"Siapa yang ulang tahun? bukankah anakmu sedang belajar di negeri orang?"


"Sudah selesai. Bahkan sudah bekerja, Rai."


Jhico dan Mamanya menyusul untuk duduk bersama mereka. Jhico menyapa Raihan, Rena, Devan, dan Istrinya. Kemudian beralih menatap gadis yang tengah sibuk bertukar cerita dengan dua bocah laki-laki.

__ADS_1


"Ah ya, ini Vanilla, putriku."


Raihan mengerti tatapan Jhico. Mungkin Ia penasaran namun tidak bisa bila menyapa lebih dulu. Sehingga Raihan lah yang memulai.


Vanilla yang merasa namanya dipanggil menoleh pada papanya. Ia merasa tengah diperkenalkan. Atau perasaannya saja?


"Vanilla, ini Jhico."


Vanilla mengangguk. Tidak tahu Jhico ada dimana posisinya, dan Ia rasa tidak perlu lagi menyebut nama. Mereka sama-sama sudah mengetahui itu.


Jhico sudah mengenal Vanilla. Raihan dan Rena pun berusaha mengingat kembali sosok anak muda itu karena mereka merasa pernah bertemu sebelumnya.


"Kamu dokter ya?"


Jhico mengangguk tersenyum. Tepat sasaran. Rupanya ingatan Raihan masih tajam.


"Oh pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajahmu,"


"Anakmu berbeda denganmu, heh?"


Thanatan terkekeh saat Raihan mengangkat sebelah alisnya. Kedua sahabat yang sudah cukup lama tidak dipertemukan itu terlihat sangat akrab.


"Berbeda dalam artian?"


"Kenapa menjadi dokter?"


"Entah, tanya langsung dengan dia."


Jhico tidak fokus mendengarkan obrolan ayahnya dan Raihan. Karena sekali lagi perhatiannya hanya untuk Vanilla yang sejak tadi terlihat bahagia ketika keponakannya mengajaknya bergurau. Rupanya seperti ini wajah gadis itu bila tertawa. Karena saat bertemu di rumah sakit, yang didapati Jhico hanyalah kesedihan yang begitu pekat.


"Aku berhasil memaksa Devan untuk menjadi pengusaha. Padahal dia ingin menjadi pilot. Kamu rupanya tidak berhasil menaklukan Jhico,"


Devan tampak bersungut mendengar ucapan ayahnya itu. Belum bisa lupa bagaimana jahatnya Raihan saat menentang keinginan Devan. Devan benar-benar ditekan sampai tidak memiliki pilihan lagi. Hidup Devan memang selalu dalam penjara. Selain disakiti karena kelakuan ayahnya yang berselingkuh, Devan juga merasakan betapa pahitnya dilarang untuk menggapai cita-cita.


Dan jujur Devan salut dengan Jhico. Ia bisa bertahan di atas keinginannya sendiri. Bahkan bisa membuktikan kalau tidak ada yang salah dengan profesi dokter. Di usianya yang masih terbilang muda, Ia berhasil membuat orangtuanya bangga dengan prestasi dan tanpa nama keluarga dibalik keberhasilannya itu.


Lovi yang mengerti kegamangan Devan, menyentuh telapak tangan lelaki itu hingga Devan menoleh.


"Kamu juga hebat dengan menjadi pengusaha. Tidak ada yang perlu disesali lagi," gumam Lovi menenangkan. Sejujurnya Lovi baru mengetahui fakta itu. Karena Tidak pernah dibahas oleh Raihan dan Devan. Ia kira suaminya selalu hidup sesuka hati, dan bebas menentukan pilihan. Ternyata tidak, Devan bahkan pernah berada di posisi yang sangat sulit. Sekalipun awalnya Devan terpaksa terjun dalam dunia bisnis, tapi ke belakangnya Ia sudah mulai membuka mata dan pikirannya.


Jhico dan Devan punya jalan hidup masing-masing. Mereka sukses dengan prestasi dalam bidang yang berbeda. Devan berhasil mendirikan perusahaan dimana-mana, sementara Jhico sukses meraih gelar dokter dengan nilai terbaik.


Mimpinya untuk menjadi pilot mungkin belum bisa terwujud. Namun Devan berharap salah satu dari anaknya ada yang memiliki mimpi yang sama dengannya.


"Aku harap setelah acara nanti, kalian tidak pulang terlebih dahulu,"


-----------

__ADS_1


DEVAN UP, VANILLA UP. SILAHKAN DICEK LAPAKNYA VANILLA YAA HEHE. TINGGALKAN JEJAKNYA DUNGS DI SINI DAN DI LAPAKNYA VANILLA. TERIMA KASIH SEMUANYAAAA. I WUF YU🤗💙


__ADS_2