
"Lovi, ayah rindu padamu." Kalimat pertama yang diucapkan Lucas saat mereka duduk di sebuah restoran.
Lovi merasa genggaman suaminya mengerat. Mungkin meminta Lovi untuk menanggapi ayahnya bukan malah membuang arah pandang.
"Bagaimana kabarmu? ayah dengar, kalian sudah memiliki tiga anak. Ayah turut bahagia mendengarnya,"
"Iya, anak pertama dan kedua kami kembar laki-laki. Dan yang terakhir perempuan. Lain kali kami akan membawa mereka untuk bertemu denganmu,"
Lovi menoleh dan menatap suaminya dengan datar. Kenapa Lovi seperti menjadi sosok yang jahat di sini? Padahal ini merupakan reaksi yang wajar menurut Lovi ketika bertemu dengan orang yang membuatnya terjerembab dalam kubangan penderitaan di masa lalu.
"Terima kasih sudah menerima kehadiran ayah, Devan."
"Aku hanya mempertemukan dua orang yang memang seharusnya bertemu untuk kembali menata masa depan tanpa harus mengingat masa lalu,"
"Sulit, Devan. Tidak semudah itu Lovi melupakan kesalahan ayah,"
"Anda sudah tahu jawabannya, jadi lebih baik pergi sekarang."
"Lov---"
"Apa? coba jadikan dirimu ada di posisiku. Aku rasa kamu akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih. Mengingat kamu juga bukan orang baik,"
__ADS_1
Lucas hanya bisa tersenyum, Sejujurnya Ia terluka. Namun memang seperti itu kenyataannya. Tidak ada manusia di dunia ini yang mau dijual oleh ayah kandungnya sendiri sampai akhirnya menjalani hidup di tempat penuh penderitaan.
"Aku memang bukan orang baik, Lov. Aku melakukan ini karena biar bagaimana pun aku sangat berterima kasih pada ayah,"
Lovi segera melepas tautan tangan mereka namun Devan langsung menahannya. Lovi salah paham, Ia belum mendengar kalimat Devan sampai akhir.
Ia mengira Devan bahagia melihat Lovi tersiksa menjadi budak Berry dulu.
"Aku bersyukur karena ayah, aku bisa bertemu dengan kamu. Jalan hidup kita memang begitu menyakitkan untuk kamu. Selain dilukai oleh Ayah dan Berry, aku pun turut andil dalam membuat masa lalumu menjadi kelam. Kamu bisa memaafkanku, lalu kenapa tidak bisa melakukan hal yang sama pada ayah?"
Lovi bangkit, Ia tidak peduli lagi dengan semuanya. Minum dan makanan yang mereka pesan bahkan baru sampai, tapi Ia sudah tidak nyaman lagi berada di sini.
"Aku mau pergi. Aku bisa sendiri kalau kamu masih ingin berada di sini,"
Lovi berjalan cepat keluar dari restoran. Devan memilih untuk menatap Lucas dengan sorot meminta maaf.
"Semoga di lain waktu Lovi tidak seperti ini lagi," Lucas mengangguk mengerti dan mengisyaratkan Devan agar menyusul istrinya.
Lovi akan melewati mobil Devan dan tangan Devan secepat mungkin menariknya agar masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak ingin kamu menjadi jahat seperti aku. Itu orangtuamu, Lovi. Aku pernah mencapakkan Papa dulu ketika dia berbuat kesalahan. Aku berharap kamu tidak melakukan hal yang sama denganku,"
__ADS_1
Dada Lovi bergemuruh hebat. Napasnya naik dan turun tidak beraturan. Ia tidak tahu harus menanggapi ucapan suaminya dengan kalimat apa. Otak Lovi belum bisa berpikir jernih. Pertemuan ini tidak Ia sangka sama sekali. Sehingga Lovi bingung harus bagaimana mengendalikan emosi dalam dirinya.
******
"Oh, sampai kau antar dokumennya. Rajin juga sekretarisku ini,"
Dashinta, sekretaris yang hampir satu tahun mengabdi pada Devan datang ke mansion untuk menyerahkan dokumen yang harus dipelajari oleh Devan sebelum bertemu dengan banyak relasi esok pagi. Dashinta rasa bila baru dipelajari ketika di kantor, waktunya tidak akan cukup.
Lovi datang menghidangkan makanan dan minuman. Sambutannya begitu baik karena Dashinta pun sangat hangat dengannya padahal baru beberapa kali bertemu.
"Terima kasih, Nona manis." Senyum Lovi tersungging. Ia meninggalkan Devan dan sekretarisnya bersama dengan Adrian dan Andrean yang sedang menonton serial kartun di dekat mereka.
"Kalian serius sekali menonton,"
Andrean hanya menoleh sekilas dan tersenyum membalas sapaan Dashinta sementara Adrian mengangkat sebelah tangannya menyapa. "Hallo, Dashinta."
"Sudah lama tidak datang ke kantor Daddy,"
"Iya, belum ada waktu,"
-----
__ADS_1