My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kebersamaan dalam satu hari


__ADS_3

Tak lama kemudian ponsel Lovi berdenting. Pemberitahuan baru saja masuk.


Lovi menghela napas kesal. Ia sudah menunggu lama tapi pesanan itu malah dibatalkan begitu saja oleh pengemudi.


Kulitnya sampai habis menjadi santapan nyamuk. Tubuhnya pun sudah sangat letih.


"Dibatalkan oleh pengemudinya,"


Lovi tidak menyadari kalau Fifdy tersenyum puas. Ia langsung bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Lovi yang disambut kernyitan di dahi perempuan itu.


"Pulang dengan aku. Ini sudah sangat malam,"


Lovi akan kembali menolak namun langsung disela oleh lelaki itu.


"Jangan menolak lagi, Lovita. Kamu akan sampai rumah jam berapa kalau harus menunggu ojek lagi?"


Kali ini Fifdy menegaskan ucapannya. Yang mau tak mau membuat Lovi akhirnya menyerah.


Lovi berdiri namun tidak menerima uluran tangan Fifdy. Ia berjalan terlebih dahulu hingga mengundang decakan kesal lelaki di belakangnya itu.


"Kamu mau kemana? Motorku di sini,"


Lovi mengeraskan rahangnya yang kecil. Terlalu kesal dengan nasibnya malam ini sampai-sampai menjadikan Lovi sosok pelupa.

__ADS_1


Ia berbalik dan menemukan Fifdy yang sudah naik ke atas motornya. Ia mengisyaratkan Lovi untuk segera mengikuti apa yang dilakukannya.


Malam ini untuk pertama kalinya Lovi menikmati lengangnya lalu lintas malam bersama seorang lelaki yang bukan suaminya.


Selama perjalanan Lovi tidak bisa tenang. Ingatannya kembali terlempar pada masa-masa manis yang pernah dilaluinya bersama Devan. Mereka pernah naik motor berdua seperti ini. Dan Devan sangat menjaganya dalam perjalanan. Melarang Lovi untuk tidur terlalu lelap di punggungnya. Dan Devan selalu menggenggam tangannya yang melingkar di perut Devan.


Semua itu hanya kenangan. Lovi sadar dan Ia menggeleng pelan. Hal itu tak luput dari perhatian Fifdy yang menatapnya di spion.


"Tidak ada kemesraan, Fifdy! Memangnya apa yang kau harapkan?"


*****


Setelah puas berbelanja ini dan itu, Devan mengajak anak-anaknya pulang. Mereka juga sudah terlihat kelelahan. Devan tidak ingin kalau sampai mereka sakit setelah ini.


Waktupun sudah sangat malam untuk anak seusia mereka berkeliaran di luar rumah. Ini waktunya mereka beristirahat.


"Aku tak henti tertawa kalau mengingat Adrian yang jatuh tadi,"


"Andrean juga. Kita sama-sama jatuh hari ini,"


"Bokongku sakit sekali tadi," keluh si sulung yang membuat Devan menoleh.


"Sekarang masih sakit?" Rautnya akan selalu seperti ini kalau kedua buah hatinya terluka. Khawatir.

__ADS_1


"Tidak, Dad."


Devan menghela napasnya lega. Ia menjawil wajah tampan anaknya.


"Kenapa kita bisa sama-sama terjatuh ya? Padahal tidak di sentuh orang," gumam Adrian.


Devan menatap anaknya melalui kaca di atas kepalanya.


"Karena kalian terlalu bersemangat. Sampai tidak melihat kanan dan kiri. Jantung Daddy hampir lepas begitu tanganmu hampir diinjak oleh orang lain,"


Tawa kedua anaknya meledak. Devan pun tak bisa lagi menyembunyikan senyumannya. Tawa itu akan selalu menghangatkan hati Devan. Dan tangis mereka akan menghancurkan Devan.


"Sebentar, aku akan mengingatnya lagi,"


-Flashback On-


"Aku ingin masuk ke sana, Dad!"


Adrian menunjuk sebuah pintu masuk yang di dalamnya terdapat akuarium besar dimana mereka bisa melihat berbagai macam spesies laut.


Adrian dan kakaknya berlari tak sabaran. Devan tidak mengerti jalan ceritanya bagaimana. Yang jelas sedetik kemudian dia sudah melihat kedua anaknya menangis terduduk di atas pijakan mereka saat ini.


Devan langsung menghampiri keduanya. Anehnya, Devan merasa jarak antara Ia dan anaknya begitu jauh padahal hanya beberapa meter saja karena mereka belum berlari terlalu jauh.

__ADS_1


Ia merasa kalau tubuhnya tidak sampai-sampai di tempat mereka terjatuh saat ini. Ketika melihat kaki orang lain yang sibuk berbincang dengan orang di sebelahnya hampir menginjak tangan Adrian, Devan semakin mempercepat langkahnya.


Devan berhasil menggendong kedua anaknya. Ia menatap tajam dua perempuan yang kini terlihat kebingungan.


__ADS_2