My Cruel Husband

My Cruel Husband
Penanganan epistaksis yang salah


__ADS_3

"Kenapa tidak mandi dulu, Grandma?"


"Kalian masih mengeluarkan keringat. Nanti sajalah mandinya. Belum sore juga,"


Adrian mengangguk saja. Ia mengangkat tangannya ketika kaus berwarna navy sudah masuk ke dalam lehernya.


Senata dan Serry baru datang dari dapur. Serry membawa cemilan untuk mereka sementara Serry membawa minumannya.


"Lama sekali Serry. Tenggorokanku sudah kering ini," tangan kecilnya menarik-narik kulit lehernya hingga Rena menurunkannya. Konyol sekali anak Devan yang satu itu.


"Maaf, Tuan Adrian yang tampan." Serry menggodanya. Adrian tertawa saat melihat Serry yang mengerling.


"Aku mau langsung makan nasi saja. Tidak mau cemilan itu, Grandma."


Rena mencubit pelan hidung cucunya yang sedang menggeleng tegas.


"Banyak sekali perintahmu, Adrian."


"Ayo ganti bajumu, Andrean." UjarRena setelah mengganti baju Adrian.


"Grandma Sena saja yang menggantinya,"


Akhirnya Rena mengangguk pasrah. Ia ditolak untuk kali ini. Rena bangkit untuk ke kamar mandi.


Senata mendekati Andrean lalu meraih baju yang berada tak jauh dari anak itu. Senata membantu melepaskan baju Andrean dari kepalanya.


"Grandma! Hidung Andrean berdarah itu,"


"Hah?!" Senata buru-buru memutar kepala Andrean. Adrian menyadari lebih dulu. Sementara yang punya hidung malah belum merasakan sesuatu yang aneh.

__ADS_1


"Kamu kelelahan," Senata berdecak lalu mengangkat tubuh Andrean untuk berbaring di sofa yang tadi mereka tempati. Ia menyuruh Andrean untuk mendongakkan kepala. Ia meraih tisu secepat mungkin untuk membersihkan bawah hidung Andrean sekaligus ditekannya hidung Andrean dengan pelan agar darah berhenti mengalir.


"Serry, tolong ambil es batu dan kain bersih ya?"


"Ya, Nyonya." Suara Serry menjawab dari dapur.


"Ihh belum pakai baju," telunjuk Adrian mengarah pada kakaknya yang hanya mengenakan kaus dalam tak berlengan dan juga celana seragam sekolahnya. Mengingat mereka langsung pergi setelah Andrean dan Adrian pulang sekolah.


"Ya biar saja. Yang penting tidak telanjang, Sayang. Mulutmu cerewet sekali," Senata menggeleng pelan. Heran dengan Adrian yang tak habis-habisnya berbicara. Ada saja yang diprotesnya.


"Kan malu, Grandma."


Saat Senata akan menyahuti lagi untuk membela cucu sulungnya, suara Rena yang baru keluar dari kamar mandi lantai dasar terdengar.


"Kenapa tiduran, Andrean? Belum ganti baju juga?"


"Epistaksis," jawab Senata. Senata melepas tekanannya pada hidung Andrean setelah anak itu protes 'sulit bernapas' berkali-kali.


Serry tergopoh-gopoh membawa satu wadah kecil berisi es batu dan kain bersih yang diminta Senata.


Senata dengan sigap membalut es batu itu dengan kain lalu diletakkan di bagian atas hidung Andrean.


"Apa lagi obatnya ya?" Senata menatap Rena. Rasa khawatir tentu saja menyergahnya. Tidak biasanya Andrean seperti ini.


"Aku juga bingung. Devan tidak pernah begini dulu,"


"Hm, Lovi pun tidak pernah. Kalau darahnya tidak berhenti juga, Kita bawa ke dokter,"


***

__ADS_1


"Buka minuman itu, Lov."


Devan menoleh sebentar ditengah fokusnya mengemudi. Lovi mendengus.


"Tolong, Sayang." tambahnya lagi seraya tersenyum merayu. Lovi meraih kantung belanja milik Devan di belakang.


"Banyak sekali," gumamnya ketika mendapati hampir sepuluh botol kopi instan.


"Ya, biar tidak mengantuk." Jawab Devan seadanya. Siang hari memang lebih meningkatkan rasa kantuknya. Karena kalau malam, Ia lebih sibuk dengan pekerjaan dan juga sibuk berpikir.


"Ini untuk kamu begadang? kamu masih suka mengorbankan waktu istirahatmu demi pekerjaan?"


Devan tersenyum tipis mendengar Lovi yang mencecarnya. Terlihat sekali kalu Ia sedang mengkhawatirkan Devan.


"Iya, karena tidak ada lagi yang mengatur jadwal tidurku. Jadi sekarang waktu istirahatku berantakan,"


Ia melempar kode yang mampu ditangkap jelas oleh Lovi. Huh! sekarang minta di atur. Dulu kalau Lovi menegurnya ketika belum tidur padahal sudah tengah malam, pasti Devan selalu menjawab,


"Kamu tidur saja lebih dulu. Jangan ganggu aku dengan mulut bawelmu itu,"


"Mamamu bisa lebih diandalkan, Tuan bodoh!"


Devan menunjuk satu botol berwarna biru setelah Lovi bertanya lagi "Yang mana yang mau diminum?"


"Mama harus perhatian juga pada Papa. Nanti si Tua itu cemburu padaku,"


"Mulutmu benar-benar minta dikutuk ya?"


Lovi menyerahkan botol yang telah dibuka tutupnya pada Devan. Lelaki itu langsung meneguknya. Terlihat haus sekali. Sampai-sampai isinya tinggal sedikit.

__ADS_1


"laki-laki kalau minum memang sebanyak itu ya? aku yang melihatnya takut tersedak. Isinya banyak tapi dalam sekali teguk, Devan hampir menghabiskannya. Rakus sekali Devan,"


Devan mengetuk kening Lovi tanpa mengalihkan pandangan dari kemudinya saat Ia melihat Mantan istrinya itu terdiam. Lovi sedang berpikir konyol padahal.


__ADS_2