My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tangisan Adrian


__ADS_3

Devan membawa kedua putranya untuk bermain di taman. Tangannya sibuk menyuapi Adrian dan Andrean, sementara Lovi sedang membuatkan susu untuk mereka. Selama berlibur, Lovi merasa kesulitan dalam mengeluarkan air susunya. Oleh sebab itu, Devan langsung membawanya ke rumah sakit agar di periksa. Perempuan itu kurang mengonsumsi makanan yang mengandung serat dan protein.


"Sudah habis?" tanya Lovi dan duduk di sebelah suaminya.


Devan memperlihatkan piring mereka yang masih ada isinya. Lovi mengambil piring milik Adrian kemudian menyuapinya. Namun si bungsu itu malah menangis.


Devan menatap lekat Adrian. Ia tidak tega melihat wajah mungil itu memerah karena tangis. Ia mengecup dahi Adrian dengan lembut namun itu tidak mengurangi tangisnya.


"Kenapa menangis, sayang? hm?" tanya Lovi. Ia mengecup bibir Adrian yang terbuka. Devan dan Lovi tidak begitu mengerti bahasa tubuh seorang bayi. Tapi mereka melihat ada rasa kesal yang menyertai tangisan Adrian.


Lovi semakin dibuat khawatir karena Adrian tidak kunjung tenang. Ia meletakkan piring Adrian di meja makannya lalu membawa putra bungsunya itu dalam gendongan. Sementara Devan kembali fokus pada Andrean yang masih sibuk dengan mainan berbahan karet steril yang sejak tadi digigitnya.


Lovi menimang putranya penuh kasih sayang. Bibirnya juga melantunkan nada-nada lembut agar Adrian berhenti menangis. Lovi menatap anaknya yang mulai merasa kesulitan dalam menarik napas. Lovi mengusap punggung Adrian dengan lembut.


"Berhenti menangis, Adrian. Kamu akan batuk nanti kalau terlalu lama menangis," ujar Lovi.


"Jangan memarahinya, Lov!" suara Devan meninggi. Ia salah mengartikan maksud ucapan Lovi.


"Aku tidak marah. Aku hanya tidak tega melihat dia kesulitan bernapas karena terlalu lama menangis. Adrian juga akan batuk setelahnya," jelas Lovi.


Devan khawatir pada anaknya. Begitupun dengan Lovi. Jika Adrian dan Andrean kesakitan maka Lovi pun turut merasakannya.


"Kamu harus sabar!"


Mata Lovi berkaca-kaca ketika Devan membentaknya. Lovi tidak mengerti dimana kesalahannya. Seharusnya Devan tidak melakukan itu di depan anak mereka.


Lovi membawa Adrian menjauh dari Devan dan Andrean. Adrian sudah lumayan tenang. Dan Lovi tidak ingin Ia menangis lagi karena terkejut mendengar suara Devan.


"Tenang, Sayang. Jangan menangis lagi ya. Anak Mommy pintar bukan?" hibur Lovi dengan senyumnya. Kedua netra indah itu saling menatap. Adrian tersenyum kecil pada Lovi membuat Lovi tidak bisa menahan rasa gemasnya. Ia mengecup pipi Adrian berkali-kali hingga Adrian terkekeh dengan wajah yang masih memerah. Lovi mengusap jejak kritstal bening dari mata putranya itu.


"Makananmu belum habis. Mari lanjutkan," seru Lovi dengan berlari kecil untuk menghibur putranya yang ada dalam gendongan. Terbukti, ketika Lovi melakukan itu Adrian langsung tertawa.

__ADS_1


Lovi mengambil piring Adrian dan berencana untuk menyuapi Adrian di dalam resort. Ia belum berani berdekatan dengan Devan yang baru saja marah padanya.


Ketika masuk, Lovi melihat Rena yang sedang membaca sesuatu di ponselnya dengan kacamata di sela hidungnya. Rena merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Ia melepaskan kacamatanya lalu menatap Lovi dan Adrian.


"Andrean dimana, Lovi?" tanya Rena.


"Di taman bersama Devan,"


"Sedang makan juga?"


"Iya..."


"Kamu terlihat masih kaku memanggilku Mama ," ucap Rena dengan senyum hangatnya.


"Aku belum terbiasa,"


"Maka biasakanlah mulai sekarang,"


Adrian mengangsurkan kedua tangannya pada Rena. Rupanya pangeran kecil keluarga Vidyatmaka itu menginginkan balutan hangat tangan Neneknya.


Rena meraih Adrian lalu memangkunya. Si bungsu itu terlihat sangat senang hingga kakinya berayun-ayun.


Rena melihat piring yang ada di tangan Lovi. Ternyata Adrian belum menghabiskan makanannya.


"Grandma suapi makannya ya?" tanya Rena.


Adrian yang belum mengerti pun tidak menjawab. Ia memainkan rantai kacamata yang melingkari leher Rena.


"Mama sedang mengerjakan sesuatu tadi. Jadi biar aku saja yang menyuapkan Adrian, Ma," ucap Lovi tak enak hati. Sepertinya Ia sudah mengganggu kegiatan Rena.


"Tidak, Mama hanya membaca artikel kesehatan saja,"

__ADS_1


"Dimana minumnya?" tanya Rena setelah Ia berhasil membuat mulut kecil Adrian menerima makanannya.


Lovi terlalu malas mengambil air minum Adrian yang masih ada di pekarangan. Karena Devan masih ada di sana. Ia memutuskan untuk mengambilnya di dapur.


Ternyata dugaan Lovi salah. Rupanya, Devan sudah masuk. Dan sekarang Ia sedang meletakkan piring kotor Andrean di tempat pencucian piring yang ada di dapur. Lovi sempat terkejut namun sebisa mungkin Ia memasang ekspresi datar di wajahnya. Otaknya berpikir mungkin Devan masuk ke dapur melalui pintu belakang. Karena selama Lovi berbicara dengan Rena di ruang keluarga tadi, tidak ada tanda-tanda kedatangan Devan dari pekarangan taman.


"Adrian sudah selesai makan?" tanya Devan seraya mencuci tangannya. Sikap lelaki itu terlampau santai seolah Ia tidak pernah melakukan apapun sebelumnya.


"Belum," jawab Lovi dengan nada tidak bersahabat. Setelah menuangkan air minum di gelas Adrian, Lovi keluar dari dapur meninggalkan Devan yang mengerinyit bingung seraya menatap punggungnya yang menjauh.


Rena membimbing cucunya untuk minum dengan pelan. Adrian sudah berubah menjadi balita yang menggemaskan sekarang. Semua hal yang dilakukan anak itu mampu membuat orang terhipnotis.


Adrian mengalihkan wajahnya ke samping saat suapan terakhir akan masuk kedalam mulutnya. Namun Rena tetap meletakkan sendoknya di depan mulut Adrian. Barangkali cucunya berubah pikiran.


Adrian yang merasa dipaksa oleh Rena pun ingin menangis. Bibirnya sudah terbuka dengan mata yang siap mengeluarkan bulir jernih.


"Kamu sudah kenyang? Maafkan Grandma , sayang," ucap Rena. Dengan cepat Ia mengalihkan perhatian Adrian agar si kecil itu lupa akan tangisnya. Rena sengaja membuat mainan Adrian yang berbentuk kuda itu mengeluarkan suara. Ketika mendengar suara yang lucu, raut sedih Adrian langsung berubah menjadi penuh warna kembali.


Lovi tersenyum seraya menggeleng pelan. Adrian sangat manja dengan semua orang. Lovi rasa pecahnya tangisan Adrian tadi disebakan oleh rasa bosannya berada di taman. Dan sekarang Putranya itu ingin menangis lagi sebagai bentuk protesnya pada Rena yang masih mengangsurkan makanannya di saat Ia sudah kenyang.


Rena melarang Lovi yang ingin membereskan perlengkapan makan Adrian. Ia memanggil pekerjanya agar menggantikan posisi Lovi.


"Lebih baik kamu tidurkan Adrian. Biasanya setelah makan, Adrian akan mengantuk,"


Lovi mengangguk patuh. Ia membawa Adrian ke kamarnya untuk beristirahat. Ketika Lovi merebahkan Adrian di atas ranjang, Pangeran kecil itu justru berguling-guling layaknya landak.


"Belum ingin tidur sepertinya," gumam Lovi. Ia masih bisa melihat sinar di mata Adrian. Menandakan kalau Adrian masih segar dan belum mengantuk.


Lovi akan menemani Adrian bermain. Sampai putra bungsunya itu merasa bosan dan memejamkan mata untuk hadir di alam mimpi.


*********

__ADS_1


HAPPY READING UYEEAAYY


__ADS_2