My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pagi bersamanya


__ADS_3

"Tuan, apa jadwal meetingnya di rubah?"


Ferro bertanya demikian karena Devan belum juga turun. Padahal sebentar lagi akan ada meeting penting di perusahaannya.


Devan mengerjap ketika pintu kamarnya di ketuk. Ia menatap surai halus perempuan yang sedang meringkuk dalam pelukannya. Tanpa sadar Devan mengusap kepala Lovi kemudian menyingkirkan dengan lembut gadis itu dari pelukannya.


Begitu alkohol tidak lagi menguasai tubuhnya, Devan tersadar dengan apa yang Ia lakukan. Terbangun, lalu tidak mendapati Lovi di sampingnya. Ia terkejut begitu melihat perempuan itu tertidur di atas lantai.


Entah mengapa sisi kemanusiannya merasa tidak tega melihat Lovi terkapar tak berdaya. Hingga akhirnya Ia membawa perempuan itu untuk tidur bersamanya di ranjang.


Devan tidak lagi mengenali dirinya yang sekarang. Kenapa Ia begitu mudah merasa kasihan? padahal di awal pernikahan mereka, Ia tidak segan membuat Lovi kesakitan setiap harinya.


Ia mengenakan pakaiannya secepat kilat. Tidak biasanya Ferro berani mengetuk pintu kamarnya. Pasti ada sesuatu yang lebih mendesak selain masalah meeting itu.


"Ada apa, Ferro?" tanya Devan ketika Ia membuka daun pintunya.


Ferro melirik sekilas dada telanjang Tuannya. Oh, Ia sudah mengganggu waktu hangat sepasang suami istri di kamar tersebut.


"Maaf, Tuan aku mengganggumu. Perusahaan ayah Elea memaksa anda untuk membantunya. Mereka dalam masa kritis lagi,"


Dahi Devan mengerinyit. Memang seperti itu akibatnya kalau bermain dengan cara licik. Devan ingin memaki, tapi ia ingat kalau Glen adalah ayah Elea, kekasihnya.


"Akan dibahas nanti. Sekarang aku akan bersiap ke kantor," tutup Devan dalam pembicaraan ini.


"Baik, Tuan. Saya akan persiapkan segalanya,"


Sebelum Ferro pergi, suara Devan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Lain kali, sepenting apapun hal yang ingin kau sampaikan tolong jangan ganggu aku. Kau bisa membahasnya ketika jam kerja," pesan Devan sebelum Ia menutup pintu.


'Terutama bila sedang bersama Lovi,'


Lelaki itu mengusap kasar wajahnya. Kenapa batinnya bergejolak seperti itu? seharusnya Ia tidak kesal ketika Ferro menghampirinya. Ini hanya masalah kecil, tapi Devan akan menjadi sensitif bila berurusan dengan Lovi.


Ferro mengusap lehernya. Ia menghela napas pelan. Ia tidak tahu kalau Devan dan Lovi sedang merajut kasih di dalam sana.


****************


Devan memutuskan untuk membiarkan Lovi tertidur. Hatinya berdesir tidak tega melihat keadaan Lovi saat ini padahal semalam nafsunya sudah menjadikan Ia sebagai iblis.


Lelaki itu meraih handuknya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa percintaan panasnya bersama Lovi.


Lovi mendengar suara gemercik air. Ia mulai mengerjap karena sinar matahari yang menyambutnya berhasil menusuk kornea. Ia melirik jam yang ada di dinding telah menunjukkan pukul delapan pagi. Lovi memeriksa keadaan tubuhnya yang masih dalam balutan selimut. Lovi dibuat bingung saat menyadari bahwa tempatnya semalam bukanlah di atas ranjang ini.


Lovi mencoba untuk duduk. Ranjang tersebut benar-benar kosong. Ia tidak melihat kehadiran Devan. Namun tertutupnya pintu kamar mandi, dan aliran air di dalamnya membuat Lovi yakin kalau lelaki itu sedang mandi.


Kondisinya saat ini benar-benar mengenaskan. Seluruh tubuhnya terasa sakit, wajahnya kaku karena semalaman dibasahi oleh air mata.


Lovi keluar dari kamar Devan sebentar untuk mengambil seprai ranjang Devan sebagai pengganti. Ia mengambil acak seprai di dalam lemari khusus yang ada di ruangan bersebrangan dengan walk in closet.


Lovi menggantinya dengan sangat cepat sebelum Devan keluar. Namun keberuntungan tidak memihak padanya. Devan sudah selesai dengan kegiatannya. Ia mengerinyit menatap Lovi yang sudah bangun dan saat ini sedang menata ranjangnya.


Devan tersenyum miring dan berkata, "Bagaimana rasanya? Kamu menikmatinya bukan?"


Lovi diam tak menjawab namun saat mendengar langkah kaki Devan di belakangnya, Lovi menjadi waspada.

__ADS_1


"Berhubung sekarang kamu sudah tinggal di sini, Aku akan lebih sering membuatmu mengerang nikmat," Ucap Devan yang kini menggunakan kedua tangannya untuk menjerat pinggang ramping Lovi menahan perempuan itu agar tetap berada di hadapannya. Posisi Lovi masih memunggungi lelaki itu hingga Ia bebas mengecup leher jenjang Lovi.


Setelah puas bermain, Devan memaksa Lovi untuk berbalik menatapnya.


Lovi sangat ingin menyumpahi lelaki biadab ini. Apa yang baru saja dikatakan Devan? Lovi sama sekali tidak mengenal rasa Nikmat yang dikatakan Devan. Yang ia rasakan hanyalah kesakitan dari penyiksaan yang dilakukan Devan bertubi-tubi.


"Kamu menikmatinya?"


"Tidak," Bantah Lovi dengan berani. Ia membalas tatapan mematikan yang ditujukan Devan untuknya.


Keberanian Lovi ini membuat Devan menggeleng pelan dengan maksud mengejeknya seraya tertawa kecil yang membuat harga diri Lovi terlihat semakin rendah.


"Jika ingin merasakan kenikmatan yang sesungguhnya maka jangan membantahku! Kamu yang memilih jalan hidupmu sendiri," Ucap Devan dengan geramannya. Ia mengetatkan cengkraman tangannya di pinggang Lovi hingga perempuan itu meringis kesakitan.


Dengan keberanian yang dimilikinya, kali ini Lovi membalas perkatan Devan, "Karma berlaku untuk semua manusia, Tuan. Bukankah Tuan masih memiliki Vanilla? Aku hanya khawatir jika suatu saat nanti Vanilla akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang Tuan lakukan padaku."


Walaupun suaranya terdengar tenang namun jantung Lovi sudah berdetak tak beraturan. Ia yakin sebentar lagi Devan akan melakukan sesuatu yang kejam seperti biasanya.


Dua sisi wajah Lovi berpaling. Karena Devan berhasil menyentuh kulit mulus Lovi. Devan meluapkan emosi yang bekobar di dalam hatinya saat mendengar Lovi yang dengan kurang ajar membalas perkatannya penuh keberanian. Tidak seperti biasanya yang selalu berhasil ia tindas.


Lovi berusaha kuat di depan lelaki ini. Ia tidak memikirkan darah yang terasa mengalir dari sudut bibirnya, Ia tidak memperdulikan air matanya yang sangat ingin di keluarkan dari kelopak mata.


Lovi hanya menatap lurus pada Devan yang posisinya masih sangat dekat dengannya.


"Kamu terlihat semakin menyedihkan dengan semua itu," Ujar Devan seraya mengarahkan dagunya pada Wajah Lovi.


Devan Tahu bahwa perempuan itu sedang berusaha untuk melawannya dengan berpura-pura kuat. Semakin pintar Lovi mempertahankan harga dirinya, Devan akan semakin memaksa perempuan itu untuk menyerah dan memilih mati.

__ADS_1


**************


Happy reading yaaa teman²qoe


__ADS_2