My Cruel Husband

My Cruel Husband
Gangguan dari dendam masa lalu


__ADS_3

Devan tersenyum melihat kepedulian anak-anaknya. Usai meletakkan uang ke dalam tempat yang sudah disediakan oleh Wanita itu, Adrian dan Andrean tidak langsung kembali. Mereka mendengarkan lagu sampai akhir baru setelahnya mereka pergi.


"Kasihan ya mereka, Andrean."


"Mereka hanya kurang beruntung. Makanya kita harus selalu bersyukur,"


Mereka berlari ke arah Devan dan langsung digendong oleh Devan. "Daddy kuat juga ya menggendong kita berdua,"


"Tidak ada apa-apanya bobot kalian berdua," Devan memasuki kafe yang akan menjadi tempat bertemunya dengan Deni saat ini.


Deni tiba-tiba saja mengajaknya bertemu dan karena Ia sedang quality time dengan anak-anaknya di sebuah mall yang tak jauh dari kafe, maka sekalian saja Ia membawa mereka.


Rupanya Deni sudah sampai lebih dulu. Lelaki itu tampak menghisap rokok mahalnya yang terselip di antara kedua belah bibirnya lalu menghembuskan asap dengan santai.


"Silahkan duduk, boss besar."


"Ada apa kau mau bertemu denganku? rindu? heh?"


"Cih, rindu dengan kau? aku sudah punya istri. Istriku saja jarang aku rindukan. Masa aku merindukan kau?"


"Tidak usah banyak basa-basi kalau begitu. Aku sudah penasaran dengan hal yang akan kau bicarakan,"


"Dad, mau minum. Kita datang ke kafe hanya duduk saja?"


Devan mengalihkan fokus pada anak keduanya yang terdengar begitu kehausan padahal sejak tadi minum terus. Memang dasarnya anak ini suka mengganggu.


"Pesan apapun yang kamu inginkan,"


Adrian mengangguk senang lalu memanggil waitress. "Aku mau jus alpukat satu,"


"Aku mau hot chocolate," Ujar Andrean saat waitress menatapnya usai mencatat pesanan adiknya.


"Itu saja?"


"Iya, aku sudah makan tadi," kata Adrian yang sebenarnya tidak ditanya 'sudah makan atau belum?'


Setelah waitress pergi dan dirasa tak ada lagi hal yang mengganggu, Deni langsung mematikan api dari tembakau yang tadi dihisapnya dan Ia meneguk sebentar air minumnya.


"Kau masih ingat Arnold?"


"Arnold? yang pernah mejadi temanku saat kuliah dulu?"


"Ya, pernah." tekan Deni di kata terakhirnya. Ia menatap kedua anak Devan dan mereka tampak sibuk sendiri, bermain iPad masing-masing.


"Dia sudah tenang di dalam penjara,"


"Huh, kata siapa?"


"Maksudmu?"


"Kemarin dia bertemu denganku,"


"Oh, masa hukumannya sudah selesai?"


"Entah sudah selesai atau kabur, aku tidak tahu. Tapi ada yang lebih penting dari membahas itu, Devan."


"Apa?" Devan belum mendengar penjelasan lebih namun rahangnya sudah mengeras. Mengingat Arnold yang juga cukup dekat dengan Devan sama seperti Deni pernah mengukir masa lalu yang kelam untuk Devan.


"Dia akan mengusik hidupmu lagi,"


Devan terkekeh sinis. Dengan mata tajam penuh amarah Ia berdesis, "Tidak akan bisa. Kalau kau bertemu lagi dengan dia, katakan bahwa aku tidak takut atas ancamannya. Devan yang bodoh tidak akan pernah kembali lagi,"


"Aku mengatakan hal ini agar kau waspada begitupun degan keluargamu. Tak bisa dipungkiri, Arnold adalah sosok yang berbahaya untukmu, Devan, sekalipun kau lebih kuat daripadanya karena dia licik! dia bisa melakukan apapun terhadap semua orang yang dibencinya,"


"Aku bingung dengan otaknya yang bodoh itu. Karena dendam tidak jelas dia tega mengkhianati temannya. Kau sendiri tahu bahwa bukan aku yang salah, tapi dia tetap bertahan dengan pemikiran dangkalnya sampai akhirnya timbullah dendam itu untukku,"


"Aku tahu kau tidak salah,"


"Huh! lama sekali minumanku datang," Adrian meletakkan iPad miliknya di atas meja.


"Itu dia. Kamu tidak sabar,"


Mata Andrean mengarah pada pelayan yang membawa dua minuman yang dipesannya dan juga sang adik.


"Dia mengetahui apa yang penting dihidupmu. Lovi, dan ketiga anakmu,"


"Sialan!"


"Hadapi dengan tenang dan jangan ceroboh. Kalau kau butuh bantuanku, jangan sungkan untuk mengatkannya,"


*******


"Aunty, tidak jadi membelikan robot untukku? ini sudah hari kedua setelah Aunty mengatakan 'nanti sore'. Nyatanya sampai hari ini belum juga dibelikan,"


"Oh iya, Astaga. Aunty lupa, habis Aunty mandi, kita pergi untuk membelinya ya,"


"Habis mandi kapan? besok atau lusa lagi?"


"Tunggu sebentar. Aunty mandi cepat-cepat. Kan baru pulang dari kampus jadi harus bersih-bersih dulu,"


"Seharusnya nanti saja mandinya. Kalau habis mandi keluar lagi, akan kotor lagi badannya,"


"Anak ini benar-benar tidak sabaran," gerutunya lalu Ia segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Melihat anaknya mencak-mencak kesal, Lovi mengerinyit bingung. "Kenapa, Adrian? seharusnya Mommy datang disambut dengan baik,"


"Adrian mau beli robot, tapi Aunty menunda terus,"


"Hey, bukan menunda. Mungkin Aunty belum ada waktu,"


"Mommy dari butik?"


"Iya, darimana lagi?"


"Kenapa baru pulang?" anak lelaki Lovi yang satu ini memang posesif sekali. Melihat Lovi bermain ponsel seraya tersenyum saja dia pasti curiga. Padahal yang dilihat Lovi adalah video yang lucu.


"Banyak klien yang datang tadi. Mommy senang karena banyak yang percaya pada Mommy untuk mendesign baju mereka."


"Wah jangan lupa bagi-bagi hasil ya, Mom."


"Memang kamu mengerjakan apa? kamu yang menjahit? aduh, kasihan Aunty Valery kalau pekerjaanya kamu ambil,"


"Aku juga mendesign, sama seperti Mommy,"


"Huh! ya ya ya, nanti Mommy bagi hasil," jawab Lovi seraya tertawa kecil. Ia ingin mencium pipi sang anak, tapi Adrian buru-buru menolak. "Mommy belum mandi, biasanya tidak mau menyentuh aku kalau habis dari luar dan belum bersih-bersih,"


Lovi menepuk dahinya pelan, "Mommy lupa. Maklum, Mommy sudah sangat merindukan anaknya,"


Lovi memperhatikan putrinya yang sedang ada di playground sebentar sebelum Ia masuk ke dalam kamarnya.


Sampai di kamar, Ia melihat Devan yang rupanya sudah pulang dan juga Andrean. Mereka sedang bermain playstation seraya berbaring di atas ranjang. Devan tak menjemputnya hari ini karena Lovi sudah terlanjur ditunggui oleh supirnya. Lovi mengatakan pada Devan kalau Reno sudah menunggunya seharian jadi Lovi merasa tidak enak bila harus pulang bersama suaminya walaupun sebenarnya Reno tidak merasa tersinggung sedikitpun karena itu sudah menjadi tugasnya. Lovi adalah perempuan yang terlalu peduli.


"Hai, Mommy datang,"


"Hai, Lov."


"Ya, hai juga, Mom."


Hanya begitu balasan mereka. Seperti biasa, kalau sudah bermain game pasti mereka tidak akan lirik kanan dan kiri, hanya fokus ke depan.

__ADS_1


Lovi segera masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan anak sulung dan suaminya yang baru saja berteriak karena kalah. Devan memang tidak pernah cool kalau bermain. Berbeda sekali dengan Andrean.


"Dad, tadi di sekolah ada yang mengajak aku pulang bersama,"


di sela -sela permainan yang baru dimulai kembali, Andrean ingat kejadian di sekolahnya tadi.


"Siapa?"


"Entah, dia mengatakan kalau Daddy menyuruhnya untuk menjemput aku dan Adrian. Tapi aku langsung menolak karena aku ragu, apa lagi ketika dia sedikit kasar dengan menarik tanganku, aku semakin yakin kalau dia berbohong. Beruntungnya ada Ms Acha yang mendatangi aku dan Adrian lalu mengatakan kalau Daddy sedang terjebak macet jadi sedikit terlambat menjemput,"


Mendengar ucapan anak sulungnya, Devan segera menekan tombol pause di stick playstation yang dipeganganya lalu menatap lurus mata Andrean untuk memastikan apakah anak itu serius atau tidak.


"Aku serius, Dad. Aku bukan Adrian yang jahil," ujar Andrean yang tahu betul arti tatapan Daddy-nya.


Napas Devan terasa berat karena rongga dadanya mulai dipenuhi dengan emosi. Siapa yang berani mengusik anak-anaknya sampai mengaku bahwa Ia orang suruhannya agar Andrean dan Adrian mau pulang bersamanya.


"Dia laki-laki?"


"Iya, tapi penampilannya tidak mencurigakan. Aku baru ingat menceritakan hal ini pada Daddy,"


Devan segera mengacak pelan rambut anak sulungnya lalu mengecup kepalanya juga untuk menghilangkan rasa resah di hatinya. "Kamu pintar, Andrean. Teruslah pandai menjaga diri dan adikmu bila di sekolah. Walaupun ada pengawal, tetap saja bahaya bisa kapanpun mengintai kalian,"


*******


"Aku tebak kau gagal membawa dua bocah sialan itu,"


"Maaf, Tuan. Kali ini aku belum berhasil,"


"Bodoh! hanya ditugaskan untuk menculik mereka saja kau tidak bisa diandalkan."


Seorang laki-laki memakai jaket ripped jeans dengan senjata tajam di pinggangnya itu menatap padatnya Manhattan sore ini melalui jendela.


"Aku harus melukai keluarganya dulu. Setelah itu barulah si keparat Devan. Aku tidak sabar melihat dia memohon padaku agar keluarganya tetap selamat dan dia menyerahkan nyawanya padaku," desisnya dengan pandangan tajam. Rahang lelaki itu mengeras seraya mengepalkan kedua tangan kokohnya.


Di kota ini Ia pernah mendapat dua kenangan. Yang membuatnya bahagia sampai yang menyakitkan. Keduanya sulit untuk dilupakan. Ia pernah bertemu dengan sahabat barunya di sini, pernah dikhianati di sini, dan ditinggalkan oleh adik perempuannya pun di sini. Semua itu pernah terjadi dalam hidupnya beberapa tahun silam.


"Jangan kau pikir setelah aku dihukum, kau tetap bisa hidup tenang. Kau sudah mencari perkara deganku, Devan sialan! sekian lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Dan sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk aku beraksi, membalaskan dendamku yang kau anggap sudah aku lupakan,"


******


"Aku ingin kalian lebih baik lagi dalam menjaga anak dan istriku!"


Devan memanggil semua pengawal atau orang suruhannya di ruangan bawah tanah untuk memberikan titah pada mereka. Jujur, Devan mulai ketakutan sekarang. Kemarin Deni baru saja membawa kabar buruk dan hari ini anaknya mendapat gangguan. Ini sebuah peringatan untuk Devan agar Ia lebih fokus lagi dalam menjaga keluarganya dan jangan sampai ada celah.


"Aku dan keluargaku dalam bahaya. Kalian harus menjaga keluargaku tanpa mengurangi kenyamanan mereka. Jangan buat mereka curiga, aku tidak mau ada beban pikiran sedikitpun di kepala keluargaku,"


"Baik, Tuan. Kami mengerti,"


"Sedikit saja mereka terluka, akan aku buat kalian juga terluka. Dengarkan baik-baik!"


Devan berseru tegas seraya menatap mereka semua satu persatu. Semua laki-laki berbadan besar dan berpakaian hitam itu nampak menunduk. Selama ini tidak ada gangguan-gangguan yang berarti dari luar untuk keluarga besar Vidyatmaka. Paling hanya ulah tikus-tikus kecil yang iri dengan kesuksesan keluarga yang terpandang itu.


"Aku harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik. Dan ingat, tidak boleh ada pengkhianat di sini. Siapapun yang berani melakukan sesuatu di belakangku, maka persiapkan diri untuk aku bunuh dan neraka lah tempatnya,"


Kegelisahan sudah terlalu menguasainya maka Ia memperingati sejak awal agar tidak ada drama pengkhianatan di akhir yang membuatnya muak. Jangan sampai orang yang dipercayainya untuk menjaga keluarganya malah berbalik menyerangnya dari belakang dengan cara menyakiti harta berharga yang dimilikinya yaitu keluarga.


Devan keluar dari ruangan yang temaram itu. Dan bertepatan dengan Lovi yang sedang menikmati makanan ringan di depan televisi yang ada di ruang tengah. Ia mengerinyit saat melihat sang suami baru saja menutup pintu ruangan kecil yang sagat tersembunyi karena berada di balik dinding dan di bawah tangga menuju lantai atas. Di balik pintu itu ada ruangan kecil dimana terdapat tangga yang cukup panjang sebagai akses untuk sampai ke ruangan bawah tanah.


"Devan..." panggilnya yang membuat Devan terkejut. Secepat kilat Ia mengubah raut gelapnya menjadi sumringah. Ia harus terlihat baik-baik saja.


"Seingatku di dalam sana ada ruangan. Kamu kenapa datang ke sana?"


"Hanya melihat-lihat suasana di dalam,"


"Itu ruangan bawah tanah ya?"


"Hmm?"


"Iya, kenapa?" Lovi tak perlu tahu juga karena Ia tidak usah mengerti serumit apa hidupnya dan Raihan sampai memiliki tempat tersendiri untuk berunding.


"Tidak, hanya bertanya saja,"


"Mau masuk ke sana?" tantang Devan yang langsung ditanggapi oeh Lovi, "Memang boleh?"


"Boleh, asal kamu kuat melihat banyaknya tulang belulang manusia didalam sana,"


Tubuh Lovi meremang seketika seraya bergidik ngeri. Ia segera menggeleng cepat. "Tidak-tidak, terima kasih atas tawarannya. Aku tidak mau mual-mual di sana,"


Lovi menganggap itu semua benar. Mengingat sekejam apa suaminya dulu. Tak bisa dipungkiri sudah ratusan manusia menjadi korbannya, Lovi yakin akan hal itu.


********


"Benar di toys store ini kamu membeli robot yang kemarin?"


"Iya, benar. Aku ingat tempatnya,"


Malam hari Jane baru bisa menepati janjinya pada sang keponakan karena setelah mandi tadi Ia malah sakit perut.


Devan dan Lovi sudah melarang Jane untuk pergi bersama Adrian tetapi Jane tidak ingin membuat keponakannya kecewa lagi.


"Ayo kita turun," Ujar Jane seraya melepas seat belt nya. Dan ketika Ia turun, Adrian berteriak memangginya. "Aunty, aku tidak bisa membuka ini," kata Adrian. Jane mendengkus dan segera masuk lagi ke dalam mobil. Ia melepaskan tali pengaman yang menjerat keponakannya.


"Yeaay akhirnya jadi juga beli robot baru,"


"Harus sering dimainkan ya. Kalau tidak, Aunty kecewa nanti. Yang dari Uncle Jhico saja sudah tidak dimainkan lagi,"


'"Kata siapa? masih aku mainkan setiap hari. Tapi lebih sering aku mainkan di malam hari saat Mommy dan Auris tidur,"


"Oh ya, Mommy dan Auris masih takut ya," Jane tertawa mengingat betapa sengitnya perdebatan Lovi dan Adrian bila menyangkut robot, seperti halnya saat sang anak sering bermain dengan robot sampai lupa waktu.


Jane menggenggam tangan keponakannya lalu mereka masuk kedalam toys store yang cukup besar itu.


"Kalau sudah masuk ke dalam toys store rasanya aku ingin membeli semua mainan yang dijual,"


"Jangan, uang Aunty habis nanti,"


"Oh iya, Aunty mau menikah tidak boleh boros ya?"


"Kenapa bicara tentang pernikahan terus sih? mungkin kamu yang mau menikah ya?"


"Hih, jangan sampai,"


"Kamu tidak mau menikah?"


"Aunty, aku masih kecil,"


Jane terkekeh gemas, lalu ia memaksa kepala keponakannya agar mendongak agar Ia bisa mencium pipinya.


"Aunty bercanda. Kamu tidak boleh pikirkan perempuan dulu sebelum berhasil membahagiakan kedua orangtua-mu,"


"Iya, Aunty."


Begitu banyak mainan sampai membuat Adrian tidak fokus. Seperti apa yang dikatakannya tadi, Ia ingin membeli semuanya.


"Robot yang besar-besar ada di sana,"


Adrian mengangguk dan mengikuti Jane yang selalu menggenggam tangan kecilnya. Karena dari mansion, Jane sudah diperingatkan berkali-kali oleh Devan. Sebenarnya tidak heran karena setiap Ia pergi bersama kedua anak kembar itu, Devan selalu mengingatkan hal yang sama. Namun kali ini terasa berbeda. Devan terlihat sangat memohon pada Jane agar tak lepas memperhatikan sang anak, Ia meminta pada Jane berulang kali seperti sangat ketakutan anaknya akan kenapa-kenapa. Bahkan Ia mengantar Adrian sampai masuk ke dalam mobil Jane.


"Ke toys store pun harus membawa bodyguard ya? huh, tidak heran sih sebenarnya. Tapi tiga orang bodyguard menurutku terlalu banyak. Sudah mirip dengan pejabat negara,"

__ADS_1


Devan tak peduli sepupunya protes seperti itu. Yang terpenting mereka aman tanpa mengurangi kenyamanan karena akan di awasi dari jarak yang tidak terlalu dekat.


"Mau yang mana?"


"Warna hijau,"


"Astaga, ini hulk."


Tawa Jane pecah saat Adrian memegang salah satu tokoh dari marvel comics yang tubuhnya berwarna hijau bernama hulk.



"Aunty tugasnya mengeluarkan uang saja. Tidak usah komentar,"


"MMMFFTTT," Jane menahan tawa gelinya. Tak bisa dibayangkan akan seperti apa reaksi Lovi dan Auristella nanti apalagi rencana Adrian mainan barunya itu akan diletakkan di luar kamar.


"Aunty, jangan tertawa! nanti aku menangis, Aunty tanggung jawab ya,"


Jane mengibaskan tangannya di depan wajah untuk menghilangkan kedutan di bibirnya akibat menahan tawa.


"Baiklah, Aunty bayar dulu," ujar Jane yang langsung membuat Adrian senang bukan main.


Jane menoleh sebentar pada keponakannya itu. "Kamu yakin mau beli yang itu?"


"Yakin!"


"Okay, kita bayar sekarang,"


Adrian melepas tautan tangan mereka seraya menunjuk robot-robot kecil di tempat lain. "Aku mau melihat-lihat itu. Aunty ke kasir sendiri saja,"


"Tidak boleh, ingat kata Daddy-mu tadi?"


"Sebentar,"


"Langsung pulang ya sayang. Jangan jauh-jauh dari Aunty," Jane mengulangi ucapan Devan pada anak keduanya tadi.


"Huh! Aunty pelit!"


"Oh pelit? ya sudah kalau begitu, Aunty tidak jadi membelikannya untuk kamu."


Jane akan melangkahkan kakinya dan Adrian langsung menahan dengan cepat. Ia menggeleng dengan wajah memohon.


"Tidak, Aunty baik, Aunty tidak pelit. Sudah aku perbaiki kalimatku tadi 'kan? jadi membayarnya ya, Aunty?"


"Hmmm..." Jane pura-pura berpikir seraya mengetuk dagunya dengan telunjuk. Ia melirik Adrian yang menantikan jawabannya dengan ekspresi yang menggemaskan.


"Aunty---"


"Iya, Aunty bayar,"


"Thank you. I love you, Aunty."


"Hih, tumben mengatakan 'I love you ' Pasti karena keinginannya dipenuhi jadi so sweet seperti ini,"


Adrian terkekeh tak menampik kalau ia memang mengucapkan itu karena sangat bahagia mendapat hadiah dari Jane.


Jane membawanya ke kasir lalu ia melakukan pembayaran. Sama seperti mainan pertama, hulk itu akan diantar dengan pengantar khusus yang disediakan oleh toys store tersebut.


"Kalau Aunty tidak belikan, berarti tidak 'I love you ya?"


"Tetap I love you,"


"Terima kasih,"


Perempuan yang baru saja mengembalikan kartu debit milik Jane mengangguk seraya tersenyum hangat.


Setelah selesai dengan segala urusan yang berkaitan dengan robot hulk milik Adrian, Jane dan Adrian keluar dari surganya mainan anak-anak itu.


"Mau donat? kita beli sekarang,"


"Mau, tidak akan menolak,"


"Tapi janji ya harus dimakan semua, jangan kamu buat gundul donat itu,"


Jane tahu betul kebiasaan Adrian bila makan donat. Anak itu hanya melahap topping nya saja, tidak dengan donatnya. Sehingga tampilan donat seperti digerogoti hewan buas.


"Iya, Aunty. "


"Awas kalau bohong ya. Andrean saja kalau makan donat tidak seperti itu,"


"Dia juga begitu,"


"Tidak, Aunty tahu."


"Waktu kecil,"


"Kan yang sedang dibicarakan bukan waktu kecil. Kamu sudah besar, jadi harus bisa lebih menghargai makanan. Kalau gundul 'kan harus dibuang,"


"Kita ke gerai donat dulu," ujar Jane pada salah satu pengawalnya yang sedari tadi menunggu Ia dan Adrian di luar dan membiarkan satu temannya yang mengikuti Jane dan juga keponakanya itu.


Satu mobil berisi tiga orang pengawal mengikuti mobil Vanilla yang melaju dengan kecepatan normal seolah Vanilla sangat menikmati suasana malam ini yang tak seramai siang hari dimana semua orang berduyun-duyun menyelesaikan segala urusan.


"Kau melihat ada sesuatu yang janggal dari mobil itu tidak?"


Pria berambut cokelat pirang yang mengendarai mobil langsung menatap kaca spion.


"Sepertinya dia mengikuti kita sejak tadi. Atau hanya perasaanku saja?"


"Lakukan sesuatu!" ujar kawannya yang satu lagi saat melihat mobil yang mengikuti mereka sejak tadi mulai menaikkan kecepatan dan ingin menyamakan posisi dengan mobil Jane yang sudah jauh di depan sana.


Pengawal Devan bergerak dengan cepat. Mereka tahu ini sudah termasuk ke dalam gangguan yang tidak diinginkan Devan dan harus segera dimusnahkan.


mereka berhasil menyentuh bagian samping mobil penguntit itu. Suara gesekan kedua body mobil itu membuat Jane mengurangi kecepatannya. Jane dan Adrian sama-sama melihat kondisi di sekitarnya melalui spion dan juga kaca yang berada di atas kepala mereka saat ini. Terlihat mobil bodyguard mereka tengah bersaing dengan satu mobil lain untuk mendekati mobilnya.


Jane menyadari ada yang tidak beres. Tapi ia berusaha tetap santai karena ia membawa Adrian. Kalau ia sedang sendiri mungkin mengendarai dengan kecepatan tinggi guna menantang, sudah Ia lakukan sejak tadi.


Decitan rem yang sangat nyaring berhasil membuat jantung Adrian berdetak ketakutan. Ia melirik Jane yang tampak santai namun sangat fokus mengendarai mobil.


"Cepat bawa mobilnya Aunty! Mereka pasti orang jahat. Buktinya dikejar oleh para bodyguard kita,"


"Jangan, itu akan membahayakan keselamatan kita. Biarkan saja mereka yang membereskan pengganggu itu,"


*********


"Sangat menyenangkan bermain-main dengan Devan. Jadi kali ini kita gagal lagi?"


Si pengemudi yang mobilnya berhasil dirusak oleh para pengawal Devan hanya bisa mengangguk takut.


"Tidak apa, kita hanya perlu bersabar. Mulai saat ini, aku akan memegang prinsip 'pelan tapi pasti mati'. Kita diajak bermain-main dulu oleh Devan,"


"Buat mereka lelah dengan serangan kita. Jangan pernah berhenti untuk terus mengganggu,"


"Baik, Tuan."


Lelaki dengan aura menyeramkannya itu tertawa menggelegar. Ia suka dengan tantangan yang diberikan Devan. Semakin Devan menutup diri, maka Ia akan semakin gigih mencari jalan yang tepat sampai bisa menemukan celah untuk menghancurkan targetnya.


"Orang yang lelah akan membutuhkan waktu untuk istirahat. Saat itulah kita datang untuk merusak semuanya,"


"Tuan benar, ini semua hanya tentang waktu. Ada saatnya mereka harus mati sesuai kehendak Tuan,"

__ADS_1


"Bukan 'mereka', tapi hanya Devan yang harus mati. Setelahnya, aku hidup bahagia dengan Lovi,"


__ADS_2