My Cruel Husband

My Cruel Husband
Keributan pagi hari


__ADS_3

Kehamilan Lovi sudah masuk trimester kedua. Intensitas mualnya di pagi hari sudah mulai berkurang. Hanya di kesempatan tertentu Ia mengalaminya. Seperti saat menghidu aroma sesuatu yang menyengat, aroma masakan yang terlalu menampilkan rempah-rempah.


Pagi ini Devan tidak lagi bekerja karena tubuhnya tumbang. Sejak dini hari Ia sudah meriang, dan seluruh tubuhnya terasa kebas.


Lovi dengan sabar mengayomi suaminya yang lebih manja bila sedang sakit seperti ini. Ia tak ingin melepaskan pelukannya pada Lovi sementara perempuan itu harus menyiapkan santapan Devan sebelum meminum obat.


Namun setelah Devan berhasil tertidur lelap kembali, Lovi turun dari ranjang dengan pelan. Lalu Ia mulai membuat bubur dan teh hangat untuk suaminya.


Serry keluar dari kamarnya seraya mengikat asal rambutnya. Ketika memasuki dapur, Ia terkejut melihat punggung kecil seorang perempuan yang sedang berada di depan kompor.


"Ya Tuhan, Nona sedang apa?"


Lovi sama terkejutnya. Mengingat ini masih pagi buta dan suasana masih sunyi sehingga Lovi sedikit was-was.


"Membuat bubur, Serry."


"Nona menginginkannya? Biar aku saja yang membuatnya,"


"Ini untuk Devan. Ia sakit,"


***


Andrean dan Adrian kompak terbangun setelah sama-sama terjatuh dari ranjang di kamar mereka. Padahal sudah ada pembatasnya namun Adrian yang penguasa berusaha melewati teritorial ranjangnya sendiri. Andrean mendorong Adrian dengan kesal dan Adrian pun tak ingin kalah. Mereka saling mendorong dalam keadaan mata yang masih terpejam.


Setelah terpelanting di lantai, mereka langsung membuka mata. Andrean sudah siap untuk menyemburkan amarahnya pada sang adik.


"Kamu serakah! Kenapa harus ke tempatku?"

__ADS_1


"Namanya juga tidur, pasti tidak sadar,"


Lovi yang baru saja meletakkan nampan di nakas samping ranjang pun mendengar sayup-sayup keributan anaknya. Kamar mereka bersebelahan sehingga apapun yang terjadi dengan mereka, Devan dan Lovi akan mengetahuinya.


Devan mengerjap dan melenguh pelan. Ia cukup terganggu dengan suara anaknya yang saling melempar teriakan.


"Lov, kamu mau kemana?"


Lovi menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu, kemudian menoleh.


"Aku melihat keadaan mereka dulu,"


Devan mengangguk dan membiarkan Istrinya menghampiri sumber keributan. Mata Devan beralih pada mangkuk dan segelas teh. Ia tahu itu disiapkan Lovi untuknya, Ia tersenyum namun belum ingin menikmati bubur buatan Lovi karena ingin disuapi perempuan itu.


***


"Kamu selalu mengulanginya. Aku bosan mendengar 'maaf'mu,"


Lovi membuka pintu kamar kedua anaknya. Mereka menoleh pada Lovi. Mata Andrean dan Adrian saling menatap tajam. Andrean sudah cukup sabar. Adrian selalu mengganggu tempat tidurnya. Seolah ranjang besar untuknya tak cukup.


"Ada apa ini? Kenapa bertengkar pagi-pagi? Biasanya kalian belum bangun,"


Lovi menurunkan besi pembatas ranjang lalu duduk di antara kedua anaknya.


Telunjuk Andrean mengarah pada sang adik, Ia mengeluarkan suaranya dengan menggebu, "Adrian selalu tidur di tempatku, Mom. Aku merasa sesak karena ditindih tubuhnya,"


Lovi terkejut mendengarnya. Pembatas itu sudah tinggi tapi Adrian masih bisa mengambil wilayah kakaknya? Anak ini bukan main sifatnya.

__ADS_1


"Adrian sengaja menganggu tidur kakakmu?" Lovi menatap anak bungsunya dengan memicing. Ia tahu betul kadar jahil anak itu. Barang kali Ia sengaja membuat Andrean kesal pagi-pagi.


Adrian menggeleng dan tangannya terangkat untuk menarik daun telinga kakaknya namun sebelum itu terjadi, Lovi segera menghalangi.


"Biar Mommy gigit nanti tangannya ya? Mau?"


Lovi mendekatkan giginya pada jemari kecil itu. Adrian tidak akan jera kalau belum diperingati dengan tegas.


"Jangan! Memang tangan Adrian roti?"


****


"Dimana mereka, Netta?"


Rena disambut oleh Netta setelah memasuki kediaman Putranya. Mata Rena berkeliling mencari anak dan cucunya.


"Tuan Devan sedang sakit, Nyonya. Nona Lovi sedang memberikannya makan dan obat sepertinya,"


Rena duduk dengan tenang di atas sofa. Ukiran alisnya menukik saat mendengar kalimat Netta.


"Bisa sakit juga dia," gumamnya seorang diri. Netta segera pergi setelah Rena mempersilahkannya melanjutkan pekerjaan.


"Wow rumah ini kedatangan Grandma cantik,"


------


Stop dl ampe sini. Nnti lanjoott lagee. LIKE, VOTE, KOMEN, BINTANG 5 JGN LUPA YAAWW

__ADS_1


__ADS_2