My Cruel Husband

My Cruel Husband
Extra part 5


__ADS_3

Devan segera berjalan menuju kamar anaknya begitu memasuki rumahnya. Sementara Lovi menghampiri Adrian yang duduk di ruang keluarga.


Rahang Devan sudah mengeras. Giginya bergemelutuk marah. Ia mengetuk pintu kamar Auristella lumayan kencang dan tidak sabaran.


"Auris, cepat buka pintunya!"


Devan tidak akan diam saja bila anaknya benar-benar meneguk minuman itu. Demi apapun Auristella baru lima belas tahun.


"Ya, Dad." sahutan Auristella terdengar kemudian pintu kamarnya terbuka.


"Apa yang kamu lakukan di pesta tadi?"


"Hah? ti--"


"Daddy tidak menyangka kamu bisa selancang itu, Auris. Selama ini Daddy percaya padamu karena kamu tidak pernah mengecewakan Daddy. Tapi sekarang apa yang kamu lakukan? kamu mabuk!"


"Dad, apa yang Daddy bicarakan?"


"Kamu minum berapa banyak?"


"Hanya satu gelas,"


"Hanya kamu bilang?"


"Iya," Auristella mengangguk polos. Tidak ada yang salah 'kan dengan ucapannya? tapi kenapa Devan menatapnya seperti ingin menelannya hidup-hidup?


"Satu gelas sari buah. Memang aku tidak boleh minum itu, Dad? bukankah buah baik untuk kesehatan?"


"Apa? sari buah?"


"Iya, aku minum itu."


"Ck! yang benar, Auris." Devan akan semakin marah kalau Auristella bermain-main dengannya.


"Benar, aku hanya minum sari buah dan aku tidak mabuk. Apa maksud ucapan Daddy tadi?"


"Adrian mengatakan kamu minum alk---"


"ADRIAN, BABY BOY!"


Auristella segera keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju ruang keluarga. Setelah melihat kepala Adrian yang membelakanginya, Ia segera mendekat kemudian memeluk erat leher kakaknya dari belakang.


"Auris, sakit. Auris, arrghhh aku tidak bisa bernapas,"


"Apa yang kamu katakan pada Daddy?! hah?!"


"Aku tidak--"


"ARGHHH,"


"Rasakan! siapa suruh mengarang cerita?! bagaimana mungkin aku mabuk?!"


"Kamu memang mau mabuk sebelumnya. Mengaku saja!"


Auristella berdecak dan melepaskan tangannya dari leher sang kakak kemudian Ia duduk di samping Adrian setelah memukul bahu kakaknya itu.


"Aku hanya bercanda!"


Lovi yang memperhatikan mereka sejak tadi hanya bisa menggeleng pelan. Ia tidak tahu kenapa mereka bertengkar.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Lovi.


Devan menghampiri anak dan istrinya kemudian mejelaskan apa yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang dari restoran.


"Adrian, jangan begitu lain kali. Daddy mu benar-benar khawatir," Lovi menasihati anak kedua nya yang benar-benar jahil. Dari kecil hingga dewasa, tetap saja sifatnya yang satu itu tidak hilang.

__ADS_1


"Lagipula Daddy kenapa percaya? aku tidak mungkin melakukan itu,"


"Sebenarnya Daddy sulit untuk percaya karena Daddy yakin kamu anak baik. Tapi karena Adrian yang bicara, jadi Daddy kira kamu benar-benar menenggak alkohol,"


"Daddy tahu 'kan kalau Yan itu jahil? jangan percaya dengan ucapannya. Yang bisa dipercaya ucapannya itu hanya Aku dan Ean,"


"Halah!" Adrian mencubit gemas pipi adiknya.


*****


Auristella sudah menjadi teman Lovi untuk pergi berbelanja kebutuhan bulanan. Setelah Auristella pulang sekolah dan les piano, Ia ke butik Mommy nya lalu mereka pergi ke mall.


Belum juga mencari kebutuhan pokok, Auristella melipir ke sebuah klinik kecantikan untuk menjalani perawatan.


Auristella memang sudah paham betul betapa pentingnya merawat wajah. Maklum saja, usia nya yang memasuki masa remaja membuat Ia selalu ingin tampil cantik.


Sekarang, di wajah ada satu jerawat pasti Auristella langsung panik dan meminta Lovi untuk menghubungi dokter yang sudah biasa menangani keluarga mereka dalam merawat wajah.


Kali ini Lovi tidak menjalani treatment. Ia hanya menemani putrinya saja. Setelah itu, barulah mereka belanja kebutuhan pokok.


"Beli parfum ya, Mom?"


"Parfum kamu masih banyak, Auris."


"Tapi aku mau,"


"Nanti, sekarang kita belanja bahan makanan dulu. Itu yang penting. Kamu tidak bisa makan kalau kita tidak belanja,"


*****


Andrean memasuki rumahnya usai kuliah. Sunyi menyambutnya. Ketika Ia beranjak ke meja makan, Ia melihat Senata sedang makan juga.


"Sudah pulang ternyata. Bagaimana hari ini?"


"Ya, begitulah, Grandma."


"Grandpa Lucas dimana?"


"Salah satu cabang kafe berulang tahun. Dan Grandpa sedang menghadiri acara di sana,"


Seperti yang dikatakan Lovi waktu itu, Lucas diberikan kewenangan untuk mengurus kafe yang dibangun Lovi dari hasilnya menabung uang pemberian Devan juga pendapatan butik. Lama-lama kafe itu punya cabang dan itu berkat Lucas karena sepenuhnya sudah dikendalikan oleh lelaki itu. Biar bagaimana pun Lucas pernah menjadi sehebat Raihan dan Devan. Sebelum akhirnya Ia terpuruk.


Ilmu yang ia miliki semasa belum jatuh, Ia aplikasikan dalam mengurus kepunyaan putrinya yang diamanatkan padanya.


"Mau makan, Sayang?"


"Iya, Grandma."


Melihat Senata yang akan menyiapkan makan untuknya, Andrean melarang. "Grandma, aku bisa ambil sendiri,"


"Nanti kalau kamu sudah menikah, Grandma tidak bisa lagi melakukannya,"


"Grandma..."


Senata terkekeh mendengar Andrean protes seperti itu. "Memang belum mau menikah?"


"Belum, Grandma. Masih lama,"


"Tunggu apa lagi? sudah mapan--"


"Belum, kuliahku saja belum selesai, Grandma."


"Ya, dan itu tidak lama lagi. Setelah lulus kuliah, rencanamu untuk ke depannya apa?"


"Lanjut kuliah lagi, Grandma."

__ADS_1


"Semangat mu dari kecil masih terus bertahan, Sayang."


******


Ketika sibuk membantu Lovi memilih daging sementara Lovi sedang memilih sayur, Auristella disapa oleh seseorang. Ia mengenali suara itu. Kemudian Ia menoleh.


"Oscar? ngapain di sini?"


"Menemani Ibu belanja. Kamu sedang apa?"


"Sama, Aku juga mene---"


"Auris, sudah selesai memilihnya?"


"Belum, Mom."


Oscar menunduk singkat, menyapa Lovi yang dibalas Lovi dengan senyumannya. Sementara Lovi menatap Auristella bingung. Ia meminta penjelasan pada Auristella.


"Dia Oscar, Mom."


"Oh Oscar,"


"Aku permisi dulu ya, Auris, Mommy nya Auris."


"Okay, bye." ucap Auristella yang hanya menyapa nya sebentar saja.


"Hati-hati, Oscar."


"Terima kasih,"


Setelah Oscar pergi, Lovi mengguncang lengan Auristella yang kembali sibuk memilah.


"Itu Oscar?"


"Iya, Mom." jawab Auristella seraya menoleh sebentar.


"Dia sopan. Kenapa Andrean kesal sekali dengannya ya?" ujar Lovi seraya mengingat-ingat penyebab anak sulungnya terlihat begitu kesal ketika membahas Oscar tempo hari.


"Karena dia bersikap manis padaku. Padahal menurutku tidak. Dia memang baik pada semua orang,"


"Iya, baik pada semua orang. Tapi mungkin ketika denganmu lebih-lebih baik lagi dan Andrean menyadari itu,"


"Andrean memang posesif. Sama saja dengan Adrian."


"Kamu pun begitu, Sayang."


****


Adrina baru saja pulang kuliah dan Adrian pun demikian. Adrina sengaja menunggu Adrian keluar dari mobilnya. Ia berdiri di depan pagar rumahnya sendri.


"Nona Adrina, ayo masuk."


"Sebentar,"


Beberapa hari tidak menyapa Adrian, rasanya ada yang kurang. Ia merasa sahabatnya itu semakin hari semakin menjauh.


"ADRIAN, HOLLAA!"


Adrian yang akan melangkah memasuki kediamannya langsung menoleh. Adrina melompat-lompat menyapanya.


"Aku tidak melihatmu beberapa hari ini. Kamu kemana?" tanya Adrina sembari mendekati Adrian. Alis Adrian terangkat seraya memasukkan kedua tangannya di saku celana. Lalu Ia menjawab dengan senyum miring, khasnya.


"Aku ada di rumah terus. Mungkin kamu terlalu sibuk dengan kekasihmu. Jadi tidak pernah melihat aku,"


 

__ADS_1


Kalian mo bilang apa sama Yan nya Auris? kalo aku cuma mo bilang "Iri? bilang boss!"😂😂 Kuyy komen untuk Adrian yaaa


 


__ADS_2