My Cruel Husband

My Cruel Husband
Saatnya Dashinta beraksi


__ADS_3

Devan akan mengikut sertakan Lucas di acara nanti malam. Ia sudah menyuruh seseorang untuk mempersiapkan Lucas. Devan ingin semua keluarga intinya turut merasakan kebahagiaan. Ini kali pertama merayakan ulang tahun pernikahan Lovi dan Devan ketika Lucas sudah selesai menjalani hukuman yang mengharuskan Ia untuk tinggal di balik jeruji besi.


"Kamu telepon Lovi lalu minta dia untuk menghadiri pertemuan yang seharusnya melibatkan aku dengan para kolega. Tetapi aku tidak bisa hadir karena harus menyelesaikan sesuatu di kantor. Sehingga ia yang harus mewakilkan. Lalu katakan padanya, aku akan menyusul. Sampai dia benar-benar kesal dan bingung harus melakukan apa, barulah aku datang."


Dashinta terkekeh geli mendengar rencana boss- nya. Ia mengangguk patuh, "Aku akan melaksanakan tugasku dengan baik,"


"Lovi tidak mengerti sama sekali dengan urusan bisnis. Aku penasaran dengan reaksinya nanti,"


"Kalau ternyata Nona bisa diandalkan, bagaimana Boss? jangan-jangan Nona memiliki bakat tersembunyi yang Boss tidak tahu,"


Devan berdecak seraya mengibaskan tangannya di udara. "Yang dia tahu hanya masak, membuat aku bahagia, lalu mengurus anak-anak,"


"Shopping juga ya, Boss?"


"Oh tidak. Istriku tidak seperti kamu, Dashinta" Devan menggelengkan kepala, membela istrinya. Dashinta tak kuasa menahan ledak tawanya. Devan tentu tahu kebiasaan Dashinta. Setiap pergi kemanapun bersama Devan, Ferro, dan Lovi untuk urusan pekerjaan, pasti yang ada dipikiran Dashinta sebelum pulang adalah belanja.


*******


"Lovi, matamu sembab,"


"Tidak, Ma."


"Iya, seperti habis menangis,"


Lovi hanya bisa tersenyum disela kegiatannya menata ranjang usai digunakan ketiga anaknya untuk tidur siang.


"Vitamin Devan sudah ditemukan?"


"Belum, tapi aku sudah beli yang baru dengan kotaknya juga. Semuanya sama,"


Mendengar penjelasan Lovi, Rena tersenyum. Lovi tidak membantah sama sekali ucapan putranya. Setelah lelah mencari dan tidak kunjung ditemukan, akhirnya Ia memutuskan untuk menggantinya dengan yang baru.


Padahal sebenarnya bukan hilang. Melainkan Devan sengaja menyembunyikannya di suatu tempat. Devan menceritakan semua tingkah konyolnya pada Rena dan Senata. Mereka kesal karena Devan sudah keterlaluan pada Lovi tapi tak bisa dipungkiri kalau sikap Devan cukup menggelitik perut.

__ADS_1


"Pakai masker untuk matamu, Lovi."


"Dinner nanti malam dengan mata sembab? Oh Tuhan, itu mimpi buruk!" Batin Rena tak bisa bayangkan, dinner bersama tamu dengan kondisi mata kurang sehat merupakan salah satu hal yang paling dihindari oleh seorang perempuan yang biasanya sangat ambisi untuk tampil sempurna dihadapan banyak orang serta dalam setiap kesempatan.


Lovi harus tampil cantik dan bahagia! tidak boleh ada kesedihan dari sisi manapun. "Mama cari maskernya. Matamu tidak boleh seperti itu,"


"Ma... tidak ada yang mau lihat juga. Hanya penghuni mansion saja. Aku tidak mau memakai itu, Ma."


"Kenapa?"


"Lagi tidak ingin saja,"


"Malas juga?"


Lovi mengangguk jujur.


"Mama yang pakaikan, Lovi. Kamu cukup berbaring saja,"


******


"Hallo, Nona. Selamat sore,"


"Ya, sore, Dashinta. Ada apa?"


"Nona, sebelumnya Aku mohon maaf sudah mengganggu waktunya,"


Lovi mengisyaratkan ketiga anaknya untuk memperkecil suara. Sepertinya Dashinta ingin bicara sesuatu yang serius.


Melihat anaknya sulit untuk diatur, akhirnya Lovi pergi ke rooftop kamar untuk berbicara dengan Dashinta.


"Tidak mengganggu, Dashinta. Ada apa?"


"Nanti malam, Nona diminta Boss untuk menghadiri pertemuan dengan kolega,"

__ADS_1


"Ap---Apa? bagaimana maksudnya, Dashinta?"


Dashinta terdengar berdehem pelan untuk menyembunyikan tawa. Sepertinya apa yang dikatakan Devan benar. Lovi tidak bisa diandalkan dalam masalah bisnis. Ia terdengar langsung gugup setelah Dashinta menyampaikan maksudnya.


"Boss harus menyelesaikan sesuatu di kantor. Dan ada pertemuan yang tidak bisa ditunda, Boss meminta Nona yang menghadiri pertemuan penting itu. Tempatnya di hotel, nanti akan ada supir kantor yang menjemput Nona,"


"Errgh! Devan belum puas buat aku kesal ya?! dia mengerjaiku atau bagaimana sih?!" Batin Lovi menggeram kesal.


"Memang tidak ada yang bisa mewakilinya selain aku? ada Ferro yang biasanya siap menjadi pengganti Devan bila suatu saat Devan membutuhkan,"


Lovi tak henti say sorry dalam hati pada Ferro yang telah Ia umpankan. Tapi kalau diingat-ingat, Ferro memang sudah lama menjadi tangan kanan Devan. Kenapa tidak dia saja? Lovi harus bagaimana di sana? apa yang dilakukan? haissh! membayangkannya saja sudah membuat perut Lovi sakit dan tubuhnya gemetar.


"Ferro sedang menyelesaikan pekerjaan di luar negeri, Nona."


Dashinta mencari alasan yang kira-kira masuk akal. Sepertinya Devan lupa memberi materi untuk Dashinta mengenai Ferro apabila Lovi bertanya. Beruntung Dashinta cepat mendapat alasan. Sebenarnya Ferro tidak pergi kemanapun. Saat ini Ia sedang mendampingi Devan rapat.


"Devan dimana? sedang sibuk? aku ingin bicara,"


"Di ruangan rapat, Nona." Dashinta memberi jawaban yang jujur kali ini. Devan tidak bersamanya. Jadwal Devan hari ini benar-benar padat.


"Nona bisa bicara dengan Boss mungkin satu jam lagi,"


Lovi berjalan tidak tentu arah. Ia benar-benar bingung sekarang. Ia butuh bicara pada Devan yang seenak hati memberi perintah seperti itu.


"Mommy, teleponnya kenapa harus jauh-jauh? di kamar bisa,"


Lovi menoleh dan segera masuk karena Adrian mulai penasaran. "Tadi kalian berisik,"


"Memang iya? tadi kita hanya teriak saja, Mommy. Tidak kencang ya, Auris?"


Lovi memutar matanya, enggan menanggapi. Yang namanya teriak, pasti kencang dan berisik. Tapi biarlah dia mengatakan apa. Ada yang lebih penting dari sekedar meladeni Adrian.


Ucapan Dashinta masih terngiang di telinganya. Sungguh, Lovi ingin memarahi Devan sekarang juga. Tidak biasanya Devan melibatkan Lovi dalam bidang yang digelutinya selama ini. Lovi benar-benar dibuat sakit kepala oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2