
Sebelum masuk ke dalam komplek perumahannya, Devan memutuskan untuk menghentikan mobilnya di supermarket.
Ia menoleh pada Adrian yang sejak mengutarakan keinginannya langsung fokus bermain game di ipadnya.
"Adrian mau ikut Daddy masuk?"
Anak itu hanya menggeleng pelan tanpa beralih. Devan memiting kulit putih wajah putranya hingga Ia mengeluh karena Ia kalah.
"Daddy ganggu!"
"Kalau diajak bicara, bagaimana sikap yang seharusnya?"
Adrian meletakkan ipad di atas paha lalu menatap mata Devan. Tak hanya itu Ia memajukan wajah agar berbenturan dengan wajah Devan.
"Ikut Daddy masuk ke dalam,"
Tak bisa dipungkiri Devan merasa khawatir bila harus meninggalkan anaknya di dalam mobil. Ia tidak tahu apakah di dalam sana ramai atau tidak. Bisa jadi Devan membutuhkan waktu lebih lama untuk membeli es krim. Dan Adrian ini tidak bisa dipercayai lagi. Ia terlalu berani menentang. Devan takut anaknya keluar dari mobil tanpa sepengetahuannya.
Devan membawa Adrian dalam gendongan. Mereka memasuki supermarket. Adrian langsung menghirup aroma roti yang menguar begitu Devan membuka pintu supermarket.
Devan meraup gemas wajah anaknya. Ia tidak tahan melihat hidung Adrian yang berkedut seperti kelinci.
"Enak aromanya,"
"Kamu mau?"
"Mau tapi kenyang,"
Devan mulai menjelajahi supermarket. Apapun yang ditunjuk Adrian, Ia ambil lalu dimasukkan ke dalam troli.
__ADS_1
"Beli saja, makannya nanti kalau kamu sudah lapar,"
"Dad, mau beli permen karet boleh?"
Devan menggeleng singkat. Adrian pasti belum terlalu mengerti kalau permen karet tidak bisa ditelannya. Ia sekedar melihat gambar di kemasan yang kelihatannya memang menarik dengan berbagai warna. Apa lagi Adrian penyuka rasa manis, bisa-bisa langsung ditelannya permen karet itu.
Dalam gendongan ayahnya Ia bersedekap dada. Siapapun yang melihatnya pasti akan menggeram gemas.
****
Adrian langsung berlari memasuki rumah dengan dua kantung belanjaan di tangannya. Sementara Devan sedang mengamankan mobilnya di carport rumah. Penjaga di sini tidak sebanyak di mansion tempatnya tinggal dulu. Lovi selalu melarang Devan untuk menambah penjaga rumah mereka. Sehingga Devan dituntut untuk lebih mandiri. Supir pribadi saja Devan hanya memiliki 1 orang dan ditugaskan oleh Devan untuk mengantar Lovi kemanapun. Dan lagi Devan sudah terbiasa membawa mobilnya sendiri. Untuk hal itu Ia tidak begitu keberatan.
"Bawa apa itu?"
"Es krim. Mommy mau?"
Lovi menerima kantung yang diserahkan Adrian. Ia keberatan membawanya sehingga dibalik tawaran itu terselip maksud lain. Biar Lovi yang membawanya ke ruang makan.
"Bagaimana hari ini? Anakmu berbuat apa saja?"
Devan mengecup singkat bibir Istrinya lalu merangkul pinggang Lovi memasuki rumah.
"Apapun yang membuatku kesal, pasti dia lakukan,"
Devan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan hidangan makan malam. Rasa laparnya sudah berteriak sejak tadi. Biasa saja Ia mendatangi restoran terlebih dahulu sebelum pulang, namun Ia ingat kalau ada Lovi dan Andrean yang menunggunya pulang untuk makan malam bersama. Tadi siang Ia sudah melewatkan makan siang di rumah. Sehingga malam ini Devan tidak akan mengecewakan istrinya.
Adrian dengan menarik kantung yang ada di tangan Lovi. Lalu Ia mendekati kakaknya yang sedang menatap kehangatan orangtua mereka.
"Adrian beli es krim. Andrean mau? Pasti mau lah. Kalau es krim, Andrean pasti tidak menolak,"
__ADS_1
Ia bertanya juga menjawab. Mulutnya berceloteh dan mulai membuka kantung.
"Aku mandi lalu makan ya?"
Andrean sudah bergabung dengan adiknya. Mereka mengeluarkan seluruh makanan dan minuman yang dibeli Devan.
"Aku suka ini,"
"Itu punyaku. Punyamu yang ini," Adrian merebut es krim red velvet yang ada di tangan kakaknya lalu menunjuk varian mangga. Andrean menghela napas mengalah lalu Ia mencari es krim yang lain. Rupanya es krim seperti itu tidak hanya satu. Devan tentu saja adil.
Andrean mengangkat es krimnya tinggi-tinggi lalu tersenyum miring pada Adrian yang menatap miliknya.
"Aku juga punya,"
"Itu punyaku!"
"Tidak, kita sama-sama punya satu red velvet. Masih ada es krim lain,"
Lovi dan Devan hanya menatap kedua anaknya yang sedang berdebat. Mereka biarkan saja asalkan tidak saling menyakiti.
"Semuanya sudah aku siapkan," ujar Lovi memberi tahu segala hal yang dibutuhkan Devan sudah Ia siapkan. Mulai dari pakaian hingga air hangat di dalam bath up serta lilin aromaterapi yang menenangkan.
Devan mengusap wajah Lovi yang mulai berisi lalu tangannya juga menyematkan sentuhan di perut sang Istri.
"Terima kasih, Lov."
Devan segera pergi setelah mengecup singkat bibir Lovi. Lovi hampir saja berteriak marah. Di sana masih ada anak mereka. Devan memang tidak tahu tempat atau sengaja membuat mata anaknya tercemar?
---------
__ADS_1
Terima kasih untk semua dukungan kalian🙇 Jgn lupa tinggalkan jejak yaaa💙😚