My Cruel Husband

My Cruel Husband
Saling memaafkan


__ADS_3

Rena dan Raihan mengerinyit bingung saat beberapa pelayannya tergesa menaiki lantai atas. Apa yang sebenarnya terjadi?


Rena menghentikan Jane yang juga ingin melangkah.


"Apa yang membuat kalian seperti itu?"


Tentu saja mereka bingung. Karena Rena dan Raihan baru saja pulang dari acara yang digelar salah satu anak perusahaan Raihan. Ketika mereka pulang, suasana menjadi seperti ini.


Jane berdehem seraya mengusap lehernya. Ia sudah menunjukkan rasa pedulinya pada Lovi tanpa sengaja.


"Lovi baru saja sadar dari komanya,"


"APA?!"


"Ma, jantungku hampir lepas mendengar suaramu itu,"


Rena terkekeh meminta maaf seraya mengusap dada suaminya yang benar-benar berdetak tak karuan. Sekencang itukah suaranya? Ia mengecup punggung tangan Raihan agar lelaki itu maklum.


Jane tidak bisa melihat kemesraan Om dan tantenya itu lebih lama lagi. Ia meninggalkan sepasang suami istri yang saling menggenggam tangan itu.


Rena tersadar akan kesalahannya. Usia mereka sudah tua tapi kenapa romantisnya mengalahkan pasangan muda? Lagipula ini bukan waktu yang tepat untuk bermesraan dengan suaminya.


"Aku harus ke atas melihat keadaan Lovi," ucap Rena.


Suaminya mengikuti dari belakang. Raihan angkat suara seraya menjaga langkah istrinya .


"Lovi benar-benar orang baik. Lihatlah betapa hebohnya penghuni mansion ini ketika mengetahui kalau Ia sudah sadar. Kalau aku yang berada di posisi Lovi saat ini, belum tentu semua orang senang menyambut aku yang baru saja terbangun dari koma,"


Kalimat Raihan membuat Rena menghentikan langkahnya. Ia pun merasakan hal yang sama. Lovi adalah sosok yang rendah hati dimata semua orang sehingga kehadirannya sangat dinantikan.


"Aku malu pada menantuku sendiri. Bahkan aku tidak lebih baik dari dia," ujar Rena dengan lirih.


Raihan mengusap bahu istrinya lalu kembali membawanya naik ke lantai atas. Mereka hanya perlu koreksi diri. Berkaca pada orang terdekat agar menjadi lebih baik tidak masalah.


Semua pelayan yang sibuk berbisik-bisik menerka kondisi Lovi yang sedang diperiksa oleh dokter, langsung menyingkir ketika sepasang pemilik mansion datang. Mereka memberikan jalan untuk Rena dan Raihan masuk ke dalam kamar Devan.


Ternyata di dalam sana sudah ada Vanilla dan Jane yang masing-masing menggendong putra Devan. Mereka sudah berusaha menjadi aunty yang baik. Jadi sudah seharusnya Rena berterimakasih. Karena wanita setengah baya itu yang kerap memarahi mereka kalau mengacuhkan Andrean dan Adrian.

__ADS_1


Andrean menunjuk-nunjuk Lovi lalu menatap Vanilla. Gadis itu mengangkat alisnya bingung.


"Mommy baik-baik saja," bukan Vanilla yang menjawabnya. Jane ternyata lebih mengerti pertanyaan Andrean yang dilayangkan dengan bahasa tubuh.


"Jangan mengajaknya berbicara terlalu banyak, Tuan. Nona perlu waktu untuk menyesuaikan semuanya,"


Itu pesan yang disampaikan dokter sebelum Pergi meninggalkan keluarga besar di kamar tersebut. Raihan menghantar temannya yang berbeda profesi itu keluar dari kamar.


"Mommy," rengek Adrian yang mulai gelisah dalam gendongan Jane. Si bungsu itu bahkan hampir terjatuh karena bobot tubuhnya yang semakin bertambah membuat Jane sedikit kesulitan menjaganya.


"Diam, gendut!" omel gadis itu. Ia belum sepenuhnya menerima Lovi dan anak-anak itu. Jadi jangan salahkan Jane. Gadis itu perlu waktu untuk menilai lebih lanjut apakah Lovi dan anak-anaknya memang pantas berada didalam kehidupan sepupu kesayangannya.


Rena melotot tajam saat cucunya dikatakan gendut. Walaupun faktanya memang begitu tapi tidak seharusnya Jane berucap demikian pada Adrian secara langsung bahkan di depan Lovi, Mommynya.


Devan mengalihkan tatapannya dari Lovi. Ia merasa kasihan dengan Adrian yang sepertinya ingin mendekati Lovi. Oleh karena itu Devan meraih Adrian dan meletakkan anak bungsunya di samping Lovi. Ia sengaja meminta Vanilla dan Jane untuk menjaga anaknya sementara Lovi diperiksa. Devan yakin kedua anaknya itu akan mengganggu Lovi dan juga konsentrasi dokter yang sedang memeriksa kalau mereka dibiarkan duduk di atas ranjang.


Andrean tampak lebih dewasa saat ini. Ia membiarkan adiknya bermanja pada Lovi. Si bungsu keturunan Devan itu meringkuk di dada Mommynya.


Devan tersenyum ketika melihat Lovi yang mulai merespon. Perempuan itu mengangkat tangannya untuk mengusap rambut lebat Adrian.


"Sebaiknya kita pergi dari sini. Biarkan Lovi beristirahat," ucapnya tegas. Rena dan Jane mengangguk. Mata Raihan mengarah pada cucu sulungnya.


"Vanilla, biarkan Andrean melepas rindunya juga pada Lovi,"


Vanilla tahu kalau itu merupakan perintah agar Ia menempatkan Andrean ditengah orangtuanya.


Raihan dan Rena tersenyum begitu melihat Andrean yang tak kalah antusias bermanja dengan Lovi. Akhirnya, kebahagiaan dalam keluarga itu kembali bersinar. Setelah sekian bulan, hanya kekosongan yang mengisi setiap ruang hati mereka.


Devan masih duduk di dekat ketiga malaikatnya. Ia membiarkan Andrean dan Adrian memeluk Lovi. Devan bahagia melihat anaknya yang mampu tersenyum seperti saat ini. Lengkungan sabit dari bibir mereka benar-benar terasa menyejukkan hati Devan. Sekarang, Devan pastikan kedua anaknya akan merasakan kebahagiaan yang kekal. Ia akan menjaga apapun yang membuat keluarganya tersenyum.


Adrian mulai menyentuh dada Lovi. Devan menghela napas pelan. Wajar mereka menginginkan air susu Lovi. Karena mereka hanya merasakannya sebentar. Setelah kejadian itu menimpa Lovi, Devan mengandalkan susu formula untuk menjadi santapan anak-anaknya.


"Sayang, kalau haus Daddy buatkan susu yang biasa saja ya? kamu belum bisa meminum itu," tawar Devan. Adrian yang mulai terpejam pun kembali membuka matanya. Ia menatap Lovi yang ada di atas kepalanya.


"Devan.." suara Lovi sangat pelan namun berhasil mengalihkan Devan. Lelaki itu menatap istrinya dengan senyuman hangat.


"Ya, Lov? apa yang kamu perlukan?"

__ADS_1


"Aku.. minta maaf," ucapnya dengan terbata.


Devan menggeleng seraya merangkum wajah istrinya, berusaha mengacuhkan sejenak anak mereka yang masih nyaman dalam pelukan Lovi.


"Aku yang salah, aku yang tidak bisa menjagamu. Seharusnya aku yang meminta maaf," Devan nengatakannya dengan suara bergetar. Ia tidak bisa mendengar lanjutan kalimat Lovi. Itu terasa menyakitkan.


"Kamu tidak perlu memikirkan apapun saat ini. Keadaanmu harus segera pulih agar kita bisa kembali seperti dulu. Aku mohon, maafkan aku ya?"


Lovi mengangguk dengan air mata yang perlahan turun membasahi wajah pucatnya. Setelah beberapa menit dihabiskan oleh Lovi untuk kembali memutar memori, Lovi tahu kalau Ia baru saja mengalami sebuah peristiwa. Itulah sebabnya ia merasakan kekakuan yang luar biasa ketika ingin menggerakan tubuh, dan menjawab setiap perkataan yang dilontarkan Devan.


"Jangan menangis, Lov. Ada mereka di sini," ucap Devan yang matanya melirik Andrean dan adiknya. Mereka menatap Lovi yang menangis.


"Mereka sangat menyayangimu. Jadi jangan buat mereka sedih. Tidak segan untuk menangis saat melihat kamu di tusuk jarum infus," adu Devan pada Istrinya agar tahu sikap kedua anak mereka.


Lovi tersenyum dan mengecup puncak kepala anak-anaknya.


"Maaf... aku.. tidak bisa menyusui..mereka,"


Devan sangat mengerti akan hal itu. Lagipula Lovi tidak menyusi mereka karena alasan yang jelas. Ia bukan dengan sengaja meninggalkan kewajibannya sebagai Ibu.


"Aku akan buatkan mereka susu dulu. Sepertinya sudah mengantuk,"


kekehan suaminya membuat Lovi gemas. Ia rindu dengan semua yang ada dalam diri Devan. Salah satunya tawa lelaki itu yang membuat simfoni dalam hati Lovi semakin bersorak.


Devan mengecup wajah Lovi kemudian mengerling.


"Aku tinggal sebentar. Jangan merindukanku, ya!"


Lovi menggeleng melihat sikap suaminya itu. Ternyata ada perubahan khas yang terjadi dalam diri Devan selama Ia meninggalkannya.


Lovi merasakan hembusan napas teratur dari kedua putranya yang tampan dan menggemaskan itu. Tentunya Lovi tidak lupa dengan kebiasaan anaknya. Selama bahu Devan atau Lovi bisa dijadikan sandaran, maka kesulitan tidur tidak akan mereka rasakan.


"Aku bahagia, Tuhan. Tolong jaga kebahagiaan ini. Jangan biarkan kami terkurung dalam kesakitan lagi,"


**************


Berhubung aku merindukan keleaaann jadinya aku double up deh :) plisss jgn pelit like, coment dan votenya yaaa hehe... aku secepet mungkin ngerangkai haluan wkwkwk. Pdhl niatnya cuma up sekali hr ini😂 MAMPIR DI LAPAKKU YG SEBELAH GUYSSS JUDULNYA 'WHY' ADA SEDIH² BOMBAY JUGA🤣🤣 tinggalkan jg jejak kalian di sana yaaa... Makasiuww

__ADS_1


__ADS_2