
Lovi segera membantu anaknya untuk berdiri. Ia menyingkap celana pendek yang dikenakan Adrian.
"Ada yang luka?" tanya Nindya. Lovi menyentuhnya dan Adrian meringis sedikit.
"Tidak ada, tapi merah."
"Memang tidak ada yang luka, Mom. Hanya nyeri sedikit,"
"---jangan disentuh lagi!" lanjutnya karena Lovi akan mengusap lembut.
"Berikan sesuatu agar tidak memar,"
"Tidak mau, biarkan saja seperti ini." Adrian menolak saat Nindya menyuruh Lovi untuk mengobatinya.
Adrian berlari menghindar dan diikuti oleh yang lain. "Dia sudah bisa berlari, artinya benar baik-baik saja," ujar Lovi seraya menggeleng melihat anaknya.
Adrian, Andrean, Kenith, dan Genta menghampiri Daddy mereka yang tengah berbincang dengan Sandra dan Kayla. Kenith memberi laporan pada sang ayah bahwa Ia hampir jatuh dan Adrian mencibirnya.
"Tapi setelahnya dia yang jatuh. Lucu ya, Ayah?"
Mendengar ucapan keponakannya, Devan segera beralih tatap dengan Adrian. Ia memangku Adrian dan akan menyingkap celana Adrian, anaknya itu menolak.
"Kamu terjatuh, Adrian?"
"Iya, tapi tidak sakit,"
"Uncle, dia menggelinding seperti bola tadi. Beruntung jatuhnya tidak terlalu tinggi," ucap Kenith.
"HAHAHAH bola,"
"Kamu masih waras atau tidak sih? dibicarakan malah tertawa. Bukannya kesal," ujar Genta tidak habis pikir. Dikatakan seperti bola, Adrian malah tertawa kencang.
"Daddy ingin lihat lukanya,"
"Tidak ada luka, Daddy. Aku baik-baik saja,"
"Daddy lihat sebentar,"
Adrian menggeleng tegas. Ia pergi dari pangkuan sang ayah lalu menepis tangan Devan yang meraih lengannya.
"Tidak boleh lihat! waktu Daddy terluka saja, Daddy tidak mau memperlihatkan lukanya padaku,"
"Kenapa jadi bahas luka Daddy? lagipula, kapan Daddy terlu--"
"Beberapa hari yang lalu. Saat ada orang jahat yang datang ke kantor Daddy,"
"Huh? orang jahat?" tanya Genta.
"Iya, di kantor Daddy-ku sempat kedatangan monster," Adrian bercerita antusias pada sepupunya.
"Adrian sudah diberi obat belum oleh Mommy? obati dulu lukamu,"
"Tidak perlu obat karena tidak sakit, Dad."
"Ya sudah, terserah. Nanti malam kalau sulit tidur lalu merengek ngilu, Daddy tidak mau dengar ya? Daddy pura-pura tuli,"
Adrian memang suka merengek dan gelisah dalam tidur kalau habis jatuh atau ketika tubuhnya terasa kurang nyaman, sama seperti anak-anak lainnya.
Lovi mendekati Adrian dengan membawa cairan yang biasanya Ia gunakan untuk mengobati anaknya bila terantuk.
"Mommy olesi ini dulu,"
Lovi memanggil Adrian dan anak itu pura-pura tidak dengar. Malah menyusul sepupunya yang beranjak ingin ke pekarangan mansion.
Devan yang melihatnya geram. Lelaki itu langsung bangkit untuk menahan. Ia segera meraih Adrian yang keras kepala ke dalam gendongannya.
Adrian berontak dan itu terlihat lucu di mata sepupu-sepupunya. Bahkan Kayla dan Sandra yang tidak tahu apapun ikut tertawa seperti Genta dan Kenith, kakak-kakak mereka.
"Tidak mau dengar ucapan orangtua. Kenapa sih?" ujar Devan. Devan menurunkan sang anak tepat di hadapan Lovi yang menatap Adrian dengan datar.
"Seperti mau disakiti saja kamu ya? padahal mau diobati,"
Lovi menyingkap celana yang dikenakan Adrian sebelum mengoleskan obat cair itu. Devan memperhatikan kegiatan istrinya itu.
"Kan tidak sakit, ngapain---"
"Tapi kamu terjatuh dari tangga. Tidak mungkin tidak sakit,"
"Kata Kenith, dia menggelinding seperti bola. Benar, Lov?"
"Tadi Nindya yang lihat dia jatuh,"
"Bawa ke rumah sakit saja kalau---"
"Aku tidak mau!"
"Kenapa tidak mau? biar benar-benar dipastikan kalau tidak ada yang sakit,"
"Daddy, aku tidak akan mau."
Adrian menjauh seraya mengerang kesal setelah Lovi memberinya obat. Devan yang melihat itu menggeleng pelan.
"Sandra, bagaimana kalau sekarang saja kita ke toys store?" tanya Devan tiba-tiba.
"Mau ngapain ke sana?" tanya Adrian yang langsung penasaran setelah mendengar tempat kesukaannya disebut-sebut oleh Devan. Saat mendengar akan dibawa ke rumah sakit, Ia menolak.
"Aku mau beli mainan," ujar Sandra seraya menjulurkan lidahnya menatap Adrian. Adrian menatap Devan seolah menuntut penjelasan kenapa dia tidak diajak juga.
"Auris merusak squishy Sandra. Jadi Daddy harus ganti rugi,"
Devan berdecak dan menunjuk Sandra dengan telunjuknya.
"Ah alasan, pasti kamu mau membuat Daddy ku bangkrut 'kan?"
"Huh? memang hanya membeli mainan, bisa bangkrut, Uncle?"
"Tidak, Sayang." jawab Devan seraya mengusap kepala keponakannya. Adrian menghentak kakinya kesal seraya bersedekap dada.
"Aku tidak mau kalah! aku harus ikut ke toys store juga, Dad!"
"Aduh jangan. Bisa-bisa kalian menginap di sana. Kamu dan Sandra sama saja," ujar Akra yang tidak setuju.
"Sudah Ayah bilang, Sandra belinya dengan ayah saja. Tidak usah pergi bersama Uncle Devan. Kenapa sulit diberi tahu?" lanjut Akra.
"Tapi 'kan yang merusak itu anaknya Uncle. Jadi harus uncle yang ganti rugi karena squishy ku sudah buruk rupa,"
__ADS_1
"Aku juga mau ikut, Uncle."
"Aku juga,"
"Aku juga, Uncle."
Genta, Kenith, dan Kayla ikut mengajukan dirinya agar bisa pergi juga ke toko mainan. Mata Devan mengerjap bingung.
"Jangan, Devan. Kau akan mati berdiri nanti menghadapi mereka,"
"Kalau kalian ikut semua, Uncle seperti pembimbing study tour nanti,"
Sudut bibir Andrean terangkat mendengar ucapan sang ayah. Akra memperhatikan Andrean yang paling tenang diantara sepupunya yang lain.
Akra terkekeh geli mendengar kalimat yang keluar dari mulut sepupunya. Memang benar apa yang dikatakan Devan. Ramai-ramai membawa mereka pasti terlihat lucu dan bukan Devan sekali.
"Ya sudah, kalian boleh ikut."
"YEAYYY,"
"Dev--"
Devan menyuruh Akra diam saat Akra ingin menyanggah keputusannya. Ia menggeleng tidak masalah.
"Kalian jangan sulit diatur ya! terutama kamu, Sandra dan Kenith."
"Iya, Ayah."
Semuanya pergi kecuali Andrean. Karena anak itu malas keluar katanya. Sehingga Ia memilih untuk diam saja di mansion.
****
Lovi dan semua sepupu perempuan suaminya sedang bercengkrama di depan televisi. Siaran drama yang sedang mereka saksikan seolah tidak ada fungsinya karena mereka sibuk sendiri.
Jane baru saja tiba setelah sebelumnya pergi bersama Richard. "Jane, kamu itu seharusnya diam di mansion saja. Besok mau nikah, masih saja keluyuran,"
"Aku pergi bersama calon suamiku," sahut Jane sebal. Ia duduk di samping Lovi lalu menyandarkan kepala nya ke sofa.
"Ada apa denganmu?"
"Bertengkar dengan Richard?"
"Tidak,"
"Makanya jangan bertemu menjelang pernikahan. Kalau bertengkar, jadi membuatmu ragu nanti,"
"Siapa yang bertengkar? tidak terjadi apapun pada ku dan Richard,"
"Aku tidak percaya,"
"Aku mau cerita,"
Semua sepupunya tersenyum mendengar Jane yang sepertinya sudah mau terbuka. Mereka siap-siap mendengar cerita dari Jane.
"Tadi aku bertemu dengan mantan kekasihnya Richard di kantor. Dan ini sudah yang kedua kalinya,"
"Sebelumnya kamu bertemu dimana?" tanya Nindya penasaran.
"Setelah wisuda ku, Richard mengajak aku untuk makan berdua di restoran, dan di situlah kami bertemu,"
Flashback on
Jane senang sekali karena hari wisudanya dihadiri oleh Lovi, Raihan, dan Rena. Devan tidak bisa datang karena pekerjaan nya tidak bisa ditinggal. Vanilla juga turut hadir meskipun tanpa suaminya.
Mereka juga mempersembahkan bucket bunga untuk Jane yang hari ini berhasil menyelesaikan pendidikannya sebagai mahasiswa.
Usai berfoto bersama keluarga, Richard mengajak Jane dan keluarga Jane untuk makan bersama. Tapi Raihan menolak ingin memberikan waktu untuk Jane dan Richard. Yang lain pun memiliki pemikiran yang sama seperti Raihan. Mereka semua pulang, dan tinggallah Jane serta kekasihnya.
Akhirnya hanya mereka berdua yang makan di sebuah restoran. Sampai di restoran senyum Jane belum juga pudar. Hari ini Ia benar-benar bahagia.
Senyumnya hilang karena Richard ditegur oleh seorang perempuan cantik yang tersenyum begitu manis saat menyapa Richard sementara untuk menyapa dirinya, Ia terlihat enggan sekali.
"Bagaimana kabarmu, Ri?"
"Aku baik, kamu sendiri?"
"Aku juga baik. Siapa dia? boleh perkenalkan dengan aku?"
"Oh, dia calon istriku."
Richard mengisyaratkan Jane untuk mengulurkan tangannya. Jane dengan angkuh menolak, bahkan Ia mengalihkan pandangan. Tapi karena Richard berdehem dan Ia membayangkan nanti Richard akan marah, maka Ia melakukan apa yang lelaki itu inginkan.
Ia memperkenalkan dirinya sendiri.
"Jane," ujarnya singkat.
"Aku Federin,"
Jane hanya tersenyum kaku. Tidak penting juga tahu namanya. Karena terlihat sekali bahwa perempuan itu tidak menyukai dirinya, maka Jane pun seperti itu.
"Kami masuk dulu ke dalam,"
"Oh ya, aku sudah selesai makan," ujarnya padahal Richard tidak bertanya. Jane semakin mencibir dalam hati.
"Gatal sekali dia ya. Minta aku garuk dengan garpu kali ya?" batin Jane kesal.
"Hati-hati, Federin." ujar Richard sebelum Ia menggenggam tangan Jane masuk ke dalam restoran.
"Dia siapa? mantan kekasihmu pasti," tebak Jane yang tidak dielak oleh Richard. Jane mendengkus. "Sudah terlihat dari gayanya," ujar perempuan itu. Richard segera menatapnya.
"Dia berbuat kesalahan apa padamu? kenapa kamu ketus sekali?"
"Seharusnya pertanyaan itu kamu berikan untuknya, bukan aku."
"Tidak, sejak awal bertemu dia, kamu memang langsung cemberut. Dan aku tidak tahu karena apa. Apa kamu cemburu? tolonglah, jangan seperti anak kecil. Kamu sendiri tahu aku ini memiliki banyak teman wanita, yang bisa dikatakan mantan kekasih juga. Dan ada kemungkinan besar di lain waktu nanti kita akan bertemu dengan mereka. Kalau sikapmu seperti ini terus, yang ada kamu lelah sendiri,"
"Aku cemberut setelah melihat dia melirik aku dengan sinis!"
Rahang Richard mengeras saat nada bicara Jane lebih keras dari sebelumnya. Ia menatap Jane dengan tajam dan itu berhasil membuat Jane membeku.
"Aku terus yang disalahkan," gumam Jane yang masih tidak terima dengan ucapan Richard yang dengan terang-terangan menyalahkan dirinya.
Flashback off
"Kalian bertemu dimana lagi tadi?"
__ADS_1
"Di pusat perbelanjaan,"
"Lagipula kamu ngapain sih ke mall lagi? masih ada yang kurang untuk persiapan besok?" wanita beranak dua yang namanya Jo mencibir Jane. Ia bingung dengan Jane yang tidak bisa diam. Esok sudah hari pernikahan, masih saja keluar-keluar.
"Seharusnya kamu banyak istirahat, Jane. Besok malam kamu akan bertempur. Bukannya sibuk jalan-jalan,"
"Errghh!" erangan kesal dari mulut Jane membuat Jo terkekeh geli. Ia tersenyum menggoda Jane yang kesal tapi wajahnya tetap tersipu karena dia paham apa yang sedang dibicarakan Jo.
"Aku bosan di kamar terus,"
"Kamu disuruh Aunty Rena berdiam di mansion untuk kebaikanmu juga. Kalau kamu keluar, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti tadi bertemu mantan kekasih Richard. Pasti membuatmu kepikiran dan itu bisa mempengaruhi kesehatanmu,"
*****
Devan dan keponakannya tiba di toys store. Ia sudah memperingati dari sebelum berangkat kalau tidak boleh berlama-lama berada di toys store. Karena akan makan malam bersama di mansion. Mereka mengangguk patuh. Semoga saja mereka benar-benar bisa diatur.
Adrian paling semangat keluar dari mobil dan memasuki surga untuknya itu. Tanpa menunggu waktu lama, Ia berburu mainan.
"Adrian, kamu tidak boleh banyak-banyak."
"Ah Daddy tidak adil. Masa mereka--"
"Mereka juga ada batasnya. Tidak seperti kamu, yang semaunya." Devan membela keponakannya yang memang tidak akan seliar Adrian dalam memilih mainan, Ia yakin.
"Mereka akan membeli banyak mainan. Lihat saja nanti,"
"Tidak, sudah Daddy beri tahu tadi. Dan ayah mereka juga sudah memperingati. Mereka anak yang baik karena penurut--"
"Ya, okay. Aku juga penurut. Daddy jangan banggakan mereka di depan aku. Aku tidak suka!"
Alis Devan bertautan. Kenapa Adrian kesal? dia hanya memperingati karena anaknya itu kalau sudah beli mainan atau hal-hal lain yang dia sukai, suka lupa untuk mengendalikan diri.
Biarpun sudah ada kesepakatan sebelumnya, tetap saja mereka begitu semangat berburu mainan. Menganggap bahwa toys store itu milik sendiri. Meskipun begitu, mereka tetap ingat pesan Devan.
Sandra langsung mencari squishy yang sama seperti miliknya. Tapi tidak ada. Ia segera melapor pada Devan yang akan membayarkan mainan.
"Uncle, squishy nya tidak ada yang sama dengan punya aku,"
"Terus bagaimana?"
"Hah! aku semakin kesal sekarang,"
Devan ikut memperhatikan tempat dimana banyak squishy berada. Ia turun tangan langsung untuk mencari.
"Bagaimana jadinya, Uncle? itu salah satu squishy kesayanganku,"
"Uncle juga bingung bagaimana menggantinya,"
Sesulit inikah menghapus kesalahan Auristella? huh, karena terlalu gemas dengan squishy milik Sandra, Auristella sampai merusaknya dan sekarang sang ayah yang bingung bagaimana caranya membuat Sandra tidak kesal lagi.
"Ya sudah lah, nanti aku minta belikan pada ayah saja,"
"Coba lihat yang lain. Barangkali ada yang kamu suka,"
Sandra mengangguk dan mulai mencari squishy yang bentuknya Ia suka. Sebenarnya semua lucu dan menggemaskan. Tapi belum ada yang berhasil menarik perhatiannya.
"Atau kamu bisa cari mainan yang lain,"
Sandra menghela bahunya tidak mau. Ia hanya ingin squishy saja untuk menambah koleksi.
"Uncle, aku mau ini ya."
"Ya, ambil saja. Tapi bayar sendiri,"
"Huh? kenapa begitu?" wajah Genta langsung merengut. Ketika Ia akan mengembalikan mobil-mobilan sport ke tempatnya lagi, Devan terkekeh seraya melarang.
"Uncle yang bayar,"
"Benar ya?"
"Iya, tenang saja."
"Uncle aku mau ini," Kenith menunjukkan sebuah mainan pesawat yang bisa diterbangkan dengan remote.
"Aku dulu yang mengambilnya," Adrian merebutnya dari tangan Kenith.
"Aku dulu!"
"Apa sih? aku!"
Kenith berhasil mengambil pesawat itu dari tangan Adrian. Secepat kilat, Ia menyembunyikannya di balik punggung. Adrian akan meraihnya lagi tapi dibawa lari oleh Kenith.
Kayla memanggil mereka berdua. "Adrian, Kenith!"
Sementara Devan sudah menebalkan wajahnya karena saat ini Ia tengah menjadi pusat perhatian. Ia seperti seorang laki-laki yang bekerja sebagai pengasuh anak.
Mereka berdua akhirnya berhenti saling mengejar karena ada salah satu pelayan yang menegur.
Mereka kembali mendekati Devan yang sedang memijat pangkal hidungnya.
"Kalian tidak menepati janji. Tadi katanya mau menjadi anak baik, tapi kenyataannya?"
"Maaf, Uncle." ucap Kenith seraya tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya.
"Jangan ikut-ikut Adrian menjadi anak nakal. Dia memang semakin sulit diatur oleh orangtua,"
Adrian melirik ayahnya dengan sebal. Ia bersedekap dada dan menarik ujung kaus Devan untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Pesawat nya ada banyak. Kenapa harus rebutan? ambil yang lain, Adrian!" titahnya pada sang anak. Adrian menggeleng keras kepala.
"Aku mau yang itu," katanya seraya menunjuk mainan pesawat di tangan Kenith.
"Tidak boleh! ini sudah menjadi milik aku,"
"Hih? dibayar saja belum. Milikmu bagaimana ceritanya?! HAHAHAH MIMPI HMMPPP--"
Devan menutup mulut anaknya yang terbuka lebar menertawakan Kenith. "Ambil yang lain! tolong dengarkan ucapan Daddy,"
Adrian yang diminta mengalah oleh Devan, tapi Kenith yang melakukannya. Ia segera memberikan mainan pesawat itu pada Adrian.
"Berhubung Daddy mu yang punya uang, jadi aku mengalah saja. Aku tahu diri anaknya,"
Waduh Kenith kecil² udh tau diri😂
__ADS_1