
"Pizza darimana ini? Seingat Mama tidak ada pizza tadi," Rena dan Senata sudah bergabung dengan mereka yang masih asik mengunyah. Vanilla menghentikan gerak mulutnya sebentar. Kemudian menjawab setenang mungkin.
"Beli, Ma."
"Kamu yang beli? Kapan?"
"Delivery tadi,"
"Memang punya uang?"
Ah mulut Mamanya ini minta dipelintir sepertinya. Semiskin itu dia Di mata Rena? Huh! Ini semua karena lelaki tua yang menjadi Suami Rena sekaligus ayahnya itu.
"Punya, aku juga bekerja,"
Rena tersenyum mengejek. Bekerja katanya? Memang bisa? Seorang Vanilla yang selalu mengeluh panas ketika berada di bawah sinar matahari sedikit, mengeluh lelah ketika dimintai tolong mengambil sesuatu, bisa merasakan yang namanya bekerja? Tidak salah?
"Bekerja apa?"
"Di bar," dengan ringan Ia menjawab tidak peduli mata Mamanya ingin menggelinding saat itu juga.
"Heh? Apa katamu? Di bar? Kamu semakin gila, Vanilla!"
Senata mengusap lengan Rena yang maju mendekati putrinya seperti ingin melakukan sesuatu. Gadis seperti Vanilla ini memang sepertinya hobi menentang. Tapi sebenarnya baik. Senata bisa melihat bagaimana dia yang asli. Karena setiap Vanilla tinggal di rumah Devan, anak itu mempunyai pribadi yang hangat. Sayang, mereka hanya menangkap sisi buruknya saja. Raihan, Rena, dan Devan belum bisa menilai kebaikan yang terselip dalam diri gadis itu.
__ADS_1
"Aku bercanda. Aku bukan bekerja di bar. Mama tidak perlu tahu, yang terpenting aku tidak mengecewakan kalian,"
"Jangan macam-macam kamu!"
"Grandma seram kalau marah," celetuk Adrian yang sedari tadi menjadi penonton. Andrean hanya memperhatikan namun mulutnya masih terus menikmati pizza.
Vanilla menahan tawanya. Memang benar apa yang dikatakan Adrian. Rena sangat terlihat berbeda ketika marah. Apa yang harus dikhawatirkan? Vanilla tahu apa yang harus dilakukannya. Namun orang lain tak perlu tahu. Ia hanya menjadi bintang iklan di sosial media. Hanya memposting foto, Ia sudah bisa meraup uang yang lumayan. Vanilla menyesal tidak menyicipi dunia ini sejak dulu. Seharusnya kecantikan yang dimilikinya ini bisa digunakan dengan sempurna. Sehingga ketika mengalami kesulitan seperti ini, Ia tidak terlalu kalang kabut.
"Papa akan melakukan apapun untuk menghancurkanmu kalau kamu berhasil membuatnya kecewa,"
***
"Mereka kenapa belum naik juga ke atas?" Lovi bergumam sendiri. Devan yang sudah terpejam kembali membuka matanya. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukan mereka.
"Mungkin tidur dengan Grandma mereka,"
"Mama yang menginginkannya. Lagi pula Papa bukan anak kecil. Biar saja dia sendirian,"
Lovi menepuk lengan suaminya. Lovi akan beranjak namun perutnya semakin ditahan. Ia menatap Devan dengan sarat peringatan. Lelaki ini tidak punya hati sepertinya. Sudah terlalu sering Rena menginap hingga Lovi jadi tidak enak sendiri. Walaupun Rena dengan senang hati menemani kedua cucunya hingga tertidur, tapi Mama dari lelakinya itu juga perlu waktu untuk mengayomi Raihan sebagai suaminya.
"Biar---"
"Mommy, Daddy, Buka pintunya! Adrian mau tidur di dalam,"
__ADS_1
Devan mendengus dan Ia bangkit. "Tidak perlu kamu datangi, mereka pasti datang untuk mengganggu," Kemudian Ia berjalan membuka pintu. Lovi menggeleng pelan. Terkadang Devan memang seegois itu.
"Tumben sekali tidak tidur dengan Grandma?"
Adrian menggeleng singkat dan tanpa menjawab Ia langsung masuk ke dalam kamar diikuti kakaknya. Mereka Berlari menghampiri Lovi yang sudah siap tidur.
"Ada apa dengan wajahmu? kenapa kusut?"
Lagi-lagi Devan dicueki. Dengan anak, dan kini adiknya pun melakukan hal yang sama.Setelah memastikan mereka masuk ke dalam kamar orangtuanya, Vanilla berlalu begitu saja. Meninggalkan Devan yang mengeratkan kepalan tangannya di sisi tubuh. Kakinya menendang sisi pintu hingga membuat Lovi berjengkit kaget.
"Devan, kamu--"
"Maaf, Lov. Tadi ada tikus jadi aku usir dengan kaki,"
Merasa dibohongi, Lovi mengangkat sebelah alisnya. Mana mungkin tikus bisa merayap di pintu?
Devan kembali menutup pintu kamarnya. Sebelum berbalik ke ranjang, Ia menghela napas dalam-dalam dan merubah raut kesalnya menjadi biasa saja.
Setelah itu Ia bergabung dengan kedua anaknya yang belakangan selalu meminta tidur bersama. Ini tidak bisa dibiarkan! kalau tidak, waktunya dengan Lovi untuk...hmm... bercinta semakin sedikit. Sebentar lagi Devan harus mengambil cutinya mengingat kandungan Lovi semakin besar. Intensitas percintaan mereka tidak bisa sesering dulu.
"Besok tidur di kamar kalian sendiri ya. Harus dibiasakan lagi tidur tanpa Daddy dan Mommy. Nanti kalau adik sudah lahir, kalian tidak bisa terlalu sering berada di sini. Nanti dia terganggu,"
Devan mengusap perut istrinya saat mengatakan 'Dia'. Anak Dalam kandungannya dijadikan tameng sekarang. Devan benar-benar licik!
__ADS_1
------
SELAMAT SIANG ZHEYENG. AYOOO TINGGALKAN JEJAK YAAAA. LIKE, VOTE, KOMEN, BINTANG 5, FOLLOW JGN LUPAA. TERIMA KASIH UNTK KM YG BAIK HATI ;)