My Cruel Husband

My Cruel Husband
Reaksi Devan tentang klien baru Lovi


__ADS_3

"Kamu seperti baru mengenal aku saja, Sayang. Semuanya akan mendapat hukuman kalau berani menyentuh aku dan kalian yang berharga dalam hidupku,"


"Tapi Adrian tidak apa-apa. Kamu tidak dengar dia bicara apa tadi?"


"Ya, ya, ya, aku percaya."


Devan berdecak malas lalu memilih untuk menyalakan televisi agar rasa tak menentu di hatinya segera hilang.


Lovi segera membersihkan dirinya karena tadi sibuk berdebat. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Devan memandangi ponselnya, Ia ingin sekali menghubungi orang suruhannya untuk mewujudkan apa yang Ia bicarakan tadi, tapi mengingat ucapan Lovi sebelumnya, Devan jadi ragu.


Tangannya akan meraih ponsel setelah meyakinkan diri, namun pintu kamar terbuka dan Andrean masuk bersama adiknya yang Ia gendong. Melihat itu, Devan berseru kaget, "Astaga, Andrean! kamu belum kuat menggendongnya. Lihat, Auris sampai hampir merosot,"


"Dia yang mau, Dad."


"Jangan dituruti!"


Devan cepat-cepat meraih Auristella. Andrean ada-ada saja. Tubuhnya saja masih kecil, sudah berani sekali menggendong Auristella. Kalau keduanya terjerembab, siapa yang disalahkan? Devan bingung juga. Andrean hanya menuruti keinginan adiknya yang terkadang keras kepala itu, dan Auristella belum mengerti kalau kakaknya juga belum sekuat itu untuk menggendongnya.


"Sepertinya Auris mau tidur. Dia sudah menguap terus,"


"Kamu mau tidur di sini?"


"Tidak, di kamarku saja,"


"Baiklah, selamat malam, Sayang."


"Malam, Dad."


Seperti biasa, Devan memeluk anaknya lalu memberi kecupan di dahinya. Seraya berdoa pada Tuhan agar esok, Ia masih diberi kesempatan untuk hidup sehat dan bisa melihat keluarganya lagi. Itu kebiasaan Devan di setiap malamnya.


*******


Tengah malam, Auristella melenguh tidak nyaman dalam tidur. Malam ini Auristella tidak tidur dalam boksnya, melainkan bersama Lovi dan Devan di ranjang.


Ia memeluk Devan sangat erat. Sampai Devan kesulitan untuk bernapas. Tak lama matanya terbuka. Devan pun demikian.


"Kenapa, Auris?"

__ADS_1


Ia merengek, sepertinya haus. Akhirnya Devan membuatkan anak itu susu karena air susu Lovi belakangan ini kembali sedikit lagi.


Bunyi aktifitas yang mengganggu telinga-nya membuat Lovi bangun. Ia menoleh saat Auristella mencoba untuk mengubah posisi menjadi terlungkup. Lovi menepuk pelan punggung Auristella lalu menatap Devan yang membelakanginya, lelaki itu sedang sibuk membuat susu di sebuah meja khusus untuk meletakkan semua perlengkapan Auristella yang ada di ujung ruangan kamar.


"Devan..."


Devan menoleh saat dipanggil. Ia tersenyum, "Kenapa bangun, Lov?"


"Kamu berisik,"


"Huh? aku sudah berusaha tidak mengganggu. Tapi ternyata tetap saja ya?"


Suaranya membuka termos saja sudah membuat Lovi terganggu. Devan memang tidak pernah santai kalau berurusan dengan hal seperti ini. Dan biasanya ada saja yang Ia tumpahi, entah itu susu atau air panas. Tapi beruntungnya malam ini tidak ada. Karena yang akan membersihkan pada akhirnya adalah Lovi.


Setelah susu untuk Auristella jadi, Ia segera menyerahkan pada anaknya yang sudah semakin gelisah itu. Posisi tidurnya berganti-ganti dan merengek sesekali.


Kalau sudah bangun, Lovi sulit untuk tidur lagi. Melihat suaminya juga belum terpejam kembali, Lovi memilih untuk berbincang sampai kantuknya datang.


"Devan..."


"Aku bertemu Elea,"


"Lov, kamu tahu 'kan aku tidak suka lagi membahas dia? malam-malam seperti ini kamu malah menyebut nama dia,"


"Aku mau cerita,"


"Aku tidak mau dengar," jawab Devan seraya menutup telinganya. Tangannya yang berhenti mengusap punggung Auristella membuat anak itu kian meringkuk dalam pelukannya.


"Di Fashion show yang kemarin aku hadiri, aku bertemu dia," Lovi mulai bercerita.


Devan sebenarnya mendengar tetapi Ia tak memberi respon. Biarkan saja Lovi bicara sendiri.


"Devan!"


Lovi menggeram karena suaminya malah pura-pura memejamkan mata. Ia tahu Devan sengaja melakukan ini, padahal Lovi hanya ingin bercerita agar Devan tahu semuanya.


"Dia sebentar lagi menikah,"

__ADS_1


Devan segera melepas tangannya dari telinga dan hal itu ditangkap Lovi sebagai respon yang berlebihan. Mendengar Elea menikah, kenapa suaminya langsung mau mendengarkan lanjutan kalimatnya? Sampai-sampai Ia menatap Lovi dengan serius.


"Terus?"


"Apa?! kamu cemburu ya?!" tudingnya terang-terangan.


"Aku kaget,"


"Kaget atau cemburu karena dia mau punya suami?"


Lovi ingin berbalik memunggungi namun Devan langsung menahan baju tidurnya. "Kamu bertemu dengan dia kemarin dan sekarang baru cerita?"


"Aku baru ingat," jawab Lovi singkat.


"Oh iya, barang kali kamu masih penasaran. Aku lanjut cerita ya..."


"Kenapa kamu jadi begini? tadi kamu yang memulai, giliran aku sudah mau mendengarkan malah dianggap cemburu pada Elea dan kekasihnya yang mau menikah. Untuk apa aku cemburu? aku juga sudah menikah, punya anak tiga pula."


"Dua bulan lagi dia menikah, dan aku jadi designer gaun pengantinnya,"


"Apa?!"


"Huaaah Daddy!" Auristella menegur Devan. Sedari tadi Ia menjadi pendengar yang baik. Devan kira anaknya sudah tertidur lagi. Ternyata masih bangun dan baru saja Auristella protes karena mendengar suara Devan yang lebih kencang dari sebelumnya.


Devan menepuk-nepuk lembut kepala anaknya, "Maaf, Sayang." ujarnya lembut.


"Kenapa kamu mau sih, Lov?! kamu tidak curiga dengan dia yang tiba-tiba baik sampai menjadikan kamu sebagai designer? Demi Tuhan, kalau aku tahu sejak awal, akan aku--"


"Ini kesempatan buat aku. Kenapa harus ditolak?"


"Kamu lupa ingatan atau bagaimana?! dia sudah menyakiti kamu! bahkan hampir membuat kamu--"


Devan melirik anaknya yang sudah tertidur lelap, napasnya teratur.


"...mati" lanjutnya lagi.


"Kamu melarang aku untuk menghabisi dia, aku setuju. Aku tidak membuat dia kenapa-kenapa, hanya ayahnya saja yang aku buat mati lalu aku bakar. Aku kira hanya sebatas itu saja kebaikan kamu pada Elea. Ternyata masih berlanjut sampai sekarang? kamu dibodohi dia, Lovi. Asal kamu tahu!"

__ADS_1


__ADS_2