My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kembali berkunjung setelah libur


__ADS_3

"Aku punya robot besar. Mau lihat tidak?"


"Mau mau! tapi harus izin dulu dengan Ayahku,"


"Iya, aku juga."


"Ya, sudah pulang sekolah besok kalian datang ke mansionku ya,"


Sekilas percakapan Adrian dengan teman-temannya mengenai rencana esok hari. Semua penghuni mansion sudah diberi tahu, saatnya memberi tahu para sahabatnya. Tanggapan mereka tentu saja sangat penasaran, ingin melihat langsung mainan baru milik Adrian.


"By the way, Adrina kenapa Sheilla juga lebih rutin mengikuti kelas psikologi sama seperti kamu ya?"


"Entah, aku juga tidak tahu. Mungkin dia jadi korban jahil juga seperti aku,"


Pihak sekolah dan kedua orangtua Sheilla memang sepakat tidak memberi tahu Adrina kalau yang membuatnya sakit perut dan tasnya penuh dengan sampah adalah Sheilla. Mereka melakukan itu agar tidak ada rasa kesal dalam hati Adrina. Biar bagaimanapun mereka tetap harus berteman. Kalau Adrina tahu bahwa pelakunya adalah Sheilla mungkin saja semuanya akan semakin rumit dan tidak berkesudahan. Yang terpenting bagi Jino dan Sheva sebagai orangtua Adrina adalah, pihak sekolah sudah berjanji untuk terus menjaga Adrina selama di sekolah, dan memastikan Sheilla tidak lagi mengulangi kesalahannya yang merugikan Adrina itu.


Adrina tidak mengerti juga kenapa Sheilla menjalani kelas psikologi lebih rutin sama seperti dirinya. Ia tidak tahu kalau psikolog tengah melakukan treatment khusus untuk Sheilla agar anak itu tidak lagi berulah dan juga treatment khusus untuk Adrina agar Ia tidak mengalami rasa trauma atau apapun itu. Karena setelah kejadian tersebut, Adrina masuk ke toilet sekolah saja mengalami ketakutan berlebih sampai minta ditemani oleh Thalia padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu. Mungkin Ia takut dikerjai lagi oleh orang jahil.


"Tapi kamu tidak diganggu lagi oleh orang asing itu 'kan?"


"Tidak, Adrian. Kalau masih, aku akan pindah sekolah. Karena lama-lama aku takut juga. Dia keterlaluan membuat bekalku sangat pedas sampai aku sakit perut dan tidak masuk sekolah beberapa hari,"


"Jangan pindah. Nanti kita kekurangan personil," Adrian menggeleng tidak setuju. "Kamu akan kehilangan teman bertengkar ya?"


Adrian mengangguk jujur. Itu menjadi salah satu faktornya. Tetapi yang paling utama adalah Adrian sudah benar-benar klik berteman dengan Adrina.


"Iya, nanti kalau kamu tidak ada, aku bertengkar dengan siapa?"

__ADS_1


"Astaga, orang lain mencari teman untuk susah dan senang bersama-sama. Kamu malah cari teman untuk bertengkar. Ada-ada saja," komentar Revin tak habis pikir.


********


"Senang sekali bisa bertemu dengan Nona lagi,"


"Aku merindukan kalian semua,"


Lovi menyapa semua pegawai yang bekerja di butiknya. Hari ini adalah pertama kalinya Lovi kembali mengunjungi butik setelah sekian lama hanya berdiam diri di mansion. Lovi berhenti memantau butik secara langsung karena pada saat itu sudah beberapa bulan menjelang kelahiran Auristella.


"Ruangan Nona tetap aku jaga," ujar salah satunya yang bernama Irene. Lovi tersenyum dan memasuki ruangan yang sering digunakan olehnya ketika berada di butik.


"Terima kasih, Irene."


Lovi begitu hangat dengan semua pekerjanya. Sama seperti Rena yang tak memiliki batasan terhadap semua pekerja di butiknya. Perangainya yang lembut dan baik hati tidak serta merta membuat mereka semua lalai dalam bekerja. Oleh sebab itu Lovi juga menyayangi mereka. Mereka seperti keluarga. setelah butik itu didirikan oleh Devan.


"Nona masih suka menggambar design baju kah di rumah?"


Lovi mengeluarkan buku yang biasanya Ia gunakan untuk membuat design baju. Ia menyerahkan itu pada Irene, tangan kanannya di butik ini.


"Kita buat pelan-pelan saja, Irene. Jangan semuanya diselesaikan dalam waktu bersamaan,"


"Tentu, Nona. Akan aku produksi satu persatu dari semua design Nona ini. Aku kira Nona tidak suka lagi mendesign. Beberapa pelanggan bila datang ke sini selalu bertanya 'apakah sudah ada yang baru dari Nona Lovi?' aku bingung menjawabnya. Karena Tuan Devan juga tidak mengatakan apapun mengenai kelanjutan Nona dalam mengurus butik ini. Aku kira Nona sudah benar-benar berhenti,"


"Aku juga tidak pernah mengatakan apapun pada Devan, mungkin dia juga bingung dengan keputusanku. Tapi aku senang dia tetap mau menjaga butik ini sampai akhirnya aku sendiri yang minta untuk melanjutkan,"


Di sela kekosongan waktu, Lovi sering bercerita kepada semua pegawainya mengenai kegiatan Ia selama memiliki Auristella. Mereka belum pernah bertemu secara langsung dengan anak menggemaskan yang bila didengar dari cerita Mommy-nya itu lebih mirip dengan Devan baik dari sikap maupun wajahnya, sama juga seperti Adrian.

__ADS_1


********


"Dashinta, aku tidak ada pertemuan apapun lagi sekarang?"


"Tidak ada, Boss. Tapi ada satu dokumen yang perlu tanda tangan Boss,"


"Ya sudah, cepat bawa kemari!"


Devan sudah tidak sabar melakukan kegiatan rutinnya dulu. Bila Lovi sedang mengunjungi butiknya, Ia pasti akan menjemput Lovi lalu mereka makan sore bersama. Walaupun seharusnya jadwal Ia makan adalah malam, tetapi kalau bersama Lovi rasanya tidak ingin cepat-cepat sampai di mansion dan bertemu anak mereka. Karena kalau sudah menginjakkan kaki di sana, pasti Lovi sudah tidak bisa lagi Ia kuasai. Ada anak-anaknya terutama Auristella yang tidak bisa lepas dari Lovi.


Setelah semua pekerjaannya selesai, Devan akan menjemput sang istri yang sedari tadi Ia hubungi tidak dijawab. Mungkin sibuk, mengingat hari ini adalah pertama kalinya bagi Lovi berkegiatan lagi di butik.


"Nona, sudah makan siang? ini sudah sore aku belum melihat Nona makan,"


"Nanti saja, Irene."


"Oh aku baru ingat. Makan di luar bersama Tuan Devan ya, Nona?"


Lovi terkekeh seraya mengangguk, "Tepat sekali,"


"Tapi jadwal makan Nona terlambat sekali. Tadi pagi makan?" tanya Sonya yang ikut masuk dalam pembicaraan. Perempuan itu baru saja melayani salah satu clien yang memesan gaun di butik Lovi untuk acara pernikahan.


"Makan, terima kasih sudah perhatian." ujar Lovi seraya mengerling.


"Tidak ada yang perhatian dengan aku, Nona. Jadi lebih baik aku perhatian pada orang lain,"


Semua yang mendengar ucapan Sonya tertawa, "Dia baru saja putus cinta, Nona. Jadj mohon maklum kalau terkadang curhat tidak pada tempat dan waktunya,"

__ADS_1


"Oh begitu? Tidak masalah, aku bisa menjadi teman curhat kalian, seperti biasanya. Salah satu fungsiku di sini 'kan juga begitu. Benar tidak?" sahutnya dengan canda.


Lovi menjadikan dirinya memang sebagai keluarga bukan atasan. Siapapun bebas mencurahkan isi hatinya bila memang mau. Mereka kerap bertukar pikiran untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh salah satunya.


__ADS_2