My Cruel Husband

My Cruel Husband
Devan si pengendali


__ADS_3

"Nanti akan ada seseorang yang mengajari Lovi," ucap Devan di sela kegiatan sarapannya.


Berbeda dari sebelumnya, suasana di meja makan berlangsung dengan hangat. Lovi sudah menjadi bagian dari keluarga yang di ikut sertakan oleh Devan di setiap jadwal sarapan ataupun makan malam.


Tidak adanya keberadaan Jane dan juga Vanilla membuat Lovi merasa nyaman. Ia merasa belum siap bila harus dipertemukan dengan kedua gadis itu. Apalagi jika mereka tahu perubahan yang ditunjukkan Devan dalam memperlakukannya. Jane dan Vanilla tentu akan semakin membenci Lovi. Mengingat Devan adalah Lelaki yang cukup penting untuk mereka.


"Maksudmu?"


Rena meletakkan kembali sendok yang akan mengantarkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Lovi akan melanjutkan pendidikannya,"


"Seharusnya Lovi sudah kuliah bukan?"


Devan mengangguk. Ia tahu semuanya tentang Lovi. Tidak perlu bertanya langsung pada Istrinya. Karena Devan adalah lelaki terbaik dalam mencari tahu segala informasi yang di inginkannya.


"Lalu kenapa belajar di mansion? Bukankah banyak mahasiswa yang kuliah dengan keadaan hamil?"


pikir Rena, Lovi malu membawa perutnya ke dalam area kampus tempatnya menuntut ilmu.


"Aku tidak ingin mengambil resiko, Ma," jawabnya dengan tenang.


Raihan yang sedari tadi memilih untuk mendengarkan pun lantas mengangkat suaranya.


"Banyak penjaga yang bisa kamu andalkan,"


"Aku tidak ingin mengulangi kejadian tempo lalu. Mereka semua bodoh, tidak bisa menjalankan tugas dengan baik,"


Mengingat peristiwa itu, Tiba-tiba saja emosi Devan kembali mencuat ke permukaan. Dimana Lovi hampir dibuat mati oleh Berry dan Ibu kandungnya sendiri.


"Yang kamu katakan bodoh sudah dipecat semua bukan?"

__ADS_1


Entah mengapa Raihan mendorong Devan untuk mengizinkan Lovi menikmati dunia pendidikannya di luar. Ia merasa Lovi sudah seharusnya akrab dengan sekelilingnya tidak hanya di dalam mansion saja. Lovi akan menjadi katak dalam tempurung bila Devan selalu melarang perempuan itu untuk keluar. Sebentar lagi Lovi akan memiliki anak, wawasan yang luas sudah seharusnya ia miliki.


"Istriku tidak perlu kuliah. Cukup menemani anak-anakku saja,"


Raihan tahu kalau Devan sudah berbicara tegas maka keputusannya tersebut tidak bisa diganggu gugat.


"Seharusnya Lovi memang menyelesaikan pendidikannya. Namun karena kondisinya lagi hamil, aku setuju denganmu. Mungkin kalau anak kalian sudah cukup besar, Lovi bisa dengan bebas berkuliah," ucap Rena.


"Biasanya orang mengejar pendidikan tinggi karena ingin mendapat pekerjaan yang layak. Tapi aku sudah bisa mencukupi semua kebutuhannya, maka Lovi tidak perlu bekerja,"


Lovi hanya diam ketika Devan kembali mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Devan akan selalu menjadi pengendali.


************


"Aku rasa Nona tidak perlu belajar lagi," saran Geni pada Lovi.


Lovi tersenyum seraya menggelengkan kepalanya karena Ia tahu maksud dari ucapan pengajarnya itu.


"Karena Nona sudah pintar," pujian Geni membuat Lovi kembali mengingat masa sekolahnya. Lovi memang anak yang sangat pandai. Karena Ia merupakan anak dari seorang pengusaha kaya, kepandaiannya menjadikan Ia selalu dipuji banyak orang. Tapi setelah keluarganya hancur, semua orang melakukan hal yang sebaliknya. Mereka selalu mengeluarkan kata-kata hina untuk Lovi. Seolah Lovi bukanlah sosok yang pernah mereka puji.


"Nona dilahirkan menjadi orang yang pandai. Anak-anak Nona pasti sama pandainya dengan Ibu mereka,"


"Terimakasih atas doamu," ucap Lovi dengan senyum hangatnya. Ia langsung mengusap perutnya seraya berharap hal yang sama dengan Geni.


***********


Devan melepas kancing kemejanya. Kemudian berjalan ke arah Lovi yang sedang menggambar di atas meja belajarnya.


"Bagaimana kegiatanmu hari ini?"


Lovi menoleh dan langsung mendapati perut seksi suaminya. Hal itu membuatnya salah fokus hingga tidak menjawab pertanyaan Devan. Semenjak hamil Lovi suka menatap tubuh bertelanjang dada milik suaminya.

__ADS_1


"Apa yang kamu perhatikan, Lov? perutku?" goda Devan kemudian merendahkan sedikit tubuhnya untuk ******* bibir Lovi.


Lovi langsung menghindar begitu bibirnya akan menjadi santapan Devan. Tentu saja hal itu membuat Devan mendengus.


"Aku sudah menunduk seperti ini hanya untuk menciummu. Tapi kamu malah menolaknya," gerutunya kemudian menegakkan tubuhnya kembali.


"Tidak ingin menyentuhnya?" Devan masih belum selesai menggoda Lovi. Bahkan senyum menyebalkannya kian terlihat di mata Lovi membuat perempuan itu geram. Tanpa sadar tangannya terangkat untuk menonjok perut keras milik Devan. Sebenarnya tidak sakit tapi karena yang melakukannya adalah Lovi, maka Devan akan melakukan perannya dengan baik.


"Sakit, Lov! Kamu harus tanggung jawab," titahnya dengan wajah yang masih dibuat meringis.


Lovi membuang wajahnya kemudian kembali sibuk dengan gambarnya. Dengan gigi bergemelutuk Devan memutar kursi Lovi dengan tiba-tiba hingga Lovi terpekik kaget. Ia hampir saja jatuh tapi Devan lebih cepat membuatnya aman.


"Tidak ingin melakukan sesuatu untuk menebus kesalahnmu?" desis Devan dengan raut mengerikan. Lovi tidak takut lagi bahkan Ia sudah lupa bagaimana wajah Devan ketika marah.


"Aku tidak salah!" bentak Lovi. Devan dibuat gemas dengan sikap Istrinya itu.


"Kalau kamu tidak..."


"Aku tidak peduli, Devan!"


"Ini pilihanmu, sayang,"


Suara pekikan Lovi kembali terdengar saat Devan menggendongnya dengan posisi bridal style.


Lovi berontak dalam balutan tangan Devan. Hingga Devan merasa lelah namun saat mengingat hasratnya yang harus dipenuhi sore ini, maka Devan tidak ingin melepaskan perempuan itu begitu saja.


"Diam, Lov! kamu bisa terjatuh,"


"Turunkan aku!"


"Tidak sekarang, Lov! Nanti, setelah kamu mandi bersamaku,"

__ADS_1


**************


Like, coment, vote nya dungss teman-temankuuu mwehehe. Tengkyuuu oolll


__ADS_2