My Cruel Husband

My Cruel Husband
Mau Mommy


__ADS_3

Adrian selesai dengan kesibukannya. Kini, Ia menatap Elea. Mata kecil itu sempat membulat saat mendapati Elea di dekatnya.


Ia beringsut mendekati Devan yang masih tidak menganggap kehadiran Elea dan kekasihnya.


"Daddy, Adrian mau ke kamar saja,"


Rupanya nyali anak itu masih menciut. Ia masih ketakutan melihat Elea. Adrian tidak berani mengeluarkan suara untuk menanggapi berbagai macam basa-basi Elea. Kebiasaannya yang suka berceloteh menyakitkan untuk saat ini hilang entah kemana. Anak kecil yang disakiti oleh seseorang walaupun hanya sekali memang sulit untuk dirubah pola pikirnya mengenai sosok yang pernah menyakitinya.


Sekeras apapun Elea berusaha untuk menghilangkan ingatan Adrian akan kejadian tempo hari, tetap saja tidak bisa. Kesan pertama memang akan sulit untuk dilupakan. Pertemuan mereka untuk pertama kalinya malah diwarnai dengan isak tangis Adrian yang ketakutan saat dibentaknya.


"Sakit apa anakmu?"


Devan bangkit lalu menggenggam tangan kedua anaknya. Lelaki itu pergi dengan santai. Elea yang merasa sangat tidak dihargai kehadirannya, langsung menggeram marah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.


Belum jauh dari Elea, Adrian tiba-tiba saja menangis. Ia tak bisa mengendalikan rasa takutnya sendiri.


Ia memukul perut Devan berkali-kali kemudian merentangkan kedua tangannya.


Devan langsung memenuhi keinginan anaknya. Dengan hati-hati Ia mengambil botol infus dari tangan Adrian lalu menggendong anaknya itu.


Sebelah tangannya menggenggam tangan Andrean. Lelaki itu tangkas sekali menangani dua anaknya.


"Daddy--Daddy," Adrian sesenggukan seraya memanggil ayahnya. Tangan mungilnya yang terpasang infus malah digunakan untuk memukul punggung Devan.


"Ya, sayang. Kenapa? Jangan pakai tangan itu kalau mau pukul Daddy,"

__ADS_1


"Adrian takut. Dia jahat,"


Devan berusaha untuk tidak meraung marah di sini. Elea benar-benar cari masalah. Sebenarnya apa yang dilakukan gadis itu sampai anaknya menangis histeris seperti ini.


"Mau Mommy. Mau ke kamar Mommy,"


"Jangan menangis kalau mau ketemu Mommy. Nanti Mommy dan adik bayi juga sedih,"


Lovi akan terkejut melihat anaknya yang bungsu itu terisak. Bisa-bisa Ia khawatir berlebihan. Bukan apa-apa, Devan hanya tidak ingin menambah beban pikiran perempuan itu. Ia sudah cukup tersiksa melihat anaknya yang sakit seperti ini. Sampai sekarang saja Lovi masih suka menyalahkan dirinya sendiri. Padahal bukan hanya Lovi yang salah. Devan pun turut andil menjadi penyebab anaknya masuk rumah sakit.


Mereka masuk ke dalam lift khusus untuk petinggi yayasan rumah sakit. Devan berjalan ke kamar anaknya. Namun Adrian meronta. Anak bermulut tajam itu rupanya menyadari kalau Devan tidak membawanya ke kamar Lovi. Devan kira Adrian sudah melupakan keinginannya.


"Ke kamar Mommy,"


Tetap saja yang namanya Adrian itu pasti selalu keras kepala. Ia masih bergelut dengan tangis seraya bersandar nyaman di leher Devan.


Tak lama, mereka sampai di ruangan Lovi. Andrean yang membuka pintunya. Sejak tadi anak itu diam saja. Tak ingin menambah kesulitan ayahnya yang sedang menghadapi sang adik.


"Kenapa ke sini lagi?"


"Sayang, jangan menangis." Devan berbisik pada anaknya. Kali ini Adrian menurut. Ia berusaha menghentikan jerit tangisnya namun isak kecil masih terdengar.


"Devan..."


Lovi meminta penjelasan. Rena dan Senata menatap bingung pada Devan yang sedang menggendong Adrian.

__ADS_1


Adrian diturunkan di sebelah Lovi yang kini duduk di bangsal. Begitu melepaskan leher ayahnya, Adrian langsung memeluk Lovi.


"Hei, kenapa?"


Lovi sempat kewalahan menerima pelukan anaknya yang tiba-tiba.


"ADRIAN, INFUS MOMMY JANGAN LEPAS!"


Adrian kembali histeris saat Devan berseru kencang. Padahal Devan tidak membentak hanya saja Ia terlalu khawatir saat melihat Adrian yang semakin meringsek masuk ke dalam pelukan Lovi malah hampir membuat infus Lovi terlepas.


"Devan, jangan membentak begitu!"


"Aku tidak bermaksud, Lov." Mata Devan menampilkan penyesalannya. Lelaki itu berusaha meraih tubuh Adrian. Namun anak bungsunya menolak tegas sampai berteriak.


Devan harus ekstra sabar sekarang. Ia sudah berjanji untuk tidak menjadi brengs*k lagi.


"Cucu Grandma yang tampan kalau menangis nanti bibirnya kayak donald bebek lho," bujuk Rena. Ia mengusir putranya dari sekitar Adrian.


"Kasihan Adik bayi kalau Adrian begitu,"


Lovi melepaskan tangan Adrian dari lehernya dengan lembut. Perlu usaha keras membuat kepala anak itu melunak.


----


Maap telat. Bcs aku ketiduran😂😂 Panik aku lhoo blm up. Takut ada yg nunggu *kepedean. Jgn lupa Vote & komen. Tencuuuu😚💙

__ADS_1


__ADS_2