
"Nanti setelah sampai di rumah, kita buka kado ya,"
Lovi masih berusaha membuat Adrian mau bicara. Dimarahi oleh Daddy nya menyebabkan anak itu sedih.
"Biasanya kamu semangat sekali kalau mau buka kado,"
Sejak kemarin Adrian memang tidak mengatakan ingin buka kado. Biasanya kalau masalah kado, dia paling semangat untuk membukanya.
Padahal hadiahnya banyak sekali. Ia menunda buka kado, karena menunggu hadiah dari Mommy dan Daddy nya. Rencananya setelah kedua orangtuanya menyerahkan kado, maka Ia akan membuka semua pemberian teman dan guru-gurunya.
"Adrian, jangan diam saja nanti di sana. Kita 'kan mau bersenang-senang. Kalau kamu cemberut begitu, Daddy tidak akan mengajak kamu berkuda lagi.
"Iya, Mom." jawab Adrian menjawab pelan. Lovi tersenyum dan mengusap kepala anaknya.
***
"Ini gaun milik siapa? cantik sekali,"
Senata dan Rena sudah masuk ke dalam butik Lovi. Usai bertemu dengan klien yang memiliki keperluan dengan Lovi, Senata melihat-lihat gaun yang sedang dalam masa pengerjaan oleh karyawan Lovi.
"Milik--" Irene melihat tag di balik gaun yang sedang dipakai oleh manekin.
"Nona Elea,"
"Elea? coba aku lihat namanya,"
Rena yang sedang melihat-lihat karya Lovi yang lainnya, langsung merasa telinga nya melebar setelah mendengar nama Elea. Ia penasaran dan mendekati manekin. Lalu membaca nama di tag tersebut.
"Elea yang---" pertanyaan Senata belum selesai disampaikan tapi Rena sudah mengangguk.
"Baiklah, kalian sudah makan belum?"
"Belum, Nyonya Senata."
"Aku dan Rena juga belum makan. Temani kami makan,"
Senata menunjuk makanan yang tadi dibelinya sebelum pergi ke butik. Ia sengaja membelikan semua pegawai anaknya makanan karena beberapa dari mereka kemarin tidak hadir di acara ulang tahun cucunya.
"Pantas saja banyak sekali makanan nya, Nyonya."
"Ayo, kita makan. Senata sudah baik sekali pada kita," Rena mengajak semuanya seraya terkekeh kecil.
Tidak ada batasan antara keluarga pemilik dengan para pegawainya. Waktu istirahat telah tiba dan saatnya mereka makan siang.
"Sejak kapan Elea bekerja sama dengan Lovi? gaun itu akan dipakai dalam rangka apa? barangkali kamu tahu, Irene." tanya Rena disela-sela waktu makan. Rena tidak sabar bila harus bertanya langsung pada Lovi. Saat ini menantunya tengah membahagiakan kedua anaknya dengan berkuda.
"Pernikahannya, Nyonya. Satu bulan lalu dia datang ke sini lalu meminta Nona Lovi untuk dibuatkan gaun,"
Rena mengangguk. Ia mendekatkan telinga nya pada Senata saat Senata bicara pelan padanya.
"Kira-kira Lovi jujur pada Devan tidak ya?"
"Aku juga tidak tahu,"
"Devan akan marah bila mengetahui ini,"
"Tapi aku yakin, tidak ada apapun yang Lovi sembunyikan dari anakku,"
"Memang ada apa, Nyonya?"
"Ah tidak, aku hanya bertanya. Dia datang ke sini bersama calon suaminya kah? aku mengenalnya, Irene. Dia teman anakku,"
"Oh begitu. Kalau tidak salah, dia datang ke sini sendiri, Nyonya. Waktu itu ada Adrian yang kebetulan ikut Nona Lovi ke sini,"
Mendengar penjelasan Irene, Rena dan Senata sama-sama terkejut. Mereka semakin penasaran dengan awal mula terjadinya kesepakatan antara Lovi dan Elea. Ada Adrian juga di butik ini, dan mereka berdua tahu bahwa anak itu begitu membenci Elea. Apa yang dia lakukan saat tahu bahwa Elea datang ke butik Mommy nya?
"Gaun itu sudah selesai di desain? sedang dalam masa pengerjaan?"
"Iya, Nyonya. Pengerjaan pun sudah hampir selesai. Karena acaranya akan berlangsung kurang dari sebulan lagi,"
****
"Ini kuda siapa?"
"Kuda kalian dari Mommy,"
Mata Andrean mengerjap. Adrian yang berada di dalam gendongan Lovi diam saja, tidak biasanya dia terlihat tidak semangat saat mendapat kado.
"Turun dari gendongan Mommy. Kamu senang 'kan?"
Devan meraih anak keduanya untuk diturunkan dari gendongan istrinya. Adrian menatap Lovi dan memeluk Lovi. Devan kira anaknya mau minta digedong lagi, sehingga Ia menahan.
"Jangan manja begitu. Kita ke sini mau berkuda, jangan digendong Mommy,"
"Devan..." Lovi mengisyaratkan Devan untuk berhenti bicara.
"Dia mau memeluk aku," kata Lovi seraya memeluk anaknya.
"Terima kasih, Mom."
Lovi tersenyum mendengarnya dan Ia mengusap punggung Adrian dengan lembut. "Sama-sama, Sayang. Adrian suka?"
"Suka,"
"Ya sudah, jangan sedih lagi."
"Andrean suka tidak?"
"Suka sekali. Terima kasih ya, Mom. Aku punya kuda sendiri sekarang,"
Lovi dipeluk oleh kedua anaknya. Devan tersenyum melihat itu. "Ayo, naik kuda. Pelukannya dilanjut nanti. Mereka sudah menunggu," ujar Devan seraya menunjuk dua ekor kuda yang sama-sama berwarna putih bercampur dengan cokelat.
Saat Adrian akan dibantu naik oleh pelatih kuda nya, Devan mengusap kepala anaknya itu. "Maafkan Daddy sudah marah tadi ya,"
Kalau belum mengatakan itu, seperti ada yang mengganjal di hatinya. Melihat Adrian murung, Devan langsung berpikir bahwa itu diakibatkan oleh sikap dirinya tadi.
Adrian dan Andrean sudah berada di atas kuda masing-masing. "Mommy foto dulu,"
Sebelum mereka mulai berkuda, Lovi mengambil potret kedua anaknya. "Senyum ya," pinta Ibu beranak tiga itu pada kedua anak kembarnya.
"Satu..."
"Dua..."
__ADS_1
"Tiga..."
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Cekrek
"Kurang banyak, Lov." Devan menyindir istrinya yang tidak puas hanya mengambil satu gambar. Lovi memang seperti itu kalau memotret anak-anaknya.
"Sudah selesai, silahkan berkuda. Hati-hati ya,"
"Bye, Mommy."
Adrian sudah ceria lagi. Ia melambai pada Devan dan Lovi sebelum kudanya dituntun untuk berjalan oleh pelatihnya.
Sementara kedua anaknya berkuda, Devan dan Lovi melihat hasil foto tadi. "Wow seperti dua pangeran berkuda,"
Lovi tersenyum kagum melihat kedua anaknya yang foto berdampingan bersama kuda masing-masing. Tampak gagah sekali.
"Tampan ya,"
"Tentu saja, Daddy nya juga tampan sekali,"
Lovi mendengus saat suaminya terlalu percaya diri. Ia melihat kudanya dan Devan sudah siap untuk ditunggangi.
"Sudah lama rasanya aku tidak berkuda. Sedikit takut," ujar Lovi pada pelatih kudanya.
"Di bawa santai saja, Nona. Nanti setelah Nona yakin, akan aku lepaskan talinya,"
"Okay,"
Rasa takut Lovi hadir karena sudah hampir dua bulan Ia tidak berkuda. Devan lah yang masih rutin bersama kedua anaknya. Biasanya Lovi sudah bisa mengendalikan sendiri. Tapi sekarang Lovi tidak yakin melakukannya.
Devan nampak menikmati waktu santainya dengan menunggangi kuda. Ia terlihat begitu pintar mengendalikan kuda. Sementara kedua orangtuanya berada di tempat berlatih, Andrean dan Adrian diikuti oleh beberapa penjaganya untuk berjalan-jalan di sekitar tempat berkuda, menikmati suasana di sana. Mereka juga tidak pernah dilepas sendiri, setiap berkuda pasti selalu bersama pelatihnya. Mulai saat ini mereka tidak bergantian kuda lagi dengan Devan dan Lovi karena sudah punya kuda masing-masing.
"Kuda nya terlalu besar untuk aku ya?"
Pelatihnya terkekeh dan mengangguk saat Adrian bertanya seperti itu. "Iya, kuda poni ini cukup besar ukurannya."
"Bukan, ini bukan kuda poni." ujar anak itu yang keras kepala dan sok tahu. Jelas-jelas pelatihnya yang lebih tahu jenis apa kuda miliknya itu.
"Tapi Adrian berani juga ya. Ini termasuk tinggi juga untuk anak seusia kamu,"
"Berani, karena ada yang menjaga. Bukan aku yang pegang kudanya," jawab Adrian dengan santai. Mendengar itu, lelaki yang memegang tali kuda Adrian tertawa.
"Nanti aku mau beri makan kuda nya,"
"Okay, setelah dibawa berjalan-jalan nanti ya,"
"Iya, dia pasti lelah. Jadi harus diberi makan oleh pemilik barunya,"
"Dia tidak jahat denganmu 'kan?"
"Tidak, karena yang punya juga baik,"
Hanya karena kuda, suasana hati Adrian berubah. Sebelum berangkat ke sini, Ia sedih dan cemberut. Setelah mendapat kuda dari Mommy nya, raut nya langsung berubah. Kesedihan tidak ada lagi di pancaran matanya.
"Ini namanya siapa ya? antara kudaku dengan kuda Adrian hampir tidak ada bedanya,"
"Oh belum diberi tahu Nona Lovi tadi ya?"
"Belum,"
"Nanti tanya dengan Nona Lovi ya, Andrean. Paspornya sudah ada di tangan Nona Lovi,"
Andrean mengangguk, Ia harus bertanya pada Lovi. Ia penasaran juga dengan asal muasal kudanya.
Devan istirahat sembari melihat istrinya. Ia tersenyum geli melihat Lovi yang tidak selincah biasanya. "Sudah hilang keberaniannya. Salah sendiri tidak pernah mau lagi diajak berkuda. Alasannya sibuk lah. Sibuk apa?" cibirnya pelan saat mengingat ucapan Lovi belakangan ini bila diajak berkuda olehnya.
Lovi memang sibuk bersama Auristella. Dan semenjak aktif lagi mengurus butik, tanggung jawab Lovi bertambah. Sehingga bila kedua anaknya mengajak dirinya berkuda, jarang sekali Lovi ikut.
Devan meneguk air minumnya dan membuka ponsel. Ada beberapa panggilan dari Ferro. Biasanya kalau seperti itu, ada suatu hal penting yang berhubungan dengan pekerjaan.
"Tuan, Arnold ingin bertemu dengan pemilik perusahaan yang telah memberikannya suntikan dana. Dan pemiliknya adalah kau. Jadi aku harus bagaimana?"
"Suruh seseorang yang bisa diandalkan, jangan aku. Begitu saja kau bertanya padaku?"
"Aku rasa dia tidak semudah itu untuk---"
"Dia bodoh. Cari saja orang yang pintar dan minta dia untuk bekerja sama dengan kita,"
"Dia meminta untuk bertemu pasti ada maksud lain, Tuan. Aku yakin,"
"Iya, katakan semuanya padaku kalau sudah terjadi pertemuan,"
"Baiklah, aku tutup teleponnya,"
Devan tersenyum miring. Arnold ingin bertemu dengan pemilik perusahaan yang telah berbaik hati padanya pasti karena ingin memastikan niat sesungguhnya dibalik kebaikan hati perusahaannya yang telah memberikan suntikan dana untuk perusahaan Arnold.
"Mulai lagi, Tuan?"
"Iya,"
Devan tidak ingin memikirkan pekerjaan dulu. Saat ini waktunya Ia bahagia bersama keluarga. Dan berkuda salah satu cara untuk Ia menghilangkan penat.
Berbeda dengan suaminya yang masih begitu semangat, Lovi justru sebaliknya.
"Sudah cukup. Aku lelah,"
"Baik, Nona."
"Kaki yang ini jangan turun dulu kalau kaki yang satu lagi belum menginjak tanah,"
Lovi menepuk dahinya seraya tertawa kecil. "Cara turunnya saja aku sudah lupa, Astaga. Padahal belum terlalu lama aku absen riding,"
Setelah tubuhnya mendarat, Lovi menghela napas lega. Ia segera duduk untuk menenangkan napasnya yang tersengal-sengal.
"MOMMY!"
Adrian berlari menghampiri Mommy nya setelah turun dari kuda. Lovi mengusap kening anaknya yang berkeringat.
__ADS_1
"Kamu kelelahan? kan tidak mengendalikan kuda sendiri tapi dituntun,"
"Tidak lelah,"
"Senang?"
"Senang sekali. Kita harus sering berkuda ya, Mom."
"Iya, Sayang."
Andrean memanggil Lovi. Ia turun dari kuda dan langsung duduk di samping Lovi. Sementara adiknya ingin dipangku oleh Lovi.
"Nama kuda punyaku siapa, Mom?"
"Punya Andrean Scorpio. Dan punya Adrian Oksu,"
"Itu kuda poni ya, Mom?"
"Bukan!"
"Iya, kuda poni."
"Bukan, Mommy. Itu seperti kuda Mommy dan Daddy,"
"Beda, Poni untuk anak-anak,"
"Aaaaa bukan poni! aku tidak suka kuda poni,"
"Tadi katanya suka dengan kuda pemberian Mommy,"
"Suka, tapi menurutku itu bukan poni,"
"Ya sudah, terserah Adrian."
"Kenapa tidak suka?" tanya kakaknya penasaran. Adrian menggeleng tegas. "Tidak suka, karena kuda poni identik dengan anak perempuan."
"Huh?"
Lovi terperangah mendengar pendapat anaknya itu. Mungkin yang ada dipikirannya selama ini kuda poni itu imut dan menggemaskan sementara kuda yang Ia tunggangi tadi sangat gagah.
"Tahu darimana kalau kuda poni identik dengan anak perempuan?"
"Adrina suka kuda poni,"
Tawa Lovi meledak sesaat. Sementara Andrean menggeleng tak habis pikir. Adrina yang menjadi tolak ukur Adrian.
"Daddy lama sekali,"
"Itu sudah turun,"
"Mom, kita naik delman habis ini ya,"
"Tanya Daddy dulu."
"Mommy yang tanya. Adrian takut,"
"Kenapa takut? Daddy tidak menggigit kamu,"
"Tadi, Daddy habis marah,"
"Karena siapa yang salah?"
Adrian diam tak menjawab. Berat sekali mengakui kalau dirinya yang salah pada Auristella sampai mendapat akibatnya sendiri.
"Adrian, dia mengganggu Auris lalu kepalanya terantuk pintu karena berlari menghindari Auris yang mau membalasnya,"
Lovi berdecak dan merangkum wajah Adrian dengan gemas. "Ternyata begitu awal mula kejadian nya? pantas saja Daddy marah. Pagi-pagi kamu sudah mengganggu Auris. Memang Auris salah apa padamu?"
"Tidak ada,"
"Lalu kenapa kamu ganggu?"
Adrian mengendikkan bahunya tak bisa menjawab. Ia juga bingung kenapa tidak pernah tentram bila berdekatan dengan adik nya itu.
"Adiknya biar tinggal dengan orang lain saja boleh tidak? biar kamu tidak mengganggu nya lagi?" tanya Lovi yang penasaran dengan reaksi Adrian.
Adrian menggeleng tegas. Ia menatap Lovi dengan tajam. "Tidak boleh!" dilihat dari responnya atas pertanyaan Lovi tadi, Adrian sebenarnya sangat menyayangi adiknya. Hanya saja Ia sering sekali membuat orang salah sangka karena Ia jahil dengan Auristella.
"Wow Daddy berkeringat banyak,"
"Ya, seperti biasanya."
"Ayo, pulang."
"Naik delman boleh tidak?"
"Boleh, ayo kita ke tempatnya."
"Tapi mau beri makan kuda dulu. Kasihan, dia lelah membawa aku,"
"Okay, kita ke kandang nya sekarang."
Mereka menyusul kuda Adrian dan Andrean yang tadi langsung dibawa ke kandangnya. Adrian menahan langkah Devan saat dilihatnya kuda sang ayah akan keluar dari arena berlatih.
"Dad, aku mau ke kandang dengan menaiki kuda Daddy,"
Devan mengangguk, memenuhi permintaan anaknya itu. Dengan bantuan pelatih, Adrian naik ke atas kuda Devan.
Adrian tertawa bahagia saat sudah sampai di atas. "Aku tidak lagi menaikimu nanti. Sekarang salam perpisahan," ujarnya seraya mengusap kepala kuda berwarna cokelat gelap itu.
Mereka menghampiri kandang kuda. Adrian turun dari kuda Devan saat kuda itu akan masuk ke dalam tempat tinggalnya. Adrian dan Andrean semangat memberikan kuda mereka makan. Begitupun Lovi dan Devan.
"Ayo makan yang banyak biar semakin besar,"
Mendengar suara gemelutuk dari mulut kuda dan melihat betapa lahapnya kuda itu menyantap makanannya, Adrian memuji seraya mengusap kepala kuda miliknya.
"Pintarnya kudaku ini. Jangan nakal di sini ya. Aku akan sering datang,"
"Kuda diajak bicara. Kamu masih waras tidak, Adrian?"
Adrian melirik kakaknya dengan sinis. Kandang kuda mereka berdampingan. Dan tentunya Andrean mendengar Adrian aktif sekali mengajak kudanya bicara.
-------------
__ADS_1
Nillaku lg di review. Selamat membaca dan tinggalkan jejak yaaa :)