My Cruel Husband

My Cruel Husband
Suatu pagi di akhir pekan


__ADS_3

Auristella mulai tidak nyaman di kursinya. Ia merengek seraya mengusap-usap matanya karena kantuk mulai datang.


Lovi dan Devan menatap anaknya itu. Selain mengantuk, Auristella juga diganggu oleh serangga penghisap darah.


"Sebentar ya, Sayang." ucap Lovi yang sudah hampir selesai memangkas rambut Devan. Pekerjaan nya kali ini terasa lama karena Devan berdebat dulu dengan Adrian. Seharusnya sudah selesai sejak tadi.


Auristella tidak mau disuruh menunggu. Ia sudah mengulurkan tangan pada Lovi, meminta digendong.


"Auris sudah mau menangis, Lov."


Lovi menggendong anaknya lalu menyisir rambut Devan untuk memastikan.


"Aku lihat sekali lagi, sudah rata atau belum."


Tangan Lovi yang satu memegang sisir, yang satu lagi menggendong Auristella. Hal itu tak luput dari perhatian Devan.


"Sudah selesai. Lebih baik kamu mandi sebelum tidur. Barangkali ada potongan rambut yang melekat di tubuhmu. Nanti saat tidur kamu merasa gatal,"


Devan mengangguk. Hatinya berdesir melihat perhatian Lovi padanya. Ia tidak menyangka Lovi bisa memangkas rambutnya dengan hasil yang baik. Wanita ini memang multitasking. Bisa melakukan apapun dengan baik dalam waktu bersamaan. Auristella yang sudah hampir menangis digendong oleh Lovi, dan Lovi juga memastikan kondisi rambut suaminya apakah sudah layak dipandang mata atau belum.


Saat Lovi membantu membersihkan sisa helai rambut dari baju tidur Devan, Auristella melarang.


"Sabar, Auris. Mommy bersihkan dulu baju Daddy,"


"Sudah, Lov. Aku 'kan mau mandi,"


"Oh iya,"


Saat melihat suaminya yang akan membereskan peralatan yang tadi dipakai, Lovi melarangnya.


"Nanti aku saja yang membereskan semuanya setelah Auris tidur,"


"Aku bisa. Kamu temani Auris tidur saja. Dia sudah berisik sejak tadi,"


Auristella terlihat kesal karena Lovi tidak juga membawanya ke kamar dan malah bicara dengan Daddy nya.


Lovi membaringkan Auristella di atas ranjang dan Ia juga berbaring di samping Auristella. "Andrean, Adrian tidur. Jangan menonton lagi. Matikan televisi nya!"


"Iya, Mom."


Dipp


Televisi langsung mati dalam sekejap saat Lovi memberi titah seperti itu. Andrean yang menekan tombol off di remote.


"Padahal lagi seru," keluh Adrian yang tidak rela matanya kehilangan tontonan.


"Mom, besok hari libur. Izinkan aku tidur lebih malam ya, Mom?"


"Oh iya besok akhir pekan ya?


"Iya, jadi boleh kan aku menonton lagi?"


Adrian yang paling pintar membujuk langsung berhasil membuat Lovi mengangguk tanpa syarat.


"Hanya kali ini,"


"Okay, Mom.


Sampai di kamar nyatanya Auristella tetap aktif. Tidak mengantuk seperti tadi. Bahkan Ia semangat sekali memijat punggung Adrian yang kembali fokus menonton seraya berbaring.


"Mulai mengganggu ya? nanti giliran Adrian balas, kamu merajuk." Lovi mengusap pipi anaknya yang duduk di atas punggung Adrian. Tangan kecil Auristella memijat punggung Adrian.


Setelah beberapa menit dia melakukannya, Auristella berbaring dan menunjuk punggungnya sendiri. Alis Adrian bertaut.


"Maksudnya apa? kamu mau di pijat juga?"


"Ya,"


"Astaga, Auris. Pintar sekali kamu, Sayang."


Tawa Lovi tak tertahankan saat Auristella seperti itu. Ada saja ide nya yang terkadang membuat orang tidak habis pikir dan tidak percaya kalau usianya belum genap satu tahun.


Adrian menyingkap sedikit baju adiknya lalu Ia pijat-pijat. Belum juga sepuluh detik, Auristella sudah duduk, lalu anak itu meminta Adrian berbaring lagi. Ia kembali memijat Adrian.


Lovi tidak bisa menahan keinginannya untuk mengabadikan kegiatan mereka itu. Ketika dilihat lagi nanti, pasti membuatnya tersenyum.


"Dah,"


Lagi-lagi Auristella merebahkan diri dan menyuruh kakak nya untuk melakukan hal yang sama seperti tadi.


"Kapan selesainya ini? aku bukan ahli pijat, Auris."


"Ya,"


"Aku mau tidur. Selesai ya?"


"Ndak,"


Ia menoleh pada Adrian dan menggeleng tegas. Ia menunjuk punggungnya sendiri dengan susah payah karena sebenarnya dia belum terlalu bisa menekuk tangannya ke belakang.


"Okay, sekali lagi."


Adrian memijat sekaligus menepuk-nepuk lembut punggung adiknya. Auristella tidak lagi ingin bergantian dengan Adrian. Ia diam saat tangan Adrian bekerja.


Lovi selesai membuat video mereka. Ia menyentuh tangan Adrian hingga menoleh. "Sebentar lagi dia tidur," bisik Lovi. Perempuan itu melihat mata Auristella mulai tertutup. Tapi ketika mendengar Lovi berbisik, matanya terbuka lagi dan Ia menoleh pada Lovi.


"Aisshh anak ini peka sekali sih telinga nya. Tidur, Auris."


Adrian mengusap kepala adiknya agar tidak lagi menoleh padanya dan Lovi. Auristella kembali merebahkan kepala nya di bantal.


"Aku mau tidur,"


Lovi mengalihkan perhatiannya pada Andrean yang sepertinya sudah lelah menonton. "Adrian mau tidur juga?"


"Tidak, aku masih mau menonton,"


Mereka menoleh saat Devan sudah selesai membasuh tubuhnya. Lelaki itu tampak berjalan ke walk in closet untuk mengambil bajunya di sana.


Setelahnya, Ia mendekati anak dan istrinya. Devan menatap Auristella yang sudah terlelap. "Auris baru tidur?"


"Iya, tadi pijat-pijatan dulu dengan Adrian,"


"Huh? dia bisa?"


"Hanya asal-asalan saja,"


Devan menggeleng pelan. Lalu kakinya naik ke atas ranjang besar itu. Sebelum berbaring Ia mengecup kening putrinya. Karena bibir Devan dingin, baru menyentuh air, Auristella membuka matanya lagi.


"Yah, bangun dia, Lov."


"Ck! kamu sih!" Lovi berdecak kesal.


"Daddy saja yang tidurkan lagi,"


Adrian angkat tangan. Ia tidak lagi menyentuh punggung adiknya. Adrian kesal karena Devan kembali membuat adiknya terbangun. Padahal kalau Auristella tidur, hidupnya terasa tenang dan tentram. Ia juga masih ingin menonton jadi tidak mau diganggu oleh adiknya itu.


"Sssttt tidurlah anakku. Biar Daddy tidak disalahkan. Ayo, tidur. Ayo, tidur."


Lovi dan Adrian menggeleng pelan saat mendengar Devan bernyanyi seperti itu. Liriknya terdengar aneh.


Walaupun Auristella kembali bangun, Ia tetap berbaring dan diam saja. Pertanda sebenarnya Ia sudah mengantuk tapi karena Devan, Ia terbangun.


"Ssstt tidurlah sayang. Tidur yang nyenyak, ada Daddy di sini. Princess Daddy harus tidur supaya tidak diculik penyihir,"


"HMFFFTT,"


Pruttt


Lovi menatap Adrian tajam. Adrian menahan tawa dan kemudian buang angin. Auristella mengangkat kepalanya lalu menatap bingung ke sekitar. Seperti mencari sumber suara yang baru saja terdengar.


"Adrian benar-benar kamu ya! buang angin sembarangan terus. Tidak sopan! ada orang yang lebih tua di sini,"

__ADS_1


"Daripada aku tahan lalu menjadi penyakit. Lebih baik aku keluarkan saja. Maaf ya, Mom, Dad. Aku tidak bisa tahan lagi,"


"Ayo tidur, Auris."


Devan mengangkat anak perempuannya lalu dibaringkan di atas tubuhnya yang terlentang. Kalau dipeluk seperti itu biasanya Auristella lebih cepat terlelap.


Lovi mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur. Ia menyuruh Adrian untuk berbaring dan jangan menonton sambil duduk.


Lovi melihat Devan yang saat ini sedang sibuk dengan anak perempuan mereka. Devan merasakan jadi Lovi. Dalam hal menidurkan anak saja sulit sekali dilakukan. Belum lagi kegiatan yang lain seperti memasak yang jelas-jelas Devan tidak bisa melakukannya, selalu berada di samping Auristella yang sedang aktif-aktifnya, harus mengurus kedua putranya dan juga Devan. Sulit sekali menjadi Istri dan Ibu.


Setelah tiga puluh menit lebih Devan menyanyikan anak itu, akhirnya dia terlelap. Tubuh kecilnya berada di atas Devan. Saat Lovi ingin meletakkan Auristella di tempatnya, Devan menggeleng.


"Aku masih mau memeluknya," ucap Devan seraya mengusap kepala sang anak yang tenggelam di atas dadanya.


Andrean juga sudah tertidur. Sementara Adrian serius menatap layar datar televisi. Lovi dengan setia menemani anaknya itu karena Ia harus menjadi pengingat bahwa Adrian tidak boleh tidur terlalu larut.


****


Biarpun masih pukul enam pagi, semua maid sudah tampak sibuk beraktifitas seperti biasanya. Begitupun dengan Lovi yang berkutat di dapur sejak tadi.


Akhir pekan ini Ia mendapat request dari anak sulungnya untuk dibuatkan burger. Usai membuatkan sarapan untuk Auristella, Ia segera membuat burger sesuai keinginan sang anak.


Sementara istrinya sibuk di dapur, Devan sudah siap dengan pakaian olahraganya. Begitupun dengan kedua putranya. Tiga laki-laki berbeda generasi itu turun ke lantai bawah.


Andrean dan Adrian duduk di meja makan menunggu sarapannya disajikan. Sementara Devan masuk ke dalam dapur. Beberapa maid nampak canggung saat Devan memasuki area mereka dan Lovi. Karena tidak biasanya Devan datang ke dapur.


Devan mengejutkan sang istri dengan memeluknya dari belakang. Lovi yang sedang memanaskan beef tersentak dan menunduk untuk melihat tangan yang melingkari pinggangnya.


Melihat ada cincin yang sama dengan cincin yang dikenakannya, Lovi tersenyum karena Ia tahu itu tangan siapa.


"Kamu ngapain ke sini? tunggu di dalam saja,"


"Memang tidak boleh aku datang ke dapur?"


"Tidak biasanya,"


"Kamu ikut naik sepeda, Lov."


"Aku 'kan workout biasanya,"


"Hari ini kamu naik sepeda,"


"Okay, setelah ini selesai aku akan bersiap,"


"Kamu sarapan juga,"


"Tidak, kamu tahu 'kan kebiasaanku? sebelum olahraga tidak makan,"


"Nanti kamu tidak ada tenaga, Lov. Bisa pingsan,"


Lovi menggeleng tidak mau. Ia sudah biasa seperti itu. Setelah masak, olahraga, mandi, dan mengurus Auristella, barulah Ia sarapan. Walaupun sebenarnya kurang tepat disebut sarapan. Karena Lovi makan sudah menjelang siang.


Devan kembali ke ruang makan dimana anak-anaknya terlihat menenggelamkan kepala di sela tangan mereka yang dilipat di atas meja.


"Kenapa lemas? mau ikut Daddy olahraga tidak?"


"Mau, Dad!' jawab mereka kompak seraya mengangkat kepala. Melihat antusias mereka, Devan tersenyum.


"Aku pakai sepeda baru dari Grandma Sena nanti,"


"Aku juga,"


"Mommy mau ikut,"


"Yeaaay Mommy ikut,"


"Auris tidak 'kan?" tanya Adrian memastikan. Dapat dipastikan mereka tidak akan benar-benar olahraga kalau Auristella ikut karena Auristella akan sering merengek.


"Memang kenapa kalau Auris ikut? dia juga suka bersepeda," jawab Andrean.


"Aku tidak izinkan!"


"Dia akan mengganggu kita,"


"Kamu seperti menganggap Auris sebagai musuh. Tidak boleh begitu, Adrian."


"Aku----"


"Lagipula Auris belum bangun. Sudah, jangan bertengkar!" Devan menengahi kedua anaknya yang berdebat soal Auristella. Anak sulungnya membela Auristella sementara anak keduanya melakukan hal yang sebaliknya.


Maid menyajikan sarapan dibantu oleh Lovi. "Terima kasih, ya."


"Iya, Nona."


"Hari ini burger, Lov?"


"Iya, kamu tidak mau? aku buatkan yang lain. Ini permintaan Andrean. Aku pikir kamu dan Adrian mau,"


"Aku mau,"


"Adrian juga mau, Mom."


Lovi tersenyum senang. Ia kira burger kali ini hanya dimakan oleh Andrean. Ternyata tidak, suami dan anak keduanya juga mau.


Lovi meletakkan satu porsi burger di piring masing-masing. Andrean langsung melahapnya tanpa menunggu waktu lama.


"Enak, Andrean?"


"Seperti biasa, selalu enak, Mom."


Pagi-pagi sudah mendapat pujian dari anaknya. Lovi jadi berbunga-bunga. "Aku mau dua,"


"Habiskan dulu yang itu, Adrian."


"Okay, Dad."


"Mommy ganti baju dulu ya,"


"Iya, Mom."


"Yang cepat ya, Lov." pesan Devan pada sang istri. Lovi melirik sebal. Ia tidak pernah lama bila mengganti baju atau merias diri. Apalagi saat ini hanya ingin olahraga.


"Memang aku lama kalau dandan? kecuali Aku harus mengurus Auris juga,"


"Terkadang lama, Lov."


"Saat-saat tertentu saja. Misalnya mau pergi ke pesta atau--"


"Sudah, Mom. Jangan didengarkan ucapan Daddy. Kita sedang makan juga, jadi santai saja ganti baju nya. Tidak perlu cepat seperti dikejar dogy,"


Lovi menjulurkan lidahnya seraya menatap Devan dengan angkuh. Ia dibela oleh Adrian. Devan yang melihat itu menahan tawa.


****


Keluarga kecil Devan bersepeda hingga mencapai jarak yang sedikit jauh dari wilayah mansion karena Adrian ingin ke playground.


"Makanya buatkan aku playground di sekitar mansion, Dad. Biar tidak perlu ke sini,"


"Sudah ada playground di mansion,"


"Itu indoor. Aku maunya outdoor seperti ini. Ada permainan panjat tebing, ayunan--"


"Kamu kira bangun Playground begini murah ya?" Lovi menyanggah ucapan anaknya. Adrian terkekeh renyah sementara Devan terdiam. Dibalik diamnya, otak lelaki itu tengah memikirkan kapan waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginan sang anak.


Auristella tampak senang saat akan memasuki arena Playground. Saat Lovi berganti baju, anak bungsunya itu bangun. Seperti memang ditakdirkan untuk ikut bersepeda bersama kakak dan kedua orangtuanya.


Akhirnya Ia diajak juga bersepeda. Auristella diletakkan di depan Devan. Ia duduk di kursi khusus bayi yang biasa digunakan saat Ia diajak bersepeda oleh kakeknya.


Devan turun dari sepeda dan Ia mengeluarkan Auristella dari tempatnya. Sementara Lovi dan kedua anaknya sudah memasuki Playground lebih dulu. Suasana di sana tidak terlalu sepi tapi tidak juga ramai.


Devan akan mengawasi anaknya bermain. Sementara Lovi duduk berbaur bersama para orangtua yang lain.

__ADS_1


"Dad, boleh naik itu?"


"Jangan, itu tinggi."


"Aku mau bergelantungan. Itu keren, Dad. Seperti Tarzan,"


"Tarzan keren. Baru kamu yang mengatakan itu, Adrian."


"Tidak boleh naik itu, Dad?"


"Jangan, tadi sudah katakan."


"Okay, memanjat tebing itu boleh?"


"Boleh, itu tidak terlalu tinggi. Daddy yang pasangkan safety belt nya,"


Adrian mengangguk. Ia mengajak kakaknya untuk bermain panjat tebing yang tidak sungguhan itu.


Devan memastikan keamanan anaknya sendiri. Ada orang yang bertugas untuk memasangkan safety belt. Akhirnya Devan hanya bisa menjamin saja bahwa itu sudah aman untuk kedua anaknya.


Adrian dan Andrean antusias sekali memanjat tebing replika itu. Hanya desain nya saja yang seperti tebing. Ada pijakan yang kokoh di setiap dua meter tebing tersebut.


Adrian berhasil mencapai puncak lebih dulu. Lovi dan Devan tersenyum melihatnya. Devan memotret anaknya itu dengan ponsel. Tak lama Andrean berhasil menyusul. Devan juga memotret anak sulungnya.


"Berapa bulan usianya?" seorang wanita bertanya pada Lovi seraya menatap Auristella yang serius memperhatikan anak-anak bermain.


"Jalan sebelas bulan, Nyonya."


"Ah jangan panggil Nyonya. Kita seumuran sepertinya," kelakarnya yang membuat Lovi terkekeh. "Aku bercanda ya. Usiaku pasti lebih tua darimu. Kamu terlihat masih sangat muda dan cantik sekali,"


"Oleh sebab itu aku panggil 'Nyonya'."


Lovi hanya tersenyum malu dipuji seperti itu. Ada rasa bangga dalam diri Lovi karena Ia tetap terlihat muda meskipun jarang sekali menjalani perawatan ini dan itu.


Wanita itu memegang tangan Auristella lalu mengecupnya. Auristella mengalihkan perhatian. Ia tersenyum, bukannya malah menangis. Auristella memang easy going dan Lovi senang akan hal itu. Dengan yang seumuran Ia akrab, dengan yang lebih tua pun demikian.


"Siapa namamu, cantik?"


"Auristella," jawab Lovi mewakili Auristella.


"Namanya cantik, seperti orangnya," ucapnya seraya menjawil dagu Auristella. "Ini anak bungsu ya? kakaknya hanya mereka?" tanya wanita itu seraya menunjuk Andrean dan adik keduanya.


Diam-diam wanita itu memperhatikan keluarga kecil Lovi. Sehingga Ia tahu kalau yang sedang berada di tebing itu adalah kakaknya Auristella.


"Iya, hanya mereka berdua,"


"Mereka kembar ya?"


"Iya, Nyonya. Tapi sifatnya tidak kembar,"


Entah kenapa Lovi merasa nyaman berbicara dengan wanita itu. Karena terlihat sekali pembawaannya sangat lembut dan mudah berbaur sesuai dengan karakter Lovi.


"Pasti yang memakai baju biru itu lebih banyak bicara,"


"Iya, Nona hebat, bisa tahu."


Orang yang baru pertama kali bertemu dengan mereka saja bisa tahu seperti apa sosok Adrian.


"Dia adik atau kakak?"


"Yang pakai baju biru itu adik,"


"Siapa nama mereka?"


"Adrian adiknya dan Andrean kakaknya,"


Mendengar penjelasan Lovi, wanita itu mengangguk. Kemudian Ia beralih pada Auristella yang kini tidak tertarik lagi melihat anak-anak lain bermain. Saat ini Ia sedang memainkan tali hoodie Mommy nya.


"Kalau yang ini seperti siapa?"


Auristella ditanya lagi dan Ia hanya menatap bingung. Tiba-tiba Ia mengangguk seraya menjawab, "Ya." yang penting jawab, pikirnya.


Lovi terkekeh melihat anaknya yang menggemaskan itu. Niatnya baik, tidak mau mengindahkan pertanyaan orang lain. Tapi jawabannya yang tidak nyambung terdengar lucu di telinga.


"Kalau Auris sama seperti Adrian,"


"Wow bagaimana kalau mereka berdebat?"


"Huh luar biasa, Nyonya. Terkadang aku mau kabur saja rasanya,"


"Menyenangkan ya?" Ia menahan tawa melihat senyum terpaksa Lovi.


"Sangat, terlalu menyenangkan melihat mereka berdebat,"


"Pasti pusing memiliki tiga anak yang karakternya berbeda,"


"Iya, pusing sekali, sampai rambutku terasa ingin rontok setiap kali mereka berdebat,"


"HAHAHAH," Wanita itu kelepasan tertawa keras. Mereka bahkan belum saling mengenal nama tapi sudah seakrab ini sampai tidak canggung tertawa.


"Omong-omong siapa namamu?"


"Lovi."


"Namaku Nathalie,"


"Senang berkenalan dengan Nyonya. Oh ya, dimana anakmu?"


"Di sana, bermain dengan susternya," telunjuknya mengarah ke tempat permainan yang sedang banyak digunakan oleh anak perempuan yaitu boneka yang bisa mengayunkan siapapun yang duduk dipangkuannya.


"Enak ya ditemani dengan suami kemana-mana,"


Kening Lovi mengerinyit. Ia ingin bertanya mengenai keberadaan suami Nathalie, tapi Ia rasa itu kurang sopan.


"Aku sudah menjadi single parent sejak satu tahun yang lalu,"


Tanpa ditanya, Ia menjelaskan sendiri. Lovi diam tidak bereaksi apapun karena sebenarnya Ia kurang nyaman mendengar cerita-cerita pribadi seperti ini.


"Single parent but i'm verry happy," imbuh Nathalie.


"Semoga mendapat yang lebih baik, Nyonya."


"Tidak ah. Aku sudah nyaman sendiri. Kecuali kalau ada CEO kaya raya yang mencintai aku dan anakku, beda lagi ceritanya,"


"Sekalipun tua, Nyonya?" Lovi berusaha tidak terlihat kaku. Ia melempar kelakar yang ternyata bisa mengundang tawa Nathalie.


"Iya, tidak apa. Aku tidak cari yang masih muda dan perkasa, yang penting banyak uang."


Wajah Lovi memerah saat mendengar wanita itu bicara terang-terangan. Sebenarnya Nathalie belum tua, hanya dewasa saja. Oleh sebab itu Lovi berpikir Nathalie akan berambisi mencari pengganti mantan suaminya yang jauh lebih muda.


"Aku tidak butuh yang perkasa di ranjang. Aku 'kan sudah punya anak. Jadi kalau dengan suami baru nanti tidak punya anak, tidak apa. Tapi kalau diberikan Tuhan lagi, aku tidak menolak dan tetap bersyukur."


Lovi terkekeh canggung. Lovi paling tidak bisa mendengar pembahasan yang berkaitan dengan hal dewasa. Ia sudah punya tiga anak tapi tetap saja tidak nyaman mendengarnya.


"Kamu ada rencana cari yang lebih perkasa dari suamimu? jangan ya!"


"Astaga, tidak, Nyonya. Aku masih waras. Dia juga masih itu. Untuk apa aku mencari yang baru,"


Nathalie memasanag senyum jahil dan itu membuat Lovi semakin malu. Wajahnya memerah, seperti remaja yang sedang diledeki oleh temannya karena punya kekasih baru.


"Itu apa ya? aku tidak paham,"


"Aku malu. Jangan begitu, Nyonya."


"Sebut saja 'perkasa' tidak usah Itu. Aku ini tidak suka bahasa yang halus. Lebih suka yang terang-terangan. Kita 'kan sama-sama perempuan, jadi tidak usah malu lah,"


Lovi menggeleng pelan seraya menahan senyum. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Nathalie yang orangnya tidak ada rasa canggung sama sekali bahkan ketika membicarakan hal dewasa sekalipun, Ia nampak santai dan justru mendorong Lovi untuk frontal juga.


------


Aw Lop-lop temu jendez kembang yg humble nih. Baik lagi, gk bolehin Lop-lop cari yg lain. JANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN YAAAA. TERIMA KASIH😊🙏

__ADS_1


__ADS_2