My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sisi lain Raihan


__ADS_3

Devan berdiri tidak tenang di depan pintu ruangan dimana Lovi ditangani. Berkali-kali Devan mengusap wajahnya kasar berusaha menghalau rasa sedih yang menghampirinya. Devan mengetahui kehadirannya disaat nyawa anak itu terancam. Berbagai pikiran buruk menghantui Devan. Ia tidak ingin kehilangan anaknya. Status Ayah tidak bisa digunakan dengan baik oleh Devan dalam menjaga anaknya.


Devan sangat menyesali kebodohannya yang tidak menyadari adanya perubahan dalam diri Lovi yang tengah mengandung itu. Devan memukul dinding Rumah sakit hingga buku-buku jarinya terasa perih.


Ferro datang menghampiri Tuannya yang terlihat sangat kacau. Menenangkan Lelaki yang sedang dilanda ketakutan besar akan kehilangan orang yang disayanginya sepenuh hati.


"Aku gagal, Ferro. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik,"


Mendengar kalimat yang sangat menyayat hati tersebut, Ferro menepuk pelan pundak Devan guna memberinya kekuatan agar Lelaki itu bangkit dari keterpurukan dan kesedihannya.


"Semuanya akan baik-baik saja,Tuan. Nona Lovi adalah perempuan yang kuat,"


Untuk pertama kalinya Devan meneteskan air mata untuk seseorang, bayi kecilnya. Ketika ditinggal sementara oleh Raihan yang lebih memilih hidup dengan perempuan lain saja tidak membuat Devan bersedih hati seperti saat ini.


Euforia bahagia yang seharusnya dirasakan oleh seorang calon ayah tiba-tiba saja meluap tak tersisa digantikan dengan kesedihannya yang luar biasa.


"Nona harus melalukan bed rest untuk sementara waktu hingga kandungannya pulih,"


Itu adalah ucapan yang membuat Devan terasa seperti menemukan hidupnya kembali. Ia sangat bersyukur pada Tuhan yang masih berbaik hati dengan memberinya kesempatan untuk menantikan waktu dimana Ia akan bertemu dengan mutiara hatinya.


"Pastikan Nona dalam perlindungan terbaik, Tuan!" Dengan tegas Dokter senior itu berucap.


"Rasa trauma pasti ada. Oleh karena itu, diharapkan Tuan bisa memahami keadaannya,"

__ADS_1


Setelah mendengar semua peringatan penting dari Dokter, Devan pun meminta izin sekaligus memastikan kalau keadaan Lovi tidak akan semakin parah bila dikunjungi.


Devan memasuki ruangan sunyi itu. Pandangannya langsung beralih pada seorang perempuan yang terbaring lemah di atas bangsal. Bibir pucatnya mengingatkan Devan pada kejadian tadi. Selama perjalanan menuju Rumah sakit Lovi masih terus berontak tidak ingin Devan menolongnya. Karena rasa panik yang melandanya cukup besar, Devan sampai membentaknya hingga Lovi menyerah sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Tangannya menggenggam jemari kecil Lovi. Devan duduk di samping bangsal untuk lebih dekat dengan istrinya. Mengecup jemari itu dalam diam seraya menatap kelopak mata Lovi berharap perempuan itu segera membuka matanya kembali.


"Buka matamu agar aku bisa memberimu hukuman,"


Hukuman karena Lovi telah berani menyembunyikan hal sebesar itu darinya. Devan tidak mengerti dengan jalan pikiran Lovi.


*********


Kini Elea harus berhadapan dengan Raihan dan Rena yang sudah mengetahui perbuatannya. Raihan emosi luar biasa saat mendengar kabar dari Ferro bahwa Lovi sedang menjalani perawatan medis yang intensif di Rumah sakit. Ia hampir kehilangan cucu pertamanya karena Elea.


Rena mengusap bahu suaminya untuk menjaga Raihan agar tetap tenang dan tidak mengutamakan amarahnya dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi.


Elea menunduk ketakutan saat suara berat itu menusuk telinganya.


"Untuk apa kamu tinggal disini bila tujuanmu hanya untuk mencelakai orang-orang yang aku sayangi?" Ujar Raihan dengan arogannya. Rasanya Ia ingin menampar gadis itu dengan telak agar Elea tahu kalau saat ini dia berurusan dengan orang yang salah.


"Jawab aku!!"


Raihan berteriak nyaring dengan mata menyala. Ini untuk pertama kalinya Elea melihat kemarahan Lelaki baya itu. Biasanya hanya aura dingin yang mampu ditangkapnya dari sosok Raihan.

__ADS_1


"Kamu sengaja melakukannya?!" desis Raihan mengerikan.


Dengan lantang Elea berhasil memancing Raihan untuk melakukan sesuatu yang lebih terhadapnya.


"Iya. Aku sengaja melakukannya karena dia telah merebut kekasihku,"


Rena menatap Elea itu tak percaya. Ternyata seburuk itu pikiran Elea terhadap Lovi. Bagaimana mungkin Devan mencintai gadis itu dengan sepenuh hati?


"Tidak salah aku menyebutmu Perempuan tidak tahu diri karena kamu terlalu menutup mata mengenai posisimu diantara mereka. Ingatlah bahwa Lovi lebih berhak atas segala sesuatunya dibanding kamu. Karena dia adalah Istri Devan. Sementara kamu? Hanya menjadi Selir," Ujar Raihan dengan hinaannya dibalik seringai menyeramkan itu.


"Sudah, Raihan!" Rena mulai lelah dalam situasi seperti ini. Semuanya tidak akan selesai bila hanya mengandalkan emosi.


"Diam kamu!" Telunjuk Raihan mengarah pada Rena. Ia tak terima diperintahkan demikian oleh sang istri.


"Harusnya kamu bersyukur karena aku mau berbaik hati dengan mengizinkanmu tinggal di sini. Disaat keluargamu sendiri menendang jauh-jauh harga dirimu,"


"Pria tua sialan!!"


"Pergi kamu dari sini!!"


**********


Makasihh bwt comment positifnya. yg ngejudge jg makasiii lhooo😅😅 jgn lupa vote, Like, Comment dan fav nya yaaww. klik 5 bintang jg pokona mah

__ADS_1


__ADS_2