
Adrian menjadi pusat perhatian teman-teman kakeknya yang juga menghabiskan waktu untuk bermain golf. Karena jarang sekali Adrian dibawa oleh Raihan untuk ikut serta dalam olahraga ini.
"Lakukan dengan sering, Adrian. Kamu sudah pintar bermain bola, kalau pintar juga bermain ini, Wow! kamu benar-benar hebat,"
"Grandpa, dengar kata Uncle Roy 'kan? jadi lain kali ajak Adrian lagi ya. Pokoknya harus sering-sering,"
"Coba ajak Daddy-mu. Dia sudah jarang sekali datang ke sini,"
"Daddy bisa bermain golf juga?"
"Iya, dulu pintar bermain golf. Sekarang tidak tahu. Lain kali kita ajak. Tapi sepertinya kamu sudah pernah dibawa Daddy ke sini,"
"Kapan? aku lupa,"
"Kalau tidak salah, sebelum kalian pindah ke rumah. Masih tinggal di mansion, sebelum Mommy-mu mengandung Auris,"
Adrian berusaha mengingat sebentar. Ucapan Raihan sangat tepat. Sebelum Devan membawa keluarga kecilnya ke hunian pribadi untuk tinggal di sana, Devan sempat mengajak kedua anak lelakinya bermain golf.
Dipertengahan Adrian dan Raihan bermain golf, kebetulan yang tak disangka terjadi. Adrian bertemu dengan sahabatnya, Adrina yang juga ikut kakeknya, Syarief serta Jino, Daddy-nya untuk bermain golf.
"Rupanya sudah kembali lagi ke sini setelah tinggal di Indonesia?"
Mereka saling menyapa satu sama lain. Adrian dan Adrina pun berpelukan karena terlalu senang bertemu di sana.
"Iya, saatnya menghabiskan waktu bersama cucu,"
"Adrina bisa bermain golf?"
"Tidak bisa, hanya ikut kakek saja,"
"Oh, sama seperti Adrian ya,"
"Aku bisa bermain golf,"
"Bisa? tapi kenapa malah stik yang terlempar bukannya bola yang terdorong,"
Adrian merengek malu. Raihan baru saja menceritakan kejadian tadi. Dimana saat Ia datang lalu bermain, langsung membuat malu diri sendiri.
"Masih tahap belajar, Grandpa. Jangan ejek aku," Adrian menyembunyikan kepalanya di perut sang kakek yang sudah terpingkal. Adrian mungkin malu karena ketahuan punya kelemahan di depan sahabatnya. Selama di sekolah, Adrian selalu berhasil menguasai bidang apapun terutama olahraga. Sedikit berbeda bila berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya akademis, Ia perlu waktu lebih lama daripada Andrean untuk menyerap semuanya.
"Tidak mengejek. Supaya Adrina semangat belajar juga seperti kamu,"
__ADS_1
"Ayo, ajari aku bisa tidak?"
"Apa? aku saja masih kesulitan malah minta diajari. Kamu aneh sekali," cibir Adrian yang diangguki oleh Jino dan Syarief. "Adrina belajar sendiri. Ada yang melatih juga. Biarkan Adrian juga belajar,"
Akhirnya mereka mematuhi apa yang dikatakan oleh Syarief dan Jino. Adrian dengan pelatihnya begitupun dengan Adrina yang tampak menggemaskan dengan topi sport di kepalanya.
********
Sebelum pulang, Lovi melihat tak jauh dari keberadaannya ada seorang penyanyi perempuan yang sedang bernyanyi di pinggir jalan seraya menggelar lapaknya sendiri. Yang membuat Ia tertarik adalah, lagu yang dibawakan dan usia sang penyanyi yang terlihat masih sangat belia untuk menjadi seorang penghibur di jalan-jalan umum seperti ini. Bila Andrean melihat ini, Ia akan senang sekali. Karena Andrean selalu kagum dengan bakat mereka dan rasa percaya diri yang mereka punya. Disaksikan oleh banyak orang, mereka tetap percaya diri untuk menampilkan sesuatu yang terbaik.
Lovi memberi uang beberapa dollar ke dalam tempat penyimpanan biola milik penyanyi remaja itu yang digunakan sebagai wadah untuk mengumpulkan uang dari orang-orang yang menonton. Lovi pasti selalu tersentuh melihat anak-anak seperti mereka.
Devan sudah selesai dengan urusan bayar-membayar. Rupanya Devan sudah menunggu di dalam mobil.
"Kenapa ke sana?"
"Menonton orang yang bernyanyi di pinggir jalan,"
"Lama ya,"
"Aku harus menikmati lagunya. Kenapa memangnya?"
Lovi mendorong kepala samping suaminya menggunakan boneka Auristella yang selalu berada di dalam mobil.
"Anak sudah tiga, jangan ada racun lagi dari mulutmu. Menggelikan, tahu?!"
"Lov, kenapa sulit sekali diajak romantis? kita sudah jarang seperti ini," bujuk Devan seraya menarik tubuh Lovi agar bisa Ia peluk. Ketika Ia ingin mengecup, Lovi menghindar.
"Apa lagi alasannya tidak mau aku cium? sekarang bukan di tempat umum lagi dan kamu masih menolak aku,"
Lovi menahan senyum ketika menyadari kalau suaminya itu mulai bad mood. Lovi yang gemas pun menepuk pelan kedua pipi Devan seraya berbisik, "Masih di mobil. Lebih menyenangkan kalau sudah sampai kamar,"
"Tidak mungkin bisa! Kamu lupa dengan tiga kurcaci itu? mereka pasti tidak akan membiarkan aku hanya berdua dengan kamu,"
Lovi menghela napas sebelum menarik hidung suaminya, "Okay, aku yang melakukannya sekarang." tanpa aba-aba, Ia melakukan apa yang dilakukan Devan saat di restoran tadi.
Devan terlalu berprasangka buruk. Lovi menolak bukan karena tidak suka lagi dengan sikap manis suaminya itu. Melainkan Lovi sedang malas untuk adu bibir. Terkadang Ia memang seperti itu dan biasanya Devan tak pernah memaksa dan mengajukan protes. Sekarang lelaki itu malah protes. Mungkin karena sudah terlalu rindu untuk merajut kehangatan bersama istrinya.
"Kapan kita sampai kalau kamu belum juga menjalankan mobilnya?"
"Oh iya, aku lupa. Semuanya bisa aku lupakan kalau kamu sudah menghadiahi aku kecupan,"
__ADS_1
"Sudah, aku geli mendengarnya. Cukup di sini saja ya kamu berbicara asal seperti itu!" Lovi mengancamnya. Walaupun Devan memang tidak pernah membahas hal-hal dewasa selain dengannya, tapi kali ini Lovi hanya ingin memastikan.
"Tenang, mulutku juga tahu kapan dia akan beraksi,"
Lovi yang gemas dengan tingkah suaminya itu menekan kedua sisi wajah Devan hingga bibir lelaki itu mengerucut.
"Aku gemas dengan kamu,"
"Nanti saja gemas-gemasannya di kamar. Kata kamu begitu 'kan?"
"Apa lagi sih?! mulutmu minta dilempar dengan sandal ya?"
Lovi kelewat kesal dan malu hingga Ia melepaskan sandal mahalnya yang Ia gunakan untuk pergi ke butik hari ini. Devan meledakkan tawanya. Melihat Lovi merona adalah hal yang paling ditunggunya sejak tadi.
********
"Kamu berhasil memasukkan bola berapa kali?"
"Belum sama sekali," jawab Adrina lemah. Ia jadi bahan tawa Adrian yang jelas sekali bermakna mengejek.
"Aku dua kali," imbuhnya dengan bangga.
"Ah itu hanya keberuntungan,"
"Enak saja kalau bicara! ada usaha di dalamnya, hey! aku bekerja keras supaya bisa,"
"Aku sudah bekerja keras tapi belum berhasil juga. Semuanya butuh proses. Nanti aku bisa mengalahkan kamu. Sekarang jangan besar kepala wahai anak jahil nan menyebalkan,"
Syarief berseru saat penutup di permainannya kali ini Ia berhasil memasukkan bola untuk yang ke sekian kalinya.
Syarief sudah selesai lalu mendekati cucunya yang sedang berbincang bersama cucu Raihan.
"Aku memang tidak bisa diandalkan kalau dalam bidang olahraga. Tapi kalau cheerleader dan balet aku bisa,"
"Jelas saja bisa karena kamu suka di bidang itu dan juga mau mempelajarinya dengan rajin. Dan kamu perempuan, jadi tidak heran. Kalau aku yang bisa, baru patut diacungi jempol,"
Adrina tertawa sampai geli sekali. Wajahnya yang berkeringat dan merah semakin merah karena tawanya yang membuat urat-urat di wajah terasa ditarik.
"Sekali-sekali kamu belajar cheerleader dan balet. Pasti keren!"
"Matamu keren, mulut kembang api! kamu pikir aku laki-laki seperti apa? sudah gagah begini malah disuruh belajar balet dan cheerleader,"
__ADS_1