
"Selamat tidur, Sayang," Setelah memastikan kekasih hatinya tidur dengan tenang, Devan mengecup kening Elea dengan lembut lalu keluar dari kamarnya seraya menoleh sekali lagi pada Elea yang nafasnya sudah teratur.
Devn menutup kembali pintu di belakangnya sangat pelan lalu berjalan mengarah pada kamar istrinya dengan tujuan memenuhi hasrat tentu saja.
Begitu sampai di kamar Lovi, Devan tidak menemukan siapapun di sana. hanya kesunyian yang menyambutnya.
Netta melintas di belakang Devan yang sedang menelusuri kamar Lovi. Ia melihat Tuannya yang sedang kebingungan.
Dari depan kamar Lovi, Netta bertanya," Apa yang Tuan perlukan?"
Devan menoleh setelah menutup kembali pintu Kamar mandi usai mencari Lovi di sana.
"Dimana Lovi?"
"Nona Lovi ada di kamar saya, Tuan,"
Penjelasan Netta membuat Devan mengerinyit bingung.
"Apa yang dia lakukan di sana? Bukankah ini kamarnya?"
"Tadi ia hanya ingin beristirahat bersamaku usai membersihkan kamar Vanilla. Nona Lovi hanya butuh teman untuk bercerita,Tuan."
__ADS_1
Mata Devan mengerinyit. rahangnya mengeras. Dengan segera ia masuk ke dalam kamar Netta dan membawa perempuan kurus yang sedang menikmati mimpi nya itu dalam gendongan. Netta tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ia hanya menatap punggung Devan yang masih dibalut pakaian kerjanya sebentar lalu segera turun untuk menyiapkan makan malam.
Devan meletakkan tubuh Lovi di atas ranjang dengan lembut tidak seperti biasanya. Sorot tajamnya menatap Lovi yang kembali nyenyak dalam tidur setelah tadi melenguh pelan. Tatapan Devan berhenti pada satu titik di tubuh Lovi dimana terdapat bekas memar yang cukup mengerikan.
Devan duduk di ranjang. lalu tangannya tergerak untuk menyentuh bekas luka itu yang membuat kulit Lovi terlihat buruk.
Lovi yang merasa geli di sekitar lehernya perlahan membuka mata seraya mengusir sentuhan itu dengan pelan.
Lovi memandang langit-langit di kamarnya lalu memperhatikan sekelilingnya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Devan yang duduk di dekatnya. Ia berusaha bangkit namun Devan kembali meletakkan tangan kekarnya di leher Lovi agar Perempuan itu kembali pada posisi awalnya.
Melihat mata Lovi yang berkaca mungkin perempuan ini mengira bahwa ia akan kembali mencekiknya. Oleh karena itu Devan melonggarkan tangannya dan kembali mengusap leher jenjang yang selalu membuat sisi lain dalam dirinya bangkit.
"Tuan," Cicit Lovi dengan mimik wajah ketakutan penuh.
"Lepaskan, Tuan," Lovi berusaha menghindari usapan lembut Devan.
"Kenapa kamu selalu ketakutan bila ada aku di dekatmu?"
Rasanya Lovi ingin berteriak di depan wajah Devan. Apakah lelaki itu tidak pernah berpikir tentang semua yang pernah dilakukannya pada Lovi. Semua orang pun akan merasa ketakutan bila berada di posisi Lovi. Setiap bertemu selalu disakiti. Tentu saja itu menjadi alasan dasar kenapa Lovi sangat menghindari pertemuannya dengan sang Tuan.
"Apa yang Vanilla lakukan padamu?" Pertanyaannya sedikit berbeda dari topik awal. Kali ini Devan terlihat sangat serius. Tidak ada lagi senyum yang hadir diwajah tampannya.
__ADS_1
Lovi diam tidak menjawab. Ia masih berusaha lepas dari jeratan Devan. Tidak menyakitkan namun Lovi merasa risih.
"Berani sekali kamu menyentuhku?" Bisik Devan geram saat tangan Lovi yang membalut tangan kekarnya. Ia tidak suka berada di situasi ini.
Mendengar suara yang sarat akan kemarahan itu, Lovi dengan segera menjauhkan tangannya. Dengan begitu, Lovi terlihat menyerah karena tak berusaha melawan lagi. Dan Devan menyukai Lovi yang seperti ini. Menyerahkan semuanya untuk ia kuasai.
"Apa yang Vanilla lakukan padamu?" Devan bertanya sekali lagi. Melihat mata Lovi yang terlihat ingin menangis, akhirnya Devan memutuskan tidak lagi menyentuh lembut kulit leher Lovi. Mungkin dengan itu, Lovi bisa menjawab pertanyaannya.
Lovi bernafas lega saat Devan tak lagi menahannya di bantal. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Aku bertanya padamu!" Devan tidak bisa lagi menahan geramannya karena sedari tadi Lovi hanya diam dan kini menunduk. Devan sudah ada didepannya dengan posisi hampir menindih.
"Vanilla menyakitimu lagi?"
Lovi menggelengkan kepalanya dan menatap Devan dengan takut sembari menjawab,
"Nona Vanilla tidak melakukan apapun padaku, Tuan."
"Lalu apa yang terjadi dengan lehermu?"
Sontak saja Lovi memegang lehernya sendiri. Ia tidak menyangka kalau jejak jari Vanilla akan timbul di lehernya hingga Devan lebih dulu melihatnya.
__ADS_1
***********
Happy reading guiseee!!!!