My Cruel Husband

My Cruel Husband
Blacklist keinginan pertama


__ADS_3

Lovi menuruni undakan tangga. Ia mengerinyit ketika mendapati Senata yang tengah duduk di sofa seraya menunduk.


"Ma, kenapa belum tidur?"


Lovi memilih untuk mengurungkan niatnya yang ingin mengambil minum. Ia duduk di sebelah Senata yang kini tersenyum padanya.


Lovi tentu bingung dengan kehadiran Senata di tengah ruang keluarga itu. Wanita paruh baya yang pernah menyakitinya beberapa tahu lalu itu tidak akan menghabiskan waktu lebih larut untuk berbaring di atas ranjangnya.


"Mama baik-baik saja?"


Senata tidak merasa baik-baik saja setelah mendapati Devan yang terpuruk seorang diri ditengah kesunyian dapur. Ia hancur ketika tidak bisa melakukan apapun untuk menantunya yang sedang berjuang seorang diri.


Namun Senata ingat dengan janjinya pada Devan tadi. Menyimpan semua rahasia mengenai penyakitnya, itu yang Devan inginkan. Agar Devan tenang dan fokus pada penyembuhannya walaupun tanpa Lovi di sampingnya. Apapun itu, Lovi tidak perlu tahu. Devan tidak ingin penyakitnya menjadi alasan Lovi kehilangan senyumannya.


"Mama baik-baik saja. Mama tadi haus,"


Lovi menghela napas lega. Ia pikir Senata baru saja mengalami rasa kurang nyaman. Mengingat belakangan ini Senata selalu mengeluhkan dadanya yang sakit.


"Sama kalau begitu. Aku ambil minum dulu, Ma."


Lovi bangkit dan berjalan dengan santai ke arah pantry untuk mengusir dahaga yang sejak tadi membuat tenggorokannya menjerit.


Senata memandang punggung anaknya yang semakin menjauh. Lovi tidak akan sesantai itu kalau Ia menyaksikan sesuatu yang baru saja terjadi di dapur. Lovi akan lebih hancur dari apa yang Ia bayangkan. Dan Devan pun akan semakin tidak terbentuk ketika menyaksikan kehancuran mantan istrinya setelah mengetahui penyakit yang diderita Devan.


"Apa yang harus aku lakukan, Devan? aku terlambat mengetahui ini semua,"


********


Lovi duduk di ruang makan. Ia minum seraya menikmati potongan buah apel sementara Senata malah berbaring di atas sofa bed di depan televisi.

__ADS_1


Ia menoleh ketika ponsel di sampingnya menyala dan menampilkan nama Fifdy di sana. Lovi segera meraih benda tipis itu kemudian membaca sekilas pesan yang dikirimkan Fifdy.


Lovita, besok shiftmu apa?


Lovi memilih untuk mengacuhkan kalimat itu. Berusaha tidak menanggapi walaupun sisi baik dalam dirinya menuntut Ia berlaku sopan agar membalas pesan Fifdy yang sudah Ia baca itu.


Shift kerja Lovi tidak ada urusannya dengan Fifdy. Itu bukanlah alasan yang tepat untuk seorang sahabat lelaki mengirimkan pesan di tengah malam seperti ini. Lovi rasa sepenting apapun alasan Fifdy menghubunginya ditengah malam, Lovi tidak akan terpengaruh.


*****


Lovi memilih untuk bergabung dengan Senata. Mereka sama-sama menyaksikan tayangan televisi. Lovi dan Senata sulit tidur malam ini. Lovi merasa kurang nyaman dengan kehadiran Devan di rumah tersebut walaupun lelaki itu tidak melakukan apapun. Lovi yakin Devan masih berada di kamar anaknya. Sementara Senata sulit memejamkan mata karena pikirannya masih melanglang buana.


Lovi berdehem dengan sorot ragu. Ia menoleh pada Senata yang masih fokus menatap benda lebar yang datar di depannya dengan pandangan kosong.


Lovi membangkitkan lamunan Senata dengan menyentuh lengannya.


"Mama tahu Devan menginap di sini?"


"Untuk apa dia menginap di sini?"


Lovi menggigit lidahnya. Ia merutuki kebodohan yang sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Mengapa Ia harus bertanya demikian? Devan adalah pemilik rumah itu walaupun sudah jatuh tangan padanya dan kedua anak mereka. Lovi bukanlah manusia pengidap amnesia. Ia tentu saja ingat kalau sosok pekerja keras itulah yang mampu mempersembahkan kastil tersebut untuk keluarga kecilnya.


Dan lagi, Andrean dan Adrian akan selalu menjadi daya tarik Devan. Mungkin saja Lelaki itu merindukan kebersamaan dengan kedua anaknya hingga memutuskan untuk bermalam di rumah itu.


"Bodoh! kamu menanyakan sesuatu yang seharusnya sudah kamu tahu jawabannya,"


Bahkan batinnya saja merendahkan kemampuan otak Lovi yang selalu lebih memalukan jika berkaitan dengan lelaki itu.


"Ia ingin bersama anak-anaknya. memang salah?"

__ADS_1


Lovi mengusap tengkuknya dengan gestur kaku. Rasa penasaran Lovi akan keberadaan Devan sudah dijawab telak oleh Senata. Dan Lovi sangat merutuki dirinya yang begitu penasaran.


Lagi, Ada lagi yang membuat Ia gelisah dan tidak tenang. Malam ini benar-benar terkutuk untuk Lovi. Ia menginginkan banyak hal dalam satu waktu.


Pertama


Ia ingin Devan bersamanya. Iya, menghabiskan waktu bersama dengan saling memeluk.


"Apa-apaan aku ini?! keinginan macam apa itu?!"


Namun Lovi langsung menggeleng. Ia merasa hal itu harus Ia blacklist dari daftar keinginannya.


Kedua


Ia menginginkan bubur kacang hijau


Sepertinya ini bisa menjadi satu-satunya harapan yang akan terwujud sebab Senata sangat pandai dalam membuatnya.


Dengan yakin Ia menyentuh lengan Senata berkali-kali dengan tidak sabaran. Dan wanita itu menatap Lovi jengah. Ia merasa Lovi sangat mengganggu kegiatan menontonnya.


"Ma, aku ingin bubur kacang hijau. Buatkan ya, Ma?"


"Hah? Apa?" Senata sampai mengerjap terkejut. Malam-malam begini Lovi memintanya untuk memasakkan bubur kacang hijau? yang benar saja. Menyentuh gelas saja tadi Ia malas padahal haus. Apa lagi diminta untuk bersentuhan dengan kacang hijau dan segala bahan-bahan lainnya?


Kalau sudah malam, Senata bukan lagi wanita pecinta masak. Ia akan menghindari alat-alat dapur kalau waktunya tidur. Walaupun nyatanya Ia tengah membuka mata lebar-lebar.


Lovi meringis seraya tersenyum sangat manis. Ia menatap Senata penuh permohonan. Lovi percaya seratus persen kalau Senata akan memenuhi keinginannya. Karena Puppy eyes miliknya akan membuat siapa saja luluh. Devan saja sudah pernah menjadi bahan pembuktiannya selama ini.


"Buatkan aku bubur kacang hijau, Ma. Malam ini aku benar-benar menginginkannya,"

__ADS_1


-----


Sprti biasa 2 ep untk hr ini. Kl udh bosen, boleh mundur yaa. Klean yg gk suka drama psti gk akan suka sm alur yg aku bwt. Its ok. Silakan mundur sblm gumoh. Msh byk drama soalnya. Ehehehe


__ADS_2