My Cruel Husband

My Cruel Husband
Berbeda kegiatan di akhir pekan


__ADS_3

Hari ini Auristella ada jadwal renang. Andrean dan Lovi menemani anak itu untuk les berenang. Melihat alat renang nya sedang disiapkan oleh maid, Auristella sudah tahu kalau saat ini waktunya berenang dan Ia sangat bahagia. Tadinya Ia merajuk karena dibangunkan dari tidur.


"Adrian dan Daddy hanya berkuda berdua?"


"Ya, Andrean temani Mommy dan Auris,"


"Okay, kita hanya berdua, Dad."


Adrian menunjuk dirinya dan Devan seraya menggerak-gerakkan alisnya. Kemudian Ia mengajak Daddy nya untuk berhigh five.


"Andrean jangan cuek-cuek saja nanti, ya. Jaga Auris juga,"


Ucapan Devan disahuti datar oleh Andrean, "Aku tahu, Dad."


Biarpun selama ini Andrean terlihat dingin, Ia tetap peduli apalagi dengan orang-orang terdekatnya. Andrean hanya kurang bisa menunjukkan kepedulian itu.


****


Rata-rata anak yang mengikuti kelas renang ditemani oleh ayahnya. Hanya dua anak yang ditemani oleh Ibu nya termasuk Auristella.


"Seharusnya Daddy yang menemani Auris berenang,"


"Daddy dan Mommy harus berbagi tugas. Adrian mau berkuda,"


"Mommy bisa berkuda dengan Adrian. Dan Daddy yang di sini," gumamnya yang tidak lagi didengar Lovi karena Mommy nya itu sudah masuk ke dalam kolam renang bersama Auristella.


Andrean memperhatikan Lovi dan Auristella dari tempat yang disediakan untuk menunggu.


Lovi mendengarkan dengan baik instruksi pelatih. Auristella senang dan Lovi pun demikian. Ini termasuk kegiatan yang paling ditunggu oleh Auristella setiap akhir bulan.


Auristella dibawa menyelam oleh Lovi hanya untuk beberapa detik. Anak-anak lain banyak yang menangis, sementara dirinya tidak.


Andrean salut dengan keberanian adiknya yang perempuan itu. Ia tidak ada takutnya dengan air malah tertawa setelah kepalanya diangkat dari dalam air oleh Lovi.


****


"Daddy yang pegang kuda nya Adrian."


"Daddy mau berlatih,"


"Tidak boleh! Daddy pegang kuda Adrian saja. Kita jalan-jalan di sekitar sini,"


"Ada petugas yang bisa memegang kuda mu. Kamu---"


"Tidak mau!"


Devan menghela napas pelan. Ia meminta petugas yang saat ini memegang tali kuda Adrian untuk menyingkir. Ia menggantikan tugas lelaki itu.


"Mau jalan kemana, Tuan tampan?" tanya Devan berusaha menahan kesal karena keinginannya untuk berkuda malah tidak terlaksana sepertinya.


"Lurus saja,"


Padahal Devan datang ke sini tujuannya mau berkuda tapi anaknya malah melarang. Ia hanya bisa menahan keinginannya itu.


"Nanti kita ke hotel doggy ya, Dad?"


Adrian mencuri kesempatan karena saat ini akhir pekan sehingga Ia banyak mau. Selama ini ayahnya sibuk, jadi ini waktu yang tepat untuk membahagiakan diri sendiri bersama Devan.


"Iya, setelah Daddy berlatih kuda dulu ya?"


"Daddy tidak usah berkuda,"


"Kenapa begitu? ngapain Daddy datang ke sini kalau pada akhirnya dilarang berkuda? jadi kamu saja yang boleh berkuda?"


"Daddy temani aku saja tugasnya,"


Devan mendengus sebal. Seharusnya saat ini Ia tengah mengendalikan kuda miliknya sendiri, sekarang malah memegang kuda nya Adrian.


"Lelah, Dad?"


"Menurutmu?"


"Tidak, Daddy kuat."


Lelaki yang tugasnya diambil alih oleh Devan diam-diam menahan tawa. Sebenarnya Ia tidak heran dengan sifat yang dimiliki Adrian. Ia sudah kenal betul dengan anak itu. Perangainya berbeda sekali dengan sang kakak. Adrian tidak henti bicara sepanjang kudanya berjalan.


Di tengah perjalanan, tib-tiba saja kuda nya Adrian merajuk. Ia menggerakkan tubuhnya dengan sedikit liar hingga Adrian bingung. Devan segera menurunkan Adrian dari kuda itu. Sementara lelaki yang mengikuti sejak tadi segera melakukan sesuatu terhadap kuda agar tidak marah-marah lagi.


"Kenapa dia begitu ya, Dad? padahal aku tidak buat salah apapun," ujar Adrian dengan raut sedihnya. Ia digendong oleh Devan dan anak itu menyandarkan pipinya di bahu sang ayah.


"Tadi dia baik-baik saja,"


"Sama seperti Adrian ada kalanya mengalami suasana hati yang kurang baik. Mungkin kuda nya juga begitu,"


"Ayo, mau naik lagi?" Adrian ditanya seperti itu oleh pengendali kuda nya. Adrian langsung mengangguk. Tapi saat Ia dibantu untuk naik lagi ke punggung kuda, reaksi kuda seperti tadi. Kuda nya memberontak.


Akhirnya Devan kembali meraih sang putra, Ia merasa khawatir.


Adrian menangis tiba-tiba. Devan menatap anaknya bingung. "Kenapa menangis?"


"Dia kenapa merajuk? Adrian tidak salah apapun, Dad."


Ia merasa bersalah pada hewan peliharaannya itu. Padahal kuda nya juga tidak mengatakan kalau Ia merajuk karena Adrian, tapi Adrian merasa kalau dirinya lah penyebab kuda itu merajuk.


"Dia marah-marah, tidak mau ditaiki Adrian."


"Ya sudah, Adrian. lihat Daddy berkuda saja ya?"


"Tidak mau!"


Padahal Devan mengambil kesempatan untuk tetap bisa berkuda. Barangkali kalau kuda Adrian sedang marah, pemiliknya mau membiarkan dirinya untuk berlatih kuda.


"Lalu sekarang kita harus melakukan apa? kuda mu tidak mau ditaiki lagi,"


"Benar tidak mau ditaiki olehku?" tanya Adrian pada lelaki yang sedang menjinakkan kuda Adrian.


Lelaki itu menepuk-nepuk wajah kuda kemudian bicara pada Adrian,


"Ayo dicoba lagi."


"Tidak usahlah, Adrian. Nanti dia---"


Tangan Adrian terulur pada kudanya. "Aku mau, Dad."


Nyatanya saat Adrian akan menunggangi nya lagi, kuda itu kembali menolak. Devan berdecak kesal karena Adrian keras kepala. Sama saja anak itu mencari bahaya.


"Kalau tidak mau melihat Daddy berkuda, kita ke hotel doggy saja, melihat-lihat doggy di sana."


"Tapi aku belum puas berkuda," Adrian merengek di atas gendongan sang ayah. Tak bisa dibayangkan akan selelah apa Lovi bila Lovi yang menemani Adrian berkuda. Anak itu sangat keras kepala. Lovi pasti akan kesulitan menghadapi anak ini.


Devan geram tapi Ia tidak mau marah. Ia meminta agar kuda nya Adrian dikembalikan ke dalam kandang. Adrian marah tidak terima.


"Di samping mood nya yang kurang baik, sepertinya kuda mu kelelahan," ujar lelaki yang mengendalikan kuda Adrian tadi. Devan semakin yakin untuk menempatkan hewan itu di tempatnya agar Ia bisa istirahat.


"Kamu naik kuda Daddy saja. Nanti Daddy temani. Seperti waktu itu, saat kamu belum punya kuda sendiri. Bagaimana?"


"Ya sudah, ayo."


Semangat Adrian kembali terisi walaupun tidak sepenuh tadi. Yang terpenting Ia masih bisa berkuda walaupun tidak bisa bersama si Oksu, kudanya.


"Oh atau kita pakai kuda nya Andrean saja si Scorpio. Boleh tidak, Dad?"

__ADS_1


"Tidak usah, pakai punya Daddy saja."


Adrian tidak membantah lagi. Ia menuruti apa kata Devan. Mereka akan menggunakan kuda Devan dan Devan akan menemani Adrian di atas punggung kuda karena kuda itu sangat tinggi, Devan khawatir anaknya terjatuh. Biarpun Adrian tahu Ia harus berpegangan kuat, tapi Devan hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada Adrian.


******


Waktu belajar renang sudah selesai, kurang lebih hanya dua puluh menit. Dan tidak terasa sudah menjelang tengah hari.


Auristella menangis saat Lovi membawanya keluar dari kolam renang. Ia menunjuk kolam renang untuk memberi tahu bahwa Ia masih ingin berada di sana.


"Kamu nanti sakit kalau terlalu lama,"


"Waktunya sudah selesai, Auris." ujar pelatih renang yang berjenis kelamin laki-laki itu. Namun Auristella tetaplah anak yang sulit diberi tahu. Kalau keinginannya tidak dipenuhi maka akan merajuk. Wajahnya sangar bukan main. Biar diajak bercanda sekalipun oleh Lovi, tetap saja wajahnya tidak bersahabat.


"Nanti kita berenang lagi. Dalam sebulan dua kali. Awal dan akhir bulan, biasanya begitu 'kan?"


Auristella menangis dan menggeleng. Tapi Lovi tetap saja membawa anak itu ke ruang mengganti pakaian. Sementara Andrean menunggu di luar bersama dua orang penjaga nya.


Saat Lovi memakaikan Auristella pita rambut, anak itu melepasnya dengan kasar. Lovi menggeleng pelan dan akhirnya mengapit pipi Auristella menggunakan bibirnya dengan gemas.


"Mommy tinggal sendirian di sini. Mau ya?"


"Ndak!"


"Makanya jangan nakal. Kalau sudah waktunya untuk selesai, ya harus selesai. Sedari kecil sudah harus belajar disiplin waktu,"


Usai menggantikan pakaian Auristella, Lovi menghampiri Andrean. "Kita makan dulu ya? Andrean mau makan dimana?"


"Di mansion,"


"Tidak mau singgah dulu?"


"Terserah Mommy saja,"


"Sepertinya jam segini maid belum selesai masak untuk makan siang. Jadi kita makan di luar saja ya?"


Andrean mengangguk dan mengikuti langkah Lovi ke mobil. Andrean sedang ingin menikmati makanan dari laut, akhirnya Lovi mengatakan pada supir untuk membawa mereka ke restoran seafood.


Restoran berada di bawah akuarium besar yang menampilkan suasana di dalam laut. Auristella yang sebelumnya badmood, kini gembira sekali bisa melihat ikan-ikan kecil beraneka warna dan juga hewan laut lainnya. Andrean juga antusias walaupun tetap saja terlihat datar. Kalau Adrian ke sini juga, sudah dipastikan dia heboh sendiri. Segala hewan laut akan Ia tunjuk untuk memberi tahukan orang-orang di sekitarnya.


"Auristella sudah Mommy bawakan ini,"


Lovi mengeluarkan makanan halus milik Auristella. Saat melihat kepiting, kerang, dan lainnya disajikan di atas meja, Auristella menatap itu semua dengan liar. Ia menunjuk kerang. Akhirnya Lovi mengambilkan kerang itu lalu dipisahkan daging dari kulitnya. Setelah itu Ia tekan-tekan dengan jemarinya agar daging kerang lebih halus lagi.


"Lezat tidak?" tanya Lovi. Auristella menggerakkan tangannya ke udara. Ia tidak menjawab, tapi reaksi nya yang seperti itu sudah menjawab pertanyaan Lovi.


"Andrean makan yang banyak,"


"Cangkang kepiting nya Mommy yang lepas,"


Lovi melarang Andrean untuk memisahkan daging dari cangkang kepiting, Ia khawatir anaknya terluka. Andrean menunggu Lovi selesai mengupas cangkang kepiting sementara Ia menggantikan Lovi untuk menyuapi adiknya.


Andrean menahan tangan Auristella yang akan masuk ke dalam piring makannya. Andrean menggeleng dan Auristella paham, Ia tidak dibolehkan untuk menyentuh makanan secara langsung, biar Andrean saja.


"Buka mulutnya yang lebar,"


Auristella menurut. Ia membuka mulutnya lebih lebar lalu menyantap suapan kakaknya dengan lahap.


"Kalau lezat tangannya bagaimana?"


Andrean menunjukkan ibu jarinya. Auristella ingin mengikuti, tapi Ia tidak bisa. Akhirnya Andrean yang membantu adiknya untuk menekuk keempat jari lainnya sehingga hanya ibu jari yang terlihat.


"Le---"


Andrean menunggu Auristella melanjutkan kata-kata nya.


"at," ujar Auristella.


"---nat,"


"---zat, kan lezat, bukan lenat."


"Itu kepitingnya sudah Mommy bersihkan dari cangkang,"


"Terima kasih, Mom."


"Sama-sama, Sayang."


"Ma-ama," Auristella mengikuti apa yang diucapkan Mommy nya. Dan itu membuat Lovi tersenyum.


"Semakin hari kamu semakin pintar ya. Semangat terus belajar bicara nya. Bisa-bisa lebih dulu lancar bicara daripada berjalan,"


"Jangan-jangan saat usia nya genap dua belas bulan nanti, dia sudah bisa bicara dengan baik, Mom."


"Belum, Andrean. Tapi kemampuannya tentu saja akan terus bertambah seiring bertambahnya usia,"


"Mom,"


"Kenapa, Auris?"


Telunjuk Auristella menunjuk seorang penyelam di dalam akuarium raksasa di atas mereka saat ini. Penyelam itu memperlihatkan sebuah papan bertuliskan 'Hi, cutie.' Walaupun Auristella tidak mengerti dengan tulisannya tapi Ia senang karena melihat ada orang di dalam air itu lengkap dengan alat-alat menyelam yang dikenakannya.


"Kamu tertawa begitu memang mengerti?" tanya Andrean yang merasa lucu dengan tingkah adiknya. Bukan hanya tertawa, anak itu juga tersenyum malu-malu.


"Dia senang melihat orang menyelam,"


"Dia juga mau mungkin, Mom."


"Iya, itu pasti. Tadi saja marah karena diajak keluar dari kolam renang,"


Mereka tidak hanya makan berdua. Yang menjaga mereka juga makan tetapi di meja yang berbeda.


Lovi meminta bantuan pada Serry, perawat Auristella untuk mengeluarkan vitamin Auristella. Usai makan, biasanya anak itu akan menenggak vitamin.


"Hey jangan dibuka begitu. Gunanya supaya bajumu tidak kotor. Baru ganti baju tadi,"


Auristella tetap menarik kain yang menutupi kerah bajunya, Ia merasa risih karena ada itu. Padahal gunanya Ia mengenakan itu agar baju nya yang mahal tapi bermodel sederhana itu tidak kotor.


"Makanya kalau beli baju jangan yang mahal-mahal, Mom. Jadi meskipun kotor atau rusak tidak begitu rugi,"


"Kalau untuk anak harus yang terbaik,"


"Kalau untuk Mommy?"


"Yang kualitas rendah juga tidak apa. Yang penting anak,"


"Tapi Daddy tidak setuju dengan pendapat Mommy,"


"Daddy mu memang hobi menghabiskan uang. Suka sekali membelikan baju mahal untuk Mommy, padahal jarang dipakai. Mommy 'kan jarang beraktifitas di luar, hanya di sekitar mansion saja. Daddy tidak sayang uang,"


"Daddy lebih sayang Mommy," sahut Andrean membuat Lovi tersenyum. "Ah ternyata kamu sudah bisa mewakilkan Daddy untuk berbicara yang manis-manis,"


Lovi terkejut saja saat anaknya yang pendiam bicara begitu. Biasanya Andrean jarang menyahuti. Mungkin karena saat ini Lovi tidak ada teman bicara jadi Andrean sedang menjadi teman bicara untuk Mommy nya, tidak lebih banyak diam.


*****


Adrian dan Devan sudah tiba di hotel doggy. Adrian langsung minta memelihara hewan berkaki empat itu. Tapi Devan tidak mengizinkan karena sudah ada kelinci, burung, dan ikan yang dipelihara Adrian. Mereka saja sudah jarang diurus oleh Adrian dan Andrean. Ada orang yang ditugaskan untuk mengurus, karena Andrean dan Adrian hanya semangat mengurus saat awal-awal memelihara saja.


"Kamu berani memberikannya makan?"


"Tidak,"

__ADS_1


"Bagaimana mau pelihara? disuruh beri makanan saja tidak berani,"


"Dia melotot padaku, Dad."


Salah seorang perempuan yang mengurus doggy di sana sedang memberikan makanan untuk doggy. Devan melihat anaknya yang sangat penasaran tapi giliran ditawari untuk memberi makan dia menolak. Malah mengatakan seekor doggy yang sedang diberi makan tengah melototi dirinya.


"Ini usia berapa?"


"Satu tahun,"


"Woahh besar sekali badannya,"


"Terlihat dari nafsu makannya, pantas saja dia gemuk."


Doggy yang ditunjuk Adrian tampak menggonggong dan Adrian terkejut. Ia segera bersembunyi dibalik tubuh sang ayah.


"Ayo, kita lihat-lihat yang lain lagi, setelah itu pulang. Mommy mengabari sudah dalam perjalanan menuju mansion,"


Adrian mengangguk dan berjalan bersama Devan menelusuri tempat yang diberi nama hotel doggy itu. Banyak sekali macam-macam doggy. Tempat itu seperti hotel sungguhan. Ada kamar tidur, kolam renang, tempat perawatan tubuh, tempat bermain, dan lain-lain.


"Dad, serius tidak boleh pelihara doggy?"


"Tidak boleh, lagipula doggy yang di sini tidak untuk dijual,"


"Ada yang dijual juga, Tuan." sahut salah satu pengurus yang sedari tadi membimbing Devan dan Adrian untuk menjelajahi hotel doggy itu, layaknya tour guide.


"Itu ada yang dijual katanya, Dad."


Devan menggeleng tetap bertahan pada larangannya agar Adrian tidak menambah hewan peliharaan.


"Mommy takut dengan doggy,"


"Tidak, siapa bilang? Mommy itu pemberani, tidak ada takut,"


"Dengan robot besar mu saja Mommy takut,"


"Karena itu besar. Kalau yang menggemaskan seperti doggy mungkin Mommy tidak takut,"


Adrian masih saja mencari alasan yang mendukung agar Devan mengizinkannya. Ia menggunakan Lovi sebagai senjata karena biasanya apapun yang berkaitan dengan Lovi selagi itu baik, akan dipenuhi oleh Devan.


"Woahh ada yang berenang,"


"Kamu mau ikut berenang dengan mereka?"


Adrian melepas tautan tangan mereka dengan kesal. Devan tahu kalau dia sebenarnya takut dengan doggy. Tapi yang membuat Devan tak habis pikir, anaknya itu tetap saja mau pelihara.


"Aku sebenarnya tidak takut, tapi belum berani saja,"


"Apa bedanya?"


"Berbeda, Daddy. Menurutku berbeda,"


"Ya ya ya, terserah padamu,"


Mereka terus melihat semua kegiatan di hotel doggy itu. Sampai kaki Devan lelah, anaknya belum minta pulang. Ia tetap mengikuti kemanapun anaknya melangkah.


Devan sangat jarang memiliki waktu bersama anak, paling dalam seminggu hanya hari Minggu saja Ia bisa berkumpul dengan istri dan anak-anaknya, oleh sebab itu setiap mereka menginginkan pergi ke suatu tempat, sebisa mungkin Ia penuhi sebagai bentuk quality time bersama keluarga kecilnya.


Semalam Adrian minta diantar olehnya untuk berkuda, tanpa pikir panjang Devan mengangguk. Tadi Adrian minta singgah di hotel doggy, Ia juga langsung setuju.


*****


Lovi dan kedua anaknya sudah tiba di mansion sementara Devan dan Adrian belum. Andrean dan Auristella tertidur tapi begitu mobil mendarat, Andrean membuka matanya sementara sang adik tetap nyaman dalam tidurnya.


Andrean melindungi kepala Lovi saat akan keluar dari mobil seraya menggendong Auristella.


"Terima kasih, Sayangku."


"Ya, Mom."


Kalau sudah diperlakukan seperti itu, Lovi merasa anaknya semakin dewasa. Antara senang dan sedih ketika mengetahui fakta itu. Anaknya semakin dewasa maka Ia akan kehilangan momen masa kecil mereka.


"Akhirnya datang juga. Mama sudah rindu dengan si princess,"


"Auris tidur, Ma."


"Oh tidur ternyata," Senata langsung memelankan suaranya. Ia tidak tahu kalau yang dinantikan sejak tadi sudah terlelap.


"Aku ke kamar dulu, Ma."


Rena mengangguk dan menyambut cucu sulungnya. "Sepertinya melelahkan sekali jalan-jalan kali ini,"


"Tidak lelah, Grandma. Hanya saja aku mengantuk,"


"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Tapi sudah makan?"


"Sudah, Grandma."


Andrean memasuki kamarnya kemudian membersihkan tubuhnya sebelum melanjutkan tidur.


Ia berdecak begitu melihat tempat tidur kembarannya berantakan padahal setiap pagi sudah dibereskan oleh maid.


"Suka sekali memberantaki tempat tidur padahal tidak habis digunakan untuk tidur. Mainan berserakan. Seharusnya kalau bermain bukan di tempat tidur," Andrean hanya bisa membatin.


Ia yang melihatnya saja risih, sementara Adrian yang punya tempat tidur itu terlihat biasa saja buktinya hampir setiap hari dia berantaki ranjangnya sendiri.


Sudah disediakan ruang bermain, dia malah bermain di atas ranjang. Benar-benar sembarangan sekali perilaku nya.


Andrean membereskan tempat tidur adiknya itu. Kalau Ia sedang ingin, maka akan Ia bantu bereskan. Tapi kalau Ia sedang malas seperti yang punya ranjang itu, maka Ia biarkan saja tetap berantakan.


*****


"Bye, Oksu. Baik-baik ya di sini. Saat aku kembali, jangan marah-marah lagi,"


Setelah ke hotel doggy, Adrian minta ke tempat tinggal kudanya. Ia ingin memberi makan Oksu, kuda kesayangannya.


Setelah Oksu kenyang, barulah Adrian akan pulang. "Minumnya habis,"


Adrian memberi tahu penjaga kudanya agar minum Oksu diisi lagi karena sudah habis. Adrian kembali memperhatikan kuda mahalnya itu.


"Kamu hobi minum ya? seharusnya hobi makan, biar gemuk. Kalau terlalu banyak minum, perutmu seperti balon air nanti,"


Mendengar anaknya mulai bicara melantur, Devan segera menarik tangan Adrian untuk segera meninggalkan kandang Oksu. Mendengar Adrian selesai bicara, mereka tidak kunjung pulang nanti.


"Sampai mulutmu berbuih, Oksu tidak akan paham apa yang kamu bicarakan,"


"Dia paham, tadi aku nyanyikan saja dia senang,"


Devan menatap anaknya dengan pandangan aneh. Adrian membalas tatapan Devan dengan cara mendongakkan kepala karena Devan jauh lebih tinggi darinya.


"Darimana kamu tahu kalau dia senang?" tanya Devan penasaran.


"Dia lompat-lompat lalu teriak 'iha iha',"


"Dia menikmati lagu yang aku nyanyikan, Dad." lanjutnya.


"Iya, Adrian. Terserah mau bicara apa. Tapi sekarang kita harus pulang ya. Mendengar kamu selesai bicara bisa-bisa tahun depan baru sampai di mansion,"


 


Ini part nya Auris. Yg kemaren kangen, emg sengaja aku simpen dulu si geulis. Maaciw buat dukungan kalian. Wufyu semuanyaaa❤️🤗

__ADS_1


__ADS_2