My Cruel Husband

My Cruel Husband
Aunty jahat calon klien Mommy


__ADS_3

"Oh My God,"


Lovi terkejut saat melihat putrinya yang sedang disuapi oleh Andrean dalam kondisi tubuh yang dipenuhi warna-warni seperti pelangi. Bedanya media kali ini bukan langit tetapi manusia kecil.


"Mommy!"


"Wow! kamu sudah bisa memanggil Mommy dengan lengkap? tidak 'My' lagi?"


Lovi terkekeh gemas dan senang. Saat Ia menemukan perkembangan yang baru lagi dari anaknya.


Ia segera menghampiri Auristella dan Andrean. Ia duduk di bawah sementara kedua anaknya duduk di atas kursi kecil milik Auristella yang jumlahnya banyak itu.


Melihat Lovi duduk di bawah, mereka pun mengikuti. Tepatnya Andrean yang lebih dulu pindah karena Ia pernah mendengar Adrian ditegur oleh Devan saat Lovi sedang merajut di atas permadani, Adrian mengajak Lovi bicara tetapi posisi duduknya berada di atas sofa yang berhadapan langsung dengan Lovi. Devan yang melihatnya langsung mengambil tindakan tegas agar anaknya tidak kebiasaan.


Auristella sekarang mengikuti sikap kakaknya dan itu membuat Lovi tersenyum. "Makan apa itu? hamburger?"


"Iya, aku buatkan ini untuk Auris," jawab Andrean mewakili adiknya.


"Wow, jadi ini hasil karyamu di sekolah tadi?"


Andrean mengangguk cepat lalu Ia menatap Lovi, "Bagus tidak, Mom?"


Andrean menunjukkan satu hamburger yang belum dimakan oleh Auristella pada Lovi. Dan Lovi segera mengangguk. "Bagus, Buat Mommy satu ya?"


"Iya, boleh. Tapi Daddy tidak kebagian,"


"Mommy saja, Daddy tidak usah."


*********


Devan menghampiri anak keduanya yang sore ini ikut serta untuk mencuci mobil bersama supir pribadinya.


"Sudah ada yang mencuci, kamu tidak perlu---"


"Adrian mau cuci sendiri,"


"Bilang saja kalau kamu suka bermain air," kata Devan yang tak sepenuhnya percaya kalau anaknya memang niat membantu.


"Huh? Adrian sering mencuci mobil sendiri. Bukan karena suka bermain air---"


"Lalu karena apa? seharusnya tidak perlu cuci mobil sendiri, sudah ada yang melakukannya,"


"Suka-suka Adrian, Dad." imbuh anak itu. Kini Adrian tengah memberikan sabun untuk membersihkan mobil yang sering digunakan oleh supir untuk mengantar jemput dirinya bila Devan tak bisa melakukannya.


Devan menggeleng pelan melihat anaknya yang begitu semangat. Ia memilih duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari Adrian, Ia akan memantau anak itu. Adrian benar-benar ingin membantu atau hanya mengganggu supirnya.


"Uncle Reno, aku saja yang menyikat itu," seru Adrian pada Reno saat Ia melihat supirnya itu akan menyikat karpet mobil.


"Jangan, Tuan kecil. Ini saya yang kerjakan. Tuan kecil siram itu saja,"


"Tidak mau,"


"Kemarikan sikatnya,"


Ia belum selesai menyiram dan sekarang ditinggalkannya pekerjaan itu. Devan yang melihatnya segera menegur, "Itu diselesaikan dulu. Bilas sampai bersih baru kerjakan yang lain,"


"Tidak mau, Adrian mau menyikat saja,"


Reno segera menuruti keinginan anak boss-nya itu. Diserahkannya sikat dan karpet mobil yang sedang dibersihkannya kepada Adrian dan disambut senang oleh Adrian.


Reno yang melanjutkan kegiatan Adrian tadi sementara Adrian menyikat dengan tenaga yang luar biasa.


Auristella keluar bersama Andrean dan perawatnya untuk menghampiri Devan yang sedari tadi dicari-cari oleh Auristella.


"Apa, Sayang?"


Devan menerima uluran tangan Auristella yang meminta digendong. Ia segera mencium pipi Auristella yang sangat harum.


"Sudah mandi ya?"


"Andrean belum mandi?"


"Nanti malam, Dad."


"Kenapa malam? nanti kedinginan. Mommy bisa marah juga,"


"Nanti aku adui ke Mommy. Kamu melawan ya?! Jangan mandi malam-malam. Keluarga kita sudah terbiasa mandi sore. Kamu ikut kebiasaan dari siapa?"


"Daripada berisik, lebih baik bersihkan mobil dengan benar," gerutu Andrean yang malas meladeni Adrian yang ikut campur.

__ADS_1


*******


Andrean dan Auristella tengah bermain rumah susun di ruang keluarga. Auristella senang sekali ketika melihat kakaknya mulai merancang dan Ia langsung mengikuti walaupun hanya bisa mengganggu konsentrasi Andrean yang begitu menyukai permainan seperti ini.


Adrian hanya memperhatikan dari jauh "Mom, aku mau sereal,


"Ya, tunggu sebentar,"


Devan, Lovi, dan Adrian menonton sebuah film di televisi. Lovi tidak menunggu film selesai, Ia langsung membuatkan anaknya sereal.


"Andrean mau sereal juga?"


"Tidak, Mom."


"Auris mau?"


Auristella menggeleng tanpa menoleh. Ia tetap sibuk dengan rumah-rumahannya. "Itu atap, Auris. Jangan di bawah."


"Ya," ujarnya menuruti sang kakak. Segera Ia meletakkan bagian yang dimaksud kakaknya di posisi yang benar.


Adrian lama-lama bosan menonton. Devan tak mengajaknya bicara sama sekali karena terlalu fokus menonton.


Sehingga Adrian mendekati kakak dan adiknya. Ia duduk di samping Auristella. "Aku bantu ya?" tanya nya dengan lembut membuat Andrean memicing ke arahnya. Merasa dicurigai, Ia mendengus.


"Apa?! aku hanya ingin membantu,"


"Tidak perlu, aku dan Auris bisa menyelesaikannya,"


Andrean bahkan sudah lebih cepat merancangnya. Hanya saja Ia ingin adiknya belajar. Jadi Ia membiarkan Auristella yang lebih banyak berperan.


Adrian hanya ingin ikut bermain, tapi sepertinya Ia ditolak mentah-mentah. Karena kesal tidak diizinkan main bersama, Ia menyembunyikan salah satu bagian rumah-rumahan tanpa sepengetahuan Auristella dan Andrean di dalam bajunya, lalu tangannya segera keluar.


Devan sadar anaknya yang tadi berada di sampingnya sekarang tidak ada. Matanya mencari-cari dan ternyata Adrian sedang bergabung bersama Andrean dan Auristella.


"Adrian, kamu di sini saja. Temani Daddy menonton,"


"Tidak mau, bosan." jawabnya ringan.


"Kamu jangan buat ulah di sana ya. Awas saja kalau Auris menangis. Daddy lagi menonton ini. Jangan sampai diganggu dengan keributan,"


"Iya,"


Adrian tersentak saat Lovi memanggil dari dapur.


"Iya, Mom?"


"Mau sereal apa? ke sini dulu,"


"Mau--" Ia bangkit dan lupa kalau sedang menyembunyikan sesuatu di dalam bajunya. Andrean yang sedang mencari-cari pun menoleh karena bunyi nyaring yang baru saja ditimbulkan Adrian.


"Ups!" tanpa rasa bersalah Ia berlari ke dapur, mengabaikan Andrean yang menggeram. Beruntungnya baru Andrean yang sadar kalau ada bagian rumah-rumahan yang hilang.


"Ini yang kamu cari?" tanya Andrean pada adiknya yang memutar matanya seraya memberantaki semuanya.


"Bukan aku yang sembunyikan!" Andrean meraup pelan wajah Auristella yang menatapnya dengan sinis. Pasti Ia mengira kalau Andrean yang menyembunyikan mainannya sampai Ia harus mencari-cari.


"Mau yang cokelat, Mom."


"Kenapa berlari seperti itu?"


"Hanya ingin berolahraga,"


"Tidak mungkin, pasti habis menjahili Auris 'kan?"


**********


Di akhir pekan, Adrian ikut Lovi ke butik. Boss kecil itu begitu senang ketika diperbolehkan oleh Mommy-nya ikut serta mengunjungi butik. Mereka hanya berdua sementara Devan, Andrean, dan Auristella berada di mansion.


Sementara Lovi bekerja, Ia sibuk dengan mainannya yang sengaja dibawa Lovi agar anaknya tidak kebosanan dan mengganggu kesibukannya.


"Adrian, sudah makan belum?" sapa Irene saat Adrian keluar dari ruangan Lovi.


"Sudah, Aunty. Aku bawa bekal,"


Anak itu duduk di tempat banyaknya manekin dipajang. Ia memperhatikan satu persatu.


"Wow ke sini saja bawa bekal?"


"Iya, biar kalau lapar langsung makan, tidak perlu cari-cari kata Mommy,"

__ADS_1


Irene mengajak anak itu bicara disela kegiatannya. "Aku punya robot yang jauh lebih besar daripada ini semua," Adrian bercerita dengan antusias.


"Oh ya? sebesar apa?"


"Aku tidak bisa jelaskan sebesar apa. Pokonya besar sekali sampai Mommy dan Auris tidak mau melihatnya,"


"Memang kenapa Mommy tidak mau lihat?"


"Mungkin terlalu besar jadi menyeramkan,"


Irene terkekeh geli, tak lama masuklah seorang perempuan ke dalam butik. Belum ada yang mengenali. Tetapi setelah perempuan itu membuka maskernya, Adrian langsung cepat mengingat siapa tamu itu.


"Aunty jahat," gumamnya.


"Sstt Adrian," Irene menegur anak boss-nya itu. Tidak ada angin dan tidak ada hujan Adrian mengatakan kliennya jahat. Takutnya Ia tersinggung.


Adrian segera masuk ke dalam ruangan Lovi lagi. Ia terkejut saat bertemu Elea, yang pernah membentaknya di pusat perbelanjaan saat Ia dan Andrean pergi bersama kedua neneknya.


"Silahkan duduk, Nona." Irene menyambut Elea dengan hangat.


"Dimana pemilik butik ini?"


"Ada perlu apa, Nona? barangkali saya bisa membantu,"


"Aku akan menggunakan hasil rancangannya untuk acara pernikahanku nanti,"


Elea sedikit memaksa sehingga mau tidak mau Irene harus memanggil Lovi. Sementara Lovi sedang sibuk menenangkan anaknya yang datang-datang langsung berseru "Ada Aunty jahat di luar, Mom."


"Siapa?" Lovi lupa dengan sosok yang disebut 'Aunty jahat' oleh anaknya.


"Pokoknya dia Aunty jahat,"


"Ya, sudah kamu tenang dulu. Seperti habis melihat makhluk halus saja,"


"Dia lebih menyeramkan daripada hantu, Mom."


Irene mengetuk pintu ruangan Lovi. Dan langsung masuk begitu Lovi menyahuti dari dalam.


"Nona, ada yang ingin bertemu,"


"Siapa, Irene?"


"Calon klien sepertinya, Nona."


"Baiklah, tunggu sebentar,"


Irene keluar sementara Lovi menatap anaknya yang duduk di sofa. "Mommy keluar dulu ya? kamu diam di sini saja,"


"Iya, lagi pula aku tidak mau keluar kalau ada Aunty jahat. Nanti dimarahi lagi. Hih!"


Lovi menggeleng pelan saat anaknya berdecih sendiri. Sepertinya Adrian kesal sekali dengan Aunty jahat.


Saat Lovi melihat Elea, Ia mengerinyit bingung namun tak urung tetap mendekati karena Elea menyapanya dengan senyum.


"Hai, Lovi. Kita berjumpa lagi,"


"Hai Elea, ada apa datang ke sini?"


"Tentu saja menginginkan rancangan yang kamu buat,"


"Oh, untuk acara apa?"


"Pernikahanku,"


Mendengar itu, Lovi tak bisa menahan senyumnya. Jujur, ada rasa lega di hatinya saat mendengar kabar itu.


"Aku turut bahagia mendengarnya. Semoga lancar sampai hari itu tiba,"


"Terima kasih, jangan lupa datang. Bawa suami dan anak-anakmu."


"Tentu saja kami akan datang,"


Ikut larut dalam kebahagiaan, apa salahnya? Ia rasa semuanya juga sudah baik-baik saja.


"Tadi itu anakmu ya?"


"Ya,"


"Kenapa dia menghindar saat aku datang?"

__ADS_1


"Tidak apa, dia memang akan seperti itu pada orang yang punya kesan buruk terhadapnya,"


__ADS_2