My Cruel Husband

My Cruel Husband
Terimakasih, Serry.


__ADS_3

"Suhu tubuh mereka sudah menurun. Kalau kejang lagi, segera panggil aku. Lidah mereka sudah bisa ditangani oleh perawat. Jangan khawatir lagi, Nyonya."


Lovi mengalihkan tatapannya pada Andrean dan Adrian yang masih berbaring. Dua perawat telah melakukan tugasnya dengan baik. Lidah Andrean dan Adrian terluka karena mereka tidak sengaja menggigitnya ketika kejang. Darah yang keluar dari mulut mereka tidak sedikit, hal itu juga yang membuat Lovi seperti orang gila ketika memasuki area rumah sakit.


Ibu dua anak itu tampak tidak sabaran memanggil staf rumah sakit agar dengan cepat menangani anak-anaknya.


Setelah dokter dan dua perawat pergi, Lovi kembali duduk di samping ranjang Rumah sakit milik Andrean dan Adrian yang ukurannya sangat besar.


Serry pun termenung di sofa. Ia tidak tega melihat majikannya sedih seperti itu. Mata Lovi tak lepas memandangi kedua putranya.


Serry tahu bagaimana perasaan seorang Ibu ketika anak-anak mereka dalam kondisi tidak baik.


"Nona tetap ingin membawa mereka pulang?"


Tanpa mengalihkan perhatiannya, Lovi menjawab dengan sangat pelan. Perempuan itu terlihat kehilangan arah.


"Tidak mungkin, Serry. Aku akan gila kalau sampai mereka semakin parah ketika dirawat di rumah,"


Serry mengangguk setuju. Menurutnya itu adalah pilihan terbaik. Dan siapapun perempuan yang telah menjadi Ibu, akan melakukan hal yang sama dengan Lovi. Mungkin jika kondisi anak-anaknya tidak parah, Lovi akan mempertimbangkan hal tersebut.


Namun ketika sampai di Rumah sakit, Andrean dan Adrian menunjukkan kondisi kesehatan yang sangat memburuk. Suhu tubuh mereka sangat tinggi, mereka juga mengalami kejang hingga tanpa sadar menggigit lidah mereka sendiri.


Lovi merasa bodoh saat ucapan dokter kembali terngiang di telinganya.

__ADS_1


"Seharusnya Nona sudah mempersiapkan barang apapun yang bisa digigit oleh mereka agar bukan lidah yang menjadi korban. Nona bisa menggunakan baju, atau sendok pun tidak masalah,"


Lovi tidak tahu kalau itu semua bisa sedikit menyelamatkan anak-anaknya. Ia tidak pernah berada dalam kondisi seperti ini. Jalan pikirannya tertutup seketika saat mendapati Andrean dan Adiknya kejang-kejang di dalam mobil. Tidak ada apapun yang dibawanya sebagai persiapan awal.


Sekarang Ia hanya bisa menyesali semuanya. Lidah kedua anaknya terluka hingga darahnya sulit untuk dihentikan. Perawat harus memutar otak lebih keras agar keadaan mereka semakin membaik.


"Pengalaman pertamaku, Nona."


Lovi menoleh saat Serry kembali berbicara.


"Aku harus lebih belajar lagi dalam hal mengurus anak, Serry. Sekarang aku merasa gagal,"


Serry menatap Lovi dalam diam. Tidak ada kata 'gagal' bagi seorang Ibu dalam menunjukkan rasa cinta pada anaknya.


Lovi terlihat sangat depresi. Air matanya tak kunjung habis. Rasa sesal pun tak henti menikam jantungnya.


"Nona adalah Ibu terbaik untuk mereka. Aku dengar, kejang seperti ini memang sering dialami anak-anak dibawah usia lima tahun terutama ketika mereka sedang demam tinggi,"


"Ya, dulu aku juga mengalaminya. Tapi aku tidak sampai menggigit lidah hingga berdarah," Lovi kembali terisak. Ia menutup mulutnya serapat mungkin agar tidak mengganggu siapapun yang berada di sana tak terkecuali kedua anaknya.


"Nona mengingat kejadian saat itu?"


"Ibuku sama paniknya. Dia membawa aku ke rumah sakit tanpa Ayahku. Sama seperti ini kejadiannya. Devan tidak ada di sampingku,"

__ADS_1


Sekejam apapun Senata, dia tetaplah seorang malaikat untuk Lovi. Ketika ayahnya tidak berada di rumah saat itu, Senata dengan sepenuh hati membawanya ke rumah sakit ditengah rasa panik yang mendera. Perasaan cemas tak menghalangi Ia dalam bertindak, melakukan yang terbaik untuk Lovi, putri tunggalnya.


"Maaf, Nona bila aku lancang. Apa tidak sebaiknya Nona menghubungi Tuan? Ia juga berhak tahu bagaimana kondisi anaknya,"


Lovi mengusap bulir air di sudut matanya. Ia menghela napas kasar sebelum menggeleng.


"Kami sama-sama perlu waktu untuk menyendiri, Serry. Aku akan diam di sini sampai kondisi mereka baik-baik saja,"


"Tuan akan pulang ke rumah lalu bertanya pada semua pelayan mengenai keberadaan Nona, Tuan kecil Andrean dan Adrian."


"Kalau memang dia bertanya, maka jawab dengan jujur. Tapi aku rasa, dia tidak akan pulang." Ujar Lovi dengan senyum getirnya. Prahara rumah tangga mereka pasti menjadikan Devan keras kepala kali ini. Lelaki itu akan bertahan dengan ego yang dimilikinya sampai Lovi yang lebih dulu memulai interaksi diantara mereka.


"Baik, Nona. Ketika aku pulang nanti, aku akan sampaikan itu semua pada pelayan yang menjaga rumah. Karena aku tidak akan berada di rumah,"


Lovi mengerinyit, dan Ia tersenyum lembut ketika mengetahui tujuan Serry.


"Kamu tidak perlu menghabiskan waktu di sini,"


"Tidak, Nona. Aku akan menemani Nona dalam menghadapi masa-masa sulit seperti ini."


Kalimat yang mampu menyentuh hati Lovi hingga Ia tersenyum lantas memeluk tubuh Serry.


"Terimakasih, temanku."

__ADS_1


__ADS_2