My Cruel Husband

My Cruel Husband
Korban Adrian selanjutnya


__ADS_3

"Auris takut dengan ini tidak?"


Auris langsung menangis kencang saat Adrian dengan jahilnya mendekatkan binatang yang merayap di dinding pada anak perempuan itu.


Adrian diberi tugas oleh Lovi untuk menjaga adiknya. Karena Andrean sedang mengerjakan tugas. Anak itu sangat berbeda dengan adiknya yang sekali atau dua kali mencoba sudah menyerah. Biasanya setelah itu Ia tinggal menyalin milik Andrean.


Ketika dibilang malas dan tidak bisa oleh Devan, Anak itu akan menjawab "Adrian bukan malas atau tidak bisa. Tapi itu terlalu mudah untuk Adrian. Adrian butuh yang sulit dan menantang. Kalau yang mudah itu bagian Andrean,"


Kalau Devan biasanya hanya diam saja setelah dibalas telak oleh anaknya itu. Berbeda dengan Lovi yang langsung menjawab dengan tegas,"Tidak boleh mengandalkan kakak terus-menerus. Kalau kamu bisa, coba tunjukkan! jangan menjadi anak malas, Sayang. Kamu mau jadi apa nanti?"


"Kalau dari lahir sudah jadi manusia ya sampai kapanpun jadi manusia, Mom."


Huh! Lovi harus apa? ingin sekali memberikan mulut kecil itu dengan cabai yang sangat pedas agar Ia jera dan tidak lagi mengeluarkan kalimat yang membuat orang lain kesal. Namun Lovi masih waras.


Lovi yang sedang menyiapkan makanan untuk Auris di dapur langsung menghampiri ruang tengah dimana putrinya itu sedang menangis. Dan Ia tahu siapa penyebabnya.


"Apa yang kamu lakukan, Adrian? kenapa Auris menangis?"


"Aku tidak tahu. Jangan tanya aku, Mommy."


Lovi menggeram kesal. Ia segera membawa Auris dalam gendongan lalu menimangnya. Ia menatap Adrian dengan pandangan memicing.


"Itu yang kamu sembunyikan di belakang apa?"


Adrian langsung gugup. Namun memasang wajah setenang mungkin agar kejahilannya tidak diketahui Lovi.


"Bukan apa-apa. Adrian hanya ingin berbaris dengan rapi, jadi tangannya harus di belakang,"


Devan dan Raihan baru saja tiba setelah satu jam lebih berlari pagi di sekitar mansion. Sudah lama mereka tidak melakukan itu. Bahkan untuk melakukan gym saja Devan tidak ada waktu. Sebelum memiliki anak, Ia sangat rajin. Sekarang bila ada waktu luang sedikit, Devan akan menggunakannya sebaik mungkin dengan mengajak anak-anaknya bermain sampai lupa dengan tubuhnya sendiri.


"Adrian, kenapa kamu pegang cicak?"


"DADDY!"

__ADS_1


Adrian tersenyum miring sehingga Adrian benar-benar kesal. Devan sengaja mengatakan itu agar Lovi tahu kelakuan anak laki-laki bungsunya. Beruntung Ia sempat melihat itu saat tadi masih berada di belakang Adrian.


Begitu sampai di dekat Adrian, Raihan menatap cucunya itu dengan datar. Berbeda dengan Devan yang justru kesenangan karena berhasil membuat Adrian semakin disudutkan oleh Mommy-nya sendiri dan Kakeknya.


"Pantas saja Auris menangis. Kamu itu kenapa jahil sekali sih? kasihan adikmu,"


"Adrian hanya menunjukkan ini pada Auris. Barang kali dia juga suka sama seperti Adrian,"


"Ya Tuhan, anak ini." Raihan berujar dengan gemas. Ingin sekali memarahi tapi Ia tidak kuasa untuk melakukannya. Lagi pula ini belum seberapa. Tidak lebih parah dari apa yang dilakukannya semalam dimana Adrian hampir menggendong Auris dengan lancang. bukan hanya Adrian yang dimarahi oleh Raihan. Devan dan Lovi pun mendapat semburan lahar panas dari Raihan. Raihan menganggap mereka lalai dalam menjaga Auris sehingga Adrian bisa melakukan sesuatu dengan bebas. Beruntung tubuh Auris belum diangkat oleh kakaknya itu. Sangat bahaya bila itu sampai terjadi. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan Auris alami. Mengingat tujuan Adrian bukan hanya untuk menggendong tapi bisa jadi adiknya itu dijadikan robot yang bisa diperlakukan semaunya.


*****


"Daddy lupa ingatan ya?!"


"Sembarangan kalau bicara,"


"Lalu kenapa lupa menjemput Adrian?! sudah ditunggu lama, malah tidak datang-datang,"


Beruntung Raihan belum sampai. Sehingga Devan tidak diejeknya seperti tadi saat Raihan mengunjungi kantornya dan mengatakan kalau kedua anaknya sudah sampai di rumah tanpa Ia yang menjemput.


"Beruntung ada Uncle yang baik hati,"


Devan mendengus saat anaknya memuji orang lain. Ia tahu betul siapa yang dimaksud anaknya itu.


Devan segera menghampiri istrinya yang tengah memberi susu dalam botol untuk putri mereka. Sejak kemarin Auris harus mengonsumsi susu formula karena susu dari Lovi tidak mencukupi.


"Makannya lahap sekali anak Daddy yang cantik ini,"


Adrian merasa diacuhkan. Sehingga dengan kesal Ia menghampiri Devan lalu menarik jas Daddy-nya itu.


"Daddy, Adrian sedang kesal ini. Kenapa malah tidak didengarkan?!"


"Kalau mau marah silahkan. Daddy dengarkan,"

__ADS_1


Adrian baru ingat sesuatu. Sehingga Ia menghembuskan napasnya, sabar. Ia hanya bisa menunjukkan rasa kesalnya melalui raut wajah. Tidak bisa berkutik.


"Tidak jadi marah. Karena sebentar lagi hari libur, takutnya Daddy tidak mau ajak Adrian jalan-jalan,"


Lovi dan suaminya terkekeh mendengar itu. Janji Devan untuk jalan-jalan atau bermain, dan minum es krim memang akan selalu melekat di otak Adrian. Anak itu tidak mungkin lupa.


Devan menarik Adrian untuk duduk di pangkuannya setelah Ia bersandar di sofa. Posisinya berdampingan dengan Lovi.


"Andrean, tidak menyambut Daddy?"


merasa namanya dipanggil, Andrean langsung menghampiri Devan, meninggalkan kegiatan menggambarnya. Ia menerima pelukan lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


"Kamu tidak menyapaku?" Lovi menoleh dan tersenyum pada Devan. Suaminya terkekeh pelan lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Aku menyapa kamu kalau sudah di kamar saja,"


Lovi segera memukul paha suaminya yang baru saja mengerlingkan matanya. Ia melirik Adrian dan Andrean yang memasang raut aneh menatap kedua orangtuanya.


Adrian memiting telinga Devan. Tidak kencang namun berhasil membuat Devan kesal.


"Tidak boleh kedip mata seperti itu pada Mommy! menjijikan tahu tidak?"


---------


WHY, NILLAKU, dan SHEVANO udh up jg yaaa. Silahkan dicek :) TINGGALKAN JEJAK DI SINI, DAN SEMUA CERITAKU YAAA. Terima kasih untuk like dan voment nyaaaa





__ADS_1


__ADS_2