
Elea duduk dengan tenang bergabung bersama Devan dan teman-temannya. Ia mendominasi pembicaraan, sementara Devan lebih banyak diam seraya melihat ponselnya berkali-kali. Ia berharap ada pesan atau panggilan masuk dari Lovi.
Mendadak perasaannya tidak tenang. Ketika Ia melihat terakhir kali Lovi membuka aplikasi chatting, Ia mengerinyit bingung.
Sebenarnya apa yang dilakukan perempuan itu sampai tidak sempat memberinya kabar? Minimal mengirimkan satu pesan singkat, itu sudah cukup untuk seorang Devan yang egois ini.
Kalau Lovi mengharapkan Devan yang menghubunginya lebih dulu, maka semua itu hanya tinggal angan. Sampai kapanpun Devan tidak akan menurunkan egonya.
"Diam saja kau? apa yang dilihat dari ponsel? ada yang lebih menarik dari masa lalu?"
Kevin yang selama ini dikenal sebagai sosok pendiam, tiba-tiba berubah menjadi orang kurang ajar yang dengan berani berbicara seperti itu pada Devan.
"Tentu saja ada. Kabar dari Istriku lebih menarik untuk diperhatikan,"
Elea tersenyum miring, membalas tatapan tajam Devan yang menghunus dirinya.
"Seseorang yang hampir menjadi pembunuh tidak pantas berada di tengah-tengah kita,"
Semuanya tidak mengerti dengan ucapan Devan. Terlalu banyak mengandung makna. Siapa yang menjadi pembunuh? Devan? dia pun sudah banyak menghabisi nyawa orang. Elea? mungkin saja, karena Devan terlihat begitu mengintimidasi Elea melalui matanya. Kalaupun memang Elea, kapan perempuan itu melakukannya? apa tujuan yang dijadikan landasan? bagaimana mungkin seorang gadis yang mereka anggap sebagai malaikat, bisa menjadi seorang pembunuh? Lagipula siapa yang hampir dibunuh oleh Elea?
"Lebih baik kau pulang, Devan. Daripada bermain kucing-kucingan seperti ini dengan Lovi, ada baiknya kamu menangkap seseorang yang hampir membunuh Lovi. Kasus itu kenapa mendadak hilang? kau bodoh atau apa?!"
Rahang Devan mengeras. Dadanya dipenuhi dengan gejolak emosi.
"Tentu saja tidak, Deni. Kau tau, aku tidak akan semudah itu dalam melepaskan musuh,"
Kedua sahabat itu saling membalas sindiran yang ditunjukkan entah untuk siapa. Hanya mereka berdua yang mengetahuinya. Dan tentu saja orang yang merasa telah melakukan tindakan kejam tersebut.
__ADS_1
"Kondisi terakhir yang aku dengar, Si Tua bangka itu masih dalam perawatan intensif,"
"Kenapa tidak mati saja, ya? aku menantikan kabar bahagia itu,"
Elea menatap Deni dengan sinis. Kematian ayahnya adalah sesuatu yang tidak diinginkan olehnya. Nanti, dia tidak memiliki koneksi kuat seperti saat ini. Karena Glen telah membuat namanya bersih tanpa ada celah sedikitpun bagi pihak berwenang untuk menelusuri kasus yang pernah Ia lakukan.
Apakah kekuasaan Glen lebih menakjubkan dari Devan? tentu saja tidak. Devan hanya menantikan waktu yang tepat. Kalau Ia mau, hanya dengan satu jentikan jari, semua Informasi bisa Ia jarah tanpa ada sisa sedikitpun. Elea dan Ayahnya tidak lebih pintar dari Devan.
"Jangan, Deni! biar aku saja yang membunuhnya. Kita sama-sama mengorbankan darah. Dia telah membuang sia-sia darah Istriku yang cantik. Dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Bedanya, dia akan berakhir di dalam tanah. Sementara Lovi, berakhir bahagia dalam pelukanku,"
"Oh Shi*t! Aku merinding mendengar itu,"
Deni memang merasakannya. Ia sampai mengusap lengannya yang tiba-tiba saja merasa tak nyaman.
"Apa yang kalian bicarakan? aku tidak mengerti," Dirta bertanya dengan santai. Ia menyulut api setelah menyelipkan sebatang rokok di bibirnya.
Entah mengapa mendengar suara Kevin membuat Devan emosi. Ia masih belum lupa dengan kalimat Kevin tadi yang secara tidak langsung membuat Elea terlalu percaya diri.
Dia belum tahu saja bagaimana sifat asli Gadis bernama Elea itu. Sepertinya Kevin pun menaruh perasaan berbeda pada Elea. Tak heran, setiap Elea berbicara, Kevin selalu menanggapinya dengan manis tanpa henti.
Devan berdecih dalam hati.
'Kenapa aku bisa menyukai iblis itu? sekarang Kevin pun terjebak seperti aku. Semoga saja kau bisa sedikit lebih pintar sebelum menyesal, Kevin.'
***********
Malam ini Lovi masih berada di Rumah sakit. Ia baru saja makan di kantin, sementara Serry sudah makan lebih dulu dan kini tengah menjaga anak-anaknya.
__ADS_1
Ia mendapat telepon dari Serry yang mengatakan kalau Andrean menangis saat membuka mata tidak menemukan kehadirannya.
Oleh sebab itu, Lovi berjalan sangat cepat menyusuri koridor Rumah sakit. Berharap anak sulungnya sedikit bersabar. Terlalu khawatir pada anaknya, sampai tidak menyadari kalau seorang cleaning servis sedang mengepel lantai.
Sebuah wadah penampung yang berisi setengah air tumpah karena Lovi. Dan perempuan itu langsung tersadar akan kecerobohannya.
"Maaf aku tidak sengaja," Lovi meringis tidak enak. Lantai kembali basah padahal sebelumnya sudah dipel bersih oleh Cleaning servis itu.
Cleaning servis membuka topi yang digunakannya saat mendengar suara yang beberapa hari lalu menyapa telinganya.
"Lovi? oh kamu yang merusak hasil kerjaku?" Lelaki itu terlihat tidak serius dengan ucapannya.
"Fif-- siapa namamu? aku lupa,"
Lelaki itu menunggu Lovi yang tampak begitu lucu dimatanya ketika sedang berpikir seperti saat ini.
"Fifdy!" seru Lovi setelah Ia mengingat nama lelaki itu. Namanya sedikit sulit untuk disebut menurut Lovi.
"Iya, benar! hah! masa namaku saja kamu bisa lupa?"
Lovi terkekeh melihat lelaki itu yang mendengus.
"Maaf ya aku tidak sengaja tadi. Biar aku yang mengepel ini. Aku yang melakukannya, jadi aku harus tanggung jawab,"
Lovi telah melupakan niat awal yang ingin cepat bertemu dengan anaknya. Hatinya terlalu baik sampai-sampai lebih mementingkan pertanggung jawaban atas kesalahan yang telah Ia perbuat.
"Aku bodoh sekali ya. Sebenarnya dimana mataku ini?" gumamnya pada diri sendiri. Mungkin setelah mengingat Andrean yang menangis karena mencarinya, Lovi akan lebih mengutuk dirinya sendiri yang memang benar-benar... bodoh
__ADS_1