My Cruel Husband

My Cruel Husband
Senata


__ADS_3

Tiga pengawal yang diberi tugas oleh Devan untuk menjaga Lovi dibuat kebingungan saat tidak melihat keberadaan Lovi di kursi taman itu. Setelah menjamin tidak ada yang mencurigakan dari Reina dan suaminya, para pengawal akhirnya memilih untuk tidak mendekati Lovi dan membiarkan perempuan itu bercengkrama dengan teman barunya.


Setelah keluarga kecil Reina pergi, Lovi memanggil tiga lelaki itu untuk membelikannya ice cream. Bodohnya, tidak ada satupun dari mereka yang memilih untuk tetap tinggal menjaga Lovi.


Devan akan marah besar dengan cara kerja pengawalnya itu. Mereka tidak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam pekerjaan mereka.


"Aku tidak yakin menghubungi Tuan," ucap Lelaki berkepala licin itu pada kedua temannya. Wajahnya ketakutan dan panik.


"Kita harus melakukannya. Agar Tuan bisa membantu kita mencari Nona Lovi. Aku yakin posisi nona Lovi belum jauh dari sini,"


"Kau kira mudah menghadapinya?!"


"Tuan akan lebih marah jika kita tidak secepat mungkin memberi tahunya,"


Lelaki berkepala licin yang memang ketua dari banyaknya pengawal Devan mau tidak mau harus bertanggung jawab dalam hal ini. Ia yang harus menghubungi Devan.


"Tuan, Nona tidak ada di tempatnya," ucapnya dengan sekali tarikan napas setelah Devan menerima panggilannya.


Devan masih diam di sana. Mencerna dengan baik semua kalimat tersebut. Sementara pengawal itu sudah menantikan dengan cemas reaksi dari Devan.


" Bodoh! Sialan!! hanya menjaga satu perempuan saja kalian tidak bisa melakukannya dengan baik, "


Suara Devan menggelegar dari seberang sana hingga menusuk indera pendengaran. Mereka bisa mendengar makian itu dengan jelas. Namun tidak bisa menjawab apapun karena memang mereka salah dan bodoh. Hanya bisa saling pandang ketika Devan tak henti meluapkan emosinya.

__ADS_1


"Beri tahu aku lokasi kalian sekarang!! Aku akan mencarinya di sekitar sana, "


***************


Lovi memeluk Senata erat. Meluapkan segala kerinduannya pada Ibu kandungnya itu. Lovi bertemu Senata ketika wanita itu membeli makanan di pinggir taman. Lovi langsung menghampirinya dengan perasaan bahagia. Rasa rindunya pada Senata benar-benar menumpuk.


"Aku senang bertemu denganmu, Mama," ucapnya penuh haru setelah melepaskan pelukan mereka.


Senata hanya tersenyum. Matanya memancarkan sesuatu yang tidak Lovi sadari. Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut.


"Apa yang kamu lakukan selama ini, Lovi?"


"Aku..."


Senata menantikan jawaban Putrinya. Ia mendapat laporan dari Berry kalau Lovi sudah dibeli oleh seorang lelaki kaya raya. Melihat dari penampilan Lovi saat ini, perkataan Berry seperti benar adanya.


Senata melihat lovi yang diam dengan tangan mengusap lembut perut buncitnya. Gerak tubuh Lovi sudah menjawab pertanyaan yang sejak tadi berkeliaran di kepalanya.


Wanita itu tersenyum miring sebelum akhirnya berusaha mengalihkan karena Lovi memperhatikannya dengan wajah polos.


"Berapa usianya?"


Lovi tersenyum hangat. Senata melihat kebahagiaan di manik itu. Ia dapat merasakan euforia yang memenuhi batin Lovi. Senata mengerti bagaimana membuncahnya rasa bahagia itu ketika menantikan kehadiran buah hati.

__ADS_1


"Lima bulan," jawab Lovi.


Lovi menatap jam tangannya. Matanya memutar memperhatikan lingkungan di dalam cafe, tempatnya bersama Senata saat ini. Ia merasa telah menghabiskan waktu cukup lama di sana.


Lovi beranjak di ikuti oleh Ibunya yang berkerut bingung. Lovi terlihat tergesa ingin melakukan sesuatu namun Senata tidak mengetahuinya. Ia tidak mengetahui hal apa yang akan di terima putrinya ketika melanggar peraturan yang telah dibuat oleh Devan. Lovi sangat di larang menjauh dari pengawasan para bodyguard nya.


"Aku harus pergi sekarang,"


"Kenapa cepat sekali? bukankah kamu merindukan Mama?"


Lovi tentu saja mengangguk. Senata tidak mengetahui betapa Lovi sangat ingin selalu bersamanya. Namun peraturan tetaplah sesuatu yang harus di patuhi. Hidupnya saat ini ada di tangan Devan, suaminya.


Lovi sangat ingin berbagi kehangatan lagi di dalam keluarganya. Namun keadaan sudah berbeda. Senata yang memilih untuk meninggalkannya dalam penderitaan dibawah kungkungan Berry. Lovi sangat ingin menceritakan semua kesedihan, dan lukanya pada Senata. Mengingat wanita itu adalah sesorang yang harusnya selalu berada di samping Lovi, menggenggam jemari putrinya untuk memberi kekuatan dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Kenyataannya Senata tidak melakukan itu untuk putri semata wayangnya.


"Lain kali kita akan bertemu lagi. Suamiku akan marah jika aku pulang terlambat," ucap Lovi yang semakin gelisah.


Ponsel pemberian suaminya terus berdering di dalam tas Lovi. Namun perempuan itu tidak menyadarinya. Lovi sangat menikmati waktu kebersamaannya dengan Senata.


"Hati-hati, Lovi," Ujar Senata sebagai tanda perpisahan mereka. Matanya menatap punggung Lovi yang keluar dari area cafe dengan langkah cepat.


Ada maksud lain dari ucapan Senata yang kini tersenyum menyeramkan.


"Berhati-hati lah padaku, Sayang,"

__ADS_1


*************


maaf br sempet up awokwok. jgn lupa like, coment sama vote. OKAAYYY??


__ADS_2