My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sikap manis Adrian pada sahabat


__ADS_3

Beberapa hari Devan mendekam dalam penjara, setiap kali orangtuanya menjenguk, Devan selalu mengatakan bahwa Ia tidak bersalah. Raihan melihat keseriusan di mata putranya.


"Sampai saat ini Mama masih tidak percaya kalau Devan bisa terjerumus ke dalam dunia yang gelap,"


Raihan merangkul bahu sang istri yang nampak kacau setiap kali habis menjenguk Devan.


Saat ini mereka baru saja keluar dari tempat dihukumnya Devan. Mereka membawa makanan kesukaan Devan walaupun pada akhirnya sang anak akan mengatakan, "Aku tidak butuh semua ini. Aku hanya ingin kalian percaya padaku,"


Mengingat anaknya sering bicara seperti itu, hati Rena semakin menangis. Bukan Ia tidak percaya tapi Ia ingin membela Devan pun tidak ada buktinya.


"Sebaiknya Papa mencari tahu kebenarannya. Devan begitu yakin kalau dia tidak bersalah, Mama juga seperti itu tapi Mama tidak bisa membuktikannya. Papa bisa mencari tahunya sendiri?"


Rena memohon pada suaminya untuk mencari kebenaran. Rena menatap tempat dimana anaknya terkurung sebelum mobil mereka benar-benar meninggalkan tempat tersebut.


"Tanpa diminta pun aku sedang berusaha untuk mencari kebenaran. Aku percaya pada anakku, dan sekarang sedang mencari bukti yang bisa aku bawa ke pengadilan untuk menuntut balik orang yang telah membuat Devan seperti ini,"


Tiga hari Devan merasakan hukuman atas sebuah kesalahan yang tidak dia lakukan. Ia harus bergabung bersama para narapidana dan perilaku senioritas pun turut didapatkan oleh Devan. Di hari ke empat, Raihan berhasil mengungkap semuanya.


Begitu Raihan tahu siapa yang telah menjebak anaknya, Ia segera melaporkan balik sang pelaku yang tak lain adalah sahabat Devan sendiri.


"Kenapa kau melakukan ini pada anakku?"


Raihan sengaja menculik Arnold agar Ia bisa memberi pelajaran terlebih dahulu untuk Arnold sebelum Ia meringkus Arnold ke pihak yang berwajib.


"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin melakukannya,"


"Jangan pernah bermain-main dengan anakku, bedebah! kau melakukannya dengan orang yang salah,"


Raihan geram saat Arnold tidak mau jujur dan malah menjawabnya dengan kalimat ringan seolah Raihan tengah mengajaknya untuk berkelakar. Padahal ini perkara serius. Karena ulahnya, nama baik Devan tercemar sampai harus dikeluarkan dari universitas tempatnya menuntut ilmu. Bahkan yang mengaku teman pun ikut menjauhi Devan. Mereka tidak ada disaat Devan butuh. Hanya Deni yang setia mendampingi Devan. Selama tiga hari Devan dipenjara, Deni selalu mengunjungi Devan untuk memberi dukungan.


"Kau hanya diberi cobaan. Bersabarlah, dan jangan pernah mengeluh. Kau tidak bersalah, jangan takut akan lama berada di sini. Asal kau tahu, Devan, Papamu sedang berjuang agar kau bisa bebas. Tunggu sebentar lagi,"


Selalu kata-kata itu yang keluar dari mulut Deni untuk menghibur sahabatnya yang kacau. Devan benar-benar depresi dengan keadaannya. Tubuh yang biasa kokoh itu nampak mengurus padahal baru beberapa hari tinggal di balik jeruji besi dan sorot matanya juga terlihat sangat berbeda dari biasanya. Tak ada kemilau cahaya sama sekali dalam diri Devan. Bagaimana Raihan bisa tenang bila anaknya semakin hancur seperti itu?


"Silahkan hukum aku. Tapi jangan harap dendam ini akan padam,"


***********


"Kita harus terus sama-sama ya,"


"Memang bisa? Setiap pertemuan pasti ada perpisahan,"


"Bisa, kita harus sekolah di tempat yang sama supaya tidak berpisah,"


"Sudah-sudah, kita pindah sekolah masih beberapa bulan lagi. Kenapa sudah dibahas sekarang?"


Adrina duduk di samping Andrean. Karena hanya itu tempat yang kosong. Sementara Thalia dan Revin sudah mengambil tempat di samping Adrian.


"Kamu duduk di sini saja, jangan disana!" titah Adrian mengusir Adrina dari sisi kakaknya agar Adrina pindah di dekatnya juga seperti Thalia dan Revin.


Saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah lapangan sekolah karena ada acara camping bersama. Kegiatan malam ini adalah bernyanyi seraya menikmati hangatnya api unggun.


"Tidak mau, aku mau di sini saja."


"Kamu harus di sini! Kenapa sulit diberi tahu?!"


"Apa bedanya sih?" Tanya Andrean mulai risih dengan perdebatan kecil antara adiknya dan Adrina.


"Thalia geser sedikit," kata Adrian pada Thalia yang duduk tepat disamping dirinya. Thalia menggeleng tegas. "Tidak mau, aku yang lebih dulu duduk di sini,"


"Nah kan, Thalia saja tidak mau bergeser, lalu aku duduk dimana kalau pindah ke sana?"


"Thalia..." panggil Adrian dengan intonasi pelan. Adrina yang mendengarnya berdecih. Giliran bicara dengannya Adrian selalu menampakkan urat lehernya. Berbeda sekali jika bersama Thalia. Lembut, mendayu-dayu sampai membuat Ia ingin tidur.


Seraya menikmati hangatnya api unggun, pihak sekolah sengaja mengundang para orangtua untuk bertemu dengan anak mereka secara virtual.


Begitu melihat Daddy dan Mommy-nya berada di antara puluhan orangtua yang terhubung dengan kamera mereka masing-masing, Adrian berseru dan melambai meskipun kemungkinan Lovi dan Devan melihatnya sangatlah kecil.


"Hallo Daddy dan Mommy semuanya." Sapa perempuan yang membawahi guru-guru di sekolah itu.


"Hallo," jawab mereka ada yang serempak dan ada juga yang tidak, mengingat jaringan mereka tidaklah sama.


"Saat ini anak-anak tengah menikmati lagu dan api unggun. Tadi sudah makan malam bersama usai membangun tenda," sekolah mulai melaporkan kegiatan sementara anak murid mereka ada yang sibuk mengobrol, melempar kiss jauh untuk orangtuanya seperti yang dilakukan Thalia, ada yang tak henti melambai ke depan, tepatnya layar datar, dimana wajah orangtua mereka terpampang.


Lovi fokus menatap layar iPad dengan Auristella di atas pangkuannya. Ia sudah berhasil menemukan wajah kedua anaknya.


"Devan, ini anak kita." Ia sampai berseru pada Devan yang tengah berada di kamar mandi.


Mereka sudah menantikan pihak sekolah mengundang karena jujur baru beberapa jam saja mereka sudah rindu dengan kedua anak kembar itu.


Devan menggeleng pelan mendengar suara istrinya. Usai mengosongkan kantung kemih-nya, Ia segera keluar. Dan ikut bergabung bersama Lovi.


"Sedang apa mereka?"


"Bernyanyi di depan api unggun,"


"Itukah Andrean?" Tanya Devan seraya menunjuk ke layar iPad.


"Iya, kecil sekali wajahnya ya," imbuh Lovi seraya terkekeh. Wajar saja karena kamera tersebut memuat banyak wajah sehingga perlu teliti untuk mencari anaknya tadi.


"Adrian dimana?


"Ini, di sebelah kakaknya,"


"Syukurlah, mereka tidak berpisah."


"Mereka selalu bersama dimanapun."


Auristella memandang serius dan juga ikut mendengarkan apa yang diucapkan oleh pihak sekolah kakak-kakaknya.


"Jadi, Mommy dan Daddy di rumah tidak perlu khawatir. Karena anak-anak di sini kami jaga dengan baik,"


"Untuk pembagian tenda, pihak sekolah yang mengatur. Sesuai nomor urut absen mereka di kelas,"


Devan segera menatap istrinya dengan mata terbuka sempurna. "Sesuai nomor absen, Lov."


"Ya, terus kenapa?"


"Memang absen Andrean dan--"

__ADS_1


"Mereka hanya dipisahkan oleh satu nama yaitu Adrina,"


"Oh begitukah?"


"Iya, aku tahu nomor absen mereka,"


Devan menggeleng pelan seraya berdecak kagum. "Sedetail itu kamu mengetahui tentang anak kita, Lov. Aku saja tidak tahu,"


"Aku harus tahu semuanya. Kamu tidak tahu, wajar. Banyak hal yang lebih penting dari nomor absen anak,"


Devan menatap Lovi tidak enak hati. Bukan maksudnya Ia tak peduli dengan anak mereka, tapi pekerjaan memang terlalu memenuhi otaknya.


"Aku tidak bermaksud menyinggung kamu, Sayang. Aku justru sangat mengerti kalau hal yang harus kamu pikirkan itu banyak sekali." Lovi segera mengusap wajah lelah Devan. Ia tersenyum lembut penuh pengertian. Banyak orang bergantung pada Devan dan itu yang patut dipikirkan. Apapun urusan tentang anaknya kalau masih bisa Ia yang melakukan, maka Devan tidak perlu ikut campur.


Devan mengecup singkat bibir istrinya. Ia sangat bersyukur memiliki Lovi yang selalu memahami dan mendampinginya tak peduli seberat apapun hal yang sedang dihadapinya. Lovi tak henti memberi dukungan. Tidak salah kan kalau Devan selalu menginginkan yang terbaik untuk istrinya? Karena Lovi pun selalu melakukan semua yang terbaik untuk dirinya dan anak-anak mereka.


"Eerrghh Mom!"


Lovi terperangah saat Auristella tiba-tiba saja menepuk pipinya. Anak itu juga menatap tajam Devan.


"Kamu mencium aku sembarangan! Ada Auris di sini,"


"Auris juga akan Daddy berikan,"


Muach


Devan memberikan ciuman di pipi bulat anak itu. Auristella memang mudah merasa cemburu bila orang-orang di sekitarnya sibuk bermesraan sementara Ia tidak diacuhkan.


********


"Tenda sesuai nomor absen ya. Akan--"


"Sesuai nomor absen? Masa aku bersama Adrina, Ms? 'Kan tidak boleh,"


Acha menggeleng karena Adrian cepat sekali menyela ucapannya. Ia belum selesai bicara, anak itu sudah mengambil praduga.


"Dengar dulu, mulut kembang api!" Adrina yang terlanjur kesal tak sengaja mendorong kepala Adrian dengan pelan. Hal itu membuat Acha menegurnya. "Tidak boleh seperti itu, Adrina. Tidak sopan, sekalipun usia kalian sama,"


"Dia memang kurang ajar, Ms. Marahi saja, kalau perlu adukan ke Orangtuanya," Adrian memanas-manasi situasi.


Acha jadi tidak kunjung bicara kalau seperti ini terus. Ia meletakkan telunjuknya di bibir untuk menyuruh kedua anak yang memiliki nama hampir mirip itu diam tak bersuara.


"Tenda akan dihuni dengan pengelompokkan jenis kelamin,"


"Seperti tanaman saja dikelompokkan segala," gumam Adrian yang mengundang decak kesal kakaknya. Andrean sudah serius memperhatikan gurunya tapi Adrian selalu mengalihkan fokusnya.


"Walaupun Adrian dan Adrina memiliki nomor absen yang berdekatan tapi mereka tidak bisa menghuni tenda yang sama. Jadi Adrian bersama anak yang nomor absennya di bawah Adrina, intinya harus laki-laki juga,"


"Oh okay, aku mengerti. Artinya aku dengan Andrean?"


"Ya, benar sekali."


"Adrina dengan Audrey,"


Acha membacakan nama-nama yang akan menghuni banyaknya tenda di lapangan sekolah ini.


Berhubung ini merupakan camping pertama yang diadakan sekolah untuk angkatan Adrian, jadi memang sedikit sulit untuk mengatur mereka. Mungkin diantara mereka sudah ada yang pernah melakukan camping bersama keluarga tapi peraturannya dengan camping kali ini jelas berbeda. Dari mulai pembagian tenda pun sudah ada aturannya dan mereka semua tidak diperkenankan untuk melanggar kalau mau mengikuti kegiatan sampai akhir.


"Mengerti, Ms." jawab mereka dengan kompak.


Mereka semua masuk ke tenda masing-masing. Andrean langsung mau tidur tapi rasanya sulit sekali. Biasanya Ia selalu dekat dengan Lovi walaupun tidur sendiri tapi paling tidak Lovi akan datang ke kamar untuk mengusap kepalanya seraya menyanyikan lagu agar Ia cepat terlelap. Kali ini terasa beda sekali. Belum apa-apa Ia merindukan Mommy dan Daddy nya.


Adrian menarik selimut dan menata bantalnya sebelum berbaring. Ia mendengus saat selimut yang dibekali Lovi terlalu tebal hingga Ia sedikit kepanasan.


"Aku tidak usah pakai ini lah. Tidak hangat tapi malah panas,"


"Pakai, nanti kedinginan. Cuaca di luar sangat dingin,"


"Tidak mau, kamu tahu sendiri kalau aku paling tidak bisa merasa panas,"


Mereka sempat terlibat pembicaraan cukup lama sampai akhirnya mata tak bisa lagi diajak kompromi. Lama-lama mereka tertidur lelap juga.


Apa yang dirasakan Andrean, Lovi juga merasakannya. Ia belum pernah melepas kedua anaknya untuk menginap di sekolah. Ini pertama kalinya sehingga Lovi merasa berat sekali. Bahkan sebelum mereka pergi tadi, Lovi tak henti mencium keduanya dan juga memberi pesan. Apalagi kemarin baru terjadi sesuatu terhadap keluarganya, jadi Lovi semakin dibuat khawatir. Tapi kedua anaknya sangat menginginkan camping itu, ia tidak tega bila melarang sementara teman-teman mereka ikut camping.


Usai Auristella menyusu, Lovi segera menutup baju tidurnya yang tadi disingkap. Devan juga belum tidur.


"Aku baru saja bertanya pada pengawal yang menjaga mereka..."


"Andrean dan Adrian sudah tidur kah?"


"Sudah masuk ke dalam tenda. Semoga saja langsung tidur."


"Devan, sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga kita? ada yang mencoba untuk---"


"Ssstt jangan menduga-duga seperti itu. Keluarga kita akan baik-baik saja karena aku selalu berusaha menjaga. Kamu tidak perlu memikirkan itu,"


"Tapi kejadian kemarin benar-benar membuat aku bingung. Memang apa salah kita sampai mereka tega menghabisi banyak nyawa?"


"Hal semacam ini sudah biasa terjadi, Lov. dan aku selalu berhasil mengatasinya. Semoga kali ini pun demikian,"


"Tapi selama aku menikah dengan kamu, teror yang kita dapat tidak pernah sampai separah kemarin sampai bodyguard yang tidak bersalah pun harus dibuat mati,"


"Ya, selama kita menikah memang tidak begitu banyak tikus pengganggu. Mungkin karena aku juga sudah meninggalkan dunia gelapku jadi--"


"Dunia gelap?"


"Aku pernah memiliki perusahaan yang mengedarkan secara gelap senjata tajam dan obat-obatan terlarang,"


"Oh, kamu pernah?"


"Iya, tapi setelah lahir kedua anak kita, aku mulai sadar kalau aku tidak boleh terus-terusan menjadi orang yang kotor,"


"Lalu perusahaan yang sekarang?"


"Aku memiliki perusahaan sangat banyak. Jadi saat meninggalkan perusahaan yang berisi kejahatan itu, aku tidak perlu membangun perusahaan yang baru. Aku memiliki perusaahan yang bervariasi. Ada yang gelap dan ada yang terang," Ujar Devan seraya tertawa berusaha mencairkan suasana. Lovi nampak serius sekali mendengar cerita pengalamannya.


"Maksudnya, Lov... perusahaan gelap itu yang berkaitan dengan aksi kejahatan sementara yang terang memiliki prinsip yang berbeda yaitu mencari keuntungan dengan jalan yang benar,"


"Aku menjalani perusahaan dibantu oleh Ferro. Dia juga yang membuat aku sadar kalau semua yang aku lakukan pada saat itu, akan dilakukan juga oleh anakku di masa depan. Dan aku tidak mau itu terjadi. Anak-anakku tidak boleh menjadi orang jahat seperti Daddy mereka,"

__ADS_1


"Pasti kamu sering bermasalah dengan pemerintah karena memasok senjata tajam dan obat terlarang,"


"Tepat sekali!"


"Lalu apa yang kamu lakukan?"


"Siapapun yang menghalangi jalanku, maka aku bunuh,"


"Astaga..." Lovi terperangah seraya menggeleng pelan. Semudah itu Devan menghempas nyawa manusia. Lovi bingung, "Ada ya manusia sekejam kamu?"


Tawa Devan meledak seketika. Ia tidak tersinggung sama sekali malah justru membenarkan.


"Bahkan perusahaan ku yang satu itu sering menjadi incaran beberapa negara untuk dimusnahkan,"


"Kau beraksi bukan hanya di negara sendiri?"


"Tentu saja tidak. Aku melebarkan sayap pemasaran ke seluruh dunia,"


"Suamiku hebat tapi sayang kehebatannya di jalan yang salah,"


"Sekarang tidak. Jangan khawatir,"


"Tapi kalau membunuh masih 'kan?" tebak Lovi yang dijawab Devan dengan ragu. "Hmm... kalau Ada yang mengganggu keluargaku, barulah aku habisi nyawanya,"


"Kamu benar-benar my cruel husband yang sesungguhnya,"


***********


Pagi ini Devan menjemput kedua anaknya di sekolah. Lovi sudah membangunkan Devan sejak pagi buta karena Ia tak sabar bertemu dengan dua pangeran kecilnya.


Setelah mengantar mereka ke mansion, barulah Devan berangkat bekerja. Harus Ia yang menjemput agar bisa memastikan secara langsung mereka sampai dengan selamat.


Bukan hanya dirinya yang sudah sampai di sekolah untuk menjemput, beberapa orangtua lain pun demikian. Mereka harus menunggu sebentar karena anak-anak mereka sedang sarapan. Bagi yang nanti belum dijemput juga tidak diizinkan keluar dan masih dalam pengawasan sekolah.


Kata Lovi tadi, "Kamu berangkat lebih cepat saja agar mereka tidak menunggu. Aku juga takut mereka kenapa-kenapa kalau kamu lama menjemput,"


Akhirnya Devan pun memenuhi keinginan istrinya yang masih dihantui ketakutan berlebih akan keselamatan anak-anak mereka.


Dari tempatnya Adrian dan Andrean tampak melambai saat melihat Daddy mereka sudah datang untuk menjemput. Adrian mengangkat makanannya untuk ditunjukkan pada Devan.


"Aku makan soup, Dad." lapor anak itu pada sang ayah dengan suara kencang. Semua menoleh pada anaknya yang menggemaskan itu.


Devan mengangguk seraya tersenyum. Melihat betapa semangat dan senangnya mereka, Devan juga turut merasakan hal yang sama. Beberapa hari yang lalu mereka baru saja dibuat terperangah dengan kejadian di mansion. Ia ingin sekali menghilangkan memori menyeramkan itu dari kepala anak-anaknya . Tapi Ia yakin sampai kapanpun mereka tidak akan pernah lupa.


"Sarapannya sudah habis?" tanya Acha pada anak-anak didiknya.


"Sudah, " jawab mereka dengan kompak.


Beberapa anak perempuan menjawab sebaliknya. Makanan mereka ada yang belum habis termasuk Adrina dan Thalia. Melihat itu Adrian mulai menggoda Adrina.


"Lama sekali makannya. Berikan padaku saja lah. Aku belum kenyang,"


"Aku juga belum kenyang,"


"Makan nya terlalu dihayati sih. Jadi lama 'kan,"


"Kamu pikir aku sedang menyanyi pakai dihayati segala,"


"Aku suapi mau? aku ini pintar menyuapi orang. Daddy dan Auris saja ketagihan aku suapi. Kamu mau tidak?"


"Tidak, aku bisa makan sendiri,"


"Ya, Adrian. Adrina bisa makan sendiri dan kamu jangan mengganggu," ujar Thalia masih fokus dengan soup miliknya.


"Oh atau kamu saja yang aku suapi?"


"Mereka punya tangan. Kamu kenapa cerewet sekali sih? orang sedang makan jangan diganggu!" Andrean mencibir kelakuan adiknya. Devan memperhatikan mereka dan sadar kalau mereka sedang berdebat. Tapi kali ini terlihat lebih lucu karena melibatkan Thalia dan Adrina, gadis-gadis kecil yang menjadi sahabat anaknya.


"Ayo yang belum habis, segera dihabiskan. Setelah itu, kalian bisa pulang. Orangtua kalian sudah menunggu,"


"Nanti mau camping lagi tidak?"


"MAU," Adrian menjawab dengan kencang. Ia sangat menyukai kegiatan camping. Dan ini merupakan pengalaman pertama kali untuknya. Rasanya sangat menyenangkan ketika berkumpul dengan teman-teman. Makan bersama, bernyanyi bersama, bermain bersama, bahkan membangun tenda bersama-sama saja sudah membuat mereka bahagia. Tanpa disadari itu telah menciptakan rasa solidaritas di hati mereka masing-masing.


"Ya sudah, sekarang suapi aku biar cepat. Anggap aku ini Auris ya, kamu menyuapi aku harus lembut jangan seperti menyuapi kuda," Adrina memperingati Adrian yang terkenal dengan sikap bar-bar nya itu.


"Kuda juga harus diperlakukan dengan baik," koreksi Revin.


Adrian tersenyum senang saat ada orang yang mau menggunakan jasa tangannya. Akhirnya Ia tidak menganggur dan tidak hanya menontoni orang yang belum selesai makan.


Melihat sikap anaknya pada Adrina, Devan tersenyum geli. Ia segera meraih ponsel pintarnya di saku lalu memotret mereka berdua. Dikirimkannya gambar itu pada Jino sahabatnya yang tak lain adalah Daddy nya Adrina dan juga Lovi.


"Cepat ke sini. Ada drama yang dilakoni Adrian dan anakmu," pesan itu dikirimkan Devan bersamaan dengan foto tadi kepada Jino.


Jino yang baru tiba di sekolah anaknya langsung mengurangi laju langkahnya saat ponselnya bergetar. Ia segera melihat pesan yang masuk dari Devan. Tidak biasanya Devan mengirim pesan. Ia tebak pasti ada hal penting. Ada gambar yang menjadi salah satu pesan Devan. Sebelum membaca pesan kalimat di bawahnya, Ia membuka terlebih dahulu gambar yang dikirim Devan.


Ia mengerinyit sesaat seraya menatap lebih dekat layar ponselnya agar Ia bisa melihat dengan lebih jelas.


Senyum terbit di wajahnya melihat keakraban yang terjalin di antara Adrian dan Adrina.


Ia segera masuk ke dalam sekolah dan ternyata acara sarapan bersama belum selesai.


Akhirnya Ia mencari-cari Devan. Matanya menangkap sosok laki-laki berkemeja panjang putih yang duduk di kursi berbaur dengan orang tua lain menghadap ke lapangan, memperhatikan anak mereka masing-masing. Penampilannya sangat berbeda dengan orangtua yang lain. Hanya Devan yang mengenakan pakaian kerja. Dia rapi sekali mengenakan kemeja dan celana bahannya.


"Apa kabar?" ujarnya seraya menepuk bahu Devan setelah ia memastikan kalau yang dilihatnya itu benar Devan.


"Oh, langsung datang?"


"Saat kau mengirim pesan, aku memang sudah sampai di ini,"


"Pantas cepat sekali. Baru dua menit yang lalu aku mengirim pesan,"


"Penampilanmu membuat aku ingin tertawa,"


"Demi anak, sebelum bekerja harus memastikan mereka aman dulu. Berhubung setelah mengantar mereka ke mansion, aku langsung bekerja, jadi terpaksa ke sini memakai pakaian kerja,"


"Benar-benar Daddy idaman. Kau menjadi bahan perhatian para perempuan di sini, omong-omong." ucap Jino seraya melirik sekitar. Memang sedari tadi ada saja yang memperhatikan Devan.


"Kau juga. lihatlah mata mereka," Devan menimpali. Bukan hanya dirinya yang diperhatikan, begitu Jino sampai, sahabatnya juga turut di tatap diam-diam.

__ADS_1


"Padahal aku tidak pakai baju kerja," jawaban Jino membuat Devan tertawa lalu Ia kembali menyahuti, "Artinya pesonamu jauh lebih menawan. Hanya mengenakan pakaian biasa saja mereka sampai memperhatikan sebegitunya. Benar-benar hebat lah sahabatku ini," decak kagum Ia berikan untuk Jino yang memang tidak kalah tampan dengan Devan tapi tetap saja kalau menurut Adrian dan Andrean yang paling tampan adalah Devan. Sementara kalau menurut Adrina, Jino lah yang lebih tampan.


__ADS_2