
Devan menghentikan mobilnya di foodcourt untuk mengisi perut mereka. Dari awal perjalanan pulang Adrian sudah merengek ingin makan padahal tadi sudah sarapan.
Makan yang dingin-dingin katanya. Dan Lovi sudah bisa menebak apa yang diinginkan anaknya itu.
"Tadi mau makan. Sekarang malah pesan es krim," Devan mencibir anaknya itu. Tadi rengekannya bukan main. Sampai-sampai memegang perut kecilnya seraya menggumamkan kata 'lapar'. Berlebihan sekali anaknya itu. Seperti orang yang belum makan seminggu saja.
"Makan es krim,"
"Kalau lapar, makan nasi. Bukan es krim,"
Devan merasa dikerjai sekarang. Sementara Lovi sudah tahu betul bagaimana pintarnya anak itu dalam berkelit.
"Tadi Adrian mau makan yang dingin-dingin. Ya berarti es krim,"
Devan merotasikan bola matanya. Ia bersandar di kursi membiarkan Rena memanggil waitress.
"Biarkan saja, sudah lama juga mereka tidak makan es krim,"
Pekikan nyaring langsung terdengar ketika Lovi membela Adrian. Lagi-lagi Devan merasa kalah.
"Biasanya kamu melarang, Lov." Protes Devan tak terima.
"Biarkan, asal mereka tetap makan nasi sekarang,"
"Ah Adrian tidak mau nasi. Mau es krim saja,"
Lovi menggeleng tegas. Mereka semua harus makan. Untuk apa ke sini hanya membeli es krim?
"Mamamu suka apa, Lov?"
Rena mendekatkan menu restoran tersebut pada Lovi. Seperti biasa, makan dimana pun mereka, tak boleh lupa dengan yang di rumah. Senata kurang sehat hari ini sehingga Ia tidak bisa ikut bersama mereka.
"Mama apapun suka. Asal jangan yang pedas, Ma."
Rena mengangguk lalu matanya kembali fokus pada menu.
"Kalau pelayan makan apa biasanya--
"Oh ini saja,"
Rena menyebutkan makanan untuk Senata dan para pelayan di rumah Devan pada Waitress itu. Kemudian Ia menatap Lovi dan kedua cucunya.
__ADS_1
"Kalian mau apa?"
"Lov, kamu?"
Bukannya menjawab apa yang sedang menjadi keinginannya, Devan malah beralih pada Lovi.
"Aku mau onigiri saja,"
"Aku juga," sahut Devan yang langsung dicatat oleh waitress.
"Adrian mau es krim,"
"Makanannya?"
"Tidak ma--"
"Harus mau!" Lovi semakin tegas nada bicaranya. Adrian tak akan mendapatkan keinginannya kalau Ia tidak menuruti Lovi.
Adrian berdecak kesal. Wanita yang menjadi pelayan restoran itu tersenyum melihat tingkah Adrian yang sangat menggemaskan.
"Sama seperti Mommy,"
"Andrean, mau apa sayang?"
Selesai, keluarga kecil berisi empat orang itu sama-sama memilih onigiri yang diawali dari keinginan Lovi.
"Ramen satu,"
Sementara Rena memilih makanan kesukaannya. Tak pernah bosan mengonsumsi makanan berkuah yang sangat identik dengan Negeri Sakura itu.
----------
"Kalian menikah dan Lovi belum tahu apapun mengenai itu?"
Raihan datang ke rumah Devan malam ini untuk memastikan seluruh persiapan pernikahan putranya.
"Belum, dan tidak akan tahu sampai kapanpun,"
Raihan mengangguk pelan. Sampai di sini dia paham bahwa Devan benar-benar mencintai Lovi namun caranya yang salah.
"Sekecil apapun rahasia yang kamu sembunyikan, pada akhirnya bisa menjadi petaka untukmu,"
__ADS_1
Seorang gadis yang sedang berjalan dengan santai masih lengkap dengan busana casualnya langsung menghentikan langkah saat mendengar suara tegas Raihan.
"Vanilla?"
Sial!
niat hati ingin menginap di rumah Devan karena takut dimarahi lagi setelah pulang malam, kini Vanilla malah berhadapan langsung dengan ayahnya yang sedang Ia hindari.
"Papa kira kamu sudah pulang,"
Raihan langsung ke rumah Devan tanpa pulang terlebih dahulu ke mansionnya. Tak menyangka akan bertemu dengan anak bungsunya yang suka membangkang itu.
Vanilla tersenyum gugup. Ia berdiri seperti orang bodoh di pintu masuk ruang tamu. Melihat raut Raihan yang terlihat biasa saja, justru menimbulkan ketakutan tersendiri untuknya.
"Kamu ada perlu apa ke sini? kenapa harus malam-malam seperti ini?"
Vanilla bingung ingin menjawab Devan seperti apa. Otaknya berputar mencari alasan seraya meremas buku-buku jarinya.
"Aku--aku ingin menginap di sini,"
Alis Devan langsung bertaut. Ia memicing pada adiknya yang kondisi jantungnya sudah tak baik-baik saja selama diperhatikan secara intens oleh Raihan.
"Pulang, Vanilla!"
"Tidak, Pa. Aku mau menginap di sini, di rumah Devan,"
Raihan bangkit dengan dada bergumuruh. Devan pun mengikuti Raihan. Jangan sampai ada peperangan di rumahnya.
"Apa-apaan kamu?! ingin menghindar dari Papa?"
"Aku--Pa, aku mohon. Aku mau di sini saja,"
"Rumahku bukan tempat bersembunyi, Vanilla!"
"Devan..." Vanilla menatap kakaknya penuh permohonan. Sungguh, Ia sudah bosan dimarahi setiap malam oleh Raihan. Kebiasaannya party hingga tengah malam tak bisa dihilangkan dengan cepat. Vanilla sudah nyaman dengan kehidupannya yang seperti itu. Dimana Ia bebas berbelanja dan menghabiskan waktu di kelab malam hingga dini hari.
Raihan bingung harus memberi peringatan seperti apa lagi pada anaknya. Gadis kecil yang selalu Ia banggakan saat Devan berbuat ulah, kini malah mengulangi apa yang dilakukan Devan. Ia rindu dengan Vanillanya yang penurut dan tidak gemar berkelakuan liar.
"Pa, biarkan Vanilla di sini. Aku yang akan berbicara padanya,"
-----
__ADS_1
Like, Vote, Komen, Rate5 jgn lupa yaaa :) Terima kasih mantemanquw ~