
Akhir pekan ini Devan sudah sampai di kediaman anak dan mantan Istrinya sejak pagi-pagi buta. Seperti biasa, Devan berusaha sekeras mungkin untuk menepati janjinya pada Andrean dan Adrian untuk mengajak mereka bersenang-senang hari ini. Ia tidak merasa keberatan saat waktu istirahatnya digunakan untuk membuat kedua anaknya tersenyum bahagia.
Salah satu dari anak kembar itu langsung menyambutnya dengan riang. Andrean yang bangun terlebih dahulu langsung melompat ke dalam pelukan sang ayah masih lengkap dengan baju tidurnya. Sementara si bungsu harus Devan yang membangunkannya.
"Andrean mau mandi sama Daddy, ya?"
"Okay, little boy."
Devan memasuki kamar anak-anaknya dengan bebas. Di sana Ia melihat Adrian yang masih nyaman dalam tidurnya.
Devan mendekati seraya menggendong Andrean. Lelaki itu mengusap kepala Adrian.
"Adrian, bagaimana dengan rencana kita untuk jalan-jalan?"
Tidak mendapat reaksi apapun dari Adrian. Andrean yang mendengar ayahnya menghela napas pelan pun terkekeh.
"Siram pakai air saja, Dad."
Devan berdecak dan mencium bibir anaknya dengan gemas.
"Kenapa jahat begitu dengan adikmu?"
Andrean menepuk wajah Devan dengan pelan. Lelaki itu duduk di ranjang bersama Andrean di pangkuannya.
"Adrian, bangun sayang!" Devan sengaja mempertegas suaranya agar si tengil itu lekas bangun. Ia yakin Adrian tidak sepenuhnya tidur saat ini. Karena kelopaknya sudah bergerak hingga membuat Devan gemas.
__ADS_1
Devan memiting lembut kulit wajah anak bungsunya hingga merengek. Ia merasa diganggu oleh Devan.
"Daddy tahu kamu sudah bangun. Jangan berbohong, Sayang."
Devan terkejut begitu anaknya yang sedang melancarkan aksi kejahilan itu langsung menyerangnya dengan pelukan seraya terbahak.
Devan hampir saja terjatuh dari ranjang. Anak-anaknya sangat tidak terduga.
"Kalau jatuh, Daddy yang sakit." Gerutnya dengan kesal. Tangannya tergerak untuk menepuk bokong Adrian yang kini masih memeluk lehernya.
"Ayo cepat mandi. Kita akan jalan-jalan bukan?"
Lagi-lagi Adrian berbuat ulah. Ia melepaskan pelukan secara tiba-tiba hingga kepalanya mengenai dagu Devan hingga gigi lelaki itu saling beradu.
"Adrian, dua kali ya," Devan memperingatinya dengan nada datar. Ia tidak benar-benar marah tentu saja. Hanya sedikit kesal dengan sikap aktif anak itu yang keterlaluan.
Andrean membawa wajah ayahnya agar menatap ke arahnya.
"Mommy sudah pergi. Bagaimana kita meminta izin, Daddy? Mommy juga sepertinya lupa dengan rencana kita,"
Mendengar ucapan sang anak, Devan mengerinyit. Ia baru menyadari kalau Lovi memang tidak Ia temukan sejak tadi. Biasanya mereka akan bertemu di beranda rumah mewah itu ketika Lovi sedang merawat taman depan dan Devan yang mengunjungi anak-anaknya.
Hubungan mereka pun tidak sedingin dulu. Lovi akan menawarinya minum sebelum Devan memasuki kamar anak-anaknya. Walaupun setelah itu, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Devan dengan Andrean dan Adrian. Sementara Lovi dengan pekerjaan rumahnya.
"Memangnya Mommy kemana?" Tanya Devan yang masih bingung.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan di luar rumah sepagi ini?"
"Mommy sudah mulai bekerja,"
"Apa?!"
Andrean menarik telinga Ayahnya karena kesal dibuat terkejut. Devan terlalu keras mengeluarkan suaranya.
"Bisa pelan suaranya?" Tanya Andrean dengan datar.
Perangai Andrean cenderung mirip dengan Devan. Dalam kesempatan tertentu Ia akan menampilkan raut datar dan suara dinginnya.
"Maaf, Daddy hanya kaget,"
"Mulai hari ini Mommy sudah bekerja katanya. Dan Grandma Sena akan datang ke sini untuk menjaga kami. Karena Grandma Sena tidak diperbolehkan lagi oleh Mommy untuk bekerja,"
Devan melewatkan fakta itu rupanya. Ia tidak menyangka Lovi akan mengambil keputusan demikian.
"Kenapa harus bekerja? Apa pemberianku masih kurang?" Batin Devan menggeram kesal.
Devan tidak terima ketika Lovi memutuskan untuk bekerja. Mungkin niatnya memang baik. Membiarkan Senata untuk menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya tanpa perlu memikirkan pekerjaan.
Tapi apakah Lovi tidak berpikir mengenai anaknya? Biar bagaimana pun Andrean dan Adrian masih membutuhkan perannya sebagai Ibu bukan hanya seorang nenek. Kalau hanya Senata yang membantu Serry serta pelayan lain untuk merawat Andrean dan Adiknya maka sudah bisa dipastikan kalau kedua anak itu akan kekurangan kasih sayang.
"Ini hari libur, Andrean." gumamnya dan sekali lagi memastikan ucapan anaknya melalui tatapan menilai. Apakah Andrean jujur dalam hal ini? Barang kali saja Lovi sedang pergi membeli sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka. Walaupun sebenarnya ada Serry yang bisa melakukan itu.
__ADS_1
Andrean mengangkat bahunya pertanda Ia tidak tahu. Ia tidak bertanya mengenai hal itu pada Lovi. Yang jelas, Mommynya berpamitan dengan alasan seperti itu tadi.