My Cruel Husband

My Cruel Husband
Bermain bola dengan Grandpa


__ADS_3

Andrean dan Adrian sudah mempersiapkan bola yang akan digunakan mereka untuk bermain sepak bola bersama Lucas. Mereka membawanya dari mansion. Sebesar itu semangat mereka ketika diajak ke rumah Lucas.


Yang menjadi penjaga gawang bergantian. Antara Andrean dan adiknya. Sementara Lucas selalu menjadi pemain.


Adrian memaksa Lucas suntuk main sepak bola. Padahal Lucas sudah menolak karena usia yang senja menjadikan Ia kurang tangkas dalam bergerak, apa lagi berlari. Lovi pun terlihat khawatir saat ayahnya diajak main sepak bola oleh kedua anaknya.


"Jangan, kasihan Grandpa sudah tua. Main yang lain saja," kata Lovi mendukung penolakan Lucas. Bukan apa-apa, kalau Ia masih muda tidak masalah. Dulu, Lucas juga gemar bermain sepak bola.


"Terasa ada yang kurang kalau kita belum main ini, Grandpa." Adrian melempar-lempar bola yang ada di tangannya ke atas seraya membujuk sang kakek.


"Adrian, jangan seperti itu. Main dengan Daddy saja,"


"Tidak mau! sudah biasa kalau main dengan Daddy. Adrian mau coba yang luar biasa,"


"Ya sudah, ayo. "


Adrian memekik senang. Andrean yang sedari tadi diam, tidak ikut memaksa juga merasa senang karena kakeknya bisa diajak bermain.


"Grandpa, jangan lari-lari juga bisa. Kita mainnya santai,"


"Okay," Lucas tersenyum walaupun dalam hatinya bicara, "Namanya sepak bola pasti berlari. Ada-ada saja mereka,"


*******


Jane sedang mengajak keponakannya untuk bersepeda di sekitar mansion, menghabiskan waktu menjelang sore. Kasihan Auristella bila hanya menonton saja. Lelah bermain, Ia berbaring di sofa lalu menonton apa yang ditonton oleh kedua neneknya, serial drama. Auristella ditawari serial kartun malah menolak. Sepertinya Auristella akan menjadi generasi selanjutnya dari kedua neneknya, Vanilla, dan Jane yang hampir tidak pernah melewati setiap episodenya.


Daripada Auristella ikut diracuni drama, lebih baik Jane membawanya berkeliling menggunakan sepeda. Ia tak heran kenapa Devan dan anak istrinya belum pulang juga. Setelah Ia tahu ternyata mereka pergi untuk bermain, Jane sudah yakin dua keponakannya itu akan nyaman bermain dengan Lucas.


Tak bisa disalahkan juga. Mereka baru kali ini merasakan kasih sayang dari kedua kakek yang lengkap, Jadi wajar bila mereka sedang memuaskan keinginan bermain ini dan itu bersama-sama.


Auristella membawa balon bertangkai ketika bersepeda sehingga membuat Jane kesal awalnya. Fokusnya akan terganggu bila anak itu membawa-bawa balon.


Balon diletakkan Auristella di keranjang depan sepeda. Tidak dimainkan, jadi membuat Jane bingung. Untuk apa dibawa kalau hanya dipajang saja?


"Uww sejuk ya? padahal belum terlalu sore. Auris senang tidak?"

__ADS_1


"Ya," jawabnya singkat. Jane terkekeh gemas mendengar jawaban keponakannya itu. Auristella semakin pintar. Biasanya Ia hanya bisa mengangguk, sekarang sudah bisa memanggil Lovi, dan menjawab pertanyaan orang lain. Walaupun semua itu belum memiliki artikulasi yang jelas mengingat usianya juga belum genap satu tahun.


Saat Jane sedang sibuk melajukan sepedanya, terdengar bunyi klakson yang membuat Ia terkejut. Begitu dilihat dari mobil dan platnya, itu bukan Devan melainkan Vanilla.


Vanilla membuka jendela mobilnya lalu tiba-tiba saja terkekeh geli. "Belajar punya anak, Nyonya?" ledek gadis itu.


Jane melepas kemudi sepeda lalu menunjukkan kepalan tangannya ke arah Vanilla. "Awas kamu ya!"


Vanilla memeluk lengan Jhico yang mengendarai mobil. Lalu Ia merengek layaknya anak kecil seraya menanggapi ucapan Jane, "Sayang, aku takut. Dia jahat,"


Jane yang mendengar itu langsung berpura-pura mual. Jhico menatap aneh istrinya. Lalu tak bisa menahan tawa saat melihat reaksi Jane. Sama seperti Jane, Ia juga merasa geli atas tingkah Vanilla.


"Datang ke sini kalau hanya merusuh lebih baik pulang! buat anak biar tidak mengganggu kebahagiaan aku,"


Vanilla mencari botol air mineral yang kebetulan ada di depan matanya untuk dilempar ke arah Jane yang mulutnya sembarangan bicara. Tetapi sebelum Ia melakukan itu, Jhico sudah menahan lalu menggeleng tegas. Vanilla melepaskan pelukannya di lengan Jhico karena kesal ketika Jhico melarang dirinya untuk memberi pelajaran.


Belum puas membuat sepupunya kesal, Jane melanjutkan kalimatnya,


"Seharusnya yang belajar punya anak itu kamu, Vanilla. Aku belum menikah. Ayo main sepeda dengan Auris supaya nanti kalau punya anak tidak kaku lagi."


"Ck! mulutmu, Vanilla! diamkan saja, nanti juga lelah sendiri,"


Jane menjulurkan lidahnya ke arah Vanilla. Daripada perdebatan tidak usai juga, lebih baik Jhico memasuki mansion, biarkan Jane sibuk dengan Auristella.


*********


"Ternyata Grandpa masih bisa lari. Hebat!"


"Nanti malam kakiku seperti dipukul-pukul rasanya. Tidak apa, demi cucu."


Devan bangkit lalu berseru pada mereka yang masih sibuk saling mengoper bola dan menjaga pertahanan.


"Sudah bermainnya. Grandpa tidak boleh kelelahan,"


Adrian melirik kakeknya. Lucas sudah keringatan, Adrian tidak tega. Andrean langsung mematuhi ucapan ayahnya. Sementara Adrian sempat ada pikiran untuk tetap mengajak kakeknya bermain. Tapi setelah melihat kondisi Lucas, akhirnya Adrian tidak berani macam-macam.

__ADS_1


Lovi sudah menyediakan minum untuk mereka. Terlihat sekali kalau ketiganya kelelahan.


"Melihat kalian bermain hanya bertiga lucu juga ya. Grandpa menjadi pemain tetap dan kalian berdua bergantian menjadi penjaga gawang. Tapi semuanya hebat!"


"Ayo, pulang. Auris pasti sudah bangun,"


"Oh iya, sampai lupa kalau Auris ditinggal," Andrean meringis membayangkan bagaimana kira-kira reaksi adiknya setelah tahu Lovi pergi sampai sekarang belum kembali. Semoga saja tidak menangis terus.


"Grandpa tidak mau ke mansion?"


"Tidak, Adrian. Tadi kita sudah bertemu jadi lain kali saja Grandpa datang,"


"Benar ya, Grandpa? kita harus main lagi nanti. Bersama Auris juga,"


"Iya, siap pangeran kecil."


Devan mengantar Lucas ke rumahnya terlebih dahulu. Setelah memastikan Lucas aman, barulah Ia kembali ke mansion untuk bertemu dengan anak perempuannya.


"Iya, Ma. Ini sudah diperjalanan pulang,"


"Iya, terima kasih, Ma."


"Sedang apa Auris?" tanya Devan pada Lovi yang baru saja selesai menelpon Rena untuk bertanya mengenai Auristella.


"Sekarang dengan Vanilla. Dia sudah makan, dan tidak ingin ketinggalan dengan kakak-kakaknya, tadi Ia main sepeda bersama Jane."


"Nanti aku juga mau main sepeda,"


"Tidak! kamu sudah lelah bermain hari ini. Lihat, kamu sudah berkeringat parah."


"Tapi Adrian ingin juga, Daddy."


"Hari libur masih bisa naik sepeda. Besok masuk sekolah, lebih baik belajar atau kerjakan tugas,"


"Terlalu lama kalau menunggu hari libur, Dad. Adrian paling tidak suka bila dibuat menunggu,"

__ADS_1


__ADS_2