My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kembali ke rumah


__ADS_3

Lovi dan Devan sudah membawa ketiga anaknya kembali ke rumah keluarga kecil mereka.


Setelah kurang lebih satu tahun tinggal di mansion, tepatnya usai melahirkan Auristella, mereka tidak kembali lagi ke rumah dan memutuskan untuk pindah sementara ke mansion.


Saat ini kedua anak kembar Devan dan Lovi berhasil membujuk Raihan dan Rena agar mengizinkan mereka tinggal di rumah lagi.


Butuh waktu lama untuk membuat Raihan dan Rena mengizinkan mereka keluar dari mansion. Mereka sudah terlalu nyaman dengan ketiga cucunya. Setelah berulang kali Andrean dan Adrian berjanji untuk sering-sering datang ke mansion, barulah mereka mengizinkan.


"Hanya kamar Andrean yang diperbarui?aku tidak?"


Lovi dan Devan sudah memisahkan kamar kedua anak kembar mereka. Dulu, kamar mereka sama hanya tempat tidur yang berbeda. Sekarang tidak lagi. Karena mereka yang meminta untuk dibuatkan kamar masing-masing dan juga usia mereka yang sudah mulai beranjak besar mengharuskan mereka untuk membuat kamar lagi yang saling berdampingan.


"Semuanya diperbarui, Adrian."


"Auristella juga?"


"Iya,"


"Tapi dia 'kan masih tidur dengan Mommy dan Daddy,"


"Tidak apa, nanti kalau sudah bisa tidur sendiri akan terpakai juga kamarnya. Ayo, lihat kamarmu."


Lovi menyuruh Adrian untuk melihat kamarnya sendiri. "Mommy sengaja menjadikan kamar kalian berdua tidak terlalu kekanakan lagi,"


Andrean yang baru saja keluar dari kamarnya untuk melihat kamar sang adik menjawab, "Kami sudah besar, Mom."


"Makanya Mommy buat tidak terlalu kekanakan lagi,"


"Ini sangat sesuai dengan usia kalian," komentar Devan menatap kamar Adrian. Ia salut dengan Lovi yang bisa diandalkan dalam hal design interior.


Adrian melompat-lompat di atas ranjang nya. Kemudian dia turun dengan cepat sampai hampir jatuh.


"Bisa pelan-pelan tidak?"


"Hehehe aku terlalu excited, Dad."


Adrian berjalan menyusuri kamarnya yang sudah disulap hingga suasana nya berbeda.


"Jadi tidak tidur lagi dengan Mommy dan Daddy 'kan?"


"Sekali-sekali boleh," ucapnya pada Devan. Daddy nya itu mendengkus.


"Auris belum bisa lepas, nanti tambah lagi satu anak. Hfftt,"


Lovi terkekeh mendengar suaminya bergumam. Ia tahu betul Devan ingin sekali tidur hanya berdua seperti sebelum punya anak. Tapi tidak mungkin juga.


"Yang minta tambah anak siapa? aku lupa,"


"Iya, aku."


"Nah, jadi tahu risiko nya 'kan?" bisik Lovi menggoda suaminya yang sedang memasang wajah sebal itu.


Adrian dan Andrean sibuk menatap wallpaper dinding, lemari kaca berisi mainan di kamar Adrian, sementara orangtuanya malah berdebat masalah anak yang masih belum bisa tidur sendiri yaitu Auristella dan anak keempat mereka, serta Adrian yang katanya akan tidur bersama Mommy dan Daddy sekali-sekali.


******


Sore ini Devan membawa kedua anaknya ke taman bermain yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, tepatnya di dalam komplek perumahan milik mereka juga.


"Dad, buatkan taman bermain di depan rumah,"


"Iya, tapi perlu waktu."


"Ah nanti keburu aku besar, Dad kalau lama-lama,"


"Ini sudah ada, lebih baik gunakan yang ada. Daripada buat yang baru. Buang-buang uang saja,"


"Uang Daddy bukan uangmu," kata Adrian pada kakaknya seraya menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Memang uang Daddy, siapa yang bilang uangku? aku belum bisa cari uang,"


"Ya sudah, kenapa kamu melarang aku?"


"Ck! sulit memberi tahu anak seperti kamu,"


"Seperti apa maksudnya?!" sentak Adrian seraya bertolak pinggang. Devan segera mengusap wajah Adrian dari atas ke bawah karena dia menatap kakaknya dengan tajam.


"Tidak boleh seperti itu. Apalagi dia kakakmu. Siapa yang mengajarkanmu bertolak pinggang?"


Devan menurunkan tangan anaknya dari pinggang. Gaya Adrian terlihat arogan sekali. Andrean mengangguk setuju pada ucapan ayahnya, Ia tidak suka melihat adiknya seperti itu.


"Wah sudah kembali tinggal di sini lagi? sejak kapan, Devan?"


Devan dan kedua anaknya menoleh saat mendengar seseorang menyapa mereka. Rupanya Jino juga membawa Adrina bermain sore ini.


"Iya, tadi pagi datang."


"Akhirnya kita bertetangga lagi,"


"Adrian tinggal di sini lagi?"


"Iya! memang kenapa?" jawab Adrian tidak santai. Ia mengangkat dagunya angkuh seraya menatap Adrina.


"Hah ribut terus kalau ada dia," ucap Adrina.


Bertemu di sekolah selalu ribut apalagi kalau mereka kembali tinggal berdampingan. Tak bisa dibayangkan seseru apa dan seriuh apa nanti.


"Adrina senang sekali kamu kembali lagi, Adrian. Terkadang dia bertanya pada Uncle 'Kapan sih Adrian tinggal di dekat kita lagi, Dad?' begitu katanya,"


Adrina menatap Daddy nya dengan sorot kesal karena telah berkata jujur pada Adrian. Akhirnya Adrian tertawa kencang setelah mendengar itu dari Jino.


"TERNYATA KAMU RINDU BERMAIN DENGAN AKU YA? HAHAHAHAH,"


"Apa sih? jangan terlalu percaya diri ya! aku bertanya seperti itu saat awal-awal kamu pindah saja,"


"AAAAA DADDY JANGAN BEGITU,"


Jino terkekeh geli mendengar anaknya merengek. Adrina menyembunyikan kepalanya di perut nya.


"Tidak usah malu. Wajar kamu rindu, karena biasanya bermain bersama 'kan? sekarang sudah bisa lagi bermain bersama, tidak hanya bertemu di sekolah saja," ujar Devan. Jino mengangguk membenarkan ucapan Devan. Anaknya ketahuan merindukan masa-masa ketika bermain bersama Adrian dan Andrean dan Ia malu karena Adrian tahu. Padahal tidak ada salahnya. Mereka sudah terbiasa bersama, sehingga pasti merasa kehilangan saat harus berpisah. Akhirnya beberapa bulan ke belakang mereka hanya bisa bertemu di sekolah saja. Itupun masih suka ribut.


******


"Belum apa-apa sudah ada yang mengirim kado ulang tahunmu, Auris."


Maid menyerahkan beberapa bingkisan dari orang yang sama, itu baru saja diantar oleh seorang supir pribadi. Lovi dan Rena yang tengah berbincang langsung saling menatap sebentar.


"Pasti dari rekan kerja Devan atau Papa ini, Ma."


"Mungkin dari teman Devan,"


"Nanti kita lihat bersama saja," ujar Lovi seraya terkekeh.


Selain bingkisan, ada juga bucket bunga yang langsung menarik perhatian Auristella. Anak dalam gendongan Lovi itu langsung menunjuk bucket bunga seraya menatap Mommy nya.


Lovi yang mengerti keinginan sang anak langsung mendekati bucket bunga itu. Kemudian Ia duduk memangku Auristella.


"Cantik bunga nya ya?"


Auristella menunjuk dirinya sendiri dan hal itu membuat Lovi terkekeh. "Oh cantiknya seperti Auris?"


Auristella mengangguk samar. Lovi semakin tak bisa menahan tawanya. Benar-benar percaya diri sekali anaknya ini.


"Memang Auris cantik? kata siapa?" Lovi menggoda anaknya. Auristella merengek seolah mengerti kalau Lovi tengah membuatnya kesal.


"MOMMY, MOMMY, AKU DATANG."

__ADS_1


"Ya, Mommy di sini."


Adrian dan Andrean baru saja pulang bermain. Mereka segera menghampiri Lovi. Begitu keluar dari mobil Adrian langsung berseru memanggil Mommy nya yang sedang bersama Auristella.


"Ada kado, dari siapa dan buat siapa?"


"Tadi disebut nama pengirimnya tapi Mommy tidak tahu beliau siapa,"


"Devan, ada bingkisan buat Auristella," ujar Lovi setelah melihat suaminya juga mendekat padanya.


"Sepertinya dari rekan mu. Coba lihat namanya,"


Devan segera melihat nama pengirim di bingkisan yang baru saja mereka terima itu. "Oh Teman ku ini, Lov."


"Nah, benar 'kan...."


"Kamu sudah mengundang mereka?"


"Padahal belum. Tapi memang sudah ramai, di kantor pun begitu. Entah tahu darimana mereka ya,"


"Sepertinya saat Auris lahir mereka menulis tanggal lahir Auris, Dad supaya ingat." kalimat Adrian itu mengundang tawa kedua orangtuanya. Apa iya ada yang seperti itu?


"Coba aku lihat bunga nya,"


Srekk


Adrian mengambil alih bunga yang sedang dipegang-pegang oleh Auristella. Anak bungsu Devan dan Lovi itu melonjak-lonjak kesal, tidak terima.


"Adrian, jangan begitu! berikan pada adikmu."


"Kamu itu laki-laki, ngapain berurusan dengan bunga?" Devan menegur anaknya. Ia akan meraih bucket itu dari Adrian tapi Adrian menjauhkannya dari jangkauan Devan.


Auristella menangis dibuat nya. Ia menunjuk bucket yang sedang dibaca tulisannya oleh Adrian.


"Adrian, dengar Daddy tidak?!"


Nada bicara Devan sudah jauh lebih keras daripada sebelumnya. Kalau sudah diperingati seperti itu, Adrian pasti menurut.


Ia segera mengembalikan bucket milik adiknya itu. "Dasar cengeng! aku mau lihat sebentar, malah menangis,"


"Wajar dia menangis, itu kan miliknya. Ngapain kamu pegang yang bukan milik kamu?"


Adrian terdiam ketika kakaknya lugas seperti itu. Ia mendekati bingkisan-bingkisan yang di berikan teman Devan untuk adiknya.


"Aku hanya melihat, Auris. Astaga, anak ini,"


Adrian memutar bola mata jengah tatkala Auristella yang tadi sudah berhenti menangis kembali menangis setelah melihat dirinya mendekati kado-kado miliknya, Ia mengira Adrian akan mengambilnya lagi, seperti bucket bunga tadi.


"Ndak!"


"Siapa yang mau ambil? aku hanya ingin melihat,"


"Mungkin katanya 'tidak boleh' Adrian."


"Dad, aku tidak---"


"Ulang tahun mu sudah lewat. Dan saat kamu punya banyak kado, Auris tidak mengusik 'kan? sekarang kamu bisa melakukan itu juga tidak?"


"Hffttt," Adrian mengembuskan napas jengah. Akhirnya Ia memilih untuk duduk diam, tak ingin mencari masalah lagi dengan adiknya.


"Pelit, cerewet, cengeng." gumamnya. Auristella meliriknya lalu memberikan tatapan tajam. Dia tahu kakak keduanya tengah menggerutu padanya.


-----------


Gemoyyy bgt si Auris wkwk. Tatapan tajem ala Auris itu gmn ya? bisa bayangin?😂😂 2 (dua) novel di bawah jg aku up👇Jgn lupa mampirrr


__ADS_1



__ADS_2