
Setelah mobil Raihan tak terlihat lagi dan gerbang kokoh itu ditutup kembali, Devan masuk ke dalam. Ia melihat Vanilla masih berdiri.
Ini adalah waktu yang tepat untuk memberi gadis itu pelajaran mengingat kedua anaknya, Lovi, Senata, dan para pelayannya sudah tertidur.
"Duduk, Vanilla!" Titahnya dengan tegas. Vanilla langsung menatapnya. Mata Devan melirik sofa di depannya agar Vanilla duduk di sana.
"Seperti ini kebiasaanmu?"
"Ya, kenapa memangnya?"
"Dulu kamu tidak sebodoh ini, Vanilla."
"Dulu dan sekarang adalah waktu yang berbeda," dengan tenang Ia menjawab kakaknya yang sudah menahan mulutnya untuk membentak sejak tadi.
"Aku yakin ada sesuatu yang kamu tutupi,"
Vanilla menghela bahunya acuh. Tak membenarkan dan tak menyangkal juga. Karena sebenarnya memang itu kenyataan yang terjadi. Usianya yang masih muda menjadikan Ia sebagai sosok yang bodoh karena cinta.
"Deni juga mengatakan padaku kalau dia sering bertemu denganmu di kelab malam. Apa yang kamu lakukan di sana?"
"Bersenang-senang tentu saja,"
"Kamu tahu, sebrengs*k apapun aku, aku tidak pernah menyukai perempuan seperti itu, Vanilla."
"Kamu lelaki egois..."
__ADS_1
"Kamu boleh menghabiskan waktu di sana. Kenapa aku tidak boleh? Dan aku tidak peduli, kamu menyukainya atau tidak,"
Devan menggeram marah. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Vanilla benar-benar memancing emosinya naik signifikan.
"Perempuan lebih sulit menjaga dirinya sendiri apa lagi ketika berada di tempat seperti itu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, Vanilla."
Vanilla berdecak seraya merotasikan bola matanya. Ia akan bangkit, malas membahas ini. Namun suara Devan berhasil membuatnya kembali duduk.
"Dengar aku--"
"Aku butuh kesenangan. Jangan terlalu mencampuri urusanku!"
"Apa yang membuatmu seperti ini? Karena laki-laki?"
"Aku jadi mencurigai Deni sekarang,"
Secepat kilat Vanilla menatap kakaknya yang baru saja mencetuskan omong kosong. Apa urusannya dengan Deni?
"Atau cleaning service itu?"
Vanilla kesulitan menelan ludahnya sendiri. Matanya mengerjap cepat. Melihat itu, Devan menyeringai.
"Okay, kamu seperti ini karena cleaning service itu?"
"Karena kalau sampai Deni yang membuatmu gila seperti ini, maka aku tak segan memberinya pelajaran,"
__ADS_1
"Jangan membawa siapapun dalam pembicaraan ini. Tidak ada yang salah dengan aku. Kenapa kalian terlalu berlebihan seperti ini?"
Kalian yang dimaksudnya tentu saja Devan dan kedua orangtuanya yang menjadi lebih keras dalam menjaga Vanilla. Ia bukan lagi anak kecil. Perempuan seusianya bermain di tempat semacam itu bukanlah hal yang patut untuk dipermasalahkan.
"Yang terpenting aku tidak menghabiskan waktu di hotel," ujarnya dengan ringan tanpa beban.
"Jangan coba-coba kamu, Vanilla!" Sentakan keras dari suara Devan dan juga pukulan meja ruang tamu berhasil membuat Vanilla berjengkit.
Devan benar-benar hilang kendali saat ini. Membayangkan hal menjijikan itu, Ia jadi marah pada dirinya sendiri. Sepertinya Ia terlalu membawa pengaruh buruk untuk adiknya. Vanilla pasti tahu kebiasaan Devan yang satu itu, menghabiskan waktu satu malam bersama lawan jenis di kamar hotel. Jangankan Vanilla, kedua orangtua dan keluarganya saja sudah tahu kebiasaan buruk Devan dulu.
"Kenapa? Kamu boleh melakukan itu,"
"Kita berbeda," desis Devan dengan mata berkilat tajam. Kalau saja Vanilla bukan adiknya, gadis itu pasti sudah dicekiknya sampai mati. Beruntung juga penyakitnya tidak datang dalam situasi seperti ini.
"Kamu tidak perlu berperan sebagai manusia suci, Devan. Kamu memiliki istri dari kalangan seperti itu. Bahkan aku lebih baik daripada Lovi,"
Devan kian berang. Ia bangkit ingin menampar mulut kurang ajar adiknya. Namun Vanilla berhasil menghindarinya.
"Lovi tidak pernah berkelakuan gila seperti kamu. Dia menghabiskan waktu di kelab dan hotel?.."
Devan terkekeh sinis lalu melanjutkan kalimatnya,"Yang benar saja kamu! Bahkan aku yang pertama untuknya,"
------
Tinggalkan jejak yaaaa👣 TERIMA KASIH ~
__ADS_1