
"Syukurlah kamu sudah sadar, Lov."
Devan sangat antusias menyambut Lovi yang berusaha untuk membuka matanya secara sempurna.
Lovi menatap Devan bingung, setelah itu Ia baru teringat kalau kedua anaknya sedang dirawat.
"Kenapa aku di sini? aku mau menjaga mereka,"
Devan berdecak dan tak mengizinkan Lovi beranjak. Ia memberi tatapan tajam pada Lovi yang masih keras kepala.
"Devan, aku tidak sakit apapun. Mereka membutuhkanku!" Lovi ingin menangis lagi. Sudah berapa lama Ia meninggalkan kedua anaknya?
Devan mencengkram bahu perempuan itu agar membalas tatapannya, tidak sibuk terisak.
"Kamu hamil, usianya sudah enam minggu. Dan kandunganmu lemah. Kamu harus istirahat! Untuk kali ini tolong jangan membantah aku!"
Lovi kehabisan kata. Ia mengusap perutnya yang datar untuk merasakan kehadiran bayi di dalam sana. Hatinya berbunga ditengah perasaan sesak yang menderanya sejak tadi. Tanpa sadar bibirnya yang mengeluarkan isak tangis terangkat ke atas.
****
Senata menjaga putrinya yang baru saja tertidur usai menyantap makan tengah malamnya.
Devan baru saja keluar dari ruangan Lovi setelah menyuapi perempuan itu. Kini Devan kembali untuk anak-anaknya. Takut mereka bangun dan tak menemukan Devan di sana.
"Kamu makan dulu. Seharian ini seperti menjadi mayat hidup," titah Raihan begitu Devan kembali di sisi anaknya.
Devan akan bergantian mendekati mereka. Sesekali Ia akan duduk di samping Andrean setelah itu Adrian.
"Itu karena kalian,"
__ADS_1
Devan masih belum terima tentu saja. Tanpa dijelaskan sekalipun, Ia tahu kalau ini semua merupakan rencana Raihan. Dan yang berperan sebagai pelaksana adalah Rena dan Senata. Mereka sama-sama salah.
Raihan tersenyum miring. Tangan keriputnya menepuk bahu sang putra.
"Setelah ini, masih mementingkan ego?"
"Pa--"
Raihan menggerakan tangannya di udara, tidak menerima segala bentuk protes dari Devan.
"Kamu dan Lovi sama saja. Sekarang, belajarlah untuk menjadi orangtua yang lebih baik," Ia mengatakannya dengan bijak, setelah itu menelan ludah pahit ketika melanjutkan kalimatnya,
"Jangan seperti Papa. Mereka akan hancur, kalau kamu melakukan hal yang sama seperti papa."
"Aku tidak akan meninggalkan anak-anakku. Mereka belahan jiwaku,"
"Itu yang Papa harapkan. Buktikan, kalau kamu memang layak menjadi ayah. Rencana Papa berhasil. Semoga kamu lebih baik lagi, mengingat akan hadir anggota baru yang harus kamu lindungi juga,"
Suara pelan Rena yang baru keluar dari toilet memutus interaksi Raihan dan anak sulungnya.
Devan mengangguk lalu bangkit untuk menikmati makan malam yang dibawa Rena tadi. Tidak ada lezat yang terasa di lidahnya. Hanya getir, karena Devan harus makan malam seorang diri dengan pikiran bercabang.
***
Kicau burung terdengar sahut menyahut. Devan membuka gordyn ruangan kedua anaknya yang masih terlelap. Melihat mereka yang tidurnya berjarak seperti itu, Devan tersenyum lirih. Mereka berada di atas bangsal berbeda namun masih dalam ruangan yang sama.
Sinar surya memaksa masuk ke dalam mata kecil mereka. Devan menantikan saat dimana mata anak-anaknya terbuka. Sangat mendebarkan mengingat kondisi mereka saat ini tidak baik.
"Dad,"
__ADS_1
Sapa yang keluar dari mulut Andrean membuat Devan mampu bernapas lega. Entah mengapa sugesti mengenai 'lupa ingatan' selalu membuat Devan ketakutan. Ia tak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada mereka. Ya Tuhan, tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Pasti sangat nyeri saat mereka tak mengenal Devan karena amnesia. Haish! Devan menggelengkan kepalanya pelan. Kenapa otaknya seperti skenario sinetron saja? Padahal Devan tidak pernah menontonnya.
Ia menghampiri Andean lalu memberi kecupan di kening yang masih terbalut perban itu.
"Mommy dimana?"
"Mommy dan adik kalian sakit. Semalam, ingat 'kan?"
Adrian tampak melenguh setelah matanya terbuka sempurna. Lagi, 'Dad' adalah kata pertama yang diucapkan anak itu, sama seperti kakaknya tadi.
"Adrian mau main,"
"Apa, Sayang?"
Barang kali Devan salah dengar. Ingin main katanya? Ini yang mengatakannya adalah sosok yang sama dengan anak kecil yang mendapat jahitan di kepala semalam 'kan?
"Nanti ya. Daddy minta Serry ambil mainan dulu di rumah,"
"Adrian bosan, Dad."
Pintu terbuka menampilkan Senata yang sudah segar. Setelah mandi, Ia memutuskan untuk mengunjungi ruang inap cucunya. Sementara Rena dan Raihan yang baru kembali dari mansion untuk mengambil baju Devan pun menggantikan Ia dalam menjaga Lovi.
"Grandma, kemana saja? Tidak pernah menemui Adrian," Devan bersyukur anaknya melupakan mainan. Setidaknya sampai kondisi anak itu pulih.
Sebenarnya dokter mengizinkan jika hanya bermain ringan di atas bangsal untuk mengusir kejenuhan mereka selama dirawat intensif.
Namun Devan masih belum berani untuk membiarkan itu. Ada rasa khawatir kalau sampai anaknya kelelahan karena sibuk bermain sampai-sampai proses pengobatan mereka tak berujung membaik.
------
__ADS_1
HALUUU AKYU DATANG LAGEH. LANJOODD?KUY SEBAR VOTE & KOMEN. EP SBLM INI KOMENNYA MAYAN BUANYAAKK. JD EP INI HRS LEBIH BUANYAAKKK LAGYYYY. WOKEH? TENCUUUU💙😚