My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sementara tidak berteman


__ADS_3

"Andrean, bisa bantu aku tidak?"


"No, sorry. Aku harus menyelesaikan ini,"


"Aku tidak paham"


"Karena kamu tidak mendengarkan guru menjelaskan. Malah sibuk mengobrol,"


Andrean mencibir kesal pada Adrina, yang datang-datang langsung minta dibantu. Salahnya sendiri tidak mendengarkan penjelasan guru.


"Aku juga pintar. Aku ajarkan,"


"Tidak! aku mau Andrean yang menjadi gurunya,"


dari pembicaraan itu Andrean semakin yakin kalau sebenarnya Adrina tidak benar-benar ingin belajar. Hanya mengganggu dirinya yang sedang mengerjakan tugas dari guru. Kalau memang dia butuh untuk diajarkan seharusnya tidak keberatan kalau Adrian yang melakukan itu.


"Andrean itu sombong, aku tidak. Belajar denganku saja, Adrina." bujuk Adrian yang ditolak tegas oleh Adrina untuk kedua kalinya.


"Siapapun yang mengajarkan tidak masalah. Yang terpenting niatmu," ujar Andrean dan kembali fokus dengan tugas yang harus diselesaikannya.


"Main saja terus. Kalau tidak memperhatikan memang tidak akan paham. Sudah minta diajari malah request guru lagi. Adrian juga bisa membantu kamu. Tidak harus aku," gerutu Andrean lagi.


******


"Dimana si kembar? tidak ikut lagi?"


"Tidak, langsung pulang tadi,"

__ADS_1


Dashinta menyambut kedatangan atasannya dengan pertanyaan itu. Ia kira mereka akan datang lagi seperti kemarin.


"Sering-sering dibawa ke sini bisa menjadi hiburan juga, Boss."


Devan hanya bisa tersenyum. Sudah sering Ia mendengar kalimat itu dari para karyawan maupun staff-nya. Ia senang karena kedua anaknya bisa menciptakan energi yang positif untuk mereka yang terkadang letih bekerja seharian.


"Dimana berkas yang harus aku presentasikan?"


Dashinta mengikuti Devan masuk ke dalam ruangan lelaki itu untuk mengambil berkas yang dimaksud Devan.


Beberapa detik setelahnya pintu ruangan Devan terbuka semakin lebar. Devan dan Dashinta menoleh. Ada Lucas di sana. Devan segera mengisyaratkan Dashinta untuk keluar dan setelahnya, Ia meminta Lucas untuk duduk.


"Sekretarismu?"


"Iya, Ayah."


"Memang kenapa, Yah? Lovi juga tidak masalah,"


"Ya, Ayah juga bisa melihat bahwa sekretarismu orang yang baik. Ayah hanya memberi saran,"


Ucapannya sama persis dengan Raihan. Kedua ayahnya itu seolah ketakutan kalau kisahnya akan sama seperti novel atau drama dimana terjadi affair antara atasan dan sekretarisnya.


"Ada tujuan apa Ayah datang ke sini?"


"Ayah hanya ingin bertanya kapan Ayah bisa melihat cucu ayah?"


"Kemarin mereka ke sini, Yah. Tapi sayangnya kalian belum ditakdirkan bertemu,"

__ADS_1


Sesalnya begitu melihat betapa besar harapan di mata Lucas agar bisa melihat cucu dari anak tunggalnya.


******


"Andrean, tunggu! berhubung kita memiliki tugas kelompok. Jadi kapan dikerjakan?"


"Bahas besok saja. Aku sudah mau pulang,"


"Andrean--"


"Apa, Adrina?" Adrian menyahuti. Ia bertanya dengan wajah menyebalkan dari dalam mobil.


"Aku tidak bicara dengan kamu,"


"Sepertinya ada yang aneh dengan kamu. Sudah lama kita berteman baik, sekarang malah sering marah padaku. Memang aku salah apa?"


"Lagi tidak mood saja berteman dengan kamu,"


Adrian memutar bola matanya malas. Ia segera mengisyaratkan kakaknya untuk segera masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka.


"Hati-hati pulangnya, Bye!" pamit Adrian seraya mendengus.


Adrian kesal juga lama-lama. Seingatnya Ia tidak punya salah apapun tapi kenapa dua hari ini Adrina terlihat seperti sedang memusuhinya? aneh!


"Bahas besok, Adrina."


Akhirnya Adrina mengangguk. Ia menjauh dari kedua temannya itu. Lalu menunggu supir yang menjemputnya sampai di sekolah.

__ADS_1


---------


__ADS_2