My Cruel Husband

My Cruel Husband
Peristiwa di kantor saat Adrian berkunjung


__ADS_3

Devan selalu menjadi orang yang unggul daripada Arnold. Bahkan di kampus pun Devan selalu jadi kebanggan oleh semua orang.


Terkadang Arnold iri tapi sebagai sahabat, tidak seharusnya Ia seperti itu. Devan selalu memiliki prestasi hingga semua orang berdecak kagum padanya tidak terkecuali para perempuan di kampus.


Sementara dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan Devan. Meskipun Devan sempat kehilangan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya, Ia harus bekerja mencari uang untuk Mama dan adiknya, Devan tetap bisa menjadi kebanggan.


"Kali ini aku tidak akan membiarkan kau menjadi pemenang lagi, Devan. Kehadiran Lovi kian menambah kebahagiaan yang kau rasakan. Aku akan merebutnya, aku juga berhak bahagia dengan Lovi."


*****


Setelah menemani Vanilla melakukan pemotretan, Jane kembali ke mansion dan disambut oleh keponakan nya yang perempuan.


Auristella sedang bermain seraya menunggu kedua kakaknya pulang sekolah. Sementara Lovi bertugas menjemput kedua anaknya karena hari ini Devan tidak bisa menjemput mereka.


"Auris, kamu menunggu Aunty ya?"


"Ndak!"


"Hish ketus sekali kamu, Sayang."


Jane mencium pipi Auristella bertubi-tubi lalu pergi begitu saja. Auristella kesal dan pada akhirnya Ia melempari Jane dengan boneka beruang miliknya. Boneka itu tidak menyentuh Jane sama sekali dan akhirnya Ia semakin kesal.


"Yah boneka nya tidak mau berkenalan dengan Aunty, Auris."


"Hah!"


Terlalu lama menunggu, akhirnya Auristella merasa lelah juga. Melihat Auristella mengantuk, Serry segera menimang anak itu dan tak lama terlelap.


"Mom, aku masih mau di dalam mobil. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?"


"Mobil sudah masuk mansion, kamu baru mengatakannya,"


"Ayo, Mom."


"Tidak, lain kali saja,"


"Mommy, aku mau jalan-jalan dulu,"


"Auris pasti sudah menunggu kita, Adrian."


Hari ini Adrian dan Andrean kembali berangkat dan pulang sekolah bersama lagi, menggunakan satu mobil dan mobil yang di pakai adalah mobil Andrean.


Andrean keluar terlebih dahulu sementara adiknya tengah merengek pada Lovi. Lovi tidak bisa memenuhi keinginan anaknya. Karena Ia harus segera bertemu dengan Auristella yang sudah ditinggalnya hampir dua jam. Tadi Ia harus menunggu Andrean dan Adrian bermain sepak bola terlebih dahulu di sekolahnya, sehingga mereka harus pulang lebih lama.


"AAAAAA MOMMY AKU MAU JALAN-JALAN, TIDAK MAU PULANG DULU." Adrian berteriak memanggil Lovi yang sudah berjalan masuk mengikuti Andrean.


"Ya sudah, aku jalan-jalan sendiri saja."


"Reno, tolong antarkan aku ke kantor Daddy, boleh tidak?"


"Huh? untuk apa ke sana, Tuan kecil?"


"Menemui Daddy ku tentu saja. Aku bosan di mansion terus,"


"Tapi izin dulu dengan Nona Lovi,"


"Ya sudah, Reno saja yang izin. Aku tunggu di sini,"


"Tuan kecil yang mau ke kantor Daddy nya. Kenapa saya yang izin?"


"Aku sedang marah dengan Mommy. Malas bicara,"


Reno menahan senyum gelinya. Akhirnya lelaki itu menuruti ucapan Adrian. Ia yang akan meminta izin pada Lovi untuk membawa anak itu ke kantor Devan.


Lovi melihat Serry tengah menimang Auristella di sekitar kamarnya. Ia segera menghampiri mereka berdua.


"Auris tidur?"


"Iya, Nona."


Lovi segera meraih anaknya dari gendongan Serry. "Terima kasih, Serry."


Auristella terlihat sudah memejamkan matanya. Tapi sepertinya belum terlalu nyenyak karena napasnya belum teratur seperti biasa.


"Iya, Nona. Sama-sama."


Lovi membawa anaknya ke kamar. Saat akan diletakkan di ranjang, Auristella melenguh kemudian membuka matanya lagi.


"Aduh terbangun," ringis Lovi. Ia tersenyum pada Auristella. "Hallo, Sayang. Mommy pulang. Kamu tidur lagi ya,"


Auristella mengulurkan tangannya agar Lovi kembali menggendongnya. Lovi membawa anaknya keluar kamar. Menuruti Auristella yang tidak mau ditimang-timang di dalam kamar. Ia selalu menunjuk pintu.


"Nona Lovi dimana, Serry?"


"Di ka--"


"Ada apa, Reno?"


"Tuan kecil ingin diantar ke kantor Tuan Devan. Boleh, Nona?"


"Mau apa dia ke sana?"


"Bosan katanya di sini terus,"


"Dimana Adrian sekarang?"


"Sudah menunggu di dalam mobil, Nona."


Lovi menggeleng pelan. Sudah ada di dalam mobil, seolah yakin sekali kalau Lovi akan mengizinkannya.


Lovi menghampiri mobil dan membuka pintu. Adrian sedang mengangguk-anggukan kepalanya menikmati musik.


"Adrian, tidak usah lah ke kantor Daddy. Nanti kamu mengganggu Daddy bekerja,"


Adrian menggeleng tegas. Ia mengerinyit tidak terima di larang. "Aku mau ke sana. Memang tidak boleh? aku 'kan mau datang ke kantor Daddy sendiri bukan Daddy orang lain. Tidak mungkin Daddy merasa terganggu,"


"Ya sudah lah, terserah. Tapi awas saja ya kalau nanti Daddy memberi kabar bahwa kamu macam-macam di sana,"


"Tidak, Mom. Tenang saja."


Lovi segera beralih pada Reno untuk berpesan. "Silahkan antar Tuan kecil yang banyak mau itu, Reno. Hati-hati,"


"Baik, Nona."


Lovi menutup pintu mobil, Auristella bingung saat mobil melaju dan hanya kakak keduanya saja yang pergi tanpa Andrean, dirinya, dan juga Lovi.


Auristella menunjuk mobil yang sudah menjauh. Kemudian Auristella menatap Lovi. "Adrian akan ke kantor Daddy," jelas Lovi.


Auristella menunjuk dirinya sendiri. Ia sedang protes karena tidak diajak. "Kalau kamu ikut, siapa yang menjaga? bukannya bekerja, Daddy jadi baby sitter nanti. Karena Mommy malas ke kantor Daddy. Di sana membosankan,"


Adrian membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya, menikmati semilir angin siang yang tetap saja sejuk karena musim belum berganti.


"Tuan kecil jangan dikeluarkan kepalanya. Itu bahaya,"


"Okay,"


Ia yang tadinya berdiri langsung duduk lagi setelah Reno memberinya nasihat. Kalau terjadi sesuatu, nanti Reno yang kena akibatnya. Dan Adrian tidak mau itu terjadi.


"Aduh kenapa macet ya? oh sepertinya ada kecelakaan. Kira-kira kita sampai nya masih lama tidak?"

__ADS_1


"Sebentar lagi, Tuan kecil."


Adrian sampai berdiri menatap kaca depan mobil untuk melihat penyebab kemacetan. "Ada mobil berisik,"


Yang dimaksud mobil berisik oleh Adrian adalah mobil milik pihak kepolisian. Ia mengatakannya berisik karena suara sirine yang terdengar.


Lalu lintas dialihkan ke jalan raya yang berada di sebelah tempat kejadian. Adrian bersorak karena tidak dihambat dengan kemacetan lagi.


Selang sepuluh menit kemudian Ia tiba di kantor Devan. Devan sudah menunggu di ruangannya karena Ia mendapat kabar dari Lovi bahwa anaknya akan datang.


Adrian berjalan memasuki kantor dengan gaya cool dan ramahnya. Ia tersenyum dan mambalas sapaan dari para pegawai untuknya.


"Hallo, Tuan kecil yang tampan."


"Hallo, Nona manis."


Reno yang berjalan di belakang Adrian hanya bisa menggeleng pelan saat anak Boss nya itu menyapa dengan kata-kata yang luar biasa manis untuk perempuan.


"Astaga, Boss kecil sudah pandai tebar pesona ya,"


"Apa itu tebar pesona?"


Ia melanjutkan langkahnya. Ia melewati pegawai yang sedang bertugas dan menyapanya hingga mereka menghentikan pekerjaan sejenak untuk membalas sapa anak itu.


Sampai di ruangan Devan, tanpa mengetuk, Ia segera membuka pintu ruangan Devan dengan gerak tidak santai.


"Kenapa tidak mengetuk pintu?"


"Lupa, Dad." jawab Adrian dengan ringan. Usai memastikan anak Tuannya aman, Reno keluar. Sementara Adrian sudah membanting tubuhnya di sofa.


"Kenapa datang ke sini?"


"Oh tidak boleh, Dad?"


"Boleh, tapi tidak biasanya. Sampai belum mengganti seragam begitu,"


"Iya, aku terlalu semangat datang ke sini. Aku bosan di mansion terus. Ketemu nya Auris terus,"


"Auris juga bosan melihatmu terus,"


Devan menimpali ucapan anaknya. Auristella tidak ada salah apapun malah dibawa-bawa namanya. Kalau Ia sudah bisa bicara mungkin, Auristella akan mengatakan hal yang sama.


"Tadi ada yang mengalami kecelakaan, Dad."


"Di jalan?"


"Tentu saja, tidak mungkin di toilet 'kan?"


Devan berdecak kesal saat dijawab begitu. Selalu ada saja jawaban Adrian yang membuat Devan merasa bodoh.


"Kamu sudah makan belum?"


"Sudah, Dad."


"Aku mau beli sesuatu boleh, Dad?"


"Apa?"


"Hmmm mau cokelat, es krim---"


"Huh setiap datang ke sini pasti beli itu. Nanti sampai rumah Mommy tahu, Daddy yang dimarahi,"


"Jangan beri tahu Mommy," ujar Adrian memberi pesan pada Daddy nya.


"Kamu yang sering memberi tahu. Mulutmu selalu kelepasan,"


"Kali ini pasti tidak,"


"Serius, aku tidak akan kelepasan. Nanti ada rem yang menahan,"


Devan menghubungi orangnya untuk membelikan makanan yang disebutkan Adrian tadi. "Aku mau ikut,"


"Tidak usah, biar mereka yang beli. Kamu di sini saja, temani Daddy bekerja,"


Akhirnya Adrian mengangguk. Ia segera melepas sepatu sekolahnya lalu berbaring di atas sofa.


BRAKK


"Ck! siapa yang berani--"


Devan menoleh ke pintu ruangannya yang terbuka dengan kasar. Di sana Ia melihat Arnold berdiri dengan wajah angkuh. Di belakangnya ada Dashinta yang terlihat ketakutan. Ia gagal menahan Arnold untuk masuk ke ruangan Devan. Beberapa penjaga juga merasa kewalahan.


"Anda keluar dari sini sekarang!"


Orang-orang berbadan besar sudah merangkap kedua tangan Arnold yang terlihat sekali ingin berbuat kekacauan di kantor.


"Biarkan dia di sini. Kalian boleh kembali," ujar Devan dengan tenang.


Devan melarang mereka untuk membawa Arnold. Devan tersenyum miring menatap wajah Arnold yang terlihat datar tapi ada sarat emosi di matanya.


Adrian kini duduk. Ia menatap Arnold dengan bingung. Baru kali ini ada orang asing yang dengan tidak sopan nya masuk ke ruangan Daddy nya.


"Apa maksud kedatanganmu ke sini?"


"Jadi yang memberikan dana suntikan itu adalah kau?! dan sekarang kau juga memiliki sebagian besar saham perusahaanku,"


"Ada yang salah dengan itu?"


Semua orang-orang yang bertugas melakukan penjagaan terhadap Devan tidak benar-benar menjauh karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Devan dan juga Adrian.


"Kau menusuk ku dari belakang,"


"Kau yang terlalu rakus. Begitu mudahnya percaya dengan perusahaan yang bahkan belum kau kenali untuk memberikan banyak dana untuk perusahaanmu. Nyatanya dana yang aku berikan itu aku gunakan untuk menguasai apa yang kau miliki. Bagaimana cara kerjaku? membuatmu terkejut?"


"Aku masih punya banyak. Kehilangan beberapa persen tidak menjadi masalah,"


"Oh ya? tapi kenapa kau emosi seperti ini? kalau memang tidak menyebabkan pengaruh apapun, seharusnya kau tetap dalam persembunyianmu dan tidak menampakkan wajahmu di hadapanku,"


"Benar-benar brengsek kau!" Arnold memaki Devan. Emosi nya tidak terbendung lagi. Bagaimana Ia bisa keluar dari jeratan Gana kalau bagian yang seharusnya menjadi kekuatan untuknya dirampas oleh Devan.


"Dashinta tolong bawa Adrian keluar dari sini!"


"Baik, Boss."


"Biar saja dia di sini. Agar dia tahu sejahat apa Ayahnya,"


"Dia adalah anak yang pintar. Tahu mana yang salah dan mana yang benar. Dia percaya padaku. Aku bukan pihak yang salah di sini. Siapa yang memulai terlebih dahulu?!"


Dashinta segera membawa Adrian untuk keluar sebelum anak itu mendengar lebih banyak lagi hal yang tidak seharusnya Ia dengar. Masalah orang dewasa yang tidak akan Adrian mengerti malah membuat Ia bingung nantinya.


"Aku mau di sini. Aku harus menjaga Daddy,"


"Tidak usah, banyak yang menjaga Daddy,"


Adrian menatap orang-orang Devan yang berada di depan pintu yang hanya terbuka sedikit. Devan perlu tempat yang privasi untuk berdebat dengan Arnold. Itulah sebabnya Ia meminta mereka semua untuk keluar.


"Aku tidak mau! aku harus di sini,"


"Adrian keluar sekarang!"

__ADS_1


"Tidak mau, Daddy. Aku hanya ingin di sini, bersama Daddy,"


"Bagus anak bodoh. Kau tetap di sini, biar kau juga melihat betapa brengseknya ayahmu ini,"


Arnold maju untuk menarik kerah kemeja Devan. Adrian melepas cekalan tangan Dashinta kemudian memeluk Devan. Anak itu malah membuat Devan khawatir. Devan tidak ingin Adrian berada di dekatnya karena akan sangat berbahaya untuk psikologi nya. Adrian tidak pernah melihat Daddy nya bertengkar dengan orang lain.


Devan mencengkram tangan Arnold. Devan menatap Arnold dengan tajam. Devan juga mendorong Adrian agar kembali pada Dashinta. Wanita itu terpaksa menarik tangan Adrian dengan kasar agar mau ikut keluar dengannya.


Melihat anaknya sudah keluar dari ruangan, Devan bisa bernapas lega. Kalau hanya mereka berdua seperti ini, Ia membantai pun tak jadi masalah. Sekalipun di kantor, bukan perkara mudah untuk menyembunyikan fakta.


"Benar-benar sialan kau! Kau merebut apa yang aku miliki,"


"Kalau kau tidak menggangguku, tentunya itu semua tidak akan terjadi. Ini belum seberapa, Arnold. Aku akan membuat perusahaanmu benar-benar hancur. Akan aku ambil semuanya yang selama ini kau banggakan,"


BUGH


BUGH


Devan tidak ingin kalah. Ia meninju wajah Arnold beberapa kali saat Ia mendapat serangan terlebih dahulu.


BUGH


BUGH


BUGH


Tadinya Ia tidak ingin menyakiti, tapi kalau sudah dimulai, maka tidak ada kata diam untuk Devan. Ia tentu saja akan membalas perlakuan Arnold.


"Akan aku bunuh kau," ujar Arnold. Devan segera memutar balik badannya. Hingga Arnold di bawahnya.


Devan mencekik leher orang yang baru saja mengancamnya. Penjaga Devan masuk ke dalam ruangan karena mendengar suara ribut-ribut.


Devan dan Arnold dipisahkan. Tapi ketika Devan menatap pintu karena semua penjaganya datang, Arnold mengambil kesempatan untuk menyakiti lengan Devan menggunakan senjata tajam. Lalu Ia berlari keluar dengan senjata tajam yang kembali Ia masukkan ke dalam sakunya. Ia menabrak semua yang berjaga. Dan mereka tidak tinggal diam. Beberapa ada yang mengejar Arnold dan sebagian lagi membantu Devan.


"ARGGHH SIAL!"


Devan memaki saat melihat banyak darah keluar dari tangannya. Ia tidak merasa sakit, malah khawatir dengan reaksi istri dan anaknya nanti ketika melihat luka itu.


"Kenapa aku bisa sebodoh itu?!"


"Maafkan kami, Tuan. Kami lengah,"


"Tidak, bukan salah kalian. Aku yang meminta kalian untuk menjauh tadi,"


"Tuan harus dibawa ke rumah sakit,"


"Tidak perlu, aku bisa mengobatinya sendiri. Kalian bisa keluar sekarang?"


"Tapi Tuan---"


"Keluar sekarang!" nada suaranya lebih keras dari sebelumnya pertanda Devan tidak ingin dibantah. Akhirnya mereka keluar.


****


"Dashinta, aku harus kembali ke ruangan Daddy. Daddy dalam bahaya. Orang itu pasti jahat,"


"Sudah ada orang yang menjaga Daddy mu. Tenang saja,"


"Ada apa sebenarnya, Dashinta?"


"Ada orang asing yang membuat kekacauan,"


Ferro baru saja kembali dari perusahaan miliknya, mengurus sebuah keperluan di sana. Karena selain menjadi tangan kanan Devan, Ia juga memiliki perusahaan sendiri walaupun terbilang tidak sebesar perusahaan Devan.


"Siapa?"


"Aku tidak tahu,"


Ferro segera keluar dari ruangan tempat Dashinta dan Adrian berdiam. Ia melangkah ke ruangan Devan. Ferro bingung saat semua pegawai nampak tegang wajahnya seraya menatap ruangan Devan yang tertutup rapat. Ada beberapa dari mereka yang sedang berbincang juga sepertinya membahas kejadian tadi. Benar-benar tidak disangka ada orang yang berani menyakiti Devan bahkan di wilayah Devan sendiri.


"Jangan masuk dulu. Tuan Devan perlu waktu sendiri,"


Ferro tak mengindahkan ucapan pengawal. Ia tetap membuka ruangan Devan. Di kursinya Devan tengah mengobati luka dengan wajah datar.


"Astaga, Apa yang terjadi padamu?"


"Arnold datang ke sini, Ferro. Dia membuat kekacauan. Dan Adrian sempat melihatnya,"


"Adrin melihat kau yang seperti ini?" tanya Ferro dengan mata membulat. Devan menggeleng dan itu membuat Ferro sedikit tenang. Tak bisa dibayangkan akan sehisteris apa anak itu kalau melihat Devan terluka.


"Kenapa di datang ke sini?"


Ferro kenal dengan Arnold karena aksi Devan dalam menghancurkan sedikit perusahan Arnold dibantu juga olehnya.


"Tentu saja karena tidak terima dengan apa yang aku lakukan,"


Devan di ruangannya berusaha menahan sakit, sementara pelakunya masih dalam pengejaran anak buah Devan.


Mereka berhasil menangkap Arnold. Sempat juga menghajar Arnold dengan emosi menggebu. Ia telah menyakiti Devan, Boss mereka.


Arnold tetaplah orang licik. Sama seperti saat memberi pelajaran untuk Devan tadi, Ia menggunakan kesempatan yang ada untuk membuat mereka semua kalah.


Arnold menembak dua orang dari mereka lalu berlari. Karena semua anak buah sibuk memastikan kondisi teman mereka, Arnold berhasil melarikan diri.


"Dasar anak buah bodoh!" kata lelaki itu sebelum menelpon orang suruhannya untuk menjemput.


Saat mereka akan mencari Arnold lagi, salah satunya mendapat telepon dari kantor dan itu adalah Ferro yang mengatakan pada mereka agar segera kembali ke kantor atas perintah Devan.


*****


"Dashinta, bawa Adrian kemari!'


"Apakah sudah aman?"


"Sudah,"


Dashinta segera menatap Adrian yang sedari tadi berjalan kesana kemari, tidak tenang. Dashinta membuka kunci pintu ruangannya. "Adrian, kita ke ruangan Daddy---"


Tanpa menunggu Dashinta selesai bicara, Adrian sudah berjalan cepat menuju ruangan Devan. Bahkan bisa dikatakan berlari.


Dashinta sampai kewalahan menyamakan langkah anak itu. Adrian benar-benar khawatir. Ia tidak tenang selama berada di ruangan Dashinta tadi. selalu meminta untuk keluar. Tapi karena kuncinya disembunyikan oleh Dashinta dan Dashinta mengatakan bahwa Devan akan marah kalau Adrian melanggar ucapannya, maka Adrian terpaksa menuruti Dashinta.


Sampai di ruangan Devan, anak itu menangis histeris. Padahal Ia belum menemukan tubuh Daddy nya yang terluka.


Devan terkejut saat anaknya menangis ketika masuk. Devan segera bangkit untuk memeluk sang putra yang pasti terkejut, bingung, dan khawatir setelah melihat perdebatan tadi. Ia tidak menyaksikan adu otot antara Devan dan Arnold tapi Ia sempat melihat mereka di mulut.


Devan mengisyaratkan Dashinta dan Ferro untuk keluar. Devan perlu waktu berdua dengan Adrian untuk menenangkan anak itu.


"Hey kenapa menangis? tidak ada prince yang menangis seperti ini,"


Adrian melihat tangan Devan yang dibalut perban asal-asalan Karen Devan membalutnya sendiri. Adrian semakin menangis kencang.


"Daddy kenapa? ini kenapa? orang jahat itu yang melukainya?"


"Adr--"


"DADDY JAWAB AKU! TANGAN DADDY TERLUKA KARENA DIA?!"


------

__ADS_1


Sad :'( bocah tengil macem Adrian bs nangis jg pas liat Daddy nya berdebat. Dia pdhl gk liat Devan adu jotos wkwk


__ADS_2